Dihamili Kakak Senior

Dihamili Kakak Senior
33. Merasa Keganjalan


__ADS_3

Edgar terus menarik tangan Nara membawanya pergi. Nara sempat memberontak dan melepaskan pegangan Edgar, namun tetap ditarik paksa olehnya.


"Lepass... Apa maksudmu membelaku di depan keluargamu, sekuat apapun kau berusaha agar aku mempercayaimu aku tetap pada pendirian ku, aku membencimu." Nada tinggi Nara


"Terserah padamu sayang... Aku akan tetap berusaha agar kau bisa memaafkan ku atas fitnah ku padamu dulu." Genit Edgar sambil mencolek dagu Nara yang membuat Nara keheranan dengan sikap Edgar yang tak ia kenal.


Tanpa mempedulikan Edgar, Nara pun pergi dengan kesal, tetapi saat beranjak pergi Edgar menarik Nara dan membawanya mundur membuat Nara mentok di dinding. Mereka sangat dekat membuat Nara ketakutan.


"Apa yang kau Ingin,,, Lepaskan aku, Edgar." Nara memberontak sekuat tenaga, tetapi usahanya gagal tenaga Edgar lebih kuat menahannya.


"Cepat... Lepaskan aku!" Lanjut Nara bersikeras


Edgar pun membelai wajah Nara dan menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Nara dan menyelipkannya ditelinga.


"Apa yang terjadi pada Edgar? Kenapa sikapnya berubah drastis seperti ini, Siapa yang aku hadapi sebenarnya." Gumam Nara


"Lepaskan..." Tetap berontak Nara, namun masih gagal


Edgar pun mendekatkan wajahnya pada Nara dan semakin mendekat.


"Apa yang ingin dia lakukan sekarang." Was-was Nara


Edgar terus mendekatkan dirinya, sedangkan Nara menutup matanya ketakutan. Edgar pun telah sampai pada tujuannya pada bibirnya menempel di bibir Nara, membuat Nara terbelalak, dan Edgar me**mat bibir Nara, ia tidak bisa menghindar karena tahanannya sangat kuat.


Lum*tan di bibirnya mengingatkan Nara pada seseorang, Ia merasa tak asing merasakan ciuman bibir itu. Dengan sekuat tenaga Nara mendorong Edgar dan akhirnya mereka terpisah, Nara pun menatap Edgar dengan napas tersengal dan sorot mata memerah. Edgar sendiri menatap Nara dengan senyuman smirk.


"Bagaimana Nara, Kau pasti tidak menyangka aku bisa melakukan ini, 'kan? Rasanya masih sama seperti yang pernah kita lakukan sebelumnya." Mata Edgar dengan senyum jail dan tak merasa bersalah.

__ADS_1


"Maksudmu??" Membuat Nara tambah heran


"Ehm...maksudku, Kau tidak ingat kemarin aku menciummu juga, bukan, dan rasanya masih sama seperti kemarin."


Nara pun pergi dengan kesal meninggalkan Edgar. Edgar tersenyum jahat sambil melihat kepergian Nara, dalam perginya Nara masih dibingungkan dan dipenuhi pertanyaan mengenai perubahan drastis Edgar. Dia tidak merasa sedih saat Rachel wanita cinta pertamanya itu meninggal.


...***...


"Bagaimana kalian sudah menjalankan rencana apa yang telah ku perintahkan?" Kata seseorang yang tak dikenal berbicara ditelepon.


"Sudah, Tuan. Tuan tenang saja semua rencana mu sudah kami laksanakan sesuai perintah." Jawabnya dalam telepon


"Baguss...baguss... Aku akan membayar kalian setelah rencana ku selesai."


"Baik, Tuan. Tuan tenang saja. Rencana apapun di genggaman kami, akan selesai berjalan sangat lancar." Jawabnya dengan santai


"Tidak ada. Aku akan menelepon kalian jika aku memiliki pekerjaan yang harus dikerjakan selanjutnya."


"Baik, Tuan."


"Jaga mereka baik-baik, Jangan sampai lengah, atau tidak aku akan membuat kalian membayar semua ini." Ancamnya


"Baik, Tuan. Serahkan saja pada kami, kami tidak akan membuat anda kecewa."


"Ok baguss..." Menutup telepon lalu tertawa puas


                          

__ADS_1


...***...


"Heh cepat bangun, Kau hanya ingin tidur saja, Hah?" Kata preman suruhan yang menendang korban penculikannya.


Orang itu terduduk lemas dengan diikat tangannya dengan tali tambang sekaligus kaki dengan kuat, banyak luka di sekujur tubuhnya dan darah yang mengalir dari mulutnya karena siksaan preman suruhan itu dan orang itu pastinya kesakitan.


"Air... Aku ingin airrr..." Orang itu meminta air dengan suara lemas karena tak sama sekali diberi makan atau minum.


"Apa yang kau katakan? Katakan sekali lagi!"


"Airr... Aku ingin air." Ucap orang itu sekali lagi


Tanpa alasan kedua preman itu menendang dan memukul kembali orang itu, yang membuat ia semakin kesakitan dan tambah lemah.


"Kami tidak akan memberikan setetes air pun untukmu agar kau mati kehausan saja."


Orang itu pun hanya diam saja dan sangat lemah tak ada tenaga dalam dirinya.


"Sudah, Kami ingin makan, Kami bukan orang pembunuh sepertimu yang disekap lalu tidak diberi makan. Dan kau awas, Jika kau berani macam-macam, apalagi sampai kabur." Kata 1 preman lalu 2 preman itu pun pergi setelahnya


Di dalam ruangan sekapan itu sangat sepi, kumuh, dan orang itu merasakan ia disekap jauh dari kota ataupun perumahan yang ramai. Mungkin rumah atau gedung terbengkalai, dari kemarin ia sudah teriak meminta tolong tapi tak ada yang datang menolong.


Kediaman Pak Bambang~~


Pak Bambang memiliki 3 rumah yang bisa ia tinggali miliknya kapan saja, jadi masalah kebakaran rumahnya kemarin tidak jadi masalah baginya. Dan sekarang ia berada di rumahnya yang kedua berada di komplek xxx no.x jalan z.


Di rumahnya itu sedang diadakan pengajian atas meninggalnya Rachel. Jasad Rachel sudah dimakamkan sekitar 1 jam yang lalu atas prosedur yang diperintahkan rumah sakit dikawal oleh pak polisi.

__ADS_1


Di dalam rumah Pak Bambang terus menyebut nama Rachel. Sedangkan ibunya Rachel belum mengetahui masalah ini karena ia tidak bisa dihubungi, membuat Pak Bambang sedih sekaligus kesal pada Bu laras yang tega.


__ADS_2