Dinikahi Pak Guru

Dinikahi Pak Guru
Bab 25


__ADS_3

"Lalu, mana istri bapak? Kenapa tadi saya tidak melihatnya?" tanya Bu Celine lagi. Ia benar-benar penasaran dengan wanita yang berhasil memiliki guru tampan itu.


"Ada, dia ada di kamar karena badannya lagi tidak sehat," jawab Rama berbohong.


Andai Bu Celine tau jika istri Rama adalah Gisel, muridnya. Pastilah guru itu akan sangat-sangat shock dan juga terkejut.


***


"Saya mau ketemu dengannya," ucap Bu Celine yang menurut Rama telah melampaui batasnya.


"Maaf Bu Celine. Saya tidak mengizinkannya. Istri saya sedang tidak enak badan. Jadi dia tidak bisa di ganggu. Lagi pula, saya rasa ibu tidak memiliki kepentingan apa-apa untuk bertemu dengan istri saya," tolak Rama tegas.


Mendengar ucapan Rama baru saja, benar-benar membuat hati Bu Celine sakit. Memang apa yang di katakan Rama itu benar adanya. Namun, karena sudah terlalu mencintai dan terobsesi untuk memiliki, Bu Celine pun tidak bisa terima apa yang baru saja ia ketahui dan ia dengar.


Tanpa sepatah kata pun, Bu Celine kemudian pergi meninggalkan guru tampan yang diketahui sudah memiliki istri tersebut. Namun, jauh dari dalam lubuk hati Bu Celine yang paling dalam, Bu Celine sudah memiliki niat untuk mencari tau siapa wanita itu dan memisahkan hubungan mereka berdua.


Sebegitu besarnya rasa cinta Bu Celine kepada Rama, hingga ia tega memikirkan rencana sekeji itu.


Setelah Bu Celine pergi, Rama pun masuk ke dalam rumahnya kembali. Ia kemudian kembali menyusul keluarganya yang tengah membagikan besek kepada para hadirin yang hadir di acara tahlilan tersebut.


Setelah membagikan semua besek nya, keluarga Gisel pun memutuskan untuk duduk sebentar sebelum mereka benar-benar pulang ke rumah.


"Rama, siapa wanita itu tadi? Kenapa dia bisa berada di rumah kita?" tanya Tyo kepada putranya itu.


"Dia Bu Gisel pa. Dia juga seorang guru di sekolah tempatku mengajar," jawab Rama apa adanya.


"Lalu, kenapa dia bisa berada disini? Apa kamu yang mengundangnya?" tanya Tyo lagi.


"Bukan pa. Awalnya dia mengajakku jalan, tapi aku menolaknya karena aku mengatakan jika ada tahlilan di rumahku. Dan Bu Celine pun menawarkan dirinya untuk ikut hadir di acara tahlilan ini. Ya sudah, tidak baik menolak niat baik orang. Aku pun akhirnya mengizinkan Bu Celine untuk ikut hadir di acara tahlilan kita ini," jawab Rama kepada keluarganya.


"Ya sudah. Sekarang mending kalian istirahat. Tidak usah dipikirkan lagi. Sekalian, saya dan istri mau pamit pulang dulu," ucap papanya Gisel.


"Loh? Kenapa tidak menginap disini saja? Ini sudah terlalu malam," ujar Tyo kepada besannya itu.

__ADS_1


"Ah, tidak usah Tyo. Kami pulang saja. Kebetulan pagi-pagi sekali kami harus berangkat ke Bandung untuk urusan kerja. Kami titip Gisel ya. Jika dia nakal, marahi saja dia seperti kamu memarahi Rama," balas Rahman menepuk pelan bahunya Tyo.


"Hhhhh, baiklah. Memang susah mengharapkan orang sibuk seperti kalian ini. Pergilah, kalau perlu jangan kesini lagi," canda Tyo diiring gelak tawa Lasmi dan juga Rahman.


"Aih, jangan ngambek seperti itu. Ingat umur. Nanti, pasti akan ada masanya kami menginap disini," balas Rahman lagi.


"Haha. Baiklah. Kalau begitu hati-hati di jalan," ucap Tyo akhirnya mengizinkan kedua sahabatnya itu pergi.


"Gisel, mama sama papa pergi dulu ya nak. Kamu baik-baik disini. Ingat jangan nakal. Patuh sama mertua dan juga suami mu," pamit Lasmi memeluk putrinya itu.


"Baiklah ma, pa. Hati-hati di jalan. Sering-seringlah kesini menemui ku," ucap Gisel menciumi tangan kedua orang tuanya bergantian, lalu diikuti oleh Rama setelahnya.


Setelah kedua orang tua Gisel meninggalkan rumah Tyo, Gisel pun juga pamit masuk ke kamarnya. Ia benar-benar sudah mengantuk sekali. Dan selang beberapa menit kemudian, Rama pun juga masuk ke kamar menyusul sang istri.


Setibanya di kamar, Rama melihat Gisel yang sudah berganti pakaian itu sedang duduk di depan meja riasnya sembari memegang mainan kalung pemberian Xavier yang melingkar indah di leher jenjangnya.


Hatinya kembali sakit saat terbayang momen dimana Xavier tengah berdiri di belakang Gisel memasangkan kalung tersebut lalu mencium pipinya sekilas.


Tangannya seketika mengepal, dan nafasnya sesak karena kembali menahan emosi.


"Wah, sepertinya kalung mu baru. Beli dimana?" tanya Rama bersikap seperti biasa.


"Pak.. Pak.. Pak Rama. Sejak kapan bapak berdiri disitu?" tanya Kanaya kaget.


"Baru saja. Melihatmu menggunakan kalung itu, membuatku segera ingin memiliki mu seutuhnya. Bersiap-siaplah, kita akan memulainya lagi malam ini. Itu, di dalam lemari mu ada sebuah paper bag yang berisikan gaun untuk kamu gunakan malam ini. Segeralah pakai, dan ingat, jangan pernah membantah ucapan ku. Aku akan mandi sebentar," ucap Rama dengan suara dingin dan menatap Gisel dengan tatapan tajam.


Deg


"Gaun? Gaun apa? Apa jangan-jangan gauuuunnn," gumam Gisel setelah Rama masuk ke kamar mandi.


Karena penasaran, Gisel pun melangkahkan kakinya menuju lemari pakaiannya, ia kemudian membuka dan benar-benar melihat sebuah paper bag berwarna hitam polos tergeletak di dalam sana.


Dengan tangan gemetaran, Gisel pun mengambilnya dan membuka isinya.

__ADS_1


Seketika mata Gisel terbelalak saat melihat seperti apa gaun yang dikatakan oleh Rama baru saja.


"Tuh kan bener gaun ini. Nggak. Gue nggak mau make nya. Tapi, nanti pak Raka pasti akan marah. Aaarrrgghhhh.. Kenapa sih guru killer itu mesuman banget?" gumam Gisel akhirnya memutuskan untuk menggunakan gaun berwarna merah maroon tersebut.


"Ih, sumpah aneh banget rasanya gue make baju kayak gini.


Mana transparan semua lagi," lirih Gisel merasa tidak nyaman dengan pakaian yang ia kenakan saat ini.


Beberapa saat kemudian, Rama pun keluar dari kamar mandi. Ia pun terkejut saat tidak mendapati Gisel berada di kamarnya.


"Kemana dia?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Rama pun berjalan menuju ruang ganti bajunya, namun ia tetap tidak melihat Gisel di sana.


"Kemana dia?" gumam Rama lagi.


Ia tampak kebingungan mencari Gisel. Namun, seketika senyuman Rama mulai keluar saat melihat Gisel yang sembunyi di balik lemari yang ada di kamar ganti tersebut.


Gisel tampak menutupi seluruh tubuhnya menggunakan bad cover yang ia lilitkan hingga leher.


"Gisel? Ngapain kamu disitu?" tanya Rama heran.


"Aku.. Aku.. Aku nggak ngapa-ngapain kok pak. Cuma.. Cuma berdiri saja," jawab Gisel gugup.


"Berdiri saja? Ngapain kamu berdiri disitu? Ayo kesini," perintah Rama yang masih mengenakan handuk putih di pinggangnya.


"Ta.. Ta.. Tapi pak," ucap Gisel lagi.


"Tidak usah tapi-tapian Gisel. Buka bed cover mu sekarang. Kamu sudah mengerjakan apa yang aku suruh kan?" tanya Rama lagi.


"Su. Su.. Sudah pak. Tapi pakaian ini terlalu terbuka dan juga transpran. Saya malu," jawab Gisel menundukkan kepalanya.


"Untuk apa kamu malu? Saya bahkan sudah melihat seluruh tubuh mu," balas guru matematikanya itu.

__ADS_1


Awalnya Gisel merasa berat untuk membuka selimut yang menutupi tubuhnya, namun, mau tidak mau, ia harus segera membukanya, hingga akhirnya terlepas lah selimut itu dari tubuh Gisel.


Seketika mata Rama pun terbelalak saat melihat betapa indahnya pemandangan yang ada di depannya itu.


__ADS_2