Dinikahi Pak Guru

Dinikahi Pak Guru
Bab 26


__ADS_3

Awalnya Gisel merasa berat untuk membuka selimut yang menutupi tubuhnya, namun, mau tidak mau, ia harus segera membukanya, hingga akhirnya terlepas lah selimut itu dari tubuh Gisel.


Seketika mata Rama pun terbelalak saat melihat betapa indahnya pemandangan yang ada di depannya itu.


***


Gisel sendiri sungguh cantik sekali. Ia sangat anggun dan juga seksi. Rama benar-benar tidak dapat berkedip dibuat olehnya.


Hal itu lantas membuat Gisel semakin tidak nyaman olehnya.


"Hmmm, pak, se.. Se.. Sepertinya pakaian ini tidak cocok untuk saya. Saya.. Saya.. Saya mau menggantinya dulu sebentar," ujar Gisel yang hendak berlalu meninggalkan ruang ganti tersebut.


"Tunggu. Saya tidak mengizinkan kamu mengganti pakaian itu. Kamu lupa, malam ini saya akan meminta hak saya sebagai suami. Hal itu saya lakukan agar kamu sadar dengan status mu yang sudah menjadi seorang istri sekarang. Berani-beraninya kamu berselingkuh di depan mata kepala saya sendiri. Dan satu lagi, disaat kamu sedang mengerjakan tugas mu di ranjang nanti, saya tidak ingin kamu mengenakan kalung itu lagi. Mengerti!" ucap Rama menatap Gisel dengan tatapan tajam, sedangkan kedua tangannya tampak memegang kedua pipi Gisel.


"Me..Me..Mengerti pak," jawab Gisel gugup.


"Pergilah ke tempat tidur dan duduklah yang manis di sana. Sebentar lagi saya akan menyusul mu," bisik Rama lalu mencium sekilas bibir Gisel.


Dengan langkah kaki yang gemetaran, Gisel pun melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan ganti tersebut. Jujur, ia sangat-sangat gugup dan juga takut sekali.


'Gue pikir pak Rama tidak akan marah, tapi nyatanya ia sangat-sangat marah sekali, sehingga ia akan mengeksekusi gue malam ini juga," gumam Gisel seraya menghempaskan pantatnya ke atas ranjang beralaskan seprai berwarna putih polos itu.


Tak lama kemudian, dari dalam ruang ganti pakaian, Rama pun datang hanya dengan mengenakan bokser di atas lutut.


Seketika Gisel langsung terperanjat karena suami gurunya itu benar-benar tampan seperti anak muda jaman sekarang.


'Di satu sisi gue beruntung nikah sama pak Rama. Udah ganteng, kaya, pintar pula. Tapi, disisi lain gue juga takut dan nggak nyaman banget dengan guru killer bin dingin ini,' umpat Gisel dalam hatinya.


"Gisel," panggil Rama melambai-lambaikan tangannya di depan wajah cantik itu, namun Gisel tetap saja tidak bergeming sama sekali.

__ADS_1


"Gisel kamu liatin apa?" tanya Rama lagi yang kali ini memegang kedua pipi istrinya itu.


"Ah, nggak kok pa. Saya, nggak.. Nggak liatin apa-apa," jawab Gisel kikuk.


Melihat Gisel yang salah tingkah, Rama pun menatap tajam wajah istrinya itu.


Tatapan tajam dan dinginnya membuat bulu kuduk Gisel berdiri tegak. Seolah-olah yang berdiri di depannya itu bukanlah Rama, melainkan iblis yang berwajah menyeramkan.


Tanpa Gisel sadari, ia perlahan mundur dari tempat duduknya dan beringsut ke belakang. Berbeda dengan Rama, ia tidak ikut beringsut, melainkan ia semakin memajukan wajahnya mendekati wajah Gisel tanpa berkedip sekalipun.


Posisi Gisel semakin lama semakin terdesak hingga ia mentok di sandaran tempat tidur king size tersebut.


Deru nafas Gisel semakin tidak beraturan, begitu juga dengan Rama. Jantung yang berdetak dua kali lebih cepat membuat nafas Rama menjadi tidak karuan. Jujur, meskipun sebelumnya pernah melakukan hal tersebut dengan Gisel dan hasilnya gagal total, tapi tetap saja Rama masih grogi dan deg-degan.


Dengan bermodalkan nafsu, keinginan dan kemarahan, dan rasa cinta plus sayang yang sepertinya belum ia sadari terhadap Gisel, Rama pun langsung mendaratkan ciumannya di bibir Kanaya yang sudah diolesi sedikit lipstik warna bibir.


Gisel yang tidak memiliki niat untuk menolaknya, membiarkan saja Rama bermain dengan bibirnya. Ia benar-benar menikmati sensi ketagihan yang diberikan Rama.


Kedua insan yang tengah di mabuk asmara itu pun akhirnya larut dalam nikmatnya malam yang sunyi.


"Apa kamu siap?" tanya Rama dengan nafas yang tergesa-gesa.


"Hhhh, siap," balas Gisel menganggukkan kepalanya.


Kedua insan yang sama-sama tidak berpakaian itu pun akhirnya mencoba kembali hal yang kemarin sempat tertunda.


Dengan perlahan tapi pasti, Rama pun kembali mencoba peruntungannya. Namun hal yang sama masih saja terjadi. Gisel kembali meringis saat merasakan sensasi perih di bagian intimnya.


Sebenarnya Rama sadar, dan ia iba melihat Gisel. Namun, disaat rasa iba itu hampir menghentikannya, Rama pun kembali mengingat momen dimana Gisel dan Xavier bermesraan di taman danau buatan. Seketika itu juga, rasa iba Rama hilang dan ia tidak mempedulikan Gisel yang meringis kesakitan.

__ADS_1


Rama kembali menghentakkan miliknya dengan cukup kuat hingga berhasil masuk dan menerobos pertahanan Gisel selama ini.


"Aaarrggghhh, seketika tangis Gisel pecah.


"Ampun pak, sakit sekali," lirih Gisel pilu.


'Maafkan aku Gisel. Aku harus melakukannya,' batin Rama iba.


"Maafkan saya Gisel. Jika tidak sedikit di paksakan, maka tidak akan bisa masuk kedalam," jawab Rama mengusap kepala Gisel lembut.


"Tapi ini sakit sekali pak. Bagaimana dengan selanjutnya? Pasti akan lebih sakit," rengek Gisel manja.


"Kamu tenang saja. Kata orang sakitnya hanya sebentar saja," jawab Rama memberikan jeda kepada istrinya itu.


Di menit berikutnya, perlahan Rama mulai menggoyang miliknya secara perlahan.


Awalnya Gisel kembali meringis, namun seiring berjalannya waktu, Gisel mulai tenang dan berhenti meringis. Ia mulai menikmati permainan permainan ini.


Begitu juga dengan Rama, mendengar ******* Gisel, Rama pun semakin bersemangat dalam melakukan aktifitasnya itu.


"Bagaimana? Hmmm? Apa masih sakit?" tanya Rama dengan suara berat dan nafas tidak beraturan.


"Sudah tidak. Tapi kenapa rasanya seperti ini?" tanya Gisel dengan suara yang terdengar indah dan menggoda di telinga Rama.


"Seperti apa? Enak? Kamu suka kah?" tanya Rama lagi yang pastinya juga merasakan apa yang di rasakan oleh Gisel.


Gisel tidak menjawab. Ia hanya mengangguk dan menikmati sensasi nikmat yang baru pertama kali ia rasakan tersebut.


Tak lama kemudian, Gisel dan Rama pun tiba di puncak permainan mereka. Mereka berdua sama-sama lelah dan nafas mereka sama-sama tidak beraturan.

__ADS_1


Kini baik Gisel maupun Rama sudah menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya.


"Terima kasih Gisel. Sekarang kamu sudah seutuhnya menjadi milik saya. Mulai detik ini, saya tidak mengizinkan mu lagi menjalin hubungan apapun dengan Xavier. Belajarlah untuk mencintai saya dan belajarlah untuk menyayangi saya seutuhnya. Saya berjanji jika saya juga akan melakukan hal yang sama terhadap dirimu. Jadilah istri yang baik dan patuh. Kita mulai rumah tangga ini sebagaimana mestinya saja. Kamu bisa?" ucap Rama membuat Gisel berpikir panjang.


__ADS_2