
Edgar langsung berangkat ketempat yang sudah di bagikan alamat dari ayahnya. Dan Nara pulang dengan angkutan umum. Walaupun ia anak yang bisa dikatakan berasal dari ayah yang finansial nya ada, tapi ia tidak pernah naik mobil pribadi milik Ayahnya. Nara suka dengan naik angkutan umum karena dulu ia dengan ibunya kemana-mana menggunakan angkutan umum.
Di Rumah semua orang menunggu.
Dan tak lama Narw sudah datang. Lalu, masuk rumah.
Ibu tirinya pun melihat Nara sudah sampai.
"Itu dia, Nara sudah pulang. Ayo nak duduk kemari." Bu Ella bersikap baik di depan Pak Abraham
Melihat semua orang yang duduk. Lalu melangkahkan kaki nya dan berjalan menuju mereka. Dengan melihat Nara yang baru datang membuat Pak Abraham tidak yakin jika nanti dia bisa menjaga nama baik keluarganya dilihat dari pakaian Nara yang sederhana dan tidak mewah.
"Ada apa ini ayah?" Tanya Nara sambil melihat ayahnya lalu melihat laki-laki yang ada di sebelahnya.
"Em... Ayo duduk dulu, Nak." Titah Pak Herman
Nara pun duduk.
"Owh jadi ini Nara ... Lumayan." Kata Pak Abraham
"I-iya Pak. Nara, Ini Pak Abraham yang ayah ceritakan kemarin padamu. Yang akan menjadi mertuamu." Jelas Pak Herman
"Tuan..." Sapa Nara yang sopan
"Iya..." Tersenyum kecut Pak Abraham
Tak lama kemudian sosok pria tampan, tinggi, berkulit putih pun sampai dan berdiri didepan pintu. Karena pintunya terbuka lebar semua orang pun melihatnya, dan Bu Ella sangat terkagum-kagum baru melihatnya saja ia seperti merasa ingin muda kembali. Bagaimana tidak Edgar sangat tampan itulah yang dikatakan semua orang.
"Hah ... Pak tampan sekali." Ucap Bu Ella sambil memegang tangannya dengan kuat karena tidak tahan melihat ketampanannya.
"Ayah kan dari dulu memang sudah tampan bu." Celetuk Pak Herma
"Ih.. ( memukul Herman kecil) Bukan bapak, Tapi itu yang berdiri di depan pintu."
"Edgar kau sudah menemukan alamatnya juga. Ayo nak masuk, Kenapa berdiri disitu terus." Perintah Pak Abraham
Baru melihatnya saja Nara terheran-heran dan sedikit kagum.
"Siapa dia, apa dia anaknya Pak Abraham yang akan dijodohkan denganku?" Ucap Nara pelan
Dan Pak Abraham yang mendengar pembicaraan langsung menjawab:
"Iya, Itu Edgar anak ku yang akan menjadi suami mu yang harus kau layani sepenuh hati." Jelas nya
Mendengar perkataan Pak Abraham semua orang terkejut bahkan Bu Ella sampai menyesal seharusnya Edgar milik Shintia.
"Andai aku tahu jika anak Pak Abraham yang akan dinikahkan ini wajahnya tampan ... Apa lagi kekurangannya, sudah tampan, kaya pula lagi, cocok jika bersanding dengan Shintia. Aku juga akan bangga memiliki menantu macam seperti ini." Gumam Bu Ella
__ADS_1
"Ayah, Ada apa ini kenapa ayah menyuruhku izin dan menuju kemari?" Tanya Edgar
"Duduk dulu nak, kebiasaanmu jika datang tidak duduk dulu." Titah Pak Abraham
Edgar mencari sofa yang kosong tapi semua sudah diisi, dan terpaksa Edgar duduk di sofa yang sama bersebelahan dengan Nara dan duduk di sebelahnya.
Nara hanya diam dan menunduk dia langsung menggeserkan diri ketika Edgar duduk di sebelahnya.
Melihat Nara menggeserkan diri Edgar merasa terusik.
"Kenapa dia?? Seperti jijik padaku saja." Gumam Edgar
Bu Ella masih saja menatap kagum Edgar.
"Duduknya saja sangat gagah, cocok bersanding dengan Shintia putriku di sampingnya." Puji Bu Ella terkagum-kagum dalam hatinya
"Edgar, ini Nara calon istrimu. Bagaimana menurutmu?" Ucap Pak Abraham menunjuk
Tanpa meliriknya.
"Aku tidak tahu, Aku tidak ingin membahasnya jika ayah merasa cocok untukku, Aku juga akan berusaha menerimanya." Ucap Edgar
"Sebenarnya aku tidak suka juga karena penampilannya tidak berkelas begitu. Tapi ya bagaimana lagi pasti dia akan berubah nanti jika sudah masuk ke lingkungan keluarga kita." Gumam Pak Abraham
"Yasudah tidak apa-apa nak! Besok kalian akan menikah, Apa kalian sudah siap?" Tanya Pak Abraham pada Nara dan Edgar
"Syukurlah ... Dan kau Edgar bagaimana denganmu?" Tanya Pak Abraham berikutnya
"Jika semua sudah siap aku akan mengikutinya saja, karena aku tidak tahu aku siap atau tidak. Aku biarkan semuanya mengalir saja." Jawab dingin Edgar
"Hmm... Iya baiklah, tandanya kalian sudah siap saja. Kita akan melangsungkannya besok, untuk saling mengenal kalian saling berbincang lah berdua." Perintah Pak Abraham
"Iya nak Edgar berbincang lah, di belakang rumah ada halaman yang tidak terlalu luas, dan di sana banyak tanaman bunga juga pasti anda suka." Ucap Pak Herman
"Emm ... Sep..." Bicara Nara rpotong dan memberhentikan bicaranya karena ia melihat Edgar langsung berdiri dan tandanya bersedia untuk berbincang, padahal Nara tidak ingin.
"Antusias sekali putraku ... Haha." Ledek Pak Abraham
"Ji-jika begitu saya permisi Tuan, Ayah." Nara berdiri dan memberi hormat sopan sebelum pergi
Edgar langsung pergi berjalan menuju halaman belakang, dan Nara mengikuti langkahnya.
"Sepertinya saya permisi pulang, saya akan membiarkan Edgar di sini. Lagipula dia membawa mobilnya sendiri. Masih ada kesibukan lainnya. Kita bertemu besok." Ucap Pak Abraham yang sudah berdiri
"Cepat sekali Tuan, tapi yasudah tidak apa-apa." Jawab Pak Herman
"Baiklah saya permisi." Pergi
__ADS_1
"Iya Tuan. Terima Kasih sudah berkunjung, hat-hati di jalan." Dengan tersenyum
Pak Abraham pun sudah keluar dan langsung melajukan mobilnya lalu pergi.
"Pak, Jika ibu tahu anaknya itu tampan, ibu akan menikahkan Edgar dengan Shintia saja bukan dengan si Nara." Ucap Bu Ella terus terang
"Memangnya ibu ingin Shintia disiksa?" Jawab Pak Herman
"Tidak juga sih, tapi ya ibu lihat Pak Abraham orangnya baik."
"Ibu lihatnya seperti baik, tapi sebenarnya dia itu bersiasat Bu. Supaya semua orang tidak curiga."
"Oh... begitu ya, Pak. Yasudah ibu urungkan niat ibu jika Shintia memang tidak cocok sama keluarga Pak Abraham." Ucap Bu Ella
~DI HALAMAN BELAKANG~
Edgar sedang melihat-lihat dan sesuai perkatakan Pak Herman jika di sana ada taman bunga dan benar. Edgar sangat menikmati pemandangan bunga-bunga nya.
Sedangkan Nara dia berada dibelakang adrian dengan menunduk dan canggung.
"Aku harus apa ini, aku takut sekali." Gumam Nara
Keheningan terjadi di sana tidak ada yang memulai pembicaraan. Tapi Nara berusaha memulai pembicaraan.
"T-tu-tuan Edgar." Panggilnya dengan suara lembut sambil menunduk
Edgar pun langsung menoleh ketika Nara memanggil namanya.
"Ada apa? Jangan panggil aku tuan karena aku tidak setua itu." Enggan wajah datar dan dingin
"Saya ingin menanyakan sesuatu pada kakak, Apa sebenarnya kakak benar-benar menyetujui pernikahan ini." Tanya Nara gugup dengan tetap menunduk
"Aku tidak tahu. Aku hanya menuruti semua perkataan ayahku saja." Singkatnya
"Owh ... Baiklah." Menyudahi pembicaraan
Dan keheningan pun terjadi kembali.
"Ini sudah sore, Saya permisi." Pamit Edgar pergi begitu saja
Tanpa berbincang atau pun saling mengenal, Edgar pergi begitu saja karena ia tidak peduli sama sekali.
"Eh Nak Edgar, sudah ingin pulang yah. Cepat sekali, ayahmu sudah pulang lebih dulu dari tadi." Kata Bu Ella lemah lembut yang sedang duduk di sofa sambil membaca majalah
Tanpa menjawab, Edgar langsung pergi begitu saja. Karena sikapnya seperti itu malas untuk menjawab pertanyaan orang yang tidak penting baginya.
"Tidak sopan sekali, untung saja dia memiliki paras yang tampan dan anak orang kaya. Jika tidak sudah aku cabik-cabik dia." Kesal Bu Ella
__ADS_1
Edgar dan Narq tidak tahu jika mereka satu Universitas di Flarucia University dan Nara belum mengetahui jika sebenarnya Edgar adalah seniornya dan bersahabat dengan Farel. Perbincangan tadi hanya terjadi keheningan dan Edgar pergi meninggalkan Nara tanpa berbincang lagi, jadi mereka belum saling mengenal satu sama lain. Dan banyak rahasia yang belum terungkap.