Dinikahi Pak Guru

Dinikahi Pak Guru
Bab 42


__ADS_3

"Ya sudah, kalau begitu kita cari Gisel. Lo sekarang dimana? Gue akan jemput lo sekarang juga," ujar Bryan yang terpaksa harus mengikuti kemauan Dewi agar tak ada yang mencurigainya.


***


"Ini gue masih di sekolah. Gimana kalo lo jemput gue di halte depan sekolah kita," jawab Dewi memancing Bryan.


"Ok, nggak masalah. Ya sudah, kalau gitu lo tunggu gue di sana. Gue jalan sekarang," ucap Bryan lalu mematikan teleponnya.


"Gue harus terlihat tenang di depan Dewi. Dewi nggak boleh sampai curiga," gumam Bryan lalu masuk ke dalam mobilnya.


Lima belas menit kemudian, Bryan pun tiba di halte depan sekolah mereka. Sedangkan Dewi sudah berdiri sedari tadi menunggu kedatangan Bryan.


Tak hanya Dewi, dari kejauhan nampak Rama juga tengah mengamati mereka berdua. Ia tak bisa lengah sedikitpun karena ini menyangkut dengan keselamatan istrinya.


"Dewi, ayo masuk," teriak Rama dari dalam mobilnya yang berwarna putih.


Dengan cepat pun Dewi melangkah masuk ke dalam mobil Bryan dan duduk di sebelah laki-laki tampan itu.


"Wi, lo tadi bilang jika Gisel di culik. Lo tau dari mana?" tanya Bryan mencoba mengorek informasi dari Dewi.


"Dari C.. Mmmmmm maksud gue dari mobil milik Gisel. Gue yakin sekali jika Gisel di culik Bryan. Soalnya sepatu Gisel ketinggalan sebelah. Nggak hanya itu, ponselnya juga tergeletak begitu saja di lantai mobilnya. Kalo nggak di culik apa coba namanya," jawab sahabat karib dari Gisel tersebut.


"Oh ya? Bagaimana ini bisa terjadi sama Gisel. Andai saja ada cctv di sana, pasti akan lebih mudah untuk menangkap pelakunya," ujar Bryan yang tidak tau jika perbuatannya itu terekam cctv yang di pasang tanpa sepengetahuan murid-muridnya.

__ADS_1


Bryan pun menyusuri jalanan ibu kota untuk mencari Gisel dengan menggunakan mobil miliknya, sedangkan Rama meminjam mobil milik rentalan yang ada tepat di sebelah sekolah tempat ia mengajar.


Rama sengaja melakukan itu agar Bryan tidak mencurigai mobil yang tidak di kenal tersebut.


Setelah satu jam keliling kota, mereka tak juga menemukan keberadaan Gisel. Dewi pun mulai ragu dengan tuduhan Bryan yang menculik Gisel.


"Hmmmm, Bryan, sepertinya nggak ada titik terang buat kita nemuin Gisel. Kita coba besok lagi saja ya. Gue harus pulang dulu. Soalnya mama gue minta gue buat menjemputnya di bandara satu jam lagi. Nggak papa kan Yan?" ucap Dewi masih melanjutkan sandiwaranya.


"Oh gitu, iya nggak papa. Lo pulang aja. Biar gue yang nyari Gisel sendirian. Lagi pula gue nggak bisa tenang jika Gisel belum ketemu," balas Bryan seolah ia sangat-sangat mengkhawatirkan Gisel.


"Ok, makasih ya Bryan. Gue tau lo pasti sangat mencemaskan Gisel. Kalo gitu, gue turun di halte depan sana. Gue akan pulang menggunakan taksi online saja," ucap Dewi lagi.


"Loh? Jangan. Biar gue yang anterin lo," ucap Bryan yang sebenarnya hanya sekedar basa-basi belaka saja.


"Ok, ya sudah. Kalo gitu gue turunin lo di depan sana. Biar gue yang lanjut nyariin Gisel," ujar Bryan sembari menepikan mobilnya.


Setelah Dewi turun dari mobil milik Bryan, dan memastikan mobil tersebut telah pergi, dengan cepat Dewi langsung masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Rama. Mereka pun langsung bergegas melajukan mobil tersebut dan kembali membuntuti Bryan dengan jarak yang tidak terlalu dekat.


"Kemana Bryan pak. Setau saya ini bukan jalan menuju rumahnya," tanya Dewi yang penasaran kemana tujuan Bryan.


"Entahlah. Yang jelas kita ikuti saja mobilnya. Siapa tau dia mau menemui Gisel," jawab Rama tetap berpikiran positif.


Lima belas menit kemudian, Bryan pun menepikan mobilnya di sebuah bangunan yang sepertinya tidak berpenghuni. Bryan kemudian keluar dan masuk ke dalam rumah kosong tersebut dengan melihat keadaan di sekitarnya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Dia nampak sangat mencurigakan sekali pak. Saya yakin sekali Bryan pasti menyembunyikan Gisel di dalam sana," ujar Dewi yang satu pemikiran dengan Rama.


"Kamu benar. Saya juga berpikir begitu. Ya sudah, kalau begitu kita tunggu saja Bryan meninggalkan rumah itu. Setelah anak itu pergi, kita akan masuk dan membebaskan Gisel," ucap Rama sembari merekam Bryan melalui ponsel miliknya.


Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, Bryan pun tak kunjung keluar. Perasaan Rama pun mulai tidak enak.


Dengan membawa beberapa warga sekitar, Rama pun memutuskan untuk langsung melabrak Bryan di rumah kosong tersebut, dan betapa terkejutnya Rama saat melihat Bryan yang akan menodai istrinya itu. Sedangkan hatinya pilu saat melihat Gisel hanya bisa menangis dengan tangan dan kaki terikat. Tak lupa juga Bryan juga menyumpal mulut Gisel agar tidak berteriak.


Rama yang sudah terpancing emosi itu langsung menarik Bryan dan memukulinya dengan membabi buta. Untung saja, ada warga yang berusaha untuk melerainya. Jika tidak, maka akan di pastikan jika Bryan akan bernasib buruk di tangan Rama.


Sementara itu, Dewi langsung melepas tali yang mengikat sahabatnya itu, dan memakaikan pakaian yang layak untuk Gisel.


"Kurang ngajar kamu Bryan. Murid macam apa kamu ini? Kenapa kamu tega sekali menculik Gisel dan berniat akan menodainya? Kamu tau kalau kelakuan mu itu salah besar ha?" teriak Rama dengan nafas yang sudah tersengal-sengal.


"Saya tau pak kalau saya itu salah. Tapi saya tidak peduli. Jika saja Gisel menerima saya dan tidak menjalin hubungan dengan Xavier, mak hal seperti ini tak akan terjadi.


Begitu juga dengan sebaliknya," jawab Bryan dengan suara tak kalah kerasnya.


"Kurang ajar kamu. Saya akan beri tahukan ini kepada kedua orang tuamu," ancam Rama benar-benar sudah sangat marah sekali.


"Haha, silahkan saja. Tapi bapak tau sendiri kan resikonya apa? Saya bakal pastiin kalau kedua orang tua saya akan menghentikan semua donasi ke sekolah," jawab Bryan kembali mengancam.


"Kamu pikir saya takut? Nggak sama sekali. Saya yakin kedua orang tua mu adalah orang bijak. Mereka pasti bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah," ujar Rama lalu menghubungi salah satu dari orang tua Bryan.

__ADS_1


"Halo selamat sore bu Naima. Saya Rama guru dari Bryan anak ibu. Hmmmm, begini bu, saya mau meminta ibu untuk datang ke sebuah rumah kosong di jalan melati raya nomor dua puluh. Disini ada anak ibu Bryan yang sedang di amankan oleh warga karena telah menculik salah satu dari murid saya dan menyekapnya di rumah kosong ini. Selain itu, saat kami geledah, anak ibu hendak melakukan tindak pemerkosaan kepada murid saya yang dia culik itu," ujar Rama membuat mama daru Bryan nampak shock dan terkejut.


__ADS_2