
Edgar pun menghampiri para polisi itu dengan langkah gusar tak berdaya sambil mata berkaca-kaca menahan tangis.
"Apa, ini...adalah..." Edgar menanyakan kepada pak polisi dengan terbata-bata
"Ya. Seperti yang anda lihat dia sudah tewas hangus terbakar dan ini adalah... (pak polisi tidak melanjutkan kata-katanya), Tapi kami menemukan gelang milik korban." Polisi itu pun mengeluarkan gelang Rachel yang tidak mudah terbakar karena terbuat dari bahan khusus dan pembuatannya pun mengalami proses yang khusus juga. Dan pak polisi memberikannya pada Edgar.
Edgar pun mengambilnya, gelang itu sangat indah dan masih utuh walaupun api menghanguskan semuanya, dia mengenang sesuatu dalam benaknya yang membuat ia mengeluarkan air mata.
"Di mana anda menemukan ini?" Tanya Edgar sambil menghapus air matanya.
"Saya menemukan gelang ini tergeletak di lantai samping korban." Jawab polisi
Edgar hanya mengangguk.
"Kami akan membawanya ke rumah sakit agar rumah sakit bisa merencanakan pemakamannya." Pak polisi dan lainnya pun membawa jenazah Rachel untuk di bawa ke rumah sakit yang tak berbentuk lagi
Edgar hanya merenung sambil menggenggam gelang Rachel.
Di luar, Pak Bambang melihat kantung otopsi yang berisikan tulang belulang Rachel. Ia pun langsung berlari menghampiri para polisi.
"Putrikuu... Rachel, nak, Jangan tinggalkan ayah pergi..." Pak Bambang terduduk sambil memegangi kantung jenazahnya menangis tersedu-sedu.
"Yang sabar Pak Bambang, Non Rachel sudah tenang di alam sana, ikhlaskan saja, Pak." Kata warga yang menenangkan sambil mengusap-usap punggung Pak Bambang.
Edgar pun keluar dan menghampiri Pak Bambang.
"Paman, paman harus sabar yah, Saya yakin Rachel sudah tenang." Kata Edgar yang berada disisi Pak Bambang yang sedang menangis.
Pak Bambang pun mendorong Edgar yang berada disisinya hingga Edgar terperanjat ke. belakang.
"Ini semua gara-gara dirimu Edgar,,, Andai saja kau bisa membujuk Rachel. Dia masih ada sampai saat ini, harta yang kumiliki adalah putriku satu-satunya tapi dia juga pergi bersama hartaku lainnya, karena itu semua ulah mu." Pak Bambang membentak Edgar
__ADS_1
"Saya tahu saya salah,,, Saya minta maaf." Edgar memegangi kaki Pak Bambang dan memohon-mohon
"Maaf tidak akan mengembalikan putri saya yang sudah tiada. Begitu mudahnya kau mengatakan padaku untuk mengikhlaskannya." Kata Pak Bambang sambil menendang Edgar hingga terpental
"Sekarang juga kau pergi dari sini!! Saya tidak ingin melihat wajahmu lagi di sini... PERGI!!" Teriak Pak Bambang
"Mas, sebaiknya mas pergi saja dari sini sebelum Pak Bambang berbuat sesuatu lebih marah." Kata salah satu warga
Edgar pun bangkit dan menatap Pak Bambang sekilas, lalu ia menuruti perintah dan usulan warga dan Pak Bambang, ia pun pergi meninggalkan TKP. Dan masuk mobil melajukannya pulang.
Tak lama kemudian kurang lebih 20 menit, Edgar sudah sampai di rumahnya dengan raut wajah lesu.
"Edgar... Kau sudah pulang?" Bu Clarissa yang terburu-buru keluar dengan gelisah
"Baru saja ibu ingin pergi menemui ke rumah Pak Bambang, ibu dengar cerita rumah beliau terbakar." Imbuhnya lagi
Tanpa menjawab dan tatapan mata kosong Edgar masuk rumah dengan lemah.
"Edgar, Apa yang terjadi katakan pada ibu! Tidak terjadi sesuatu kan dan tidak ada korban kejadian kemarin, semuanya baik-baik saja, kan nak?" Bu Clarissa memegangi Edgar dan menggoyangkan tubuh Edgar yang dari tadi diam saja agar Edgar sadar.
"Edgar cepat katakan kenapa kau diam sajaaa...." Kata Bu Clarissa yang terus saja bertanya dengan nada sudah mulai lirih
"Rachel sudah meninggal, Buu..." Jawab Edgar dengan lemas
Mendengar perkataan Edgar, Bu Clarissa pun sangat terkejut, air mata mulai mengalir, dan tubuh yang menjadi lemas dengan penolakan.
"Rachel... Meninggal. Tidak, tidak mungkin dia anak yang baik, kau pasti berbohong, kan Edgar."
"Ini kenyataan nya, Bu. Dia sudah pergi, aku yang melihat jelas dengan mata kepalaku sendiri, dia hangus terbakar dan hanya belulang yang tersisa."
"Apa! Kak Rachel meninggal..." Kata Vano dan Safira yang tiba-tiba datang
__ADS_1
Bu Clarissa pun merasa lemas ia berjalan mundur dan menyandarkan tubuhnya yang ingin pingsan, lalu menangis sangat keras.
"Bu, Ibu tidak apa-apa, kan?" Kata Safira yang membantu membangkitkan ibunya yang terduduk menangis
"Ini pasti mimpi, Rachel tidak mungkin pergi, aku sudah menganggap dirinya seperti putri kandungku sendiri." Kata Bu Clarissa
Semua orang pun ikut menangis...
"Pak Bambang benar ini semua salahku, andai saja aku bisa membujuk atau menemaninya malam tadi. Rachel pasti masih ada saat ini."
"kalian yang sabar yah! Walau bagaimanapun ini sudah terjadi tidak bisa diputar kembali dan memperbaiki semuanya agar tidak terjadi, ini sudah kehendak Tuhan." Kata Nara yang mendengarkannya dari tadi lalu pergi menghampiri yang turut bersedih
"Apa maksudmu, hah? Kau pasti berpura-pura, Kau pasti senang kan Rachel sudah tidak ada agar kau bisa merebut Edgar untuk jatuh ke pelukanmu." Marah Bu Clarissa
"Sudah cukup Bu, Jangan terus menyalahkan Nara di saat keadaan seperti ini. Nara tidak tahu apa-apa, jadi jangan terus menyudutkannya dalam segala situasi." Marah Edgar membela Nara
"Edgar, apa maksudmu? Kenapa kau malah membela wanita pelacur seperti dia."
"Dia bukan wanita pelacur, Bu. Dia adalah istriku, apapun yang terjadi di masa lalunya, aku bersedia menjadi ayah sambung anak ini."
Pernyataan Edgar membuat Bu Clarissa terkejut dan bingung dengan sikap Edgar yang berubah membela Nara.
"Jika Rachel mendengar semua ini dia pasti sangat kecewa padamu Edgar."
"Aku tidak peduli dengan perasaan orang lain, Yang aku pedulikan adalah perasaan anak dan istriku yang menderita selama ini, Dan Rachel dia bukanlah siapa-siapa yang harus aku jaga atau bela. Karena sekarang dia sudah tiada jadi aku tidak berharap." Jelas Edgar yang membuat semua orang terkejut termasuk Nara
"Ayo Nara, kita pergi dari sini! Edgar menarik Nara membawanya pergi bersama begitu saja meninggalkan semua orang
"Apa yang terjadi pada kakak bukankah ibu mengatakan kakak benci pada wanita itu kenapa sekarang sikapnya berubah."
Bu Clarissa pun berpikir keras atas perubahan Edgar...
__ADS_1