
Dua ambulance silih berganti berdatangan bersama mobil polisi yang sirine nya berbunyi saling bersahutan menggemparkan setempat. Polisi segera memasang garis polisi di tempat kejadian, Sedangkan para tenaga medis tengah mengangkat dan memasukkan dua korban terkena tembakan untuk ditidurkan di brankar dan Ambulance segera membawa mereka menuju Rumah Sakit yang cukup jauh dari pusat kota.
Sebisa mungkin dengan kondisi luka mereka yang cukup parah akibat peluru yang masih menyempil di daging itu, Untuk melakukan pertolongan dengan alat medis seadanya, Ambulance melaju kencang karena tidak ada waktu yang banyak agar bisa menyelamatkan kedua nyawa yang sedang dipertaruhkan antara hidup dan matinya. Bahkan terdapat 3 nyawa yang perlu diselamatkan.
Sinar bulan malam ini sepertinya tidak menghentikan manusia untuk terus beraktivitas. Misalnya saja situasi rumah sakit saat ini. Banyak manusia berlalu lalang dengan berbagai macam aktivitasnya. Seorang dokter dengan gaya dan style khas mereka dalam bertindak seperti melihat rekam medik, memeriksa pasien, atau berbicara dengan wali pasien. Ada pula perawat yang sibuk mendorong ranjang pasien, atau seorang perawat yang berbicara atau menghibur pasiennya yang sedang duduk di kursi roda. Ada pula petugas administrasi yang bersiap melayani urusan-urusan administrasi pasien. Ada cleaning service yang sibuk dengan mengepel dan menyapu lantai ruangan rumah sakit demi menjaga kebersihannya. Dan ada pula kedua pasien tak sadarkan diri untuk segera ditangani baru saja masuk ke ruang UGD, Sekaligus perawat yang mencari keberadaan keluarganya.
Sebuah ranjang pasien bergerak masuk ke dalam UGD. Terdapat 5 orang di sekitar ranjang tersebut dengan pembagian 2 orang ujung ranjang sisi kanan dan 2 orang diujung ranjang sisi kiri serta satu orang lagi pada sisi kiri bagian tengah ranjang. Mereka berlari kecil untuk mendorong ranjang tersebut agar segera masuk ke dalam UGD. Di atas ranjang tersebut sudah ada seorang pasien wanita dan juga pria yang memejamkan mata. Darah segar terlihat mengalir pada bagian dada sang pria dan perut pada pasien wanita tersebut.
"Segera siapkan operasi! Sebisa mungkin kabari keluarga pasien yang bersangkutan. Keadaan mereka sangat kritis dan jika tidak segera ditangani, Entah berapa banyak anggota keluarga yang akan meneteskan air mata hari ini." Ucap salah satu Dokter mengerahkan para perawatnya.
Ketika mereka sudah dipindahkan pada ranjang pasien di UGD, Para petugas segera menangani pasien. Seorang dokter dan perawat bergerak terburu- buru menghampiri dua korban.
Segala macam cara untuk mengeluarkan peluru yang masih terdapat di dalam sedang diusahakan. Di sisi lain, Detak jantung mereka sama-sama melemah, Kantung darah yang diinfus akibat kehilangan banyak darah terus mencoba memasuki sel mereka agar keseimbangan terjaga, Restitusi jantung, dan monitor terus berbunyi menunjukkan garis yang tidak stabil terkadang lurus dan naik turun.
Di Rumah sakit yang sama, Terdapat pasien pria dan wanita yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan VIP. Keluarga mereka pun terlihat berjaga di luar ruangan dengan perasaan lebih tenang karena anak mereka dinyatakan bisa melewati masa kritis.
Setelah berhasil menyelamatkan dan membawa Edgar ke rumah sakit, Tuan Abraham dan Nyonya Clarissa tidak hentinya berucap syukur setelah putranya korban dari penculikan sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Sejak tadi terus memantau kondisi Edgar. Di sana pun terdapat Tuan Bambang. Ia memperhatikan gerakan Tuan Abraham dengan sangat tajam. Tuan Abraham yang terus diperhatikan merasakan risih dan berjalan menghampiri mantan sabahatnya.
"Ada yang ingin kau sampaikan padaku? Aku perhatikan kau seperti ragu untuk menyapa ku." Ucap Tuan Abraham.
"Terima kasih. Aku dengan menyesal sudah memaki dan menghinamu. Begitu banyak tragedi yang saat ini masih belum ku mengerti. Tapi kau berhasil membawa putriku ke pangkuan Ayahnya. Ternyata putriku tidak meninggal, Edgar pun adalah korban, Aku sangat senang meskipun sangat bingung."
Setelah mendengar kata-kata Tuan Bambang, Tuan Abraham merasa campur aduk. Ia bisa melihat kejujuran dalam kata-kata itu, meskipun masih ada rasa kesedihan dan kebingungan yang tersisa. Dia menghela nafas panjang dan menatap Tuan Bambang dengan penuh perhatian.
"Tuan Bambang," ujar Tuan Abraham dengan suara yang penuh kehati-hatian, "aku memahami bahwa kau telah melalui banyak kesulitan dan kesedihan. Apa yang terjadi pada putrimu dan Edgar adalah tragedi yang tak terbayangkan. Namun, kita harus mencari keadilan dan kebenaran dalam semua ini."
Tuan Bambang mengangguk, wajahnya penuh penyesalan. "Aku telah melakukan banyak kesalahan, Tuan Abraham. Aku telah salah mengerti dan menyalahkan mu. Aku bersumpah, aku akan melakukan segalanya untuk memperbaiki apa yang telah ku buat."
Keduanya berjalan menuju ruang tunggu, tempat Nyonya Clarissa dan Nyonya Bambang duduk bersama. Kedua wanita itu saling bertatap muka dengan perasaan campur aduk. Nyonya Clarissa menyeka air mata yang mengalir di pipinya.
"Clarissa, aku minta maaf atas semua penderitaan yang telah kau alami. Aku tak bisa menggambarkan betapa menyesalnya aku atas apa yang telah terjadi," kata Nyonya Bambang dengan suara terisak-isak.
Nyonya Clarissa menggenggam tangan Nyonya Bambang dengan lembut. "Saya tahu kau juga telah menderita, Nyonya Bambang. Kita harus bersama-sama melewati ini dan mendukung anak-anak kita. Mereka membutuhkan kita sekarang lebih dari sebelumnya."
__ADS_1
Sambil duduk bersama, mereka berbicara tentang rencana mereka untuk membantu Edgar dan putri Tuan Bambang pulih. Mereka bersepakat bahwa kedua keluarga akan saling mendukung dan bekerja sama untuk memberikan dukungan dan keadilan yang diperlukan.
Sementara itu, di UGD, upaya penyelamatan kedua korban terus berlanjut. Dokter dan perawat bekerja keras untuk mengeluarkan peluru dari tubuh mereka dan memulihkan luka yang serius. Meskipun situasinya kritis, mereka tidak kehilangan harapan.
Setelah beberapa jam berjuang, operasi selesai dilakukan. Para dokter dan perawat mengangkat nafas lega, namun mereka tahu bahwa pertarungan untuk kesembuhan masih panjang. Kedua pasien dipindahkan ke ruang perawatan intensif (ICU), di mana mereka akan mendapatkan perawatan yang intensif dan pemantauan ketat.
Sementara itu, di ruang perawatan VIP, Edgar terbangun dari tidurnya yang dalam. Ia melihat Tuan Abraham dan
Tuan Bambang duduk di sisinya. Ekspresi Edgar penuh campuran antara kebingungan dan kelegaan.
"Ayah, Tuan Bambang?" ucap Edgar dengan suara lemah.
Tuan Abraham tersenyum lembut. "Kami di sini untukmu, Edgar. Kita semua perlu berbicara dan mencari keadilan bersama. Tapi yang paling penting, saat ini, adalah kesembuhanmu."
Tuan Bambang menambahkan, "Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi, Edgar. Aku menyesal dan akan melakukan segalanya untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah ku buat."
Edgar melihat wajah kedua orang itu, mencermati kata-kata mereka. Perlahan, senyum kecil muncul di wajahnya. "Terima kasih, Ayah, Tuan Bambang. Aku masih bingung dengan semua ini, tapi aku berharap kita bisa memperbaiki segalanya."
__ADS_1
Mereka bertiga saling berpegangan tangan dengan penuh harapan, bersama-sama menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Mereka tahu bahwa perjalanan untuk memperbaiki hubungan mereka dan mencari keadilan akan berliku-liku, tetapi mereka siap untuk menghadapinya bersama.
Di balik tragedi yang melanda mereka, terbitlah cahaya kebersamaan dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Mereka telah menyadari bahwa bersatu dan saling mendukung adalah satu-satunya jalan yang dapat mereka tempuh. Dalam kegelapan, mereka menemukan kekuatan untuk bangkit dan menghadapi apa pun yang ada di depan mereka, mengubah tragedi menjadi kisah tentang kesembuhan, harapan, dan keajaiban yang tak terduga.