Dinikahi Pak Guru

Dinikahi Pak Guru
Bab 36


__ADS_3

"Ya, siapa tau dia udah terlanjur janji sama mending mamanya," balas Gisel lagi.


Ia seolah tak percaya jika Rama memiliki perasaan untuknya.


***


"Ya, gue nggak tau Sel. Mending lo coba dulu buat buka hati lo buat pak Rama dengan cara jadi istri yang baik untuknya. Semoga saja, dengan begitu, lo dan pak Rama bisa saling cinta," ucap Dewi terus menyemangati Gisel.


"Lo benar Wi. Gue akan mencobanya," balas Gisel lalu memejamkan matanya sejenak.


"Ya sudah, kalau gitu, gue mau ke kelas dulu. Nanti, setelah pulang sekolah, gue akan kesini lagi.


Lo baik-baik ya Gis. Jika ada apa-apa, segera kabarin gue," pamit Dewi pergi.


Baru saja Dewi membuka pintu untuk keluar, kebetulan sekali, Rama akan masuk ke ruangan UKS.


Langkahnya terhenti saat Dewi meminta untuk bicara dengannya empat mata.


"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan sama saya?" tanya Rama dengan wajah dinginnya.


"Hhhhhhhh, begini pak, tadi, sedikit banyaknya Gisel sudah bicara sama saya tentang hubungan bapak dengan dirinya.


Tak hanya itu, tadi saya juga mendengar sekilas permasalahan antara bapak dengan Gisel.


Bukannya saya ingin ikut campur. Saya sebagai sahabatnya Gisel cuma menyarankan saja, jangan lah bapak terburu-buru untuk menyerah dan mengakhiri semuanya. Cobalah untuk bertahan beberapa bulan lagi pak. Saya juga sudah mengatakan hal yang sama terhadap Gisel, dan tanggapannya, dia setuju untuk mencobanya kembali agar semua menjadi lebih baik. Bagaimana menurut bapak?" ucap Dewi panjang lebar.


Rama tampak diam dan mencoba memikirkan serta mencerna apa yang dikatakan oleh salah satu muridnya itu selama beberapa saat.


"Pak? Bagaimana? Apa bapak setuju?" tanya Dewi lagi.


"Tapi kamu kan tau sendiri, Gisel tidak mencintai saya. Dia sangat-sangat mencintai Xavier," ucap Rama angkat bicara.


"Ya, saya tau itu. Tapi waktu yang bapak miliki dengan Gisel itu lebih banyak dari pada waktunya dengan Xavier pak. Dari itu saja jelas bapak sudah memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan hati Gisel," balas Dewi lagi.


Ia seolah tak mau menyerah untuk membujuk guru killer nya itu.


"Hhhhh. Kamu benar. Tapi, bagaimana jika Gisel tidak mencintai saya juga?" tanya Rama lagi.


"Bapak tenang saja. Tugas bapak hanyalah menjadi suami yang baik dan semestinya untuk Gisel. Sedangkan aku akan bantu Gisel untuk membuka hatinya untuk bapak. Percayalah pak. Demi rumah tangga bapak dan juga Gisel," ucap Dewi berharap Rama mau menurutinya.

__ADS_1


"Hhhhh, baiklah. Saya akan kembali mencobanya dan bertahan hingga akhir tahun nanti. Jika tidak juga, saya harus ikhlas jika rumah tangga saya dan Gisel harus berakhir," balas Rama membuat Dewi merasa senang dan juga lega.


'Syukurlah. Dengan begini, aku lebih memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan hati Xavier,' batin Dewi merasa senang.


"Baiklah kalau begitu pak. Ya sudah. Kalau begitu saya ke kelas dulu pak. Permisi," pamit Dewi sumringah.


"Hhhhh, semoga saja semuanya berjalan dengan lancar. Biar bagaimana pun juga, saya belum siap jika harus berpisah dengan mu Gisel," gumam Rama pelan.


Rama pun akhirnya melangkahkan kakinya melangkah menuju tempat Gisel di rawat.


Sedangkan Xavier sendiri sudah kembali ke kelasnya karena tidak diizinkan untuk menemui Gisel.


"Hmmmm, selamat siang suster. Apa Gisel masih di dalam?" tanya Rama kepada petugas kesehatan itu.


"Masih pak. Dia masih perlu istirahat hingga jam pulang nanti," jawab petugas tersebut.


"Baiklah. Kalau begitu saya akan masuk menemuinya. Barusan orang tuanya menelpon saya dan menanyakan kabar anaknya," ucap Rama berbohong.


Ia sengaja melakukannya agar bisa masuk ke dalam ruangan UKS tanpa di curigai oleh petugas kesehatan tersebut.


"Baik pak. Silahkan," balas petugas tersebut lalu pergi.


Perlahan, Rama pun mendekatinya dan mengusap kepalanya.


"Semoga rumah tangga kita baik-baik saja ya Gisel. Jujur, saya tidak mau ada perpisahan di antara kita berdua. Saya percaya jika kamu adalah jodoh terbaik yang dipilihkan mama untuk saya," ucap Rama sembari mengusap kepala Gisel yang masih tertidur.


Tak lama kemudian, Gisel pun terbangun dan perlahan membuka matanya.


Gisel terkejut saat melihat Rama sudah ada disisinya.


"Pak.. Pak Rama," ucap Gisel berusaha untuk bangkit dari tidurnya.


"Gisel.. Gisel.. Sudah, kamu tidur saja. Jangan banyak gerak dulu," ucap Rama menahan Gisel agar tidak banyak bergerak lagi.


"Ah iya. Baiklah pak," jawab Gisel mengalah.


"Hmmmm Gisel, apa lukamu masih sakit?" tanya Rama berusaha mencairkan suasana.


"Masih pak. Tapi tidak terlalu sakit lagi. Hmmmm, bapak tidak masuk kelas? Bukannya sekarang bapak mengajar di kelas sepuluh?" tanya Gisel lagi.

__ADS_1


Jujur ia sangat canggung sekali hari ini.


"Ah iya, kamu benar. Tapi saya sudah meminta guru lain untuk menggantikannya.


Gisel, apa kamu lapar?" tanya Rama lagi.


"Tidak pak. Saya tadi sudah makan di kantin," jawab Gisel sedikit tersenyum.


"Hmmmm Gisel, untuk hari ini saya mau kamu pulang dengan saya," ucap Rama tiba-tiba.


"Hmmm tidak usah pak. Saya bisa pulang sendiri," jawab Gisel lalu membuang mukanya.


"Gisel, saya ini suamimu. Untuk kali ini saja, tolong turuti perintah saya meskipun kamu tidak mencintai saya," ucap Rama dengan dinginnya.


Gisel tak menjawab apa-apa. Ia hanya menganggukkan kepalanya pertanda ia setuju dengan untuk mengikuti kemauan suaminya itu.


"Bagus. Kalau begitu, istirahatlah. Saya akan ke ruangan saya dulu sebentar. Ingat Gisel, jangan kemana-mana sebelum saya kembali," ucap Rama lalu mengecup kening istrinya itu.


Sontak, mendapat perlakuan seperti itu, jantung Gisel langsung berdegup kencang. Baru beberapa waktu yang lalu, guru sekaligus suaminya itu marah, tapi kini, ia sudah kembali berubah menjadi baik, penyayang dan lemah lembut.


Ada rasa hangat yang di rasakan oleh Gisel saat mendapat perlakuan seperti itu.


"Dewi benar. Di saat Pak Rama tengah berjuang untuk mendapatkan cinta gue, gue juga harus berjuang untuk mendapatkan cinta pak Rama," gumam Gisel memegang bekas ciuman Rama tadi.


Tak lama kemudian, Rama pun kembali ke UKS dan meminta Gisel untuk pulang bersamanya.


"Tapi pak, ini masih jam sekolah," ucap Gisel terlihat ragu.


"Kamu tenang saja. Saya sudah memintakan izin untukmu pulang cepat," jawab Rama membangunkan istrinya itu.


Gisel tak bicara lagi. Ia hanya menurut dan berjalan perlahan hingga ke parkiran sekolah.


"Loh, pak Rama, Gisel, mau kemana kalian? Bukannya ini masih jam sekolah?" tanya Bu Celine yang kebetulan berpapasan dengan Rama dan Gisel.


"Ini, saya mau mengantar Gisel pulang atas kemauan orang tuanya. Sepertinya Gisel akan di bawa ke rumah sakit oleh orang tuanya," jawab Rama yang telah mempersiapkan semua alasannya dengan sempurna.


"Loh, kenapa nggak orang tuanya saja yang kesini?" tanya Bu Celine terlihat tidak suka.


"Kedua orang tuanya masih dalam perjalanan dari luar kota. Jadi saya diminta untuk membawa Gisel ke rumah sakit," jawab Rama.

__ADS_1


Sedangkan Gisel, hanya diam saja sembari menundukkan kepalanya.


__ADS_2