
"Terima kasih Gisel. Sekarang kamu sudah seutuhnya menjadi milik saya. Mulai detik ini, saya tidak mengizinkan mu lagi menjalin hubungan apapun dengan Xavier. Belajarlah untuk mencintai saya dan belajarlah untuk menyayangi saya seutuhnya. Saya berjanji jika saya juga akan melakukan hal yang sama terhadap dirimu. Jadilah istri yang baik dan patuh. Kita mulai rumah tangga ini sebagaimana mestinya saja. Kamu bisa?" ucap Rama membuat Gisel berpikir panjang.
***
"Tapi.. Tapi kenapa pak?" tanya Gisel merasa tidak terima jika hidupnya di atur-atur oleh Rama.
"Kamu masih tanya kenapa? Gisel, kamu itu istri saya. Setelah kita menikah, kamu harus patuh dengan perintah saya. Apapun itu selama itu demi kebaikan rumah tangga kita. Tidak ada alasan untukmu menolak keinginan saya ini," tegas Rama menatap dingin ke arah Gisel.
"Saya tau bapak ini suami saya. Tapi bapak tau sendiri kan, kita menikah tidak dasar suka sama suka. Kita ini di jodohkan pak. Bapak tidak bisa melarang saya karena saya mencintai Xavier. Saya juga tidak mempermasalahkan hubungan bapak dengan bu Celine," jawab Gisel yang tidak sadar jika suaminya itu saat ini tengah cemburu buta.
"Kamu bilang apa? Saya sama bu Celine? Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan bu Celine. Saya juga tidak mencintainya. Gisel dengar, saya akan beri kamu kesempatan selama satu Minggu untuk memutuskan hubungan kamu dengan bocah itu. Jika kamu tidak menurutinya juga, maka jangan salahkan saya untuk bertindak tegas. Ini adalah peringatan yang pertama dan yang terakhir untuk mu. Akhiri hubungan mu dengan bocah itu atau saya akan menghukum mu," ancam Rama lalu pergi meninggalkan Gisel.
Hati Rama begitu sakit saat mendengar pengakuan Gisel yang mengatakan jika ia mencintai Xavier.
'Kenapa hatiku rasanya sesakit ini?' batin Rama meremas dadanya.
'Apa aku mencintai murid nakal itu?' batinnya lagi lalu membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Sementara itu, Gisel tampak masih kesal. Ia bingung harus berbuat apa untuk kedepannya.
"Pak Rama benar-benar telah mengekang gue. Gue nggak mungkin mutusin Xavier. Gue dan Xavier itu saling mencintai satu sama lain," gumam Gisel sembari memandangi foto Xavier yang ada di layar ponsel miliknya.
Tak terasa, kantuk pun mulai dirasakan oleh Gisel. Gadis cantik itu akhirnya tertidur dalam keadaan masih tanpa busana dan masih memegang ponsel miliknya.
Di waktu berikutnya, Rama pun keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk putih. Ia pun termangu saat mendapati Gisel yang sudah tidur dengan berbalutkan selimut tebal hingga lehernya.
'Aku tau aku salah karena sudah mengekang mu Gisel. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan rumah tangga kita ini. Suami mana yang bisa terima jika istrinya selingkuh di depan matanya? Maafkan aku Gisel. Aku harus melakukan ini,' batin Rama menatap wajah Gisel yang tenang.
__ADS_1
Setelah memasang seluruh pakaiannya, Rama pun menyusul Gisel ketempat tidur.
"Dia sama sekali tidak berpakaian," gumam Rama tersenyum tipis.
Awalnya Rama ingin sekali memasangkan pakaian Gisel, namun ia mengurungkan niatnya. Ia lebih suka Gisel tidak berpakaian seperti itu saat berdua bersama dengan dirinya.
Keesokan paginya, Gisel pun bangun lebih dulu dari pada Rama. Ia kaget saat melihat dirinya tidak menggunakan pakaian sedangkan Rama masih tidur dengan pakaian lengkap.
Gisel pun kesal. Bisa-bisanya Rama membiarkan dirinya tidur tanpa pakaian sehelai benangpun.
Ingin sekali Gisel mengerjai Rama, namun ia takut jika gurunya itu akan marah.
Dengan langkah penuh umpatan, Gisel pun turun dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Di saat Gisel sedang menikmati guyuran shower nya, Rama pun masuk dan langsung memeluk Gisel dari belakang. Untung saja Gisel tidak berteriak karena kaget.
"Aapan sih pak? Bapak mau ngapain?" tanya Gisel tidak melepaskan pelukan Rama.
"Saya mau mengulang kejadian semalam. Bolehkan?" bisik Rama di telinga istrinya itu.
"Kamu tenang saja. Kita hanya bermain sebentar saja," bisik Rama lagi.
"Kenapa harus sekarang sih pak? Nanti kan juga bisa. Kalau sering-sering seperti ini saya bisa hamil pak," ucap Gisel lagi.
"Bagus dong jika kamu hamil. Itu artinya sebentar lagi kita akan memiliki anak. Pasti lucu," balas Rama membuat Gisel tidak setuju.
"Tidak. saya tidak mau hamil pak. Saya mau sekolah dan mengejar cita-cita saya. Saya belum mau punya anak. Kita melakukannya lain kali saja ya pak. Hmmm itu, saya. Saya harus ke sekolah. Bapak mandi saja. Saya.. Saya sudah selesai kok," ucap Gisel ketakutan sembari melangkahkan kakinya meninggalkan kamar mandi tersebut. Namun, sayang sekali, dengan cepat Rama mencegah Gisel dan langsung membawa murid nakalnya itu ke dalam pelukannya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rama pun langsung membungkam mulut Gisel menggunakan mulutnya, sedangkan tangan Rama sibuk traveling kesana-kemari.
__ADS_1
Mmmhhh ******* Gisel keluar begitu saja, sehingga membuat Rama semakin bersemangat dan bernafsu.
Hampir satu jam mereka bermain, Gisel pun kini telah selesai mandi dan berpakaian. Sedangkan Rama masih berada di dalam kamar mandi membersihkan sisa-sisa keringat paginya.
"Pak, saya berangkat duluan ya. Saya akan sarapan di kantin sekolah nanti," pamit Gisel meraih tangan Rama lalu menciumnya.
"Baiklah. Gisel ingat, saya memberimu waktu satu minggu untuk meninggalkan bocah itu. Jika kamu tidak juga meninggalkannya, maka saya akan membuatmu hamil dan melahirkan banyak anak untuk saya," ucap Rama mengancam Gisel.
"Apa? Hamil banyak anak? Nggak. Saya nggak mau. Saya mau sekolah dan melanjutkan cita-cita saya dulu pak," jawab Gisel ketakutan.
"Ya sudah. Kalau begitu putuskan pacarmu itu secepatnya," balas Rama lalu masuk ke dalam kamar ganti pakaian.
"Duh, gimana ya. Masak harus mutusin Xavier sih? Gue kan cinta sama Xavier. Nggak adil banget sih," protes Gisel menghentak-hentakkan kakinya berjalan meninggalkan kamarnya.
Setibanya di sekolah, Gisel pun disambut oleh Xavier yang telah menunggunya di parkiran sekolah.
"Pagi sayang," sapa Xavier dengan senyuman menggodanya.
"Pagi, kamu ngapain disini?" tanya Gisel yang masih terus terpikirkan ucapan suaminya itu.
"Ya nungguin kamulah. Kamu udah sarapan belum?" tanya Xavier balik.
"Belum. Kamu sendiri gimana? Udah sarapan belum," tanya Gisel lagi.
"Belum juga. Kita ke kantin yuk," ajak Xavier.
Namun sesaat Gisel akan menjawab iya, para sahabat Gisel datang menghampirinya, alhasil, Xavier pun langsung pergi. Ia tidak mau jika teman-teman satu kelasnya mengetahui hubungannya dengan Gisel.
__ADS_1
"Gisel, kantin yuk, kita sarapan bareng," ajak Dewi langsung merangkul tangan Gisel.
"Hmmm bo.. Boleh. Ayok. Kebetulan gue juga belum sarapan," jawab Gisel menghela nafas lega.