
Pak Abraham dengan hati yang masih penuh emosi dan kemarahan memutuskan untuk mengunjungi ruangan Nara. Berniat untuk memaki gadis yang masih menjadi menantunya itu. Meskipun dia tahu bahwa tindakannya mungkin hanya akan memperburuk keadaan, emosi yang meluap-luap membuatnya sulit untuk mengendalikan diri.
Ketika Pak Abraham masuk ke ruangan, Nara yang masih dalam masa pemulihan terlihat terkejut melihat mertuanya dengan ekspresi marah di wajahnya. "Pak Abraham, apa yang sedang anda lakukan di sini?" tanya Nara dengan cemas.
Farel yang masih bersama Nara pun tak kuasa menahan emosi melihat kehadiran pria paruh baya itu.
"Kau pikir aku akan terus membiarkan keluargaku hancur karena kalian berdua?" bentak Pak Abraham dengan suara keras, menunjuk ke arah Farel dan Nara.
Nara mencoba menjelaskan, "Kami berdua sedang berusaha memperbaiki hubungan kami, Pak. Kami bahkan sudah bisa menilai siapa orang jahat sebenarnya di sini." Jawab Nara berani.
"Sudah cukup dengan omong kosong mu! Kalian berdua yang sudah membuat keadaan semakin memanas. Apa salahnya aku menyerang lawanan kalian. Dan kini kau, Sonia! Apa urusannya kau datang ke sini juga? Bukankah kau sudah senang berada di luar negeri hidup bersama dengan depresi mu. Kenapa tidak sekalian menjadi orang gila di sana." kata Pak Abraham dengan penuh amarah, melihat Sonia yang tidak disangka-sangka berada di sana dan makian yang tidak lolos di layangkan.
Sonia yang sedang berdiri di sisi Nara juga terkejut melihat kehadiran Pak Abraham. Dia mencoba menjelaskan dengan tenang, "Abraham, aku tidak bermaksud menyusahkan mu. Aku datang bukan ingin berdebat denganmu. Aku hanya ingin berbicara dengan putraku dan mencoba memperbaiki kesalahan di masa lalu."
__ADS_1
"Kau sudah cukup menyusahkan keluarga ku, Sonia! Aku tidak ingin kau menyusahkannya lagi! Dulu kau menjadi wanita gelap ku, dan sekarang aku senang wanita Pela*cur dan anak haramnya berdiri dihadapan ku penuh keangkuhan." seru Pak Abraham dengan nada tinggi dan emosi yang semakin memuncak.
Nara mencoba meredakan suasana yang memanas, "Pak Abraham, mohon berbicara dengan tenang. Kami semua ingin mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik."
"Tenang? Kau ingin aku tenang setelah apa yang kalian berdua lakukan? Kalian telah menghancurkan keluarga ku!" bentak Pak Abraham dengan wajah memerah, emosinya tak terkendali.
Sonia mencoba menjelaskan, "Kami semua tidak bermaksud membuat keluargamu menderita. Kami ingin memperbaiki kesalahan kami. Bahkan seharusnya kami yang menuntut maaf darimu, karena kau akar dari masalah ini. Tapi aku sadar, pria yang dilahirkan tanpa otak seperti mu mana ada berpikir mengakui kesalahan."
Pak Abraham menatap Sonia dengan tajam, "Kau dan Farel, kalian berdua telah merusak segalanya. Tidak ada kata maaf yang bisa mengembalikan apa yang telah hilang."
"Dasar gadis penipu! Kau sendiri sudah menipu keluarga ku dengan membawa anak haram masuk ke dalam rumah ku. Mengatakan bahwa Edgar putra ku yang telah menghamili mu. Tapi kau tahu Sonia? Anak haram mu ini yang menebar benihnya di mana-mana. Edgar putra ku yang baik mana mungkin bisa dibandingkan dengan anak berandalan ini!!" Hardik Pak Abraham tidak ada habisnya.
"STOP!! Stop Abraham! Kau datang hanya untuk omong kosong mu! Jangan sekali lagi kau mencap putraku sebagai anak haram, dia juga terlahir dari benih mu." Teriak Bu Sonia.
__ADS_1
Bu Sonia menangis, "Kita mencintai anak-anak kita, Abraham. Aku tahu setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk mereka. Tapi putraku, dia tumbuh menjadi monster hanya karena kesalahan kedua orang tuanya."
"Mencintai? Jangan bicara tentang cinta! Kau saja tidak tidak tahu apa itu cinta! Mana ada cinta yang rela menjadi wanita gelap seorang pria yang sudah beristri." Hardik Pak Abraham dengan penuh kebencian.
Nara terisak mendengar kata-kata mertuanya, rupanya Pak Abraham tak sebaik yang ia kira, namun dia tidak ingin memperburuk situasi. Farel hanya diam saja, bergetar hebat menahan emosi. Sebenarnya ingin sekali menghajar pria tua itu, tapi sedari tadi Bu Sonia yang memegang tangan putranya itu karena tahu Farel akan bertindak lebih.
"Aku tahu tidak akan bisa mengubah masa lalu, tapi aku ingin memperbaiki hubungan kami dengan kalian." Kata Nara.
Pak Abraham berbalik dan melangkah keluar dari ruangan, tetapi sebelum benar-benar pergi, dia berkata dengan tajam, "Kalian berdua tidak memiliki tempat di sini. Keluarlah dari kehidupan keluarga ku! Aku akan segera mengurus surat perceraian mu dengan putra ku! Agar manusia-manusia sampah seperti kalian bebas menikmati hidup tanpa melibatkan keluarga ku."
Setelah Pak Abraham pergi, suasana di ruangan menjadi tegang dan penuh kehampaan. Nara dan Sonia saling memandang, merasa terluka oleh kata-kata yang tajam dari Pak Abraham. Meskipun mereka berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka, tetap saja luka-luka masa lalu belum sepenuhnya sembuh.
"Kenapa ibu menahan ku?! Aku saja yang mendengarnya sudah geram ingin mengangkat tanganku ini untuk membunuhnya. Pria bangka seperti dia tidak pantas hidup, Bu. Jika saja ibu tidak menahan ku, sekarang dia pasti sudah terkapar di peti mati dan keluarganya menangisinya. Aku tidak ingin mendengar dia memaki dirimu." Protes Farel.
__ADS_1
"Kau tidak mengenali ayahmu, Nak. Ibu hidup bersamanya selama bertahun-tahun meskipun dalam hubungan yang salah. Menanggapi orang yang tidak tahu diri seperti dia hanya bisa mengikuti alurnya saja. Melawannya hanya akan membuat kita lelah." Jawab Bu Sonia.
"Aku tidak memiliki Ayah! Jangan ucapkan dia dihadapan ku. Jika bisa, aku bisa saja mengklaim pada seluruh dunia, bahwa aku terlahir ke dunia ini tanpa seorang Ayah. Aku hanya memiliki ibu yang hebat seperti mu." ucap Farel saling bencinya pada Pak Abraham.