Dinikahi Pak Guru

Dinikahi Pak Guru
Bab 31


__ADS_3

"Kemana kamu Gisel? Pantas saja kamu tidak mengizinkan saya rsau mobil dengan ku," gumam Rama dengan raut wajah kecewanya.


***


Sepanjang perjalanan, Rama terus memikirkan istrinya itu. Namun, secara tidak sengaja, mata Rama melihat mobil milik Gisel terparkir di sebuah cafe yang berada di sebelah kiri dari jalan raya.


"Gisel pasti ada di dalam sana," gumam Rama lalu membawa mobilnya menuju cafe tempat mobil istrinya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Rama pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe tersebut. Setibanya di dalam, Rama langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan cafe guna mencari keberadaan murid sekaligus istrinya itu.


"Gisel. Ternyata kamu belum memutuskan hubungan dengan Xavier," gumam Rama mengepalkan tangannya. Ia sangat sakit hati dan cemburu sekali melihat kedekatan dan kemesraan Gisel dan juga Xavier.


Kalau saja Rama tidak mengingat jika yang tengah bermesraan dengan istrinya itu adalah muridnya sendri, ia pasti sudah maju dan menghajar laki-laki tersebut.


"Waktumu hanya tinggal satu hari ini saja Gisel. Aku akan tetap memantau kelakuan mu di sini.


Semakin lama Rama pun semakin sakit hati melihat kedekatan dan keromantisan di antara Gisel dan juga Xavier.


"Sepertinya Gisel tidak memiliki niat untuk meninggalkan Xavier. Ok Gisel. Kamu yang memilih ini, maka kamu juga harus merasakan resikonya," gumam Rama lalu pergi begitu saja dengan membawa kekecewaannya.


.


.


Pada sore harinya, sekitar pukul enam, Gisel baru saja tiba di rumah suaminya.


"Darimana saja kamu?" tanya Rama memilih untuk bersikap dingin.


"Ya dari rumah mama lah. Memang dari mana lagi?" jawab Gisel balik bertanya.


"Kenapa pulangnya jam segini? Sekalian saja tidur di rumah mama mu untuk satu malam ini," balas Rama tau jika Gisel telah membohonginya.


"Ya.. Saya inginnya begitu pak. Tapi mama nyuruh saya pulang ke sini," jawab Gisel santai seolah tidak terjadi apa-apa.


"Mandilah, kita makan malam bersama!" perintah Rama lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Tapi pak, saya...," ucap Gisel terputus karena Rama mengangkat satu tangannya yang menandakan ia tidak mau mendengar alasan apapun yang akan di katakan oleh Gisel.

__ADS_1


"Arrgghhh dasar guru killer, suami egois," umpat Gisel lalu masuk ke kamar mereka.


Tiga puluh menit kemudian, Gisel pun turun dari lantai atas mertuanya. Setibanya di ruang makan, nampak Rama telah duduk sembari sibuk memainkan ponselnya sembari tersenyum-senyum sendiri.


'Itu pak Rama lagi chatan sama siapa sih? Kenapa dia senyum-senyum sendiri gitu ya?' batin Gisel lalu duduk di hadapan suaminya itu.


Cukup lama Gisel diam, hingga akhirnya Rama meletakkan ponselnya dan menatap Gisel cukup lekat.


"Sejak kapan kamu berada di sini?" tanya Rama menaikkan satu alisnya.


"Sejak bapak senyum-senyum sendiri sambil mainin ponselnya," jawab Gisel ketus.


Rama tak bertanya lagi. Ia kemudian membuka piringnya dan meminta Gisel mengisikan nasi dan juga lauk ke dalamnya.


"Apaan sih pak. Bapak kan punya tangan, jadi bisa dong bapak ambil nasi sama lauknya sendiri," protes Gisel yang sudah dongkol sedari tadi.


"Saya memang memiliki tangan. Dan saya juga bisa mengambilnya sendiri. Tapi saya itu memiliki istri, dan tugas istri adalah untuk melayani suaminya kapan dan dimana saja," balas Rama dengan senyum liciknya.


Akhirnya, dengan terpaksa Gisel pun mengambilkan nasi beserta lauk untuk Rama terlebih dahulu, barulah kemudian, ia kembali mengambil nasi untuk dirinya sendiri.


'Itu kok mainnya berkelanjutan sih? Lagi chattingan sama siapa coba?' batin Gisel sangat-sangat penasaran sekali.


Uhuk..Uhuk..Uhuuk..


Gisel pun memilih untuk berpura-pura tersendat dan kesusahan bernafas. Ia ingin melihat reaksi Rama dan berharap jika Rama memperhatikannya dengan cara memberikan segelas air untuknya.


Namun, Gisel semakin kesal karena Rama sama sekali tidak mengacuhkan Gisel yang sudah batuk-batuk sedari tadi.


Dengan hati yang penuh dengan sumpah serapah, Gisel pun meminum segelas air lalu berdiri dan meninggalkan meja makannya meskipun nasi dan lauknya masih bersisa.


"Gisel kamu mau kemana? Itu habisin dulu nasinya," teriak Rama kepada Gisel yang sidah berbalik arah.


"Udah kenyang. Saya mengantuk dan mau tidur," jawab Gisel menghentak-hentakan kakinya menaiki anak tangga rumahnya.


'Saya tau kamu pasti kesal dan cemburu. Maafkan saya Gisel, saya terpaksa melakukan ini untuk mengetahui apakah ada saya di hatimu,' batin Rama lalu meminum segelas air.


Sebenarnya Rama hanyalah chatingan sama teman laki-lakinya saja.

__ADS_1


Rama sengaja tersenyum-senyum sendiri meskipun isi percakapan tersebut tidak ada yang lucu.


Sementara itu, di kamar, Gisel nampak kesal sekali. Ia langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang berukuran king size tersebut.


"Pasti pak Rama lagi chattingan dengan bu Celine. Tapi, kenapa gue jadi kesal gini ya? Kenapa gue nggak suka liat pak Rama dekat dengan wanita lain selain gue," gumam Gisel menghela nafasnya kasar.


Di saat Gisel tengah melamun, pintu kamar pun di buka. Siapa lagi jika bukan Rama.


Dengan santainya, Rama berjalan menuju lemari dan mengganti pakaiannya di depan Gisel yang moodnya sedang tidak baik itu. Alhasil, Gisel pun di buat salah tingkah dan semakin uring-uringan.


"Bapak ngapain ganti pakaian di depan saya?" tanya Gisel menutup matanya menggunakan tangan.


"Ya suka-suka saya dong. Ini kamar saya dan kamu istri saya," jawab Rama tanpa rasa bersalah.


"Tapi kan..." ucap Gisel terputus.


"Tapi apa hmmm?" tanya Rama berjalan menghampiri Gisel.


Sontak, Gisel pun merasa takut dan juga risih.


Perlahan tapi pasti, jarak antara Rama dan Gisel pun semakin dekat. Saking dekatnya, mereka bis merasakan deru nafas masing-masing.


"Pak.. Apa yang akan bapak lakukan?" tanya Gisel dengan jantung yang sudah berdetak kencang dan wajah yang sudah memerah.


"Saya akan melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh pasangan suami istri pada umumnya," jawab Rama tepat di telinga Gisel.


Tanpa menunggu protesan dari Gisel lagi, Rama pun mulai mengungkung dan menindih sang istri lalu mulai menciumi dan menggerayangi tubuh Gisel.


Alhasil, merek berdua kembali menjalani malam panjang dengan melakukan peraduan yang berhasil membuat masing-masing dari tubuh mereka dipenuhi oleh keringat malam.


"Kenapa bapak melakukan ini kepada saya?" tanya Gisel setelah mereka berdua berhasil mencapai puncak masing-masing.


"Lalu saya melakukannya kepada siapa? Istri saya cuma satu, yaitu kamu Gisel," jawab Rama dengan nafas yang masih belum beraturan.


"Tapi saya masih sekolah dan bapak tidak mencintai saya," jawab Gisel lagi.


Mendengar perkataan Gisel, Rama pun terdiam sesaat sebelum memutuskan untuk benar-benar menjawab pertanyaan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2