
"Gis, lo apain pak Rama? Tumben-tumbenan dia nggak ngasih hukuman kayak gini?" tanya Dewi menoel dagu Gisel.
***
"Ish, apaan sih lo Wi. Lagian mana gue tau tuh guru kenapa," jawab Gisel lalu pergi menuju kantin sekolah untuk mengisi perutnya.
"Gisel, lo mau ke kantin yah?" tanya Bryan menghampiri gadis gang ia sukai itu.
"Iya,' singkat Gisel ketus.
"Sel, lo kenapa ketus mulu sih sama gue? Memang gue punya salah ya sama lo?" tanya Bryan memegang tangan Gisel. Niatnya Bryan hanya iseng dan sekedar menggoda Gisel saja, tapi, emang mood wanita cantik itu yang sedang tidak baik, Gisel pun akhirnya terbawa emosi dan mengatakan yang sebenarnya kepada Bryan.
Perkataan Gisel seketika membuat Dewi dan juga Bryan terkejut. Bagaimana bisa selama ini mereka tidak hubungan yang di jalin Gisel dengan Xavier.
"Jadi.. Jadi. Jadi pacar lo itu.. Pacar lo itu Xavier?" tanya Bryan mulai mengepalkan tangannya.
"Iya. Lo udah tau kan sekarang. Jadi gue minta sama lo, jangan ganggu gue lagi dan jangan dekatin gue lagi. Ngerti lo!" ucap Gisel lalu pergi meninggalkan Dewi dan juga Bryan.
"Wi, selama ini lo pasti tau kan hubungan Gisel dengan Xavier?" tanya Bryan menatap Dewi tajam.
"Sumpah, gue nggak tau Yan," jawab Dewi jujur.
Seketika Bryan pun pergi dengan membawa amarahnya.
Entah kemana, yang jelas ia bergegas pergi tanpa Dewi tau kemana ia pergi.
Di lapangan sekolah, Xavier yang tengah bermain basket tiba-tiba mendapat serangan mendadak dari Bryan. Hal itu lantas mengejutkan semua murid yang menonton permainan basket tersebut.
Ada yang berteriak, dan ada juga yang pergi dengan maksud memberi tahukan kepada teman-temannya yang lain.
"Apaan sih lo Yan?" tanya Xavier yang sudah jatuh ke lantai.
"Apaan lo bilang? Temen apaan sih lo Vier? Bisa-bisanya lo mengkhianati sahabat lo sendiri," jawab Bryan setengah berteriak.
"Mengkhianati apa? Siapa yang gue khianati? Gue bener-bener nggak ngerti maksud apa maksud lo," ucap Xavier lagi.
__ADS_1
Mendengar jawaban Xavier, emosi Bryan pun kembali memuncak dan menghajar Xavier kembali. Xavier yang tak terima langsung memberikan perlawanan dan membalikkan keadaan.
Ia memukul tepat di bagian wajah Bryan dan itu cukup untuk membuat Bryan menunda penyerangannya.
"Bryan, ingat, kita ini sahabat. Gue nggak mau jika kita harus ribut nggak jelas seperti ini," ucap Xavier masih belum mengerti alasan dari kemarahan sahabatnya itu.
"Ribut nggak jelas lo bilang? Vier udah jangan sok polos lo. Pacarnya Gisel itu elo kan?" balas Bryan setengah berteriak.
Mendengar perkataan Bryan, Xavier pun melemah. Ia melepaskan tangannya yang sedari tadi memegang kerah baju Bryan. Kesempatan itu langsung di manfaatkan oleh Bryan untuk melepaskan emosinya yang sudah menggebu-gebu.
Dengan membabi buta, ia menghajar Xavier bertubi-tubi, sehingga Xavier tidak memiliki kesempatan untuk menyerang balik.
Gisel dan Dewi yang tengah asik menyantap makanan di kantin pun di buat terkejut dengan kehebohan yang membicarakan pertengkaran Bryan dan juga Xavier di lapangan basket sekolah mereka.
Dengan cepat, Gisel dan Dewi pun langsung pergi ke lapangan sekolah dan melihat langsung pertengkaran di antara mereka berdua.
"Xavier, Bryan stop," teriak Gisel mencoba memisahkan mereka berdua.
"Gisel menjauh. Biarkan gue melepaskan emosi gue kepada si pengkhianat ini," perintah Bryan terus memukul Bryan yang sama sekali tidak melakukan perlawanan.
Namun, karena Xavier sama sekali tidak mendengarkannya, akhirnya Gisel nekat memberikan badannya untuk melindungi Xavier. Alhasil, Bryan yang tidak sadar pun memukul tubuh wanita yang ia perebutkan tersebut.
"Gisel," teriak Dewi berlari dan seketika memeluk Bryan untuk menghentikan perkelahian tersebut.
"Apaan sih lo Wi, lepasin gue," ucap Bryan berusaha melepaskan pelukan Dewi.
"Bryan udah. Lo nggak liat siapa yang lo pukulin?" ucap Dewi membuat Bryan seketika sadar.
"Astaga Gisel.
Gisel maafin gue Sel. Gisel lo nggak papakan Sel," ucap Bryan berusaha merangkul Gisel.
"Lepas, jangan lo sentuh pacar gue," ucap Xavier berusaha bangkit lalu membopong Gisel ke UKS diiringi oleh Dewi.
Meskipun ada kecemburuan yang dirasakan Dewi, namun, ia masih waras. Dewi masih menghargai persahabatannya dengan Gisel.
__ADS_1
Ia tak mau, gara-gara seorang laki-laki, persahabatannya dan Gisel pun rusak.
"Dewi, Gisel dan Xabier kenapa?" tanya Rama melihat sekilas Gisel dan Xavier saling membopong.
"Hmmm itu pak. Tadi di lapangan basket, Xavier dan Bryan bertengkar. Lalu, Gisel datang untuk menyelamatkan Bryan, tanpa sengaja, Bryan yang sudah terlanjur emosi pun tidak sadar jika dia telah memukul Gisel. Hmmm, tapi bapak tenang saja. Gisel baik-baik saja kok pak," jawab Dewi seolah tau hubungan gurunya itu dengan Gisel.
"Ya.. Ya.. Ya baguslah kalau begitu," jawab Rama seolah tidak peduli, tapi wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang teramat sangat.
"Hmmm pak.. Bapak yakin tidak mencemaskan keadaan Gisel?" tanya Dewi lagi membuat Rama mengernyitkan keningnya.
"Ya.. Ya benarlah. Untuk apa saya mencemaskan murid nakal itu?" jawab Rama lagi.
"Yakin pak. Masak ada suami yang tidak mencemaskan istrinya?" ucap Dewi seketika membuat raut wajah Rama berubah kaget.
"Is.. Is.. Istri? Apa maksudmu. Jangan sembarangan bicara ya kamu Wi. Nanti kalo ada yang dengar bisa jadi fitnah," balas Rama terlihat panik.
"Alah pak. Siapa yang fitnah sih pak.
Udahlah pak. Saya sudah tau kok jika pak Rama dan Gisel sudah menikah. Bapak tenang saja, saya ini sahabatnya Gisel, saya nggak akan membocorkan rahasia ini kepada siapapun," ucap Dewi mengedip-ngedipkan matanya.
"Dewi.. Pasti Gisel kan yang memberi tahukannya kepadamu? Dasar anak tidak bisa menjaga rahasia," ucap Rama sedikit kesal.
"Sumpah pak, bukan Gisel yang memberi tahukannya kepada saya. Saya tau sendiri waktu kalian berdebat kemarin. Ya sudah, kalau gitu saya permisi dulu ya pak. Saya mau menyusul Gisel ke UKS," ucap Dewi pergi tanpa rasa bersalah.
"Dewi," panggil Rama menghentikan langkah muridnya itu.
"Ya pak, kenapa?" tanya Dewi balik.
"Kamu sudah janji sama saya untuk merahasiakan ini semua. Jika ada yang tau, maka saya akan salahkan kamu," ancam Rama membuat sebelah alis Dewi terangkat.
"Saya? Kenapa saya? Siapa tau saja orang tau saat mendengar bapak berdebat dengan Gisel di ruangan bapak. Atau, orang tau di saat bapak dan Gisel sedang.....Hmmmmm," ucap Dewi membuat wajah guru itu memerah.
"Dewi.....," ucap Rama menggeraman.
"Ups, ya sudah, saya.. Saya mau ke UKS dulu ya pak. Saya janji kok, nggak akan buka mulut," balas Dewi lalu pergi.
__ADS_1