Dinikahi Pak Guru

Dinikahi Pak Guru
Bab 21


__ADS_3

'Ni guru punya dendam apa sih sama gue? Kenapa kayaknya sengaja banget gitu nyari kesalahan gue,' batin Gisel bertanya-tanya.


Alhasil, selama jam pelajaran Bu Celine, Gisel pun hanya berdiri di depan kelas.


"Sialan tuh guru. Kayaknya dia kayak pumya dendam gitu deh sama gue. Kerasa banget soalnya," umpat Gisel di saat jam pelajaran mereka sudah usai.


***


"Udah.. Biarin aja. Anggap aja dia lagi PMS," balas Mia yang di balas dengan anggukan oleh Dewi.


"Ya tapi kenapa harus gue?" protes Gisel lagi.


"Ya karena di kelas kita lo kan murid yang paling bandel. Ya jelas dong guru-guru di sekolah pada hafal wajah lo doang," balas Dewi kali ini.


"Hhhhh entahlah," balas Gisel lemas.


"Gisel," panggil Xavier dari arah belakang.


Seketika Gisel dan juga yang lainnya berhenti lalu menoleh ke arah Xavier.


"Xavier," gumam Dewi.


Dewi sebenarnya sangat-sangat menyukai Xavier sedari dulu. Namun, Dewi memilih untuk diam. Dia tidak mau mengutarakan apa yang ia rasakan kepada teman-temannya yang lain, termasuk Gisel.


'Ngapain Xavier manggil Gisel?' batin Dewi kurang suka.


"Sel, kamu pulang sama siapa?" tanya Xavier terdengar lembut.


"Hmmmm sendirian. Memang kenapa?"


"Aku numpang mobil kamu ya. Motorku rusak soalnya," jawab Xavier berbohong.


Ia sengaja beralasan seperti itu agar bisa pulang bersama dengan pacarnya itu tanpa di curigai oleh teman-teman yang lainnya.

__ADS_1


"Hmmm boleh.. Boleh..," jawab Gisel seolah ia tidak ada hubungan apa-apa dengan Xavier.


"Hmmmm Vier, gimana kalo lo pulang sama gue aja. Rumah lo dan Gisel kan beda arah, sedangkan rumah lo sama rumah gue itu searah," ucap Dewi yang tidak rela jika Xavier dan Gisel berduaan di atas mobil.


"Gue sama Gisel aja deh Wi. Soalnya ada yang mau gue tanyakan juga sih sebenarnya sama Gisel. Lagian gue cuma numpang sampe depan juga kok. Nggak papa kan ya?" tolak Xavier membuat Dewi sedikit kecewa.


Entah kenapa Dewi merasa semenjak mereka bolos bersamaan tadi pagi, perilaku Xavier dan juga Gisel agak sedikit berbeda.


Dimulai dari Gisel yang tiba-tiba saja berubah sangat ceria dan riang sekali. Dan Xavier yang tiba-tiba saja merasa peduli kepada Gisel saat gadis cantik itu di hukum oleh Bu Celine, dan yang terakhir Xavier meminta pulang satu mobil dengan Gisel dengan alasan ada sesuatu yang harus ia tanyakan kepada sahabatnya itu.


'Ada apa sebenarnya antara Gisel dan juga Xavier? Apa jangan-jangan mereka.. Mereka.. Ah, nggak mungkin. Selama ini Xavier dan Gisel tidak dekat ataupun saling sapa,' batin Dewi membuang jauh-jauh kecurigaannya.


"Ya udah, nggak papa kok. Santai aja kali. Ya sudah, gue dan yang lainnya duluan ya. Kebetulan kami ada rencana buat nongkrong hari ini," jawab Dewi yang diikuti oleh sahabat-sahabat mereka yang lainnya.


"Oh gitu. Maaf ya gue nggak bisa ikut. Papa sama mama gue nyuruh pulang cepat hari ini. Ya sudah, kalau gitu gue dan juga Xavier duluan ya," ucap Gisel seraya berpamitan kepada teman-temannya itu.


Lagi dan lagi, tanpa di sadari oleh Gisel dan juga Xavier, kepergian mereka ternyata di lihat oleh Pak Rama yang juga kebetulan akan pulang. Ia yang sedang berada di dalam mobilnya lebih memilih untuk mengamati perilaku antara Gisel dan juga Xavier. Selain itu, Pak Rama juga memutuskan untuk mengikuti kemana mereka akan pergi setelah ini.


Belum apa-apa, Pak Rama sudah di buat sakit hati oleh kelakuan Xavier yang telah berani mengusap pipi dan merapikan rambut Gisel yang sedikit berantakan. Ada rasa cemburu yang ia rasakan saat ini, tapi, Pak Rama terus berusaha untuk menahan dirinya agar tidak turun untuk memergoki mereka berdua.


Begitu juga dengan mobil Pak Rama yang terus mengikuti dari jarak yang tidak terlalu jauh.


"Mau kemana mereka sebenarnya?" gumam Rama bertanya-tanya.


"Kita mau kemana Vier?" tanya Gisel yang duduk di sebelah Gisel.


"Kita akan ke suatu tempat yang akan membuat kamu nyaman. Kamu nggak keberatan kan sayang?" jawab Xavier balik bertanya.


"Tidak.. Aku nggak keberatan kok. Tapi kita pulangnya jangan kelamaan ya. Masalahnya hari ini aku dan kedua orang tuaku akan ke rumah Pak Rama," jawab Gisel berbohong, namun membuat Xavier terkejut.


"Ke rumah Pak Rama? Ngapain?" tanya Xavier penasaran.


"Ada tahlilan di rumahnya Pak Rama. Kan orang tuanya baru saja meninggal beberapa waktu yang lalu,"

__ADS_1


"Lah, memang kita semua di undang gitu? Apa kamu aja?" tanya Xavier lagi.


"Bukan gitu. Papa dan mamaku itu adalah teman dari kedua orang tuanya Pak Rama. jadi, kedua orang tuaku juga mengajakku untuk tahlilan ke rumahnya Pak Rama," jawab Gisel.


"Oh gitu. Kirain mau ada acara lamaran," balas Xavier lega.


Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai oleh Xavier pun berhenti di sebuah danau buatan tempat mereka jadian tadi.


Di sana, tampak sebuah meja lengkap dengan makanan di atasnya yang sepertinya sudah disiapkan khusus oleh Xavier.


Tak hanya itu, meja tempat mereka makan tersebut juga sudah di kelilingi oleh kain putih dan dihiasi bunga-bunga berbagai warna.


Gisel begitu takjub sekali melihatnya.


Baru kali ini ia mendapatkan perlakuan romantis seperti ini dalam hidupnya.


"Xavier ini? Kapan kamu menyiapkan ini semua?" tanya Gisel penasaran.


"Kamu tidak perlu tau. Mending sekarang kamu duduk di tempat yang telah aku siapkan khusus untuk mu," jawab Xavier menggandeng tangan Gisel.


"Apa-apaan ini? Apa yang mereka lakukan? Apa mereka sudah berpacaran?" tanya Pak Rama mengepalkan tangannya.


Hatinya sungguh sakit saat melihat keromantisan yang terjadi antara Xavier dengan istrinya itu.


'Sabar Rama. Sabar. Jangan gegabah. Jangan sampai emosi mu menghancurkan semuanya,' batin Rama mencoba mengontrol emosinya.


"Gisel, ini semua khusus aku siapkan untuk kamu. Aku harap kamu suka ya," ucap Xavier seraya menggenggam tangannya Gisel, lalu menciumnya sekilas.


"Aku suka sekali Xavier. Suka sekali. Makasih ya," balas Gisel sangat-sangat senang sekali.


"Sama-sama sayang. Oh ya, satu lagi. Aku mau kamu pejamkan mata sekarang. Aku ada sesuatu buat kamu," balas Xavier benar-benar membuat Gisel penasaran.


"Memang kamu mau ngasih apa? Jangan aneh-aneh ya. Nanti aku marah," jawab Gisel sedikit cemas.

__ADS_1


"Sudah, kamu tenang saja. Percaya sama aku. Sekarang kamu pejamkan mata ya," balas Xavier lagi yang mulai berdiri di belakang Gisel.


__ADS_2