Dihamili Kakak Senior

Dihamili Kakak Senior
28. Kepeduliannya (Part 1)


__ADS_3

Rachel pun sangat tertekan melihat kedua orang tuanya terus bertengkar. Sehingga ia pun merasakan pusing, pandangan nya pun kabur. Dan ia siap untuk terjatuh tak sadarkan diri. Tapi Edgar datang melihat apa yang terjadi dan cepat berlari menangkap Rachel. Dan Rachel jatuh dalam tangkapan Edgar.


"Paman ... Bibi." Panggil Edgar


Pak Bambang dan Bu Laras pun melirik ke arah sumber suara, dan terkejut melihat kondisi Rachel.


"Rachellll..." Berlari menghampiri Rachel dan Edgar


Edgar pun menggendong Rachel dan membawa Rachel masuk, lalu meletakkan nya di ranjang rumah sakit.


"Cepat tekan tombolnya supaya dokter cepat datang." Perintah Bu Laras


Edgar pun menekan tombol nya beberapa kali, dan tak lama kemudian dokter datang.


"Kalian tunggu saja di luar, Saya akan memeriksa pasien."


Mereka pun pergi dan menunggu di luar.


Sedangkan dokter dan Suster masih memeriksa keadaan Rachel sekarang, Suster pun memasangkan kembali alat perawatan seperti infus pada Rachel.


Dokter pun keluar...


"Bagaimana dok, apa yang terjadi?"


"Di saat seperti ini Rachel seharusnya tidak mendapat suatu tekanan yang mempengaruhi kesehatannya, kalian tahu bahwa beliau kemarin mengalami kritis tapi ia bisa melewatinya dan sekarang ia baru sadar tapi ditunjukkan dengan pemandangan pertengkaran kedua orangtuanya."


"Lalu, sebenarnya apa yang terjadi padanya dok?" Tanya Bu Laras


Dokter pun diingatkan kembali dengan surat yang ditulis Rachel.


"Tidak terjadi apa-apa Bu, dan tidak ada penyakit yang menggerogoti tubuhnya, hanya saja kondisinya memang sangat lemah jadi daya tahan tubuhnya tidak kuat." Jelas Dokter


"Baik, Jika begitu terima kasih, Dok."


Dokter pun pergi.


"Kenapa seperti ada satu hal yang disembunyikan dokter tentang Rachel." Kata Edgar dalam hati yang sedari tadi melihat terus dokter tersebut


3 hari kemudian~


Rachel pun sudah diperbolehkan pulang dan keadaannya pun sudah kembali pulih seperti biasa.


Edgar sendiri yang menjemput Rachel ke rumah sakit.


"Eh... Nak Edgar, Paman boleh minta sesuatu."


"Tentu saja katakan saja, Paman."


"Hari ini paman harus pergi keluar kota untuk menemui klien paman, ini masalah perusahaan paman yang harus cepat diselesaikan. Jadi permintaan paman adalah paman ingin menitipkan Rachel padamu boleh tidak."


"Lalu, di mana Bibi, Paman?"

__ADS_1


"Seperti biasa dia masih sibuk dengan pekerjaan nya di kantor."


"Lalu, dengan Paman sendiri?


"Agh... Paman sendiri tahu jika paman dan kau menganggap Paman sama saja seperti ibunya Rachel, dan Paman juga tidak ingin pergi hari ini, berusaha untuk mengurus Rachel. Tapi bagaimana lagi kliennya ingin bertemu sekarang."


"Tidak apa-apa Paman, Paman bisa kerjakan pekerjaan Paman dengan tenang. Biar Rachel aku yang mengurusnya."


"Terima kasih Edgar,,, Jika begitu Paman harus pergi sekarang, sampaikan maaf Paman pada Rachel."


"Iya Paman."


Pak Bambang pun pergi tanpa pamit kepada Rachel karena tidak mau melihat raut wajah kecewa Rachel yang ia duga padanya.


Edgar pun masuk dan menghampiri Rachel yang dari tadi sudah menunggu di dalam.


"Di mana ayah?" Tanya Rachel yang terus melihat sekeliling


"Rachel, Tadi ayahmu pamit karena dia harus pergi keluar kota. Jadi ayahmu memintaku untuk kau dititipkan padaku, dan dia menyampaikan maafnya karena tidak bisa menjaga mu di rumah."


"Dari dulu ayah memang gila kerja, sampai sekarang pun seperti itu. Tetapi dulu aku punya ibu, tapi sekarang ibu juga gila kerja."


"Kita pulang sekarang." Tanya Edgar yang tidak bisa menjawab kekecewaan Rachel


Rachel pun hanya mengangguk.


Edgar pun merangkul Rachel untuk membopongnya yang masih lemas.


Edgar sedang menyetir mobil. Dan melajukannya ke arah rumahnya...


"Eh kenapa arahnya kesini, Jalan ke rumahku sebelah sana." Kata Rachel


"Aku tahu, aku membawamu pulang ke rumah ku."


"Maksudnya?"


"Apa kau tidak ingat apa yang aku katakan di rumah sakit tadi."


Rachel pun mengingatnya.


"Aku ingat, tapi tidak ke rumahmu juga aku tidak ingin merepotkan orang lain, biarkan aku pulang ke rumahku saja."


"Siapa yang akan mengurus mu di sana, di rumah tidak ada orang kau akan sendiri. Lagipula ibuku pasti senang juga dan tidak keberatan. Aku sudah berjanji pada ayahmu jika aku akan menjagamu, dan aku juga diberikan amanah. Jadi aku harus menepati amanah itu."


"Apa kau akan menjaga dan terus bersamaku selamanya?" Kata Rachel dengan mata berkaca-kaca


Pertanyaan Rachel pun membuat Edgar yang sedang fokus menyetir melirik ke arah Rachel dan menatapnya. Membuat Edgar tidak fokus mengendarai mobilnya. Untung jalanan sepi dan tidak ada kendaraan yang berlelangan.


Edgar dan Rachel pun saling bertatapan dan mata mereka saling bertemu.


Tak lama kemudian mereka sadar karena dikejutkan oleh klakson mobil yang berlawanan arah.

__ADS_1


Edgar pun langsung sadar dan menyeimbangkan dan memfokuskan kembali setirnya.


"Ke-kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Edgar yang gugup dan kembali fokus ke depan


"Karena saat ini aku merasa ada kehadiran seseorang yang akan mengambil mu dariku."


"Apa maksudmu?" Edgar pun diingatkan dengan Nara


"Dan sekarang aku ingin bertanya apa kau masih mencintaiku Edgar." Tanya Rachel


"Eh... em... a-aku (Edgar bingung tidak tahu harus menjawab apa) kita sudah sampai." Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah dan Edgar pun mengalihkan pembicaraan lalu turun dan membukakan pintu untuk Rachel


Lalu, merangkul untuk memapah kembali Rachel dan membawanya masuk ke rumah.


Edgar pun mengetahui kehadiran Nara didepan halaman yang sedang menyiram tanaman tapi ia bersikap biasa saja. Sedangkan Nara dia terus melihat Edgar dan Rachel.


Dan ketika Edgar sampai didepan pintu, Nara meringis kesakitan diperutnya. Tanpa sengaja Edgar pun langsung pergi meninggalkan Rachel yang terjatuh Krn tidak bisa menopang tubuhnya yang masih lemas lalu Edgar menghampiri Nara dengan terburu-buru tanpa memperdulikan Rachel.


"Nara... Apa yang terjadi, Kau tidak apa-apa?" Tanya Edgar yang langsung menggendong Nara membawanya masuk ke dalam, Sedangkan Nara terus saja meringis kesakitan diperutnya.


Vano dan Bu Clarissa pun keluar dan melihat Rachel tergeletak duduk lemas di bawah.


"Rachel... Kenapa kau tergeletak seperti ini, Nak?" Vano dan Bu Clarissa pun membantu membangun kan Rachel dan Vano memapah Rachel masuk ke dalam


Saat masuk rumah Edgar tidak memperdulikan semua orang yang melihatnya dan tidak ingat bahwa Rachel ada di sana.


Dari belakang Rachel melihat ke arah depan menatap punggung Edgar yang terus berjalan sambil menggendong Nara.


"Terlihat sekali Edgar sangat khawatir, sampai dia tidak peduli padaku. Tapi sebenarnya apa yang terjadi?" Dalam hati Rachel dengan mata berkaca-kaca


"Safira ajak Kak Rachel ke kamarmu, yah." Kata Bu Clarissa


"Baik Bu,,, Ayo kak kita ke kamarku." Ajak Safira yang merangkul Rachel. Dan Rachel menurut saja sambil mata terus melihat mengikuti Edgar.


"Vano, Ibu ingin bicara padamu!"


"Aku juga ingin bertanya pada ibu!" Jawab Vano


"Kau bisa bertanya pada ibu setelah ibu bertanya padamu." Paksa Bu Clarissa tegas


"Apa yang ingin ibu tanyakan?"


"Apa kau, Safira dan Rachel sudah mengetahui tentang pernikahan Edgar?"


"Sebenarnya kami sudah mengetahui sehari sebelum kembali ke Indonesia." Jawab Vano


"Apaa??... Jadi Rachel." Kejut Bu Clarissa


"Sedangkan Kak Rachel, sepertinya dia belum mengetahui masalah ini. Hanya aku dan Safira saja yang mengetahui ini."


Pernyataan Vano pun membuat Bu Clarissa bingung dan frustasi.

__ADS_1


__ADS_2