
Keluarga Pak Abraham pun memutuskan untuk mengunjungi rumah Pak Bambang yang sedang diadakan pengajian.
Pak Bambang masih tidak menyadari kedatangan Pak Abraham dan Bu Clarissa, Pak Bambang terus memegangi bingkai foto Rachel dan memeluknya, Ia masih tak menyangka Rachel akan pergi secepat ini.
Pak Abraham pun menghampiri Pak Bambang dan memegang bahunya. Sontak Pak Bambang terkejut dan tersadar dari lamunannya, ia pun melirik ke arah Pak Abraham.
"Bam, Saya dan sekeluarga ikut berduka cita atas meninggalnya Rachel, semoga kau diberi kesabaran dan ke ikhlasan melepas kepergian Rachel." Kata Pak Abraham memberikan motivasi moral
Tapi Pak Bambang tak menggubris,ia malah menjauhkan diri dari Pak Abraham,lalu ia berkata:
"Ini semua ulah keluarga terutama anakmu,kalian lah penyebab putriku meninggal".sorot mata benci pada Pak Abraham
"Aku tidak membutuhkan bela sungkawa dari kalian, dan kau Abraham yang terhormat, hari ini aku memutuskan hubungan persahabatan kita, dan investasi saham ku di perusahaan mu akan dibatalkan, sekarang kita adalah musuh." Ketusnya menjawab
"Bam... Kau bukan anak kecil lagi, Jangan memutuskan tali silaturahmi karena hanya gara-gara masalah kecil seperti ini bam. Semua orang yang bernyawa pasti akan meninggal. Kau sebaiknya tarik perkataan tadi jika kita bukanlah musuh."
"Apa yang kau katakan? Masalah kecil!!Berani-beraninya kau anggap kematian putri ku adalah masalah kecil. Jika kau kehilangan putrimu, apa kau akan menganggapnya demikian??" Ucap Pak Bambang tersulut emosi
"Ma-maksud ku bukan begitu... Kau harus mendengarkan ku dulu."
Terjadilah pertengkaran antara Pak Bambang dan Pak Abraham, Semua orang menyaksikannya dan berusaha menderai.
"Lebih baik kalian berdua pergi dari rumah ini, Jangan injakkan kaki kalian di rumah ini, Karena keluarga mu pembawa sial!" Kecamnya
"Owh, Baiklah. Bam kau pikir aku tidak bisa berbuat apa-apa? Baik, jika kau ingin menganggap ku adalah musuh mu, detik ini juga kita adalah musuh." Kata Pak Abraham yang langsung pergi dengan kesal dan amarah setelah mengatakan unek-uneknya mendapatkan penghinaan dari sahabatnya.
Mereka datang secara baik-baik, tapi ketulusannya tidak dihargai.
"Kau pikir aku membutuhkan mu Abraham? Tidak akan!!" Teriak Pak Bambang menimpal
Persahabatan yang sudah terjalin sejak kecil, hancur begitu saja karena satu masalah dan keegoisan masing-masing. Pak Abraham tidak menyangka yang pada akhirnya persahabatan dari sejak kecil dengan Pak Bambang akan putus ditengah jalan hanya karena kesalahpahaman.
...***...
Sebuah bangunan tua...
"Tuan, Tuan datang kemari? Orang itu terduduk lemah Tuan, Sekarang dia sudah tidak berdaya."
__ADS_1
"Ya. Aku datang karena ingin sekali melihat secara langsung kondisinya."
Kedua preman itu pun tertawa.
"Di mana dia sekarang?"
"Dia ada di dalam Tuan, Kami sudah menyimpannya di ruangan yang pengap dan dingin sesuai perintah Tuan." Jawab 1 Preman
"Bagus,,, Antar aku kesana!" Titahnya
"Baik Tuan ... Mari ikuti saya!" Ucapnya sembari memimpin jalan
Para preman pun menunjukkan tempatnya dan atasannya pun mengikuti kedua preman itu.
"Di sini Tuan, Itu dia!" Kata preman ketika sudah sampai di tempat penyekapan.
Orang itu sungguh sudah tak berdaya. Badannya kurus kering karena sudah terhitung 5 hari disekap tanpa makan dan minum tapi ia tetap bisa bertahan.
Orang itupun tersenyum jahat, lalu menghampirinya.
"Si-siapa kau, lepaskan aku, keluarga ku pasti mencari ku!" Kata orang itu bicara dengan lirih bergetar
"Kau tenang saja, keluargamu tidak mencari mu. Mereka bahkan tidak menyadari apa yang terjadi padamu."
"Bagaimana bisa kau tahu?"
"Karena aku bersama dengan keluargamu."
"Apa maksudmu??"
Orang yang disekap itu tidak bisa mengetahui lawan bicaranya karena matanya tertutup oleh kain hitam.
"Hahaha... Kau tidak perlu tahu, yang pastinya keluargamu sungguh harmonis sekali ya, aku iri sekali padamu."
"Sebenarnya siapa kau?" Tanya orang yang disekap itu
"Sampai lupanya kau padaku kawan, apa kau tidak ingat kita sudah berteman kurang lebih 4 tahun, Apa kau masih tidak mengenali suara ku jika kau tidak bisa melihat? Sebegitu cuek kah kau pada lingkungan sekitar mu."
__ADS_1
"Siapa?? Aku tidak tahu..."
"Hidupmu memang penuh dengan drama. Terlahir dari keluarga kaya, tumbuh menjadi pria yang dijodohkan dengan wanita yang rupanya sedang mengandung anak pria lain, sekarang pun kau kehilangan cinta pertama mu."
"Apa saja yang terjadi selama ini? Kenapa kau membahas cinta pertama ku? Rachel, apa yang terjadi dengan dia?" Getarnya tertegun
"Waktuku habis. Aku akan pulang dulu, tentunya ke rumah mu..." Orang itu pun pergi sambil memicingkan bibirnya sesaat
"Apa maksudnya? Apa yang dia lakukan di rumah ku, sebenarnya siapa dirinya, dan kenapa keluarga ku tidak mencari ku." Gumamnya kebingungan
"Lepaskannn... Akuuu..." Lanjut berteriak.
...***...
Di Rumah Pak Bambang, Pak Polisi datang ingin menunjukan hasil bukti penyebab rumah Pak Bambang yang kebakaran.
"Selamat Siang!" Kata komandan polisi
"Siang Pak polisi, ada hal apa yang menyebabkan Pak polisi datang kemari?" Tanya Pak Bambang
"Begini Pak Bambang, Untuk hasil pengamatan kami kemarin, kami sudah menemukan bukti penyebab dari kebakaran rumah anda."
"Jika begitu silakan masuk, Pak." Sambil berjalan mempersilakan masuk, lalu mereka Pak polisi dan anak buahnya duduk.
"Saya akan mengambil minum, Bapak ingin minum apa?"
"Tidak perlu Pak Bambang, Silakan duduk saja." Titahnya tidak ingin merepotkan
"Baiklah, Pak." Pak Bambang pun tidak jadi mengambil minum dan menuruti perintah polisi.
"Kami sudah menemukan bukti bahwa kebakaran yang dialami rumah bapak bukan terjadi dengan secara tiba-tiba tapi masalah ini sudah direncanakan, bapak bisa melihat cctv-nya."
Pak polisi yang satunya lagi mengeluarkan laptopnya dan memutar file cctv kemarin.
Betapa terkejutnya Pak Bambang saat menyaksikan semua apa yang terjadi, Di dalam vidio tersebut terlihat jelas seseorang membakar rumahnya, hal yang mengejutkan adalah Pak Bambang melihat orang tersebut sangat jelas pemilik wajah itu yang sengaja membakar rumahnya yakni Edgar.
__ADS_1