Dinikahi Pak Guru

Dinikahi Pak Guru
Bab 46 (BAB MENJELANG TAMAT)


__ADS_3

"Kamu benar. Gisel memang sedikit tidak enak badan. Tadi saya juga sudah memintanya untuk tidak masuk sekolah. Tai ia masih ngotot untuk masuk sekolah. Ya sudah, terima kasih. Kalau begitu saya mau pulang dulu. Kamu hati-hati di jalan," ucap pak guru Rama lalu berjalan ke arah mobilnya.


***


Satu jam kemudian, Rama pun tiba di rumahnya.


Dengan cepat, pak guru tampan itu langsung bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya.


"Astaga Gisel kamu panas sekali," ucap pak guru Rama mengusap kening sang istri.


"Pak. Bapak sudah pulang?" tanya Gisel yang terbangun karena sentuhan sang suami.


"Sudah. Gisel kamu panas sekali. Sebentar ya, saya akan bawa kamu ke rumah sakit sekarang," jawa pak guru Rama meninggalkan Gisel untuk berganti pakaian.


"Gisel, tadi saya sudah bilang sama kamu untuk tidak masuk sekolah. Tapi kamu kenapa masih ngotot untuk datang ke sekolah sih?" tanya pak guru Rama yang saat ini sedang fokus menyetir.


"Maaf kan saya pak. Tapi saya nggak mungkin meninggalkan ujian ini," jawab Gisel dengan suara lemah.


Rama pun hanya diam. Ia tak mau lagi banyak berbicara karena kasihan dengan Gisel.


Tiga puluh menit kemudian, mereka pun tiba di sebuah klinik umum. Dengan sigap, Rama pun langsung menggendong sang istri menuju ruangan UGD.


"Dokter tolong istri saya badannya panas sekali," ucap Rama sembari merebahkan tubuh Gisel di atas ranjang klinik tersebut.


"Sebentar ya pak. Kami akan memeriksanya terlebih dahulu," jawab sang dokter mulai menangani Gisel yang terlihat pucat dan lemah.


"Maaf bu, keluhannya saat ini apa saja ya?" tanya dokter tersebut sembari mengukur tekanan darah Gisel.


"Hmmmm, kepala saya rasanya pusing sekali dokter. Tak hanya itu, perut saya rasanya juga nggak enak sama sekali. Saya seperti tidak memiliki tenaga untuk melakukan aktifitas saya," jawab Gisel menyebutkan semua keluhannya.


"Ok, apa ibu sering terlambat makan?" tanya dokter itu lagi. Sedangkan Rama hanya menyaksikan dengan cemasnya.


"Nggak pernah dokter, saya selalu makan tepat waktu kok," jawab Gisel berterus terang.


"Ya sudah, kalau begitu kita cek urinnya ya. Ibu bisa menampung sedikit urinnya disini dan memberikannya kepada saya," ucap dokter tersebut memberikan sebuah botol kecil ke tangan Gisel.

__ADS_1


"Hmmmm, baiklah dokter. Kalau begitu saya numpang ke toilet nya dulu," jawab Gisel berusaha untuk bangkit dengan di bantu oleh Rama.


"Hmmmm pak, bapak tunggu disini saja. Saya bisa kok melakukannya sendiri," ucap Gisel saat ia sudah berada di depan pintu kamar mandi.


"Kamu yakin?" tanya Rama lagi.


"Yakin pak," jawab Gisel menganggukkan kepalanya.


Gisel pun akhirnya masuk ke dalam kamar mandi untuk menampung urinnya.


Dan tak beberapa lama kemudian, sel pun kembali keluar dengan memegang botol yang berisi cairan tersebut.


"Hmmm, ini dokter. Apa segini cukup?" tanya Gisel memberikannya kepada dokter yang tadi memeriksanya.


"Cukup. Ya sudah, kalau begitu ibu silahkan berbaring lagi. Saya akan memeriksanya sebentar," jawab dokter wanita tersebut lalu kembali meninggalkan Gisel dann juga Rama.


"Apa kamu masih pusing?" tanya Rama kepada istrinya itu.


"Masih pak," jawab Gisel mengangguk pelan.


"Ya sudah. Kamu sabar sebentar ya. Saya yakin kamu pasti baik-baik saja," jawab Rama menyemangati istrinya itu.


"Masih dokter. Bagaimana dokter? Saya sakit apa?" tanya Gisel penasaran.


"Ibu tenang saja. Ibu tidak sakit apa-apa kok," jawab dokter tersebut tersenyum, namun berhasil membuat Gisel dan Rama penasaran.


"Lalu kenapa istri saya sampai bisa pusing seperti ini dokter?" tanya Rama lagi.


"Jadi begini pak, bu. Penyebab dari rasa pusing yang ibu rasakan ini adalah karena saat ini ibu tengah hamil muda. Saran saya, lebih baik ibu memeriksakan kelanjutannya ke dokter spesialis kandungan agar bisa memastikan kan bayi yang tengah ibu kandung saat ini," jawab dokter tersebut membuat Gisel dan Rama terkejut.


"Ha.. Ha.. Hamil dokter? Istri saya hamil?" tanya Rama lagi yang seakan tidak akin dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh dokter tersebut.


"Iya pak. Selamat ya, istri anda tengah hamil saat ini," jawab dokter itu lagi.


Rama pun beralih menatap Gisel. Perasaannya sangat bercampur aduk saat ini.

__ADS_1


"Gisel, kamu, kamu, kamu hamil?" tanya Rama dengan suara bergetar.


"I..I..Iya. Saya.. Saya.. Saya hamil pak. Ba.. Bagaimana ini?" jawab Gisel setengah berbisik.


"Bagus dong Gisel. Saya senang kamu hamil.Ya sudah, kalau begitu sebentar ya, saya akan menebus obat mu ke apotik dulu," ucap pak guru Rama mencium kening istrinya sekilas.


Sembari menunggu antrian obat untuk Gisel, Rama masih terus terpikirkan tentang kehamilan Gisel. Jujur Rama sangat senang sekali karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. Tapi Rama khawatir dengan sekolah Gisel yang sebentar lagi sang istri akan menjalani ujian kelulusan.


Begitu juga dengan Gisel. Entah mengapa ia sangat senang sekali dengan kehamilannya. Tapi ia juga cemas dengan sekolahnya.


"Hhhhhh, bagaimana jika pihak sekolah tau kalau aku sedang hamil?" gumam Gisel sesaat suaminya akan datang.


"Gisel, ayo kita pulang. Dokter bilang kamu sudah boleh pulang, tapi kamu harus istirahat total di rumah,"' ucap Rama dengan menenteng kantong plastik berisi obat-obatan sang istri.


"Baiklah. Ayo," balas Gisel yang beranjak dari tempat tidurnya dengan bantuan dari Rama.


Sepanjang perjalanan, Rama dan juga Gisel nampak diam. Mereka seakan larut dalam pikirannya masing-masing, hingga tak terasa, mereka pun kembali tiba di rumah.


"Gisel, kamu langsung istirahat di kamar saja. Aku akan menyiapkan makanan untuk mu," ucap Rama membaringkan sang istri di atas ranjang mereka.


"Tapi saya nggak mau makan pak," ucap Gisel dengan nada manjanya.


"Kamu harus makan Gisel. Ingat ada bayi yang ada di dalam kandungan mu saat ini," jawab Rama lagi.


"Pak.. Bagaimana jika pihak sekolah tau jika saya tengah hamil?" tanya Gisel memegang tangan Rama dengan reflek.


"Kamu tenang saja. Selama kamu nggak buka mulut, maka tidak ada satu orang pun yang tau. Saya janji, setelah kamu lulus nanti, saya akan mempublikasikan hubungan kita ke semua orang," jawab Rama sembari mengusap kepala sang istri.


"Bapak janji?" tanya Gisel lagi.


"Saya janji. Ya sudah , kamu istirahat dulu. Saya akan menyiapkan makan dulu. Kamu dan calon anak kita harus tetap sehat. Karena kalian berdua sangat berarti bagi saya," jawab pak guru Rama sembari mengusap perut datar Gisel.


Ada rasa nyaman yang di rasakan oleh Gisel saat Rama mengatakan hal seperti itu kepada dirinya.


"Hmmmm, pak," panggil Gisel lagi.

__ADS_1


"Ya. Kamu mau makan sesuatu?" tanya Rama lagi.


"Tetaplah disini hingga saya tertidur. Setelah saya tidur, bapak boleh menyiapkan makanannya," ucap Gisel meraih tangan Rama untuk berbaring di sebelahnya.


__ADS_2