Dihamili Kakak Senior

Dihamili Kakak Senior
26. Penyakit


__ADS_3

Ketika Edgar sudah mengetahui jika Rachel mengeluarkan darah dari hidungnya, Edgar pun terlihat khawatir dan menepikan dulu mobilnya.


"Apa yang terjadi, Kau baik-baik saja, kenapa kau tidak memberitahuku?" Terdengar dari nada Edgar dia sangat cemas dan langsung mengambil tissue di jok belakang.


"Karena kau sedang menyetir aku tidak ingin merepotkan mu." Jawab Rachel demikian


"Sini biar aku membantumu." Edgar pun membantu mengelap darah di hidung Rachel dan menyumbatnya dengan tisu.


Rachel hanya menatap Edgar yang begitu khawatir padanya.


"Bagaimana ini bisa terjadi padamu, Sejak kapan kau mengalami hal seperti ini?"


"Kau khawatir padaku?" Tanya Rachel berbalik


"Bagaimana aku tidak khawatir, walau bagaimanapun juga kau adalah cinta pertama ku dan or..." Edgar pun menyadari semuanya dan terhenti dikata terakhir


"Aku tahu kata terakhir mu itu, tapi aku tidak tahu entah siapa saat ini orang yang kau begitu cintai." Pernyataan Rachel membuat Edgar tertegun dan mengingat Nara.


"Kita sudah 1 tahun berpisah tanpa ada kontak, kau tidak pernah menghubungiku, padahal di sana aku menunggu kabar, pertanyaan, dan segalanya tentangmu, tapi sepertinya saat ini orang yang kau cintai bukanlah aku." Ucap Rachel berbicara sambil menangis


Edgar hanya diam saja.


"Tapi aku bangga karena aku adalah cinta pertama mu, entah kita berjodoh atau tidak tapi aku sangat bangga dengan julukan itu, siapa pun yg akan mendampingi mu nanti aku doakan kalian akan...te..." Suara Rachel pun mulai sangat lirih dan dikata terakhir dia sudah tak sadarkan diri.


Edgar melihat Rachel yg tiba-tiba tak sadarkan diri pun terkejut.


"Rachel ... Rachel ... Apa yang terjadi padamu." Edgar yang khawatir sambil menepuk-nepuk pipi Rachel.


Segera mungkin Edgar menyalakan mobilnya lalu melajukannya menuju rumah sakit dengan kecepatan 60 km/jam.


15 menit kemudian, Edgar sudah sampai di rumah sakit. Ia pun menggendong Rachel masuk ke rumah sakit.


"Dokter....suster..." Teriak Edgar sambil menggendong Rachel


Suster pun datang.


"Suster cepat tangani keadaannya." meletakkan Rachel di brangkar yang dibawa suster


"Rachel Bertahanlah,,, Kau pasti baik-baik saja." Edgar mengikuti Rachel sambil menggenggam tangannya


Suster pun membawa masuk Rachel ke ruang pemeriksaan, sedangkan Edgar menunggu di luar dengan khawatir.


Ia pun memutuskan untuk menelpon ayah Rachel.


"Halo ... Paman!"


"Edgar, Kalian belum sampai, kalian di mana?"

__ADS_1


"Paman, terjadi sesuatu pada Rachel."


"Apa yang terjadi pada Rachel?" Nada suara Pak Bambang berubah khawatir


Edgar pun menjelaskan semua yang terjadi.


"Lalu, di rumah sakit mana sekarang?" Tanya Ayah Rachel yang mencemaskan keadaan anaknya setelah mendengar penjelasan Edgar .


"Di Rumah Sakit xx, Paman."


"Baiklah, Paman akan kesana sekarang juga." Dengan tergesa-gesa Pak Bambang pergi keluar menaiki mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit


Tak lama kemudian di rumah sakit, Rachel dipindahkan ke ICU.


"Apa yang terjadi dok, kenapa dipindahkan ke ICU?"


"Beliau mengalami masa kritis, dan kami akan menindak lanjuti masalah ini."


"Lakukan yang terbaik, Dok."


"Kami akan berusaha sekuat mungkin, anda dan keluarga berdoa dan serahkan saja semua pada tuhan untuk keselamatannya."


Tak lama kemudian Pak Bambang masuk dan mencari Edgar.


Lalu, ia melihat Edgar di luar ruang ICU.


"Dokter baru saja mengatakan Rachel kondisinya kritis, dan baru saja dipindahkan keruangan ICU."


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu Rachel. Kenapa bisa sampai seperti ini." Khawatir Pak Bambang dan terduduk


Edgar pun mengusap-usap punggung Pak Bambang dan berusaha menenangkan nya.


"Selamatkan lah putriku satu-satunya.hanya dia orang yg aku miliki di dunia ini, aku tidak peduli tentang hartaku asalkan putriku selamat saja. Dia baru saja kembali dari dubai dan mengapa bisa terjadi seperti ini?" Imbuhnya lagi


Handphone Edgar pun berbunyi.


Dan langsung mengangkat telepon.


"Halo, Bu!"


"Edgar kau di mana? Sudah sampai mengantarkan Rachel pulang?"


"Aku sedang di rumah sakit, Bu."


"Apa rumah sakit? Apa yang terjadi nak, kau baik-baik aja, kan."


"Aku baik-baik saja Bu, Tapi Rachel."

__ADS_1


"Kenapa Rachel?"


"Dia masuk ICU dan dokter mengatakan dia kritis, Dan Pak Bambang pun sudah ada di sini."


"Apa?? Kalian di rumah sakit mana? Ibu dan Ayah akan kesana sekarang."


"Di Rumah Sakit xx."


"Baiklah, Kita akan kesana sekarang."


Edgar pun menutup teleponnya.


Pak Abraham dengan Bu Clarissa berangkat menuju rumah sakit menemui Edgar dan pak Bambang.


Tak lama kemudian mereka datang.


"Bagaimana, Dokter sudah keluar." Tanya Bu Clarissa


"Belum Bu..."


"Pak Bambang yang sabar ya, doakan saja Rachel baik-baik saja." Kata Bu Clarissa yang menyemangati


Pak Bambang pun hanya mengangguk lesu.


1 jam berlalu menunggu kabar dari dokter.


Di dalam ruangan ICU~~


"Dokterr..." Panggil Rachel dengan suara pelan dan lemas dibalik alat pembantu bernafas.


Untungnya dokter mendengar dan langsung mendekatkan telinganya agar dapat mendengarkan Rachel dengan jelas.


Rachel pun meminta sebuah kertas dan pulpen.


Lalu suster pun memberikan apa yang diinginkan Rachel.


Rachel pun menuliskan sesuatu di kertas itu. Lalu, memberikannya pada dokter dan membacanya.


Surat itu berisi:


Dokter jika saya tidak selamat jangan beritahu penyakit saya yang sebenarnya, Dokter pasti sudah tahu tentang penyakit yang saya alami saat ini, Jika saya selamat dan saya mohon jangan beri tahu siapapun tentang penyakit yang saya idap, saya tidak ingin keluarga saya khawatir memikirkan saya.


"Tapi keluarga anda harus mengetahui tentang hal ini." Kata dokter yang selesai membaca surat dari Rachel


Karena tak kuat dan lemas Rachel hanya menjawab dengan menggunakan gelengan kepalanya yang artinya "Jangan" itupun dengan sangat lemas.


"Baiklah, Saya akan merahasiakan ini." Kata dokter yang menyetujuinya

__ADS_1


__ADS_2