
"Kedua orang tuanya masih dalam perjalanan dari luar kota. Jadi saya diminta untuk membawa Gisel ke rumah sakit," jawab Rama.
Sedangkan Gisel, hanya diam saja sembari menundukkan kepalanya.
***
Tak menunggu lama lagi, Rama pun langsung membawa Gisel pergi.
"Sial, kenapa Pak Rama harus perhatian sama anak nakal itu sih?" gumam Bu Celine terlihat kesal.
Setibanya di dalam mobil, Rama pun langsung menatap Gisel lekat. Entah apa yang ia pikirkan.
"Gisel, maafkan saya karena tadi sudah memarahi mu di depan Dewi. Jujur saya cemburu karena saya sebagi suami tidak bisa mendapatkan cinta mu. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Rama menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Tidak apa-apa pak. Saya sama sekali tidak marah. Saya juga salah, seharusnya saya sadar diri jika saya ini telah menikah dan memiliki suami.
Pak, mulai hari ini saya janji jika saya akan menjadi istri yang baik untuk bapak. Saya akan berusaha untuk menerima bapak sebagai suami saya, dan saya juga akan berusaha untuk mencintai bapak," balas Gisel mencoba menuruti perkataan sahabatnya Dewi.
"Benarkah? Gisel, saya senang sekali mendengarnya. Saya juga akan melakukan hal yang sama," ucap Rama mencium tangan Gisel berkali-kali.
Sepanjang perjalanan pulang, wajah Rama nampak berseri-seri. Ia senang karena ada harapan untuk mempertahankan rumah tangganya dengan jodoh pilihan mamanya itu.
"Pak, bapak kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Gisel heran.
"Ah, nggak kenapa-napa. Saya hanya sedang senang saja hari ini," jawab Rama tetap fokus dengan kemudinya.
Tiga puluh menit kemudian, Rama dan Gisel pun tiba di rumah mereka.
Saat Gisel akan membuka pintu untuk turun, tiba-tiba saja Rama langsung memegang tangannya, dan itu berhasil membuat Gisel untuk berbalik dan menatap Rama.
"Ada apa pak?" tanya Gisel menatap suaminya itu.
"Tidak kamu tunggu di sini, biar saya yang membukakan pintu untukmu," ucap Rama lalu segera turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Gisel.
"Bapak tidak perlu repot-repot seperti ini. Saya bisa turun sendiri," ucap Gisel merasa sungkan.
__ADS_1
"Sudah, kamu tenang saja. Biarkan saya memanjakan istri nakal saya ini," balas Rama membuat pipi Gisel merah merona.
Disekolah, Bu Celine terlihat tidak tenang memikirkan Rama dan juga Gisel yang satu mobil berdua.
Semenjak acara tahlilan malam itu, Bu Celine mulai menaruh curiga dengan hubungan Rama dan juga Gisel.
Meskipun Rama sudah menjelaskannya malam itu, tapi Bu Celine tidak mudah percaya begitu saja.
'Apa mereka berdua memiliki hubungan yang spesial? Bagaimana jika iya? Itu artinya aku tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta pak Rama' batin Bu Celine terlihat gelisah.
Sementara itu, di rumah, Rama benar-benar memperlakukan Gisel dengan baik. Mulai dari mengoleskan obat untuk Gisel, hingga menggantikan seluruh pakaiannya.
Sebagai upaya untuk menumbuhkan rasa cintanya, Gisel pun sama sekali tidak menolak pelayan dari suaminya itu, meskipun ia sedikit merasa risih.
"Apa kamu mau mandi?" tanya Rama sembari mengusap kepala sang istri.
"Tidak pak. Nanti saja. Jika bapak mau mandi, silahkan saja," jawab Gisel menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah,kalau begitu, kamu tunggu disini. Istirahatlah dulu, nanti aku akan membersihkan tubuhmu dengan handuk basah," ucap guru tampan itu.
"Nggak usah pak. Kalau untuk mandi, saya masih bisa sendiri," jawab Gisel menolak.
"Nggak usah pak, yang ada mandinya nggak bakalan kelar-kelar," jawab Gisel pelan.
"Apa? Kamu baru saja bilang apa?" tanya Rama tidak terlalu mendengar jawaban sang istri.
"Ah nggak apa-apa kok pak. Ya sudah, bapak mandi gih sana," jawab Gisel lalu memejamkan matanya.
Rama pun tidak banyak bertanya lagi. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.
Entah kebetulan atau memang sudah settingan, baru saja Rama masuk ke dalam kamar mandi, ponsel milik Gisel pun berdering. Gisel yang penasaran pun langsung melihat siapa yang tengah menelponnya saat ini.
"Xavier," gumam Gisel merasa bimbang. Di satu sisi, Gisel ingin sekali mengangkat panggilan Xavier dan menanyakan bagaimana keadaan sang pacar. Namun disisi lain, Gisel juga harus menepati janjinya untuk menjauhi Xavier dan lebih fokus untuk rumah tangganya.
"Maafkan aku Xavier. Bukannya aku tak mau mengangkat panggilan mu, hanya saja ada hati dan juga perasaan yang harus aku jaga saat ini," gumam Gisel lalu mematikan ponsel miliknya.
__ADS_1
Sementara itu di sekolah, Xavier yang saat ini sedang berada di ruang UKS khusus perempuan pun terlihat cemas karena ia sudah tidak lagi mendapati Gisel di sana. Xavier sudah mencoba untuk bertanya sama petugas UKS, namun mereka bilang jika tak ada yang tau jika Gisel pergi kemana dengan siapa.
"Kemana kamu Sel?" tanya Xavier terlihat bingung.
Disaat yang bersamaan, Dewi juga datang untuk menemui sahabatnya itu. Namun Dewi juga terkejut karena tidak lagi mendapati Gisel. Yang ada hanyalah Xavier yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Xavier? Lo ngapain disini?" tanya Dewi membuat Xavier seketika berhenti memainkan ponselnya.
"Dewi, lo tau nggak Gisel kemana?" tanya Xavier berharap jika Dewi tau dimana keberadaan pacarnya itu.
"Gue nggak tau Vier. Gue juga mau nanya keberadaan Gisel sama lo," jawab Dewi juga terlihat bingung.
"Gue juga nggak tau Wi. Kira-kira Gisel kemana ya? Apa dia baik-baik saja?" ucap Xavier terlihat cemas.
"Tadi sih Gisel baik-baik saja. Oh ya Vier, ada yang mau gue katakan sama lo. Kita bisa bicara di sana?" ucap Dewi menunjuk ke arah taman dekat UKS.
"Katakan apa?" tanya Xavier balik.
"Adalah. yang jelas ini berhubungan dengan Gisel," ucap Dewi membuat Xavier penasaran.
"Ya sudah, ayo," jawab Xavier lalu berjalan menuju taman.
"Jadi, apa yang ingin lo katakan sama gue?" tanya Xavier setelah mereka tiba di taman.
"Hhhhhh, Vier, sebaiknya lo tinggalin Gisel dan buang jauh-jauh perasaan lo padanya," ucap Dewi tiba-tiba.
Mendengar permintaan Dewi, Xavier pun seketika menatap Dewi dengan tatapan tajam, lalu tertawa di detik berikutnya.
"Hahaha, lo gila ya? Maksud lo apa nyuruh gue mutusin Gisel dan jauhi dia?" tanya Xavier lagi.
"Maksud gue baik Vier. Asal lo tau, Gisel sudah di jodohkan oleh kedua orang tuanya dengan laki-laki lain," jawab Dewi seketika membuat Xavier terdiam.
Ia masih mencerna apa yang di ucapkan oleh Dewi baru saja.
"Lo ngarang kan Wi?" tanya Xavier lagi.
__ADS_1
"Nggak Vier, gue nggak ngarang. Gue serius. Gisel sudah di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Ia bahkan sudah bertunangan dengan laki-laki itu. Vier, gue mengatakan ini karena gue nggak mau lo kecewa suatu saat nanti," ucap Dewi membuat Xavier menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nggak, lo bercanda kan Wi?" tanya Xavier lagi.