Dihamili Kakak Senior

Dihamili Kakak Senior
27. Anak Broken Home


__ADS_3

2 jam berlalu dan jam dinding sudah menunjukkan waktu pukul 22.30 malam.


Dokter pun keluar~


"Dokter, Bagaimana keadaanya anak saya sekarang?" Lari Pak Bambang menghampiri Dokter


"Bapak dan ibu harap tenang semuanya. Putri anda baik-baik saja, beliau berhasil melewati masa kritisnya." Jelas Dokter


Semua orang pun bernapas dengan lega.


"Pasien akan dipindahkan ke ruang rawat intensif, dan pasien bisa dikunjungi mulai besok."


"Baik. Terima Kasih, Dok." Balas Pak Bambang lebih tenang


Dokter pun mengangguk dan tersenyum lalu pergi meninggalkan semua.


"Syukurlah terima kasih Tuhan, Engkau masih memberikan kesempatan." Pak Bambang pun tak berhenti bersyukur


"Pak Bambang, ibu dan ayah pulang saja, kalian istirahat saja biar aku yang menjaga Rachel di sini."


"Tapi Nak..." Jawab Pak Bambang terpotong


"Paman tenang saja, Rachel pasti akan baik-baik saja. lagipula kalian pasti kurang istirahat terutama paman."


"Yang dikatakan Edgar benar bam... Biarkan Edgar yang menjaga Rachel di sini." Kata Pak Abraham kepada Pak Bambang


"Baiklah jika begitu, Tapi Edgar jika ada sesuatu yang terjadi jangan lupa hubungi Paman."


"Iya. Paman tenang saja, istirahat saja dengan tenang."


Semua orang pun pergi kecuali Edgar yang menjaga Rachel di luar ruangannya.


Karena sudah larut malam Edgar pun tidak bisa menahan kantuknya dan tertidur diluar.


                                 ***


"Kau harus tiada dimuka bumi ini, terutama kekasihmu Edgar dan juga kau. Kalian akan mati satu persatu,,, ulah keluarga kekasihmu itu membuat keluarga kami hancur, dan ini saatnya aku membalas dendam ayahku pada kaliann..."


"Duarrrrrr..." Suara tembakan pistol


"Rachelll ..." Edgar pun dimimpikan dengan mimpi yang aneh, sekujur tubuhnya pun panas dingin dan penuh keringat. Dan napas yang terdengar ngos-ngosan saat itu dia melamun.


"I-ini semua hanya mimpi." Edgar pun bangkit dan melihat Rachel masih berbaring


"Apa arti mimpi itu, kenapa semua mengarah pada balas dendam, keluargaku, suara tembakan pistol dan Rachel apa hubungannya."


Hari pun sudah berganti dan waktu menunjukkan pukul 06.00, Edgar yang berjaga dari malam, belum bangun sama sekali, mungkin dia sangat mengantuk dan lelah sekali.


Pagi-pagi sekali Pak Bambang datang kerumah sakit, dan melihat Edgar yang masih tertidur Pak Bambang tidak tega membangunkannya jadi dia putuskan untuk membiarkan Edgar, tapi langkahnya membuat Edgar terbangun.

__ADS_1


"Paman..." Edgar pun terbangun dengan rasa masih mengantuknya


"Paman membangunkan mu, yah."


"Tidak Paman."


"Terima kasih karena sudah menjaga Rachel pasti kau kelelahan, pulanglah dan istirahat, biar paman sekarang berjaga di sini."


"Jika begitu aku akan pulang, Jika ada sesuatu Paman panggil aku saja."


"Hm... Terima Kasih, Nak."


Edgar pun pergi meninggalkan rumah sakit.


...***...


Di Rumah Pak Abraham~


Nara sedang menyiram tanaman di luar, itulah yang selalu ia lakukan di pagi hari. Ia pun melihat sebuah mobil masuk ke dalam dan terparkir dihadapannya. Edgar pun keluar dari mobil dan melihat Nara yang sedang melihatnya juga, mereka pun saling bertatapan. Tapi Edgar tersadar dan memalingkan wajah dari Nara lalu, pergi berjalan masuk rumah.


"Kenapa sikapnya sekarang berubah, tapi itu yang ku harapkan aku tidak ingin dia peduli padaku." Dalam hati Nara.


Ketika Edgar masuk rumah ia sudah disambut oleh ayahnya yang menanyakan keadaan Rachel.


"Edgar kau sudah pulang." Tanya Pak Abraham


"Iya ayah, di rumah sakit sudah ada Pak Bambang dia memintaku untuk pulang saja."


"Dia baik-baik saja. Saat aku pulang dia masih belum sadarkan diri."


"O yasudah,,, Jika begitu ayo kita sarapan."


"Ayah ada yang ingin aku tanyakan satu hal padamu."


"Apa??"


"Tadi malam aku bermimpi tentang seseorang yang ingin balas dendam pada keluarga kita, suara tembakan itu dan hubungannya dengan Rachel, Apa maksud dari itu?"


Ketika mendengar penjelasan Edgar, Pak Abraham pun tertegun dan raut wajahnya sedikit tidak senang.


"Eh...em...itu kan ha-hanya mimpi jadi kau tidak perlu percaya, lagipula keluarga kita aman-aman saja, Kan."


"Ayah benar juga, mungkin aku terlalut dalam mimpi itu saja seolah-olah itu benar terjadi di masa lalu."


"Em...sudah,,, Sudah kita sarapan saja."


Semua orang pun mulai sarapan. Dan tak lama kemudian mereka selesai sarapan setelah itu, seperti biasa mereka melanjutkan aktivitas masing-masing.


Di Rumah Sakit~

__ADS_1


Pak Bambang sudah diperbolehkan untuk masuk menjenguk Rachel yang masih belum sadarkan diri.


Ia pun duduk disebelah ranjang Rachel, lalu menggenggam tangan putrinya.


"Rachel, cepat bangun nak jangan buat ayah khawatir, hanya kau satu-satunya yang ayah miliki dan ayah pentingkan. Maafkan ibu mu yang tidak ada di sini, Ibu selalu saja mementingkan pekerjaannya dari pagi sampai pagi dia terus bekerja. Jika kau ingin tahu ibumu bisa dikatakan tidak pernah ada di rumah. Ayah sudah menelepon ibumu, tapi handphone nya tidak aktif. Kau masih memiliki ayah yang akan selalu menyayangimu."


"Bambang,,, Bagaimana, Pembantu rumah kita mengatakan Rachel masuk rumah sakit. Apa yang terjadi?" Kata ibunya Rachel bernama Bu Laras yang gila kerja masuk dengan tergesa-gesa


"Untuk apa kau datang?" Tanya Pak Bambang


"Untuk menjenguk anak ku lah, aku sangat khawatir sekali mendengar Rachel masuk rumah sakit."


"Apa khawatir? (Pak Abraham tertawa mengejek) apa aku tidak salah dengar kau mengkhawatirkan putrimu."


"Tentu saja, di mana masalahnya? Aku ibunya."


"Ibu macam apa kau, kau tidak pantas dipanggil ibu, dan kau hanya mengkhawatirkan jika kau kehilangan para peinvestasi, kau tidak pernah peduli padaku ataupun pada anakmu. Kemana saja kau heh... di pagi ini kau baru sadar, tapi di malam tadi aku menelepon mu dan kau berpura-pura so sibuk." Kata Pak Bambang yang sudah marah dan terjadilah pertengkaran


"Owh jadi kau mengejekku, biar aku beri tahu, sebagai ayah juga kau tidak becus. Dulu kau sangat gila kerja sampai-sampai kau lupa anak dan istrimu di rumah." Bentak Bu laras


"Itu masa lalu dan sekarang aku sudah sadar dan mengurangi kerjaku, itu yang aku harapkan darimu juga kau mengurangi kerjamu untuk Rachel yang sudah kembali."


"Lagipula Rachel sekarang sudah besar, dan dia di Dubai setiap hari tidak ada sosok Rachel dan aku bebas bekerja tidak seperti dulu harus berjaga siang dan malam untuk merawatnya."


"Jadi, Kau senang Rachel pergi ke Dubai agar kau bisa puas bekerja!!"


"Ya tentu saja, Itu yang aku lakukan sekarang kenapa tidakk..."


"Dasar egois... Hanya mementingkan perasaan sendiri, ibu macam apa kamu yang rela anaknya pergi."


Sedari tadi Rachel sudah sadar dan mendengar semua tengkaran ayah dan ibunya di luar, Betapa sakit hatinya melihat orang tuanya bertengkar, ia pun memutuskan untuk menghentikan ayah dan ibunya dan Rachel pun berusaha melepaskan semua perawatan yang ada ditubuhnya. Dengan sangat lemah ia berusaha bangun dan berjalan ke arah luar dengan menahan semua sakitnya.


"Kau sendiri yang egois..." Jawab Bu Laras yang masih berlanjut


"Cukupppp..." Teriak Rachel yang mengkagetkan keduanya, teriakan nya pun terlalu terpaksa dan lemah, ia lakukan sembari menahan sakitnya.


"Ayah, Ibu sudah cukup... Aku tidak ingin melihat kalian bertengkar karena masalah diriku." Kata Rachel dengan suara yang sangat lirih karena masih lemah


"Rachel... Kau tidak apa-apa nak?" Kata Bu Laras yang menghampiri nya dan memegang kedua pipi Rachel


Rachel pun menatap ibunya dengan sorot mata berkaca-kaca.


"A-aku baik-baik saja, Bu."


"Maafkan ibu ya, Nak."


"Dan sekarang seekor landak yang berwujud manusia sedang meminta maaf." Hardik Pak Bambang


"Apa maksudmu hah,,,?" Bu Laras pun berbalik lagi

__ADS_1


Rachel pun sangat tertekan melihat kedua orang tuanya terus bertengkar.


__ADS_2