Dihamili Kakak Senior

Dihamili Kakak Senior
23. Kita Mulai Hubungan Kita


__ADS_3

Nara yang mendengarnya pun merasa sesak dan menerima semua perlakuan, dia tahu bahwa Bu Clarissa sedang menyindir dirinya.


"Jika begitu kita masuk saja, pasti kalian bertiga sangat lelah karena sudah menempuh perjalanan panjang." Ajak Bu Clarissa


"Iya. Yang tentunya aku sangat lapar, ingin sekali rasanya merasakan masakan Ibu yang enak itu setelah sekian lama." Kata Vano seperti kelaparan


"Tentu saja. Baru saja ibu memasak, kita makan siang sama-sama." Ajak Bu Clarissa


Vano dan Safira pun langsung masuk ke rumah dengan tidak canggung walau bagaimanapun itu adalah rumah mereka dan langsung duduk paling pertama di meja makan meninggalkan semua orang.


"Ayo Edgar, Rachel kita masuk." Ajak Bu Clarissa


"I-iya..." Edgar pun masuk kembali


"Em... Tunggu sebentar bibi." Rachel pun berbalik


"Nara... Aku boleh kan memanggilmu dengan nama. Karena aku lihat sepertinya kita seusia." Rachel pun berbalik menghampiri Nara, dan merangkul nya tanpa memandang status dan tanpa rasa jijik untuk diajak masuk.


"Ayo kita masuk, tidak baik bagi ibu hamil terus berdiam diri di luar."


Edgar yang berjalan pergi pun berdiam diri dan berbalik melihat perlakuan baik Rachel pada Nara. Bu Clarissa dan Edgar yang melihatnya pun merasa tersentuh karena sifat yang ditunjukkan Rachel pada Nara itu sangat baik.


"Emm.... Rachel." Panggilnya. Ingin rasanya Bu Clarissa menghentikan ini semua tapi ia cegah


"Te-terima kasih, Non." Nara pun berjalan dengan Rachel di samping yang merangkulnya.


Lalu, Edgar pun melanjutkan langkahnya.


"Memang benar Nona Rachel wanita yang sangat baik dan pantas bersanding dengan Edgar dan menjadi menantu rumah ini. Sedangkan aku dengannya bukan apa-apa, Nona Rachel seperti berlian sedangkan aku hanya debu yang menempel di benda yang mewah itu." Dalam hati Nara


Semua orang pun memulai makan, peraturan yang dibuat Pak Abraham di rumahnya sudah dicabut, dan semua orang bebas bertindak di rumah. Hanya saja harus mengingat batasan peran atasan, bawahan, dan anggota keluarga di dalam rumahnya.


Entah alasan apa yang membuat Pak Abraham menghapus dan mencabut peraturan tersebut, sehingga membuat semua orang heran dan bertanya-tanya.

__ADS_1


"Oo Iya, Rachel, Bagaimana kuliahmu di dubai? Saat ini kau memasuki semester tiga, Ya." Tanya Bu Clarissa


"Semuanya baik-baik saja, Bibi." Jawab Rachel


"Hm... Emm... Iya Bu, Kak Rachel hebat sekali dia selalu ada diposisi pertama di setiap ujian atau pelajaran dan pointnya tinggi sekali. Bahkan dia berada diposisi pertama dalam klasemen siswa nilai terbaik untuk seluruh mahasiswa/siswi di universitas xx." Kata Vano yangg berbicara masih menguyah makanan tentang kehebatan Rachel.


"Hm... Betul Bu. Dari ribuan mahasiswa/mahasiswi universitas xx yang berjumlah ribuan Kak Rachel berada diposisi pertama. Hebat sekali, Jika kita ada tugas di sekolah kita selalu bertanya pada kak Rachel." Lanjut sahut Safira.


"Waw hebat sekali. Kalian pasti banyak menyusahkan Kak Rachel kan di sana."


"Hm... Tentu saja." Kata Safira dan Vano yang bersamaan lalu tertawa bersama


"Kalian ini... selalu saja."


"Mereka tidak merepotkan, Bibi. Yang pastinya dengan kehadiran mereka aku sangat terbantu, sifatnya yang masih kekanak-kanakan, kelucuan tingkah laku, dan bualan mereka membuatku selalu tertawa dan merasa selama ini aku bahagia karena selalu menghibur ku." Jelas Rachel


"Tuh kan... Kita tidak merepotkan apapun." Sahut Vano sambil tertawa


Suasana di meja makan pun dipenuhi kebahagiaan dan tawaan ketika Rachel, Safira, dan Vano yang kembali dari dubai.


Makan bersama pun sudah selesai.


Para pelayan pun membereskan meja makan.


"Bibi, di mana paman? Apa di jam segini paman belum selesai di kantor?" Tanya Rachel


"Biasalah pamanmu itu memang gila kerja, larut malam ketika semua orang sudah tidur dia baru pulang, lalu pagi dia berangkat ke kantor, dan waktu istirahat nya bibi hitung hanya 5 jam. Jadi, bisa dikatakan tidak ada waktu untuk keluarga." Jawab Bu Clarissa


"Owh... Sayang sekali." Jawab Rachel


"Tapi nanti jika kau dan Edgar menikah, lalu Edgar menjadi pengganti ayahnya untuk melanjutkan perusahaan nanti, Bibi akan melarang nya bekerja sampai larut malam. Berikan waktu untukmu nanti, supaya kalian bisa memberikan Bibi dan Pak Abraham seorang cucu yang lucu-lucu." Jelas Bu Clarissa


Rachel yang mendengar nya tersipu malu.

__ADS_1


Sedangkan Edgar, melirik ke arah Nara yang diam saja menunduk.


"Emm... Pelayan Nara, Aku ingin berbicara dengan mu. Kau ikuti aku." Edgar pun beranjak dari kursi meja makan dan pergi ke suatu tempat meninggalkan semua orang.


Tanpa berpikir lebih lama, Nara pun langsung mengikuti Edgar.


Sampailah di halaman depan.


"Ada apa Tuan meminta Saya untuk ikut dengan anda ?" Tanya Nara sambil menunduk


"Apa perlu kita berbicara seformal ini?" Tanya Edgar tiba-tiba


"Saya adalah pelayan di rumah ini, tidak baik seorang pelayan memanggil atasan dengan namanya." Kata Nara yang masih berbicara sambil menunduk


"Sekali saja kau tatap mataku. Hilangkan rasa takutmu itu dulu padaku."


"Aku tidak mengerti maksud anda apa, Tuan."


"Nara, Aku tahu kau mendengar semua perkataan ibuku pada Rachel hari ini, dan kau juga sudah tahu siapa Rachel."


"Iya. Dia adalah kekasih dan cinta pertama Tuan, dia wanita yang berpendidikan dan patut dicontoh oleh semua wanita di bumi ini."


Perkataan Nara pun membuat Edgar tertegun.


"Aku sudah mendengar semuanya, bahwa kau bukanlah wanita ******. Kau memang wanita baik-baik, hanya saja laki-laki itu tidak bertanggung jawab padamu. Jadi aku minta maaf atas kesalahpahaman dan tuduhan ku padamu, sehingga kau dibenci oleh ibu ku dan semua orang yang sudah kau anggap seperti ibumu sendiri itu." Ujar Edgar sempat membuat Nara syok. Bagaimana Edgar bisa mengetahui hal ini.


"Yang berlalu biarlah berlalu,,, Aku sudah melupakannya, Asalkan aku masih bisa makan di rumah ini tanpa ada kehormatan untukku itu sudah cukup." Balas Nara biasa saja


"Tapi aku ingin mendengar alasanmu kenapa hari itu kau berbohong jika kau wanita yang tidak baik? Seharusnya kau mengatakan jika ada laki-laki yang sudah merusak mu."


"Karena ada seseorang yang selalu memaksa dan mendorong ku untuk mengatakan itu, Saat itu di keadaan marah dia mengatakan semuanya."


Edgar yang peka menyadari jika Nara sedang membicarakannya.

__ADS_1


"Dan hari ini aku minta maaf padamu Nara. Kita perbaiki semua hubungan kita dari awal, dan aku berjanji akan menerima kenyataan kalau kau adalah istri sah ku."


Edgar mengatakan nya dengan lugas. Itulah perkataan Edgar yang ingin Nara dengar dari dulu, namun sudah terlambat.


__ADS_2