
Dengan cepat, Rama langsung membuka laci dan mengeluarkan senter yang pernah ia simpan di sana.
"Huhhh, syukurlah, akhirnya," ucap Rama lega.
***
"Huh, akhirnya nggak gelap lagi," gumam Gisel masih dengan posisi memeluk suaminya itu.
"Kamu masih takut?" tanya Rama menatap lekat wajah cantik sang istri.
"Lumayan. Tapi udah nggak terlalu takut lagi," jawab Gisel membalas tatapan Rama. Jantung keduanya kini sama-sama berdetak dengan sangat kencang. Selalu saja seperti ini di saat mereka terlibat jarak yang begitu dekat dan dengan keadaan mata yang saling terkunci.
Karena terbawa suasana, Rama pun memberanikan dirinya mendaratkan sebuah kecupan di kening Gisel. Ia berharap Gisel tidak melakukan perlawanan. Dan ternyata benar, Gisel hanya diam menerima dengan menutup matanya meresapi rasa yang di berikan oleh suaminya itu.
Beberapa saat kemudian, Rama pun memberanikan diri untuk berbuat lebih jauh lagi, dan Gisel pun juga membiarkannya. Ada rasa bahagia tersendiri yang ia rasakan karena hubungannya dengan sang istri berjalan semakin baik.
"Apa kita akan melakukannya untuk malam ini?" tanya Rama dengan nafas yang sudah memburu dan suara yang berat.
Setelah diam untuk sejenak, Gisel pun kemudian mengangguk pelan. Itu artinya ia setuju untuk melakukan hubungan layaknya suami istri dengan Rama.
"Tapi kamu masih terluka," ucap Rama lagi.
"Saya baru saja sembuh karena ulah bapak," jawab Gisel lalu memberikan senyuman terbaiknya.
Tanpa pikir panjang lagi, Rama pun langsung menyosor sang istri tanpa ampun. Rama sendiri benar-benar berharap jika dari hubungan ini akan ada kabar bahagia yang membuat Gisel semakin berpikir dua kali untuk meninggalkan dirinya.
Hampir dua jam bermain ranjang, baik Rama dan juga Gisel pun terkulai lemas di tempat mereka masing-masing.
Mereka akhirnya tidur hingga cahaya pagi mulai masuk ke dalam sela-sela kamar mereka.
Gisel yang bangun lebih awal pun melihat jam di ponsel pintar miliknya. Ia terkejut saat hari telah menunjukkan pukul delapan lewat sekian.
"Astaga, kesiangan ini," ucap Gisel yang langsung bangun terduduk.
"Kamu mau kemana?" tanya Rama yang tiba-tiba saja membuka pintu dengan membawa nampan yang berisikan bubur ayam dan segelas susu hangat.
__ADS_1
"Ya mau ke sekolah lah pak. Emang saya mau kemana lagi? Bapak kenapa nggak bangunin saya sih pak?" protes Gisel menutupi tubuh polosnya dengan selimut tebal.
"Ke sekolah? Minggu begini? Memang kamu ada acara apa di sekolah?" tanya Rama juga heran.
"Oh, sekarang Minggu ya?" tanya Gisel malu sendiri.
"Iya Minggu. Masak anak sekolah nggak tau hari," ledek Rama meletakkan nampan tersebut di meja sebelah Gisel.
"Ya bukan gitu pak. Saya hanya lupa. Hehe," balas Gisel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah, terserah kamu saya. Sini buka mulutnya, saya suap kan bubur ayam untuk mu," perintah Rama sembari mengambil mangkok yang berisi bubur ayam tadi.
"Nggak usah pak. Saya bisa sendiri," jawab Gisel spontan mengeluarkan tangannya yang sedari tadi bersembunyi di dalam selimut tebal.
"Tuh kan, kelihatan semuanya. Kamu pagi-pagi begini mau merayu saya ya?" ucap Rama seketika membuat Gisel segera menarik selimutnya dan kembali menutupi tubuh bagian atasnya yang polos tanpa pakaian.
"Ihhh, ,apaan sih pak? Siapa yang mau ngerayu bapak sih," ucap Gisel dengan wajah yang sudah memerah karena malu.
"Yasudah, Aaaa buka mulutnya. Nanti buburnya keburu dingin," ucap Rama kembali menyodorkan sendok yang berisi bubur ayam tersebut.
"Gimana? Mau nambah lagi nggak?" tanya Rama setelah berhasil menyuapkan seluruh bubur ayam ke mulut sang istri.
"Emang masi ada?" tanya Gisel membuat Rama hanya bisa nyengir kuda.
"Nggak. Hehe," balas guru tampan itu.
"Ya udah, nggak usah di tawarin nambah," jawab Gisel manyun.
"Iya, maafkan saya. Tapi ini ada susu hangat yang harus kamu habiskan. Nih di minum, mumpung masih keburu hangat," ucap Rama memberikan segelas susu coklat kepada sang istri.
"Susu? Ini susu apa?" jawab Gisel yang selama ini memang tidak suka meminum susu.
"Ya susu sapi lah Gisel, memang susu apa lagi? Nih minum. Nggak baik lo kalo nggak di minum," ucap Rama lagi.
Gisel tidak tau saja jika susu yang di berikan untuk nya itu adalah susu khusus untuk wanita yang tengah merencanakan kehamilan.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lagi Gisel pun meminum susu tersebut dan meminumnya hingga habis tak bersisa. Hal tersebut lantas membuat Rama merasa sangat senang sekali.
"Perut kamu ini memang besar sekai y a porsinya?" ucap Rama mengambil gelas yang sudah kosong tersebut dari tangannya Gisel.
"Hhhhhh, ya begitu lah pak. Namanya juga masih dalam masa pertumbuhan," jawab Gisel bercanda.
"Haha.. Iya.. Iya, berarti saya yang salah karena telah menikahi anak bawah umur seperti mu," balas Rama tertawa lepas.
"Bawah umur apaan sih pak. Udah, bapak keluar gih, saya mau mandi," ucap Gisel lagi-lagi manyun.
"Ya udah mandi saja. Kenapa saya harus keluar?" protes guru yang terkena killer itu.
"Saya malu pak. Saya kan nggak pake apa-apa," ucap Gisel lagi.
"Ngapain malu? Saya ini suami mu Gisel. Jangankan hanya melihat tubuh mu, merasakannya saja saya sudah pernah beberapa kali. Kamu lupa, bahkan saya sudah berinvestasi beberapa kali di dalamnya," ucap Rama membuat wajah Gisel kembali merah.
"Ih, jangan jorok gitu deh pak," protes Gisel lalu bangkit dengan menyeret selimut yang masih menutupi tubuhnya.
"Haha, Gisel.. Gisel.. Lucu sekali kamu ini," ucap Rama menggeleng-gelengkan kepalanya.
Begitulah hari-hari yang mereka jalani sebagai sepasang suami istri.
Semenjak kejadian pertengkaran Bryan dan juga Xavier, Gisel lebih memilih untuk menjaga jarak dengan kedua laki-laki y ang sama-sama mencintainya itu. Berkali-kali Xavier berusaha untuk mencari waktu agar bisa memiliki waktu untuk bicara empat mata dengan Gisel, tapi sayang sekali, Gisel selalu menghindar dari dirinya.
"Xavier udah, mending lo jauhin Gisel. Biarkan dia bahagia dengan tunangannya. Lo jangan egois Vier, jangan sampai karena cinta lo itu, lo jadi ngerusak hubungan Gisel dengan kedua orang tuanya dan juga tunangannya," ucap Dewi di saat mereka tengah memiliki kesempatan untuk bicara berdua.
"Lo benar Wi, tapi gimana dengan cinta gue ini? Gue.. Gue benar-benar sangat mencintai Gisel," ucap Xavier menghela nafasnya kasar.
"Cinta itu nggak harus memiliki Vier. Jika lo memang sangat-sangat mencintai Gisel, biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Lagi pula, lo liat sendiri kan jika Gisel sama sekali tidak ingin bicara lagi dengan lo," ucap Dewi lagi. Ia berharap Xavier segera sadar dan bisa membuka hatinya untuk wanita lain.
Sementara itu, beberapa jam kemudian, tepatnya di jam pulang, Gisel yang saat ini tengah berada di parkiran sekolahnya.
Baru saja ia gadis cantik itu akan masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba saja ada seseorang yang membekap mulutnya hingga pingsan dan memasukkannya ke dalam sebuah mobil.
Keadaan parkiran yang sepi itu membuat si pelaku dengan mudahnya memasukkan Gisel ke dalam mobil miliknya dan pergi meninggalkan sekolah.
__ADS_1