
'Jelas saja kamu tidak cemburu, secara di hati kamu itu tidak ada saya, melainkan bocah itu,' batinnya mengumpat.
"Pak buruan temui Bu Celine. Kasihan dia sendirian," bisik Gisel lagi.
***
"Diam kamu. Sekali lagi kamu bicara, saya sumpal mulutmu itu dengan.... Dengan..," ucap Rama bingung.
"Dengan apa hayooo," ledek Gisel mencoel pinggang suaminya itu.
Kedekatan mereka yang secara tidak kebetulan itu pun menarik perhatian kedua orang tua Gisel dan juga Tyo. Mereka merasa sangat senang dan lega sekali, pasalnya apa yang selama ini mereka khawatirkan tidak terjadi.
"Sssttttt, kalian kalau mau bercanda di kamar saja. Jangan di depan umum begini," bisik Lasmi berbisik kepada Rama dan juga Gisel.
"Apaan sih ma. Siapa yang bercanda," balas Gisel malu.
Sementara itu, Bu Celine yang melihat Rama langsung melambaikan tangannya sebagai tanda jika ia sudah hadir di sana. Namun, seketika kening Bu Celine mengernyit saat melihat kehadiran Gisel yang berada tepat di sebelah laki-laki yang ia sukai itu.
'Kenapa anak nakal itu juga ada disini? Mana duduknya bersebelahan lagi dekat Pak Rama,' batin Bu Celine kesal.
Tak lama kemudian, acara tahlilan pun di mulai. Setelah mengaji dan memberikan tausiah, para tamu pun mulai mencicipi makanan yang telah di sediakan oleh pihak keluarga Rama.
Di saat akhir acara yang di akhiri dengan pembagian besek atau nasi kotak, Bu Celine tiba-tiba saja berjalan dan berdiri di tepat di antara Rama dan Gisel, atau tepatnya posisi Bu Celine ini adalah di bagian keluarga.
Sontak hal tersebut membuat semua anggota keluarga terlihat heran dan menatap Bu Celine dari atas hingga bawah. Pasalnya, tidak ada di antara mereka yang mengenal Bu Celine selain Rama dan juga Gisel.
"Bu Celine," sapa Gisel yang sebenarnya sedikit kesal kepada gurunya itu.
"Gisel, ngapain kamu disini? Jangan bilang kamu sengaja kan datang kesini buat mencari perhatiannya Pak Rama," bisik Bu Celine namun masih bisa di dengan oleh Rama.
"Nggak Bu. Saya berada disini karena saya.. Saya.. Saya adalah....." ucap Gisel terputus.
__ADS_1
"Gisel ada disini karena kedua orang tuanya adalah sahabat dekat papa dan juga almarhum mama saya," sela Rama sebelum Gisel keceplosan.
"Oh ya? Lalu, kenapa dia harus ikut? Kan yang bersahabat itu kedua orang tuanya, bukan Gisel nya pak," jawab Bu Celine cemburu.
"Memang kenapa kalau Gisel juga berada disini? Gisel itu sudah saya anggap seperti anak kandung saya sendiri. Jadi wajar dong jika Gisel berada disini. Lagian, maaf, anda ini siapa ya? Kenapa anda tiba-tiba saja berdiri di tengah-tengah keluarga kami?" skak Tyo yang sedari tadi memperhatikan raut ketidak sukaannya kepada Gisel.
"Hmmmm ma.. Ma.. Maafkan saya Om. Kenalkan, nama saya Celine Putri. Saya adalah salah satu guru di sekolah tempat Pak Rama juga mengajar.
Begini Om, saya.. Saya hanya tidak suka jika ada salah satu murid saya yang kecentilan di luar sekolah, karena itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai guru buat memperingati murid saya tersebut," jawab Bu Celine gelagapan.
Ia benar-benar malu sekali saat ini. Namun, ia harus tetap tenang dan tersenyum di saat-saat seperti ini, meskipun dalam hatinya ia sangat kesal sekali. Terutama kepada Gisel.
Bu Celine merasa jika Gisel tengah berusaha mendekati Pak Rama dengan caranya sendiri.
"Kecentilan? Kamu bilang anak saya kecentilan? Kecentilan dari mana? Kamu hati-hati ya kalau bicara," ucap Lasmi tidak terima dengan perkataan Bu Celine.
"Maaf Bu, bukan begitu maksud saya.. Saya....," ucap Bu Celine terputus.
"Hmmmmm, Bu Celine, sudah. Ayo ikut saya," ucap Rama menarik tangan rekan sesama gurunya itu.
.
.
"Maaf Bu Celine. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih karena Bu Celine sudah bersedia datang ke acara ini. Tapi saya juga memohon maaf sebelumnya. Sebaiknya Ibu Celine pulang saja ke rumah. Bukan maksud mengusir atau gimana. Acara tahlilan di rumah saya sudah selesai. Jadi, lebih baik Bu Celine pulang sekarang. Takutnya kemalaman Bu," jawab Rama seketika membuat wajah cantik Bu Celine menjadi merah. Ia sungguh malu sekali saat ini.
"Tapi pak, ada yang ingin saya sampaikan sama bapak. Ini penting sekali," ucap Bu Celine menatap Rama lekat.
"Katakan! Apa yang ingin Bu Celine katakan sama saya?" tanya Rama penasaran.
"Begini pak. Kita ini sudah kenal lama. Jadi, karena kedekatan kita ini membuat saya nyaman sama bapak. Bagaimana kalau kita coba untuk menjalin hubungan? Jujur saya sangat-sangat mencintai Pak Rama," jawab Bu Celine jujur dengan perasaannya.
__ADS_1
Bu Celine memang sudah lama sekali menyimpan perasaan kepada Pak Rama. Bahkan semenjak ia baru masuk mengajar di sekolah tersebut.
Mendengar pernyataan dari Bu Celine, seketika wajah Pak Rama berubah diam membatu. Pak Rama tak menyangka jika selama ini Bu Gisel menyukainya.
"Bagaimana Pak? Apa bapak menerima cinta saya?" tanya Bu Celine berharap banyak.
"Maaf Bu Celine. Saya tidak bisa," tolak Pak Rama seketika membuat Bu Celine membelalakkan matanya. Lagi-lagi ia malu untuk yang kedua kalinya.
Padahal Bu Celine sudah sangat yakin sekali jika Pak Rama akan menerima cintanya.
"Loh? Kenapa pak. Apa kurang saya?" tanya Bu Celine dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bu Celine tidak memiliki kekurangan apa-apa. Hanya saja saya sudah menikah Bu. Jadi, saya tidak bisa menerima cinta ibu. Lebih baik kita berteman seperti biasa saja," jawab Rama seketika membuat air mata Celine jatuh.
Bagaimana bisa guru yang diidolakan satu sekolahan ternyata sudah memiliki seorang istri.
Siapa wanita yang beruntung mendapatkan hati guru tampan itu? batin Bu Celine sangat-sangat penasaran.
"Me.. Me.. Menikah? Kapan? Dengan siapa pak? Kenapa saya tidak tau?" ucap Bu Celine dengan banyak pertanyaan. Hatinya begitu hancur saat mengetahui kenyataan tersebut.
"Baru saja. Sebelum almarhum mama saya meninggal dunia. Kami menikah karena di jodohkan dan juga menikahnya terkesan dadakan. Maka dari itu, saya tidak mengadakan pesta atas pernikahan saya," jawab Rama membuat Bu Celine patah hati.
"Enggak. Bapak pasti bohong kan. Bapak pasti merekayasa semuanya agar bisa menolak cinta saya," ucap Bu Celine yang masih tidak percaya.
"Nggak Bu. Saya tidak berbohong. Saya memang sudah menikah. Jika Ibu tidak percaya, lihat, ini foto saya waktu melangsungkan ijab kabul di rumah sakit dan di depan almarhum mama saya," jawab Rama menunjukkan foto pernikahannya.
"Lalu, mana pengantin wanitanya? Kenapa saya tidak melihatnya?" tanya Bu Celine lagi.
"Ini proses ijab kabul saya, karena kami di jodohkan, maka kami tidak saling melihat satu sama lain," jelas Rama.
"Lalu, mana istri bapak? Kenapa tadi saya tidak melihatnya?" tanya Bu Celine lagi. Ia benar-benar penasaran dengan wanita yang berhasil memiliki guru tampan itu.
__ADS_1
"Ada, dia ada di kamar karena badannya lagi tidak sehat," jawab Rama berbohong.
Andai Bu Celine tau jika istri Rama adalah Gisel, muridnya. Pastilah guru itu akan sangat-sangat shock dan juga terkejut.