
Mendengar perkataan Gisel, Rama pun terdiam sesaat sebelum memutuskan untuk benar-benar menjawab pertanyaan sang istri.
***
"Gisel dengar, saya bukannya tidak mencintai kamu, tapi saya hanya belum mencintai kamu. Tapi saya yakin, cepat atau lambat, jika kamu bisa menjadi istri yang sesungguhnya buat saya, maka saya pasti akan jatuh cinta sama kamu. Dan kamu harus tau, tidak ada wanita lain di hati saya selain kamu, meskipun saya belum mencintaimu," ucap Rama dengan sungguh-sungguh.
"Tapi, bagaimana dengan status saya yang masih sebagai pelajar? Bagaimana jika saya hamil? Saya tidak mau satu sekolah menghujat saya jika saya ketahuan hamil anak bapak," tanya Gisel lagi. Gadis cantik yang masih belia itu benar-benar takut sekali jika ia sampai hamil di saat masih duduk di bangku sekolah.
"Tenang. Ada saya. Saya yang akan mengatasi segalanya. Nanti kita akan ke dokter dan meminta obat penunda kehamilan. Setidaknya sampai kamu lulus sekolah nanti," balas Rama mengusap pipi istrinya itu.
"Hhhhh, satu lagi pak," ucap Gisel dengan berat.
"Apa?" tanya Rama mengernyitkan kening.
"Saya sama sekali tidak mencintai bapak," ucap Gisel membuat hati Rama sakit teriris.
Untuk beberapa saat, Rama terdiam menatap Gisel yang berada di sebelahnya.
Ia tak tau harus berkata apa lagi. Perkataan Gisel baru saja telah mampu membuat Rama diam dan bungkam seribu bahasa.
"Kenapa bapak diam?" tanya Gisel lagi.
"Tidak. Baiklah, kalau begitu saya akan kasih kamu waktu hingga akhir tahun ini untuk belajar mencintai saya. Saya akan bersikap selayaknya suami di suatu rumah tangga.
Jika kamu masih belum bisa mencintai saya, maka kamu boleh menceraikan saya dan mencari laki-laki lain," ucap Rama lalu berdiri dari tidurnya dan berjalan memasuki kamar mandi. Sementara Gisel, hanya bisa diam menatap punggung Rama yang sebentar lagi hilang di balik pintu kamar mandi.
"Seharusnya gue senang saat pak Rama memberikan waktu seperti itu. Dengan begitu, gue bisa bebas kembali seperti dulu,. Tapi kenapa rasanya jadi berat gini ya? Gue seharusnya senang kalo pak Rama menceraikan gue. Dengan begitu gue nggak perlu lagi pacaran diam-diam sama Xavier." gumam Gisel nampak senang dan juga bimbang.
Di kamar mandi, Rama nampak berdiri termenung di depan kaca yang besar.
__ADS_1
Ia seperti mencerna kembali apa yang baru saja ia ucapkan kepada Gisel.
"Bagaimana jika Gisel tetap tidak bisa mencintaiku? Apa kami akan benar-benar berpisah? Ini sudah bulan sepuluh akhir. Waktu yang begitu singkat. Huuuhhhh," gumam Rama mengusap kasar wajahnya.
Lima menit kemudian, Rama pun keluar dari kamar mandi. Ia melihat Gisel sudah tertidur lelap dengan pakaian yang sudah kembali lengkap.
Perlahan Rama berjalan dan naik ke atas tempat tidur mereka dan merebahkan tubuhnya tepat di sebelah tubuh sang istri.
Dengan nafas berat, Rama nampak memandangi wajah cantik yang tenang itu. Sungguh berbeda jika si pemilik wajah bangun, aura yang tenang pasti akan seketika berubah.
"Maafkan aku Gisel. Aku telah mengungkung dan mengikatmu di usia mu yang masih sangat muda seperti ini. Aku telah memberimu gelar seorang istri tanpa menunggu kamu siap terlebih dahulu. Tapi percayalah, ini semua bukan keinginanku. Orang tua kita yang menghendaki ini semua terjadi. Jika di akhir tahun ini kamu tak.juga bisa mencintaiku, maka aku akan melepaskan mu dengan ikhlas, meskipun sebenarnya sangat berat untukku," gumam Rama sembari terus menatap wajah cantik Gisel.
Siapa sangka, ternyata Gisel pun mendengar apa yang baru saja Rama ucapkan. Namun ia memilih untuk tetap tidur dan membiarkan Rama untuk melepaskan semua isi hatinya.
'Kasihan sekali kamu pak. Tapi maafkan saya pak, sepertinya kita memang akan berpisah, karena saya tidak bisa mencintai bapak,' batin Gisel yang memilih untuk tetep diam dan tidak bereaksi.
Ia langsung terjun menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan juga sang istri.
Setelah semuanya siap, barulah Rama kembali ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian.
Setibanya di kamar, Rama pun melihat Gisel baru saja bangun dari tidurnya.
"Bapak? Bapak belum mandi?" tanya Gisel melihat penampilan Rama dari atas hingga bawah.
"Belum. Ini saya mau mandi. Kamu sendiri juga mau mandi kan? Kalau begitu, mandilah. Biar saya mandi di kamar sebelah saja," ucap Rama akan pergi mengambil handuknya.
"Ah, tidak usah pak. Kita mandi bersama saja. Hitung-hitung ini sebagai proses buat saya juga, Siapa tau dengan cara seperti ini, saya bisa mencintai bapak sebagai suami untuk kedepannya," balas Gisel seketika membuat Rama terkejut.
Seorang Gisel yang terkenal kekanak-kanakan dan juga bandel ternyata bisa bersikap sedewasa ini. Hal ini lantas di sambut baik oleh Rama yang benar-benar sangat berharap jika Gisel akan mencintainya dan mempertahankan hubungan rumah tangga mereka.
__ADS_1
"Kamu.. Kamu serius?" tanya Rama tak yakin.
"Ya serius lah pak. Ayo buruan sebelum saya berubah pikiran," jawab Gisel melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Baiklah. Terima kasih Gisel. Terima kasih," ucap Rama senang bukan main.
Setibanya di kamar mandi, Gisel yang sebenarnya gugup sekali langsung membuka seluruh pakaiannya tanpa meninggalkan sehelai benangpun.
Rama yang juga berada di sana nampak menelan ludah saat melihat tubuh polos sang istri di pagi hari seperti ini.
Ia tak dapat berkata-kata hingga Gisel membuyarkan lamunannya.
"Pak? Bapak disini mau mandi atau hanya mau melihat saya mandi saja?" tanya Gisel yang sudah berdiri di bawah shower.
"Ah, iya. Ini saya mau membuka pakaian," jawab Rama gelagapan sembari membuka seluruh pakaiannya.
Rama tampak ragu untum bergabung dengan Gisel, namun, keraguan tersebut ternyata di sadari oleh sang istri, hingga Gisel pun langsung menarik tangan Rama untuk bergabung dengannya di bawah guyuran air hangat yang keluar melalui shower tersebut.
Rama pun menatap Gisel yang tubuhnya sudah dibasahi air hangat tersebut. Menatapnya dengan lekat dan hal yang sama juga di lakukan oleh Gisel.
Tatapan yang tak sengaja itu ternyata membawa mereka larut ke hal yang lebih inti lagi. Tanpa mereka sadari, untuk kesekian kalinya, bibir mereka kembali bertaut dan bermain dibawah guyuran air hangat.
Gisel sendiri tak menepis jika ia mulai menyukai sentuhan dari sang suami. Maka dari itu, ia membiarkan tangan Rama bergerilya di tubuh polosnya sehingga menciptakan sebuah kenikmatan yang tiada tara.
Rama pun berhenti dan menatap Gisel seolah meminta sesuatu. Dengan isyarat sebuah anggukan dan senyuman kecil, Rama yang seolah mengerti pun langsung kembali memulai permainannya dan akhirnya terjadilah penyatuan di antara mereka berdua.
"Terima kasih Gisel, kamu telah memberikan saya kesempatan berharga ini," ucap Rama di saat mereka baru saja sama-sama mencapai puncaknya.
Dengan nafas yang masih terengah-engah, Gisel pun tersenyum lalu membersihkan tubuhnya dengan sabun cair beraroma kan anggur tersebut.
__ADS_1