
'Takut juga dia,' batin Rama senang.
"Bodo amat," ucap Gisel seketika membuat senyuman Rama menghilang seketika.
***
"Apa? Dia.. Dia tidak takut? Awas saja anak nakal itu," umpat Rama lalu kembali duduk ke kursinya.
Beberapa jam kemudian, bel pulang sekolah pun telah berbunyi.
Baik Gisel dan juga sahabatnya pun sudah melangkahkan kakinya meninggalkan kelas.
"Gisel, lo di panggil ke ruangan pak Rama," ucap Selvi, siswa kelas lain.
"Apa? Pak Rama manggil gue?" tanya Gisel kembali kesal.
"Iya. Ya udah, gue pulang dulu," jawab Selvi lalu pergi begitu saja.
"Lo ada masalah apa lagi sih Sel sama pak Rama?" tanya Dewi heran dengan sahabatnya itu.
"Entahlah. Gue sendiri juga nggak tau," jawab Gisel bohong.
"Ya sudah. Mending lo temuin pak Rama dulu. Gue pulang duluan ya," ucap Dewi lalu pergi meninggalkan Gisel.
"Ihhh, apalagi sih. Itu guru ngga ada bosan-bosannya ya liat wajah gue," umpat Gisel kesal menghentakkan kakinya.
"Siapa Gis?" tanya Bryan yang datang dari arah belakang.
"Nggak siapa-siapa. Ya udah, gue pergi dulu ya," jawab Gisel lalu pergi begitu saja meninggalkan Bryan.
"Gisel tunggu," panggil Bryan mencekal lengan Gisel.
"Apalagi sih Yan?" tanya Gisel semakin kesal.
"Lo mau kemana? Gue mau bicara sama lo," jawab Bryan masih memegang lengan Gisel, sementara dari arah lainnya ada Xavier yang memperhatikan mereka berdua, dan dari sisi lainnya, ada Rama juga yang berdiri melihat ada dua pria yang tengah memperebutkan istrinya itu.
"Bicara apa Bryan? Gue mau ke ruangan pak Rama dulu. Gue nggak mau Pak Rama marah lagi sama gue," balas Gisel melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Gisel sebentar saja. Gue janji, gue yang akan bertanggung jawab. Lima menit saja. Beri gue waktu lima menit untuk mengatakan semuanya," balas Bryan lagi dengan tatapan mata penuh harap.
"Ya sudah. Kita bicara disini saja. Lo mau bilang apa?" tanya Gisel akhirnya memberi kesempatan untuk laki-laki tampan itu.
"Gisel, gue suka sama lo. Gue mau lo jadi pacar gue. Bahkan nggak hanya sekedar pacar. Gue janji, setelah kita lulus nanti, gue akan menikahi lo. Gue serius Sel. Gue benar-benar cinta sama lo," ucap Bryan yang kini menggenggam kedua telapak tangan Gisel.
Gisel tidak tau harus menjawab apa, karena selama ini, dia sama sekali tidak mencintai Bryan.
Yang Gisel cintai hanyalah Xavier saja sedari dulu.
"Hhhhh, maafin gue Bryan, gue nggak bisa jadi pacar lo. Gue.. Gue.. Gue udah memiliki pacar," jawab Gisel jelas membuat Bryan kecewa.
'Jadi yang di katakan Xavier itu benar adanya. Gisel ternyata benar-benar telah memiliki pacar,' batin Bryan kecewa.
"Lo sudah memiliki pacar? Siapa? Apa dia juga anak sekolah ini?" tanya Bryan dengan tawa pilunya.
"Lo nggak perlu tau. Ya sudah. Gue pergi dulu," jawab Gisel pergi meninggalkan Bryan begitu saja.
"Gisel tunggu. Lo mau kemana? Gisel," teriak Bryan masih memanggil nama Gisel.
'Hhhh percuma kalian berdua berusaha merebut Gisel, Gisel itu sudah sah menjadi milikku,' batin Rama lalu segera pergi ke ruangannya.
Gisel lun mengetuk pintu ruangan Rama, namun tidak ada jawaban sama sekali. Setelah mencobanya beberapa kali, namun hasilnya tetap sama.
"Gisel," panggil Rama membuat Gisel yang hendak pergi itu menjadi terkejut.
"Pak. Pak. Pak Rama. Bapak dari mana? Bukannya bapak memanggil saya?" tanya Gisel lagi.
"Ya, saya memanggil mu, silahkan masuk ke ruangan saya," perintah Rama lalu membuka pintu ruangannya.
"Tapi ada apa lagi pak? Saya mau pulang ke rumah mama saya soalnya," protes Gisel dengan wajah dongkolnya.
"Kamu mau pulang ke rumah mama mu? Ya sudah, kalau begitu kita barengan saja. Biar saya yang mengantar mu," jawab Rama sembari duduk di kursinya.
"Tidak usah. Saya bisa sendiri," jawab Gisel ketus.
"Loh? Kenapa? Bukannya saya ini juga menantu di rumah itu, artinya saya juga sudah menjadi anak mama mu sekarang," ucap Rama masuk akal.
__ADS_1
"Hhhhh, baiklah. Bapak boleh ikut. Tapi kita pakai mobil sendiri-sendiri saja. Saya nggak mau ada orang yang mencurigai saya," jawab Gisel lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Sementara itu....
"Wi lo mau kemana?" tanya Levi yang heran melihat Dewi tiba-tiba saja bergegas turun dari mobil miliknya itu.
"Gue mau ke kamar mandi sebentar. Kalian tunggu disini sebentar ya," jawab Dewi bergegas pergi begitu saja.
Dewi yang kebelet langsung berlari kembali ke sekolah untuk segera mencari toilet. Di saat ia melewati ruangan Rama, Dewi tak sengaja melihat Gisel dan Rama berdiri dalam jarak yang sangat dekat sath sama lain. Hal itu lantas membuat Dewi sangat-sangat terkejut dan penasaran dengan apa yang di lakukan sahabatnya di ruangan yang pintunya sedikit terbuka itu.
"Gisel sama Pak Rama kok dekat sekali ya?" gumam Dewi memilih untuk mengintip dan mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Siapa yang akan curiga sih sayang? Kamu pakai mobil saya saja, atau saya yang makai mobil kamu. Apa kata mama mu nanti jika kita datangnya dengan mobil masing-masing," ucap Rama membuat Dewi terkejut.
'Sayang? Pak Rama manggil Gisel sayang? Apa..Apa mereka pacaran?' batin Dewi semakin penasaran.
"Udah lah pak. Jangan cari-cari alasan untuk selalu dekat dengan saya. Bapak nggak bosan apa setiap hari selalu bersama saya?" balas Gisel semakin membuat Dewi bingung.
'Setiap hari?' batin Dewi semakin bingung.
"Loh? Kenapa saya harus bosan? Kamu itu istri saya. Istri sah saya, jadi mana mungkin saya bisa bosan sama istri saya sendiri? Apa lagi kalo kita lagi....," ucap Rama terputus.
"Lagi apa?" tanya Gisel menatap Rama tajam.
"Lagi itu.. Lagi.. Lagi tidur. Ya, lagi tidur," jawab Rama santai, namun tidak dengan Dewi.
Seketika Dewi menutup mulutnya menggunakan tangan.
'Oh god, jadi.. Jadi.. Jadi Gisel dan Pak Rama.. Mereka.. Mereka.. Mereka sudah menikah? Duh, gue salah denger nggak sih? Masa iya Gisel dan Pak Rama menikah? Si Gisel kan masih sekolah? Gimana nanti kalo Gisel hamil? Nggak.. Nggak.. Gue pasti salah dengar. Gue harus dengar lagi dengan teliti dan seksama,' batin Dewi masih belum percaya jika sahabatnya itu sudah menikah dengan guru yang menjadi idola satu sekolah.
"Dasar guru mesum. Udah, yang benar itu kita berangkatnya pakai mobil sendiri-sendiri. Saya nggak mau berangkat sama bapak," tolak Gisel lagi.
"Nggak bisa. Kamu sudah mulai berani ya sekarang? Ingat ya Gisel, kamu itu istri saya. Jadi kamu harus nurut dengan apa yang saya perintahkan," ucap Rama mengandalkan posisinya sebagai kepala keluarga.
"Hhhhh, suami? Suami macam apa yang pegang-pegangan tangan sama wanita lain di lingkungan sekolah? Udah nggak malu sama diri sendiri, nggak malu sama istri, dan juga nggak malu sama murid-muridnya sendiri," oceh Gisel namun masih dapat di dengar oleh Rama.
"Jadi kamu ngambek dan melawan karena masalah tadi? Ya ampun Gisel, itu semua tidak seperti yang kamu bayangkan," ucap Rama baru mengerti maksud dari kemarahan Gisel.
__ADS_1