Dinikahi Pak Guru

Dinikahi Pak Guru
Bab 28


__ADS_3

"Gisel, kantin yuk, kita sarapan bareng," ajak Dewi langsung merangkul tangan Gisel.


"Hmmm bo.. Boleh. Ayok. Kebetulan gue juga belum sarapan," jawab Gisel menghela nafas lega.


***


Sementara itu, Rama baru saja tiba di sekolahnya.


Ia memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil milik sang sang istri.


Rama pun langsung memilih untuk turun dari mobilnya dan berjalan menuju ruangannya.


Namun, di tengah perjalanan, Rama pun tam sengaja mendengar percakapan antara Bryan dengan Xavier.


Alhasil, Rama pun berhenti sejenak dan mendengarkan percakapan mereka yang membicarakan istrinya Gisel.


"Gimana menurut lo? Kira-kira Gisel suka nggak ya jika gue ngasih cincin ini sama dia?" tanya Bryan yang Xavier sendiri tidak tau harus menjawab apa.


'Sepertinya bocah itu tidak tau jika temannya itu berpacaran dengan Gisel,' batin Rama mengambil kesimpulan.


"Vier? Lo kenapa diam aja sih? Lo sakit ya?" tanya Bryan lagi.


"Nggak. Siapa yang sakit. Bukan gimana ya Vier, menurut gue mending lo cari cewek lain aja deh," ucap Xavier membuat kening Bryan berkerut.


"Loh? Kenapa memang" tanya Bryan penasaran.


"Kayaknya si Gisel udah punya cowok. Kemarin gue liat Gisel jalan berdua dengan laki-laki lain. Kayaknya anak kuliahan. Mereka begitu mesra sekali. Gue yakin jika Gisel pasti sangat mencintainya. Begitu juga sebaliknya," jawab Xavier berharap Bryan tidak akan mendekati Gisel lagi.


"Oh ya? Lo tau liat dimana?" tanya Bryan penasaran.


"Gue lihat di taman dekat sini. Taman danau buatan itu," jawab Xavier membicarakan dirinya sendiri.


"Yah, keduluan dong gue. Kira-kira siapa ya pacarnya Gisel? Ganteng nggak ya," ucap Bryan bertanya-tanya.


"Ya kayaknya sih ganteng. Ya sudah, gue ke kelas dulu ya. Bentar lagi bel," balas Xavier memukul pelan bahu temannya itu.


'Ternyata si Bryan juga menyukai istriku. Huuhh.. Godaan apalagi ini. Semoga setelah putus dari Xavier, Gisel tidak menjalin hubungan dengan Bryan,' batin Rama hanya bisa berharap.

__ADS_1


"Pak Rama," sapa Bu Celine yang entah sejak kapan berada di belakangnya.


"Bu Celine. Ada apa? Jawab guru tampan itu balik bertanya.


"Ah, tidak. Saya.. Saya permisi dulu," ucap Bu Celine yang merasa canggung setelah kejadian malam itu.


"Bu Celine," panggil Rama di saat guru cantik itu mulai berlalu meninggalkannya.


"Ah, iya. Ada apa pak?" tanya Bu Celine menghentikan langkahnya.


"Saya.. Saya minta maaf atas kejadian malam itu," jawab Rama mengulurkan tangannya.


"Hhhh tidak masalah pak. Saya sudah memaafkan bapak. Lagi pula, saya memang salah. Seharusnya saya tau diri dan tau tempat dimana saya berada," ucap Bu Celine sengaja membuat Rama semakin merasa bersalah.


"Bukan begitu maksud saya Bu Celine. Saya.. Saya benar-benar minta maaf," ujar Rama lagi.


"Bapak tenang saja. Saya sudah memaafkan bapak kok," ucap Bu Celine yang saat ini meraih tangan Rama dan menyatukan dengan tangannya, seolah-olah mereka telah bersalaman.


Kedekatan tersebutpun akhirnya tak sengaja dilihat oleh Gisel yang saa itu akan masuk ke kelasnya bersama dengan teman-temannya.


Sontak ekspresi wajah Gisel pun berubah. Begitu juga dengan Rama yang segera melepaskan tangannya dari tautan tangan Bu Celine.


Mendengar pujian dari sahabat istrinya, seketika Rama merasa bersalah dan tidak enak.


Ia segera melepaskan tangannya dari Bu Celine dan segera pergi meninggalkan tempat tersebut.


Sementara Bu Celine tampak senang sekali karena Dewi mengatakan hal seperti itu.


'Sialan. Bisanya cuma ngatur-ngatur gue doang. Lah dia?' umpat Gisel kesal.


'Gisel pasti salah faham. Aku harus bicara padanya nanti,' batin Rama yang baru saja sampai di ruangannya.


Hari ini adalah jadwalnya Rama mengajar di kelasnya Gisel. Semua murid tampak fokus dan serius memperhatikan apa yang tengah di ajarkan oleh guru tampan itu.


Meskipun ada masalah antara dirinya dan juga Gisel, tapi Rama bisa tetap bersikap layaknya guru dengan muridnya.


"Baik, cukup sampai disini pelajaran kita hari ini. Ingat, di pertemuan selanjutnya, kita akan ada ulangan terakhir sebelum memasuki ujian semester. Dan... Hmmmmm, Gisel, tolong bawa buku-buku ini ke ruangan saya segera," ucap Rama membuat Gisel semakin kesal. Gisel tau jika ini hanyalah modus suaminya itu saja agar bisa berduaan dengan dirinya.

__ADS_1


"Baik pak," balas Gisel terpaksa sebelum Rama meninggalkan ruang kelas tersebut.


"Wi, temenin gue ke ruangan pak Rama ya. Habis itu, gue traktir lo makan di cafe tempat kita biasa nongkrong," ucap Gisel kepada Dewi sahabatnya.


"Hmmmm gimana ya. Lo aja ya. Lo kan tau sendiri pak Rama itu orangnya gimana? Kalo dia nyuruh lo, ya elo harus datang sendiri, kecuali dia juga nyuruh gue nemanin lo, nah baru.. Maafin gue ya Sel," tolak Dewi yang selalu kapok jika masuk ke ruangan gurunya itu.


"Yah lo gimana sih, sama pak Rama takutan gitu. Kan cuma nganter buku doang Wi," ucap Gisel lagi.


"Duh, bukannya gue takut Sel. Lo kan tau sendiri, jika muridnya nggak ada kesalahan, mana mungkin tuh guru mau nyuruh lo ke ruangannya, Gue yakin, kalo buku-buku ini pasti alasan dia doang. Dan lo sendiri juga tau kan, Pak Rama itu kayaknya punya dendam kusumat deh sama lo," jawab Dewi lagi.


"Lo benar juga sih. Gue sendiri sampe heran sama tuh guru. Bisa-bisanya dia selalu nindas gue kayak gini," balas Gisel kesal.


"Ya habis lo nakal sih. Mana tiap jam pelajarannya lo bolos melulu," ucap Dewi yang paling tau dengan kelakuan sahabatnya itu.


Akhirnya dengan sangat-sangat terpaksa, Gisel pun membawa buku-buku tersebut ke ruangan Rama.


Setibanya di depan pintu, Gisel merasa berat dan ia hendak berbalik, tapi sayang sekali, tiba-tiba saja Rama membuka pintu ruangannya dan mau tak mau, Gisel pun tidak bisa mengelak lagi.


"Gisel, mau kemana kamu?" tanya Rama menegur muridnya itu.


"Nggak kemana-mana. Ini saya mau ngantar buku yang bapak suruh," jawab Gisel ketus.


"Oh ya sudah, taro di ruangan saya. Ayo masuk," perintah Rama kembali masuk ke ruangannya.


Tak sepatah katapun yang keluar dari mulut Gisel. Setelah menaruh buku di atas meja, Gisel pun berniat meninggalkan ruangan tersebut tanpa sepatah katapun.


"Gisel, kamu mau kemana?" tanya Rama mulai menghampiri istrinya itu.


"Keluar," jawab Gisel singkat.


"Tapi saya belum mengizinkan mu," ucap Rama lagi. Saat ini Rama telah memegang sebelah lengan Gisel.


"Tapi sayangnya saya tidak peduli," ucap Gisel melepaskan tangan Rama dari lengannya.


"Gisel tunggu. Selangkah saja kamu keluar dari ruangan saya, saya pastikan akan menghukum mu malam ini," ancam Rama membuat langkah Gisel terhenti.


'Takut juga dia,' batin Rama senang.

__ADS_1


"Bodo amat," ucap Gisel seketika membuat senyuman Rama menghilang seketika.


__ADS_2