
Keadaan parkiran yang sepi itu membuat si pelaku dengan mudahnya memasukkan Gisel ke dalam mobil miliknya dan pergi meninggalkan sekolah.
***
Kini Gisel masih belum sadarkan diri. Dan saat ini, ia masih terbaring di atas tempat tidur dengan tangan dan kaki yang diikat.
Sementara itu, Rama yang baru saja selesai rapat dengan guru lainnya berniat hendak pulang ke rumah. Namun, betapa terkejutnya Rama saat ia masih melihat mobil milik Gisel masih parkir di halaman sekolah.
"Bukannya semua murod sudah pulang? Tapi, kenapa mobil milik Gisel masih ada disini? Apa jangan-jangan dia pulang dengan teman-temannya?" gumam Rama mendekati mobil milik istrinya itu.
Namun, Rama semakin terkejut saat melihat pintu mobil milik Gisel terbuka begitu saja. Awalnya Rama mengira jika Gisel berada di dalam mobil tersebut. Namun, setelah di cek, ternyata kosong. Dan yang membuat Rama heran, sebelah dari sepatu yang di kenakan istrinya itu tergeletak begitu saja di lantai parkiran tersebut.
"Ini sepatu Gisel kok berserakan di sini ya? Gisel kemana?" tanya Rama lagi.
Rama pun memutuskan untuk menunggu hingga beberapa saat. Namun, yang di tunggu tak kunjung datang juga.
Karena cemas, Rama pun memutuskan untuk menghubungi telepon Gisel, namun Rama malah mendapati ponsel milik Gisel tergeletak di begitu saja di lantai mobilnya.
"Astaga, ponselnya disini. Gisel kemana? Apa jangan-jangan Gisel.....," gumam Rama lalu dengan cepat Rama kembali ke sekolah hendak mengecek cctv sekitar parkiran.
Sementara itu, di sebuah kamar, Gisel yang baru saja sadar segera berteriak minta di lepaskan ikatannya. Namun, meskipun sudah berteriak-teriak meminta tolong, tak ada satu pun yang datang menemuinya hingga beberapa menit kemudian, Seorang laki-laki masuk dengan menggunakan masker dan juga topi. Perlahan, laki-laki itu berjalan menghampiri Gisel dan membuat Gisel ketakutan.
"Siapa lo? Lepasin gue," teriak Gisel berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
Laki-laki tersebut hanya diam dan tidak menjawab apa-apa, hingga ia membuka topi dan juga maskernya.
"Bryan," ucap Gisel terkejut.
"Ya, ini gue, Bryan. Kenapa? LLo kaget," jawab Bryan balik bertanya.
"Brian lo ngapain culik gue? Lepasin gue. Gue punya salah apa sama lo Yan?" tanya Gisel lagi.
"Lo nggak salah Gisel. Gue yang salah, gue yang terlanjur cinta sama lo sehingga gue nggak rela kalo lo pacaran dengan laki-laki lain, termasuk Xavier," jawab Bryan yang benar-benar telah di buta kan oleh cinta.
__ADS_1
"Bryan, jangan gila lo. Ingat Bryan, kita ini baru kelas dua sma. Nggak seharusnya lo seperti ini.Lagi pula, belum tau gue dan xavier itu akan berjodoh. Mending sekarang lo lepasin gue, atau lo akan menyesal," ucap Gisel dengan nada mengancam.
"Haha.. Lo ngancam gue? Sayang, gue nggak takut. Sebelum lo terima cinta gue, gue nggak bakalan lepasin lo,"ucap Bryan lagi.
"Bryan gue mohon lepasin gue. Lo sendiri tau jika cinta itu nggak bisa di paksakan. Gue mohon lepasin gue," rengek Gisel setengah memohon.
"Nggak akan sebelum lo mau jadi pacar gue," jawab Bryan lagi lalu pergi meninggalkan Gisel dengan tangan dan kaki yang masih terikat.
.
.
"Gimana pak? Apa hasilnya sudah ada?" tanya Rama tampak cemas sekali.
"Belum pak. Tunggu sebentar lagi," jawab satpam sekolah Gisel.
Setelah beberapa saat kemudian, terlihat jelas di rekaman cctv tersebut jika Gisel yang akan masuk ke dalam mobilnya tiba-tiba saja di bekap oleh seorang laki-laki dari arah belakang. Gisel yang sudah berusaha untuk melawan akhirnya jatuh pingsan karena obat bius yang di berikan melalui sapu tangan yang di gunakan si penculik untuk membekap mulut Gisel.
"Astaga Gisel. Siapa yang menculik mu?" gumam Rama shock.
"Dan ini nomor plat mobil si pelaku pak. Apa saya perlu membantu bapak untuk lapor polisi?" tawar si satpam tersebut.
"Ah, tidak usah. Saya akan melapokannya sendiri," jawab Rama lalu meminta salinan cctv tersebut.
Selanjutnya, Rama dengan cepat melajukan mobilnya ke kantor polisi. Ia sangat-sangat mencemaskan sekali keadaan Gisel.
"Siapa laki-laki yang telah menculik mu Gisel? Apa tujuannya? Semoga saja kamu baik-baik saja di sana," gumam Rama sembari terus melajukan mobilnya.
Beberapa saat kemudian, Rama pun tiba di kantor polisi. Dengan cepat, Rama pun masuk dan segera membuat laporan.
"Selamat sore pak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya polisi tersebut dengan ramah.
"Selamat sore pak. Ah begini, saya Rama, guru dari SMA Bangsa. Tujuan saya ke sini untuk melaporkan jika telah terjadi penculikan seorang anak murid saya di lingkungan sekolah. Untuk buktinya, saya punya rekaman cctv nya pak. Di sana terlihat jelas seseorang menggunakan sweater hitam , celana hitam dan juga menggunakan topi dan juga masker membekap murid saya ini dari arah belakang," jawab Rama panjang lebar.
__ADS_1
"Baik. Kalau begitu, apa saya boleh melihat rekaman cctv nya?" tanya polisi itu lagi.
"Punya pak. Ini rekaman cctv nya," jawab Rama lalu memperlihatkan ponsel miliknya.
Baik, kami akan segera memuat laporannya dan kami akan segera meluncur ke alamat korban yang datanya akan kami lacak sebentar lagi.
Bapak bisa meninggalkan nomor ponsel bapak di sini. Dan kami akan menghubungi bapak setelah kami mendapatkan hasilnya nanti," jawab polisi itu lagi.
Setelah membuat laporan, Rama pun melanjutkan pencarian Gisel dengan menyusur jalanan yang mungkin akan dilalui oleh si penculiknya.
Sementara itu, Gisel masih berteriak dan berusaha melepaskan ikatannya.
"Lepasin gue Bryan.. Lepasin gue," teriak Gisel terus menerus.
Bryan hanya diam. Ia sama sekali tidak memperdulikan teriakan dari teman sekolahnya itu.
.
.
Semalaman Rama di buat tidak tidur karena Gisel belum juga ada kabar. Rama memilih untuk tidak memberi tahukan ke dua orang tua Gisel mengenai kasus penculikan ini. Ia tak mau, mertuanya itu cemas karena kehilangan sang anak.
Dengan wajah yang lusuh dan juga panik, Rama pun berangkat ke sekolah sendirian. Rama benar-benar tidak fokus karena masalah ini, sehingga menarik perhatian Dewi yang sedari tadi juga penasaran karena Gisel belum juga hadir hingga saat ini.
'Apa pak Rama dan Gisel bertengkar ya? Kenapa Gisel nggak hadir dan pak Rama kelihatan kusut seperti itu. Ini juga si Bryan kok nggak datang ya ke sekolah? Nggak mungkin kan kalo Bryan janjian sama Gisel,' batin Dewi yang akhirnya menjadi tidak fokus.
"Dewi," panggil Rama di saat lonceng istirahat telah berbunyi.
"Ya pak, ada apa?" tanya Dewi balik.
"Tolong ke ruangan saya setelah ini. Ada yang ingin saya tanyakan sama kamu," jawab Rama dengan dinginnya lalu meninggalkan kelas.
"Pak Rama mau nanyain apa ya? Kok gue jadi takut kayak gini ya," gumam Dewi melangkahkan kakinya menuju ruangan guru matematikanya itu.
__ADS_1