Dihamili Kakak Senior

Dihamili Kakak Senior
37. Terkurung Lemah


__ADS_3

"Setelah mengetahui masa lalu mu, aku mendengar nya saja merasa sedih dan sekarang aku mengetahui kenapa kau menjelma seperti ini. Pertama karena kematian ayah sambung mu." Ucap Nara. Kalimatnya terjeda oleh Farel.


"Bukan ayah sambung! Dia adalah ayah kandung ku sebenarnya." Ujar Farel menyela


"Ya, Maksudku dia adalah ayah mu. Boleh aku lanjutkan? Kedua karena Kau memiliki rasa tersimpan pada Rachel tapi kau kalah saing dengan adik tirimu." Pungkas Nara yang ikut iba sampai menitikkan air matanya.


"Itulah sebabnya aku melakukan ini, Nara. Kau sudah tahu sekarang, Jika saja ayah kandung ku menerima ku dan ibuku. Aku tidak akan menjadi seperti ini."


"Aku mengerti perasaanmu, Tapi yang ingin aku tanyakan adalah di mana Edgar sekarang?" Tanya Nara memberanikan diri.


"Dia sudah aku sekap tanpa makan dan minum, sungguh menderitanya dia. Tapi penderitaannya tak sebanding dengan penderitaan ku selama bertahun-tahun. Dia hidup enak bersama keluarga nya, sedangkan aku (Farel pun tertawa kecil meratapi betapa malang hidupnya)."


"Lalu, Di mana dia?"


"Kenapa kau peduli seperti itu padanya, Nara? Sudah jelas dia membentak dan menghinamu setelah mengetahui kau sedang mengandung anak pria lain dan melakukan kebohongan padanya. Jangan pikir aku tidak tahu." Gertak Farel sedikit membentak.


"A-aku tahu itu, Tapi tidak perlu dibahas karena itu semua sudah terjadi."


"Maka dari itu, aku ingin mengajakmu bekerja sama membalaskan dendam kita pada Edgar dan keluarganya."


Nara hanya terdiam menatap manik pria yang sayu, namun penuh amarah dan kebencian dalam dirinya.


"Apa yang kau pikirkan, Nara? Kau masih benci padaku karena tidak ingin bertanggungjawab dan kau lebih memihak pada Edgar yang sudah kau nikahi??"

__ADS_1


"Tidak. Bukan itu..." Jawab Nara


"Lalu, Apa lagi yang kau tunggu? Aku berjanji setelah ini kita akan hidup bersama dan aku akan menikahi mu, kita besarkan anak kita bersama-sama."


"Aku tidak ingin balas dendam pada siapa pun. Aku tidak ingin mengotori tangan ku sendiri, Tapi jika kau ingin membalaskan dendam mu pada mereka itu terserah padamu karena aku tidak berhak melarang mu."


"Kau berkata jujur??"


"Iya..." Jawab singkat Nara meyakinkan.


"Baik. Aku tidak akan menarik kembali keputusan ku. Setelah ini, Aku akan menjalankan rencana ku."


"Apa rencana mu?"


Nara pun mengikuti Farel...


Tak lama kemudian, mereka telah sampai di suatu tempat.


"Kita berada di mana? Tempat apa ini?" Tanya Nara pada Farel yang membawanya ke suatu tempat terbengkalai.


"Ini adalah tempat yang pantas untuk seorang pembunuh dan perebut kebahagiaan seseorang." Ketus Farel dengan mengepal kedua tangannya.


"Maksudmu Kak Edgar ada di sini?" Tanya Nara.

__ADS_1


"Ya. Dia ada di sini, di tempat yang memang pantas untuknya."


"Di mana dia sekarang?" Nada khawatir Nara yang membuat Farel curiga.


"Kenapa nada bicaramu seakan-akan mengkhawatirkan nya?" Tanya Farel menginterogasi.


"E-em ma-maksudku adalah-, maksudku ya aku menanyakannya di mana dia karena aku ingin sekali melihat bagaimana Edgar sengsara."


"Kau tidak sedang mempermainkan ku, 'kan? Bisa saja kau adalah wanita cerdik yang berhasil mengelabui ku." Ketus Farel.


"Ti-tidak, Mana mungkin aku melakukan itu." Singkat Nara meyakinkan dengan gugup.


"Kita akan menemuinya sekarang." Kata Farel tak memperpanjang masalah.


Farel pun membawa Nara ketempat Edgar disekap berada.


Tak lama kemudian Nara telah sampai di ruangan yang begitu dingin hingga baru melangkahkan satu kakinya masuk rasa dingin sudah menusuk tubuhnya, di sana tak ada cahaya dan ia melihat Edgar yang keadaannya begitu mengkhawatirkan lemah tak berdaya.


"Ada apa kau sakit?" Tanya Farel karena melihat Nara bergetar hebat.


Ia yang baru saja masuk ke tempat itu beberapa menit sudah merasakan dingin, Bagaimana dengan Edgar yang sudah lama bahkan setiap hari dan setiap waktu selalu menghabisi waktunya di tempat yang dingin ini.


"Tidak. Aku tidak apa-apa." Jawab Nara membulatkan matanya sempurna.

__ADS_1


Nara menatap Edgar iba, ia sangat kasihan melihat Edgar terduduk lemah dengan tubuh yang sudah kurus terlihat urat dan tulangnya yang tampak pucat. Entah kenapa ia masih saja bisa bertahan.


__ADS_2