Dinikahi Pak Guru

Dinikahi Pak Guru
Bab 38


__ADS_3

"Nggak, lo bercanda kan Wi?" tanya Xavier lagi.


***


"Nggak, gue nggak becanda. Gue serius Vier," balas Dewi membuat Xavier langsung terlihat lemas.


"Vier,gue tau ini memang beat buat lo. Tapi ini adalah kenyataannya.


Gisel memang sudah di jodohkan dan bertunangan dengan laki-laki pilihan orang tuanya.


"Tapi kenapa Gisel nggak bilang apa-apa sama gue?" tanya Xavier lagi.


"Itu karena Gisel sangat mencintai lo Vier. Dia nggak mau nyakitin perasaan lo," jawab Dewi lagi.


Menjawab jawaban Dewi, Xavier pun memiliki tekat untuk tetap memperjuangkan cintanya kepada Gisel.


Ia akan menanyakan langsung kepada Gisel perihal masalah ini.


"Ya sudah, kalau gitu gue pergi dulu. Gue sudah putuskan jika gue akan memperjuangkan Gisel. Makasih Wi, lo udah mengatakan ini sama gue. Gue pergi dulu," ucap Xavier lalu pergi.


"Gue pikir lo akan menyerah dan memilih untuk mundur Vier. Tapi gue salah besar. Ternyata sebesar itu rasa cinta lo sama GIsel," gumam Dewi menatap kepergian Xavier dengan sendu.


Sementara itu, Gisel kembali membuka ponsel miliknya dan mengirimkan pesan kepada sahabatnya Dewi.


"Wi, gimana? Apa lo udah lakuin apa yang gue suruh?" tanya Gisel dalam pesan singkatnya.


"Udah, dan kelihatannya Xavier sangat terpuruk sekali. Xavier juga bilang sama gue jika dia akan tetap memperjuangkan cintanya sama lo Gis. Dan dia juga bilang jika dia akan bicara dengan lo secara langsung," balas Dewi beberapa saat kemudian.


Waktu di UKS, Gisel meminta Dewi untuk mengatakan kepada Xavier jika ia telah di jodohkan bahkan sudah bertunangan dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Gisel juga meminta Xavier untuk meninggalkannya melalui Dewi.


'Maafkan aku Vier. Aku terpaksa melakukan ini sama kamu. Sekuat apapun kita bertahan dan berjuang, kita tidak akan pernah bersatu,' batin Gisel meneteskan air matanya.


"Gisel kamu kenapa menangis?" tanya Rama yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ah, saya.. Saya.. Saya nggak nangis kok pak, hanya saja tempat luka saya ini terasa nyeri sekali," jawab Gisel berbohong.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu tunggu sebentar. Kita akan ke rumah sakit sekarang juga," balas Rama lalu masuk ke ruangan ganti.


Gisel ingin menolaknya, namun suaminya itu telah berlalu begitu saja.


'Maafkan saya pak. Saya tau bapak baik sama saya. Tapi jika saya jujur, bapak pasti akan sakit hati,' batin Gisel merasa sangat-sangat bersalah sekali.


Tak lama kemudian, Rama pun selesai. Ia yang berniat membawa Gisel ke rumah sakit menjadi tidak tega saat melihat istri nakalnya itu tengah tertidur.


Rama lalu menghampiri Gisel dan mengecup keningnya sekilas.


"Maafkan saya yang telah mengikatmu dalam pernikahan ini. Saya janji akan membahagiakan mu jika kamu memilih untu bertahan dengan saya. Saya akan jadikan kamu ratu di dalam hidup saya ini. Saya janji," gumam Rama lalu keluar dari kamar tersebut.


Setelah Rama pergi, Gisel pun langsung membuka matanya. Ternyata ia hanya pura-pura tidur agar tidak pergi ke rumah sakit.


Hati Gisel terasa hangat saat mendengar penuturan Rama baru saja. Gisel semakin yakin untuk mempertahankan rumah tangganya dengan guru killer nya itu.


Lima belas menit kemudian, Gisel pun memutuskan untuk mandi dan beberapa saat kemudian, ia pun sudah mengganti pakaiannya.


Karena Rama tak kunjung ke kamar, Gisel pun memutuskan untuk turun ke lantai satu dan berniat untuk menonton tv. Namun, saat Gisel baru saja turun dari lantai dua rumahnya, ia mencium bau masakan yang membuat cacing di perutnya meronta minta makan.


Gisel terdiam saat melihat Rama tengah sibuk memasak makanan. Ia begitu lihai dan terampil sekali.


Gisel pun seolah di buat takjub oleh laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.


"Gisel? Kamu sudah bangun?" tanya Rama membuyarkan lamunan sang istri.


"Hmmmm, sudah. Saya juga sudah mandi baru saja," jawab Gisel mencoba untuk tersenyum meski pikirannya terus terpikirkan nasib hubungannya dengan Xavier.


"Oh ya? Bagus dong kalau gitu. Ya sudah, kalau gitu kamu duduk dulu di sini. Sebentar lagi makanannya siap," ucap Rama membimbing tangan sang istri menuju meja makan yang ada di sebelah dapurnya itu.


"Bapak bisa masak?" tanya Gisel memecahkan suasana di antara mereka berdua.


"Bisa, sedikit-sedikit. Nah, ini, coba kamu cicipi dulu. Jika ada yang kurang, katakan saja," jawab Rama sembari menyodorkan sebah sendok yang berisikan nasi goreng udang.


Tanpa ragu, Gisel pun membuka mulutnya dan Rama pun dengan senang hati menyuapkannya ke mulut Gisel.

__ADS_1


"Gimana?" tanya Rama beberapa saat kemudian.


"Hmmmmm, enak. Nggak ada yang kurang sama sekali. Nasi goreng bapak ini benar-benar enak sekali," puji Gisel mengunyah makanannya dengan lahap.


"Oh ya. Terima kasih kalo gitu. Sebentar lagi nasi gorengnya sudah matang. Saya akan mempersiapkan segala sesuatunya dulu," ucap Rama lalu kembali ke dapur.


Acara makan malam sepasang suami isti itupun berjalan dengan lancar dan sebagai mana mestinya. Kini Gisel bahkan tengah bersantai di depan tv bersama dengan Rama.


Mereka bagaikan sepasang suami istri yang saling cinta satu sama lain.


"Gisel," panggil Rama sembari mengusap kepala sang istri.


"Ya, kenapa?" jawab Gisel menoleh ke arah suaminya itu.


"Nggak ada, saya hanya manggil nama kamu saja," jawab Rama terkekeh.


"Ih, apaan sih pak? Nggak jelas banget," balas Gisel menggelengkan kepalanya.


"Gisel,' panggil Rama lagi beberapa saat setelahnya. Namun Rama sekali tak menjawab apa-apa. Ia hanya diam dan saat Rama akan memanggil namanya lagi, tiba-tiba saja lampu rumah itu mati secara mendadak. Otomatis, Gisel yang takut gelap itupun langsung memekik dan memeluk Rama dengan sangat-sangat erat.


"Pak tolong nyalakan lampunya. Saya takut sekali," ucap Gisel dengan suara yang jelas sangat ketakutan sekali.


"Tenang, ada saya disini, kamu nggak perlu takut. Kamu tunggu sulu di sini sebentar. Saya akan ambil penerangan dulu," ucap Rama hendak berdiri.


"Jangan pergi pak. Saya takut sekali. Saya nggak mau disini sendirian," ucap Gisel terus memeluk erat suaminya itu.


"Ya sudah, kalau begitu, kamu ikut dengan saya. Kita ambil penerangannya sama-sama," ucap Rama lalu membimbing Gisel dengan erat.


"Yah nggak ada lagi. Kalo gitu kita ke kamar saja. Di kamar saya pernah menaruh senter di dalam laci," ucap Rama yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Gisel.


Akhirnya, dengan di bantu dengan pencahayaan dari ponsel pintarnya, Rama pun tiba di kamarnya yang berada di lantai dua rumah besar tersebut.


Dengan cepat, Rama langsung membuka laci dan mengeluarkan senter yang pernah ia simpan di sana.


"Huhhh, syukurlah, akhirnya," ucap Rama lega.

__ADS_1


__ADS_2