
"Nggak bisa gitu dong pa. Harusnya papa itu bantu aku belain Bryan. Bukan malah membela wanita nggak tau diri ini," ucap ibu Naima membuat Rama geram. Tapi ia harus tahan emosi. Jangan sampai siapa dia sebenarnya terbongkar sebelum Gisel tamat sekolah.
***
"Sudah stop bu. Ibu ini sudah jelas anaknya salah masih saja di belain. Saya sudah putuskan jika saya akan memberi tahu kepala sekolah tentang masalah ini. Dan untuk pak Raharja, saya mohon maaf sekali, karena saya tidak bisa mentolelir lagi kelakuan yang telah di perbuat oleh anak bapak," ucap pak guru Rama.
"Ok, tidak masalah pak Rama. Jangan karena saya donatur di sekolah itu, anda menjadi anak emaskan putra saya," jawab pak Raharja yang memang memiliki sikap bijaksana dan tegas.
Mendengar ucapan dari sang suami, ibu Naima hanya bisa diam saja. Ia tak akan lagi bisa berkutik jika sang suami sudah mengambil sebuah keputusan.
"Pa aku mohon sama papa jangan biarkan pak Rama memberi tahu pak kepala sekolah pak. Jika itu terjadi, mereka pasti akan membawa kasus ini ke kantor polisi. Dan aku nggak mau kalau aku sampai masuk penjara pa. Aku janji nggak bakal ngulangin kesalahanku lagi," rengek Bryan berharap jika sang papa bisa membantunya kali ini.
"Maafkan papa Bryan. Papa nggak bisa membantumu. Kamu yang berbuat salah, maka kamu yang juga harus bertanggung jawab," jawab sang papa yang sebenarnya juga iba dengan anaknya itu. Tapi mau bagaimana lagi. Jika ia tidak tegas, maka Bryan akan selalu bersikap seperti ini.
Bryan hanya bisa diam. Ia tak tau lagi harus berbuat apa kali ini.
"Ya sudah, kalau begitu saya akan menelfon pa kepala sekolah dan memintanya untuk segera kesini," ucap pak guru Rama sembari mengutak-atik ponselnya.
Tak lama kemudian, kepala sekolah pun datang. Meski ibu Naima sudah memohon kepada kepala sekolah tersebut, namun atas permintaan pak Raharja, akhirnya Bryan di bawa ke kantor polisi untuk segera di proses. Sedangkan Gisel dan pak guru Rama segera pulang ke rumah mereka.
"Dewi, makasih ya kamu telah membantu saya kali ini. Saya benar-benar berhutang budi sama kamu. Kalau begitu mari saya antar kan kamu pulang," ucap pak guru Rama benar-benar merasa jika Dewi adalah penyelamatnya.
"Nggak usah pak.. Terima kasih. Saya bisa pulang dengan taksi. Bapak dan Gisel pulanglah. Saya yakin sekali jika Gisel pasti sangat butuh waktu yang banyak untuok beristirahat," ucap Dewi menolak tawaran dari gurunya itu.
__ADS_1
"Kamu yakin?" tanya pak guru Rama lagi.
"Yakin pak. Bapak tenang saja," jawab Dewi sembari memesan taksi online melalui ponsel miliknya.
Setelah memastikan Dewi pulang dengan taksi yang ia pesan, pak guru Rama kemudian mengajak istrinya itu untuk segera pulang. Ia tau persis jika istrinya itu harus banyak beristirahat.
"Gisel, kamu nggak papa kan?" tanya pak guru Rama saat mereka tengah berada di perjalanan pulang.
"Iya, saya nggak papa kok pak. Bapak tenang saja," jawab Gisel dengan senyuman yang jelas sekali ia paksakan. Nampaknya, Gisel masih sangat-sangat trauma akan kejadian yang menimpanya.
"Hmmmmm, Gisel, maaf sebelumnya jika saya menanyakan ini. Apa Bryan sudah menyentuhmu?" tanya pak guru Rama yang tiba-tiba saja menepikan mobilnya.
"Belum pak, tapi dia hampir saja menyentuhku," jawab Gisel menangis sesenggukan.
"Iya, terima kasih pak sudah menguatkan saya," balas Gisel menghapus air matanya.
Beberapa saat kemudian, Rama dan Gisel pun tiba di rumah mereka. Dengan penuh perhatian dan kasih sayang, Rama pun meminta Gisel untuk beristirahat, sedangkan ia akan menyiapkan makan untuk sang istri.
"Saya akan membantu bapak memasak di dapur. Tapi sebelumnya saya mau mandi dulu pak," ucap Gisel menggenggam tangan pak guru Rama tanpa ia sadari.
"Jangan, kamu istirahat saja. Kamu itu butuh istirahat Gisel," balas Rama mengusap kepala Gisel.
"Saya nggak mau. Saya mau cari kesibukan agar saya bisa melupakan kejadian itu. Boleh ya pak," ucap Gisel yang tak segan-segan lagi menyenderkan kepalanya di bahu guru tampannya itu.
__ADS_1
"Hhhhhh, ok. Baiklah. Ya sudah, kalau begitu mandilah. Saya akan menyiapkan pakaian mu," jawab Rama akhirnya mengalah.
Setelah Gisel selesai mandi dan berpakaian, mereka pun sama-sama turun ke lantai satu untuk memasak makan malam. Namun, Rama dan Gisel sangat terkejut sekali karena mereka kedatangan tamu tak di undang.
Gisel yang sangat terkejut segera langsung lari dan bersembunyi sebelum tamu tersebut melihatnya di rumah itu.
Sementara Rama, dengan gugup dan penasaran, ia menghampiri si tamu yang sudah duduk manis di ruang tamu rumah mewah itu.
"Selamat sore bu," sapa pak guru Rama dengan pelan.
"Eh, selamat sore pak. Maaf jika saya mengganggu waktu bapak," jawab tamu tersebut yang ternyata adalah bu Celine.
"Iya, nggak papa bu Celine. Oh ya, ngomong-ngomong bu Celine ada tujuan apa ya ke rumah saya? Kenapa ibu nggak menghubungi saya sebelumnya?" tanya pak guru Rama penasaran.
"Hmmmmm, maaf pak sebelumnya. Bukan maksud untuk mengganggu bapak. Tapi tujuan saya datang kesini adalah untuk menanyakan perihal Bryan yang saat ini berada di kantor polisi. Kalau saya boleh tau, apa itu semua benar pak?" tanya bu Celine sembari celingak-celinguk mencari keberadaan istri rahasia pak guru Rama.
"Oh, itu benar bu. Saya dan pak kepala sekolah lah yang memiliki inisiatif untuk melaporkan Bryan ke polisi atas apa yang telah dia lakukan kepada Gisel," jawab pak guru Rama.
"Tapi kenapa harus ke kantor polisi pak? Kita kan bisa bantu Bryan dengan mencari jalan tengahnya. Dan bapak tau sendiri kan jika kedua orang tuanya Bryan adalah donatur terbesar di sekolah kita. Jangan karena masalah ini, kita jadi kehilangan donatur besar itu pak.
Dan lagi pula, menurut informasi yang saya baca, sebelumnya Bryan sudah pernah menyatakan cintanya berkali-kali keapda Gisel, tapi Gisel selalu menolaknya dan malah berpacaran dengan Xavier, sahabat dari Bryan itu sendiri. Menurut saya wajar saja jika Bryan melakukan hal seperti itu kepada Gisel," jelas bu Celine yang menurutnya akan mendapatkan simapti dari pak guru Rama. Namun ternyata ia salah besar.
"Ibu bilang apa? Wajar? Oh, apakah itu prinsip dan penilaina tenaga pendidik seperti ibu? Seorang siswa wajar melakukan penculikan dan tindak permerkosaan kepada lawan jenisnya jika cintanya di tolak? Bu, asal ibu tau, cinta itu nggak bisa di paksakan. Dan undang-undang saja melarang keras tindak penculikan apalagi pemerkosaan. Lalu ibu bilang itu wajar?" protes pak guru Rama yang sudah berusaha menahan emosinya.
__ADS_1
Sedangkan di balik lemari pajangan, Gisel sakit hati mendengar ucapan bu Celine yang jelas sekali membela Bryan dan menyalahkannya.