
Dengan nafas yang masih terengah-engah, Gisel pun tersenyum lalu membersihkan tubuhnya dengan sabun cair beraroma kan anggur tersebut.
***
Setelah mandi bersama, baik Gisel dan Rama pun langsung bergegas untuk bersiap-siap akan berangkat ke sekolah.
Rama yang siap lebih dulu pun langsung meminta Gisel menyusulnya ke meja makan. Dan tak lama kemudian, Gisel pun akhirnya selesai lalu menyusul suaminya itu.
"Ini.. Bapak yang masak?" tanya Gisel memperhatikan nasi goreng udang ala Rama.
"Iya. Ayo buruan makan," jawab Rama semabari mengambilkan nasi untuk Gisel.
"Gimana? Enak?" tanya Rama sembari mengunyah makannya.
"Enak. Saya baru tau jika bapak bisa memasak," jawab Gisel makan dengan lahap.
"Gisel," panggil Rama beberapa saat kemudian.
"Ya, kenapa pak?" tanya Gisel yang baru saja selesai dengan urusan makannya.
"Saya boleh nanya sesuatu?" tanya Rama menatap lekat wajah istrinya itu.
"Boleh. Apa yang mau bapak tanyakan?" jawab Gisel balik bertanya.
"Apa kamu sangat mencintai Xavier?" tanya Rama membuat Gisel seketika menatap ke arah guru tampannya yang telah menjadi suaminya itu.
"Kenapa bapak bertanya seperti itu?" tanya Gisel balik.
"Saya hanya ingin tau sebesar apa harapan saya untuk memepertahankan pernikahan ini," jawab Rama lagi.
"Saya.. Saya.. Saya sangat mencintai Xavier. Bahkan sangat-sangat mencintainya sekali," ucap Gisel menundukkan kepalanya.
Ia tau, dengan jawabannya ini, pasti akan melukai hati suaminya itu. Namun Gisel tidak bisa membohongi perasaannya untuk tidak mencintai Xavier.
"Lalu, bagaimana hubungan kalian sekarang? Apa kalian masih menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih?" tanya Rama lagi.
Dia tau, hatinya pasti akan terluka mendendengar jawaban dari Gisel. Tapi, bagaimana pun juga, ia harus mengetahuinya.
"Kami.. Kami.. Kami pacaran pak. Maafkan saya," hawab Gisel lagi dengan kepala yang masih di tundukkannya.
__ADS_1
"Ok. Baiklah kalau begitu, saya berangkat dulu," pamit Rama mencium pucuk kepala Gisel.
Meskipun hatinya tenfah terluka, tapi Rama masih berusaha untuk bersikap setenang mungkin. Ia telah berjanji akan menjadi suami yang sebagai mana mestinya dalam waktu beberapa bulan ini.
"Pak Rama kenapa ya? Kenapa ia nggak marah sama sekali kalau gue dan Xavier masih pacaran? Apa pak Rama benar-benar akan menceraikan gue akhir tahun nanti?" gumam Gisel terlihat rusuh.
Sementara itu, Rama berangkat dengan perasaan yang bercampur aduk.
Di satu sisi, ia ingin sekali melanjutkan pernikahannya dengan Gisel, tapi disisi lain, ia juga ingin menyerah dengan pernikahan tanpa cinta tersebut.
"Ma, maafkan aku, sepertinya pernikahan ku dan juga Gisel tidak bisa di pertahankan lagi.
Dia mencintai laki-laki lain. Jika aku terus memaksakan pernikahan ini, kasihan Gisel. Dia tidak akan pernah bahgaia," ucap Rama seolah tengah bicara dengan almarhum sang mama tercinta.
Tak beberapa lama kemudian, Rama pun tiba di parkiran sekolah. Dan sekitar sepuluh menit kemudian, Gisel pun juga sampai di sekolahnya.
"Gisel," panggil Xavier yang juga baru tiba di sekolah mereka.
"Xavier," ucap Gisel sembari memberikan senyuman terbaiknya untuk sang kekasih.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Xavier mengusap pipi mulus pacarnya itu.
"Sudah. Kamu sendiri gimana?" tanya Gisel balik.
Sementara di sisi lain juga sepasang mata yang tengah memperhatikan sepasang kekasih tersebut. Pemilik mata itu adalah Rama, suami dari Gisel.
Ada rasa sakit karena cemburu yang di dirasakan oleh Rama saat itu. Namun, ia hanya bisa diam dan tidak dapat melakukan apa-apa. Rama hanya berharap jika suatu saat nanti, ia bisa mencintai Gisel dan begitu juga dengan sebaliknya.
"Pak Rama," panggil Bu Celine membuat Rama tersadar dari lamunannya.
"Bu Celine? Sejak kapan ibu berdiri di sini?" tanya Rama balik.
"Hhhhh, sejak bapak sibuk memperhatikan Gisel dan juga Xavier.
Mereka sepertinya bahagia sekali ya pak," ucap Bu Celine membuat Rama semskin bersalah.
'Rasanya aku terlalu jahat jika harus memisahkan mereka berudua,' batin Rama yang masih sangat-sangat dilema sekali dengan pernikahannya.
"Hmmmm maaf Bu Celine, saya permisi dulu," ucap Rama mengalihkan pembicaraan lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Ma, apakah kami akan bisa saling mencintai hingga akhir tahun nanti?" gumam Rama seolah sedang bertanya kepada almarhum mamanya.
Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi. Itu artinya, jam pelajaran akan segera di mulai, dan pagi ini adalah jadwalnya Rama mengajar di kelas Gisel.
Dengan langkah gontai, Rama pun melangkahkan kakinya menuju ruang kelas tersebut.
Orang pertama yang ia lihat adalah Gisel. Begitu juga dengan sebaliknya, saat mata Gisel tak sengaja bertemu dengan mata milik Rama. Suami yang sebentar lagi akan bercerai dengan dirinya.
"Selamat pagi anak-anak," sapa Rama sembari berjalan ke mejanya.
"Selamat pagi pak," jawab murid-muridnya seksama.
'Apa iya sebentar lagi gue akan bercerai dengan Pak Rama? Itu artinya gue akan jadi janda dan kembali tinggal di rumah mama. Tapi, kenapa rasanya berat ya jika mengingat perpisahan gue dengan pak Rama?' batin Gisel terus memperhatikan wajah suaminya yang tengah sibuk memberikan materi pelajarannya.
"Cie..Cie.. Ada yang terus mandangi suaminya nih," bisik Dewi membuat wajah Gisel memerah.
"Apaan sih lo Wi. Nanti kalo ada yang denger gimana?" protes Gisel mencubit pinggang Dewi.
"Awww, sakit," ringis Dewi menarik perhatian Rama.
"Dewi, kamu kenapa?" tanya Rama dengan tatapan tajamnya.
"Ah, itu pak, apa, perut saya sakit. Iya, perut saya sakit pak," jawab Dewi berbohong.
"Ya sudah, kalau begitu silahkan ke UKS. Hmmmm, Gisel, tolong antar Dewi ke UKS sekarang," ucap Rama lagi.
"Ah, nggak usah pak. Makasih. Saya.. Saya baik-baik saja kok pak," jawab Dewi menolak untuk di bawa ke UKS.
"Ya sudah, kalau sakitnya semakin bertambah, kamu langsung saja ke UKS," ucap Rama lagi, lalu melanjutkan pelajarannya.
"Baik, sekian penjelasan dari saya, dan silahkan buka halaman seratus dua belas dan kerjakan semua soal yang ada disana," perintah Rama setelah menjelaskan semua materinya.
Kini giliran Rama yang duduk di belakang mejanya. Dari sana, Rama bisa mengamati wajah cantik istrinya itu dengan jelas.
'Pak Rama dari tadi kok mandangi Gisel terus ya?' batin Xavier terlihat heran.
Begitu juga dengan yang ada di dalam pikiran Bryan. Ia juga merasa jika guru matematika killer itu terus menatap ke arah Gisel.
Lima belas menit kemudian, lonceng pertanda istirahat pun berbunyi. Banyak dari para murid yang masih belum menyelesaikan tugas mereka dan mereka semua langsung cemas karena takut jika gurunya itu akan memberikan tugas dua kali lipat sebagai hukumannya.
__ADS_1
Namun, para murid tersebut langsung terperamgah saat Rama sama sekali tidak memberikan hukuman untuk mereka semua. Malah guru tersebut meminta mereka untuk mengumpulkan seadanya.
"Gis, lo apain pak Rama? Tumben-tumbenan dia nggak ngasih hukuman kayak gini?" tanya Dewi menoel dagu Gisel.