
"Ups, ya sudah, saya.. Saya mau ke UKS dulu ya pak. Saya janji kok, nggak akan buka mulut," balas Dewi lalu pergi.
***
Di UKS, Gisel tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit. Saat ini, ia tengah di tangani oleh seorang tenaga kesehatan yang di tugaskan di sekolah itu.
"Kenapa bisa se memar ini?" tanya petugas tersebut sembari terus mengompres bagian tubuh Gisel yang terkena pukulan Bryan.
"Panjang ceritanya sus," jawab Gisel menahan sakit.
"Ini saya berikan obat oles untuk daerah memarnya. Kamu bisa gunakan ini tiga kali sehari.
Untuk saat ini, kamu istirahat saja disini hingga jam pulang nanti. Dan saya akan menangani Vaxier dulu," ucap petugas tersebut lalu pergi ke ruang UKS khusus untuk laki-laki.
"Gimana Sel? Masih sakit nggak?" tanya Dewi yang selalu setia menemani sahabatnya itu.
"Iya.. Sakit banget tau," jawab Gisel kembali menangis.
"Ssstttt, udah, jangan nangis. Lo sih, pakai acara nolongin Xavier segala. Kena kan lo sekarang," ucap Dewi lagi memeluk Gisel.
Tak lama setelah kepergian petugas tersebut, pintu pun kembali di buka oleh seseorang yang ternyata adalah Rama.
Dengan tatapan dingin, ia segera menghampiri Gisel yang masih dalam posisi di peluk oleh Dewi.
"Hhhmmmmm," dehem Rama membuat dua sahabat itu terkejut dan segera melepas pelukannya.
"Sel, suami lo tuh dateng. Gue keluar dulu ya," bisik Dewi yang hendak pergi.
"Wi nggak usah. Lo disini aja. Temenin gue," cegah Gisel memegang lengan Dewi.
"Bagaimana? Pasti sakit kan rasanya?" tanya Rama melihat ke arah luka lebam Gisel.
Gisel tak menjawab. Ia hanya diam menundukkan kepalanya.
"Hhhhhh, ya begitu lah jika seseorang telah jatuh cinta.
Demi menyelamatkan cintanya, mereka rela melakukan apapun, bahkan menyia-nyiakan dan tidak memperdulikan pasangan sah mereka masing-masing. Saya salut sama kamu Gisel," ucap Rama lagi.
Sebenarnya hatinya perih melihat luka di tubuh sang istri. Namun, ia juga kecewa karena Gisel lebih mementingkan Xavier daripada rumah tangganya.
__ADS_1
Begitu besar cinta istrinya itu untuk wanita lain.
"Melihat dari apa yang telah kamu lakukan untuk hari ini, saya yakin sekali sepertinya memang tidak ada lagi harapan untuk rumah tangga kita.
Percuma saja jika saya berusaha mempertahankannya sendiri,. Tidak peduli sekuat apa saya bertahan dan sejauh apa saya berjuang.
Melihat kejadian ini, saya langsung drop dan saya langsung lelah. Saya tidak sanggup lagi rasanya bertahan hingga akhir tahun nanti," ucap Rama lagi dengan mata berkaca-kaca.
Perkataan Rama baru saja membuat Gisel terenyuh. Ia benar-benar telah melukai hati Rama.
Tak hanya Gisel, Dewi yang selalu menganggap Rama sebagai guru killer pun tak menyangka jika guru tersebut bisa menangis dan hancur karena cinta.
Setelah saling diam untuk beberapa saat, dan merasa tenang, Rama pun pergi meninggalkan ruangan tersebut tanpa berpamitan kepada Gisel dan juga Dewi.
"Sel, maksud pak Rama barusan apa? Kalian..Kalian akan berpisah gitu?" tanya Dewi benar-benar penasaran.
Gisel tak menjawab. Dia hanya mengangguk sebagai tanda jika apa yang di tanyakan oleh Dewi itu benar adanya.
"Apa sih Sel yang ada dalam pikiran lo? Pak Rama itu kayaknya benar-benar mencintai lo deh Sel. Kenapa lo malah tega selingkuhin dia dengan Xavier?" tanya Dewi.
Ia tak habis pikir dengan apa yang tengah ada dalam pikiran sahabatnya itu.
Gisel berharap jika Dewi, sahabatnya itu memiliki solusi untuk masalah yang di hadapinya saat ini.
"Sel, kalo menurut gue sih ya, mending lo jalanin yang pasti-pasti saja. Ya seperti rumah tangga lo dengan pak Rama.
Bukannya apa, gue takutnya nanti lo nyesel jika nanti lo benar-benar kehilangan pak Rama. Gue yakin sekali jika pak Rama itu sebenarnya adalah orang yang baik. Buktinya saja, tadi dia kayak hampir nangis gitu," ucap Dewi berharap Gisel mau mendengarkan ucapannya.
"Tapi gue nggak mencintai pak Rama Wi. Gue.. Gue cintanya sama Xavier," balas Gisel lagi.
"Ya sudah. Begini saja. Mending lo sama pak Rama buat kesepakatan saja. Kalian sama-sama lakukan pendekatan selama beberapa bulan ini. Ya minimal sampe akhir tahun di lah. Lo jalani tugas lo sebagai istri yang baik, dan lo juga minta pak Rama ngelakuin hal yang sama.
Andaikata dalam beberapa bulan itu lo dan pak Rama masih bisa belum saling cinta, maka mungkin berpisah adalah jalan yang terbaik untuk kalian.," ucap Dewi panjang lebar.
Gisel nampak berusaha mencerna apa yang baru saja sahabatnya itu katakan.
Tak ada salahnya ia mencoba menuruti apa yang Dewi katakan.
Siapa tau, ia dan Rama bisa saling cinta satu sama lain.
__ADS_1
"Hhhhh.. Lo benar Wi. Setidaknya, gue harus mencoba dulu. Jika memang gue masih tidak bisa mencintai pak Rama, ya gue bisa apa," ucap Gisel membuat Dewi tersenyum.
'Gue akan bantuin Gisel buat jatuh cinta sama pak Rama. Dengan begitu, gua bakalan lebih mudah buat dapatin cinta Xavier,' batin Dewi menatap sahabatnya itu.
.
.
"Gisel kamu.. Kamu nggak papa?" tanya Xavier mengirim pesan singkat kepada kekasihnya itu.
"Iya, aku nggak papa. Kamu sendiri gimana? Apa sudah baikan?" jawab Gisel membalas pesan Xavier.
"Sudah. Aku baru saja keluar dari ruangan BK. Nanti aku antar pulang ya," balas Xavier lagi.
"Hmmmm, tidak usah. Aku pulang sendiri saja. Kamu istirahat saja di rumah," balas Gisel menolak keinginan Xavier.
"Sel, lo chatan sama siapa sih?" tanya Dewi penasaran.
"Xavier," jawab Gisel singkat.
"Xavier? Dia bilang apa?" tanya Dewi kepo.
"Dia mau anterin gue pulang katanya," jawab Gisel menghela nafasnya berat.
"Terus? Lo mau?" tanya Dewi lagi.
"Nggak. Kan gue udah janji buat perjuangin rumah tangga gue dan pak Rama. Perlahan, gue akan jauhin Xavier dan membuka hati buat pak Rama," jawab Gisel membuat Dewi senang.
"Nah, gitu dong. Gue suka kalo kayak gini. Eh Sel, lo tau nggak, kalo gue lihat-lihat, lo itu wanita yang paling beruntung," ucap Dewi membuat Gisel menatap sahabatnya itu dengan sebuah tanda tanya.
"Paling beruntung? Memang kenapa?" tanya Gisel penasaran.
"Ya, karena lo bisa milikin pak Rama, bahkan kalian udah menikah. Secara lo tau sendiri kan Sel, berapa banyaknya wanita yang tergila-gila sama pak Rama, termasuk Bu Celine," jawab Dewi ada benarnya juga.
"Ye.. Nggak gitu juga kali. Biasa aja. Lagian, pak Rama nggak mungkin jatuh cinta lah sama gue. Ya kali, dia bisa jatuh cinta sama gadis kayak gue," balas Gisel menggelengkan kepalanya.
"Hhhhhh, Sel.. Sel.. Kalo pak Rama nggak jatuh cinta sama lo, mana mungkin dia mau mempertahankan rumah tangga kalian," ucap Dewi lagi.
"Ya, siapa tau dia udah terlanjur janji sama mending mamanya," balas Gisel lagi.
__ADS_1
Ia seolah tak percaya jika Rama memiliki perasaan untuknya.