
"Pak Rama mau nanyain apa ya? Kok gue jadi takut kayak gini ya," gumam Dewi melangkahkan kakinya menuju ruangan guru matematikanya itu.
***
"Ada apa pak? Kenapa manggil saya ke ruangan bapak?" tanya Dewi yang telah berada di ruangan guru matematika nya itu.
"Hmmmm begini, saya mau kasih tau sesuatu sama kamu, tapi kamu jangan kaget ya," jawab Rama semakin membuat Dewi penasaran.
"Memang bapak mau ngasih tau apa?" tanya Dewi semakin penasaran lagi.
"Begini, Gisel hiang. Dia di culik oleh seseorang di parkiran sekolah kita," ucap Rama membuat Dewi kaget.
"Apa? Gisel di culik pak? Siapa yang nyulik pak? Kapan?" tanya Dewi lagi.
"Sssttttt, pelan kan suara mu. Kemaren saat jam pulang sekolah. Saya sudah cek cctv, dan saya juga sudah lapor polisi. Saya mau minta bantuan kamu untuk mencari keberadaan Gisel. Dan saya juga mohon untuk tidak memberi tahu siapa-siapa, termasuk kedua orang tua Gisel," ucap Rama lagi.
"Tapi kenapa pak? Bukankah baik jika banyak yang tau. Itu artinya akan banyak yang bakal bantuin kita buat nemuin Gisel," jawab Dewi yang sebenarnya ada benarnya juga.
"Iya, kamu benar, tapi saya tidak ingin membuat kedua orang tua Gisel terkejut dan juga cemas," jawab Rama lagi.
"Bapak benar. Kalau gitu, apa saya boleh lihat rekaman cctv itu pak?" pinta Dewi dan dengan cepat Rama langsung mengeluarkan laptop dan memperlihatkannya kepada Dewi.
"Astaga Gisel. Tapi tunggu sebentar. Bekas luka ini.. Sebentar pak, tolong di stop bagian sebelumnya pak. Rasa-rasanya saya pernah melihat bekas luka itu sebelumnya, tapi dimana ya," ucap Dewi dengan cepat Rama memundurkan videonya dan menekan tombol pause nya.
__ADS_1
"Yang ini maksud mu? Coba perhatikan dan ingat lagi, dimana kamu melihatnya. Ayo Dewi, coba ingat lagi," desak Rama yang benar-benar berharap jika Dewi kenal siapa pelakunya.
"Sabar dong pak. Ini saya juga lagi mikir," jawab Dewi mencoba mengingat-ingat lagi.
"Oh iya, saya ingat. Luka itu adalah luka yang sama dengan luka di tangan Bryan pak. Bapak ingat kan waktu itu Bryan pernah bertengkar dengan Xavier, dan Xavier tak sengaja membuat lengan Bryan terluka pak. Ya, saya ingat sekali pak. Itu pelakunya pasti Bryan. Dan yang lebih meyakinkan saya adalah hari ini Bryan tidak masuk sekolah pak," jelas Dewi seketika membuat Rama benar-benar terkejut.
"Apa? Bryan? Kamu yakin kan?" tanya Rama lagi mencoba memastikannya.
"Iya pak, saya sangat-sangat yakin sekali," jawab Dewi menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, kalau gitu kita ke rumah Bryan sekarang. Bisa-bisanya anak itu menculik istri saya," ucap Rama mengepalkan tangannya.
"Sabar pak. Kita nggak bisa buru-buru seperti ini. Kita tidak punya bukti yang kuat. Kita harus menyusun rencana pak," ucap Dewi ada benarnya juga.
"Tenang pak. Sepulang sekolah nanti, saya akan coba pancing Bryan. Saya akan meminta bantuannya untuk mencari Gisel. Selanjutnya kita akan buntuti langkah Bryan pak. Saya yakin Bryan pasti akan menemui Gisel," ucap Dewi dengan rencana yang sempurna.
"Ok. Saya dukung rencana mu. Nanti dari kejauhan saya akan memantau kamu dan juga Bryan. Makasih ya Wi, kamu sudah mau membantu saya," ucap Rama sedikit merasa lega.
Setidaknya ia sudah tau siapa yang menculik Gisel.
Sementara itu, Bryan sat ini tengah memaksa Gisel untuk makan. Rencananya, setelah ini ia akan menyetubuhi Gisel. Dengan cara seperti itu, Gisel tak akan bisa pergi jauh darinya. Bryan berencana akan melepaskan Gisel jika wanita pujaannya itu berhasil hamil darah dagingnya. Sungguh ide yang gila dan tidak masuk di akal.
"Gisel ayo makan. Kamu harus makan makanan sehat agar kamu bisa hamil anakku. Setelah kamu berhasil hamil, barulah aku akan melepaskan mu. Dengan begitu kamu akan menjadi milikku selamanya," ujar Bryan membuat Gisel jijik.
__ADS_1
"Lo jangan gila Bryan. Ingat, kita itu masih duduk di bangku SMA. Perjalanan kita masih panjang," ucap Gisel dengan mata yang sudah bengkak karena menangis.
"Haha, bodo amat. Aku sama sekali nggak peduli dengan masa depan ku. Kedua orang tua ku itu kaya. Jadi aku nggak perlu capek-capek memikirkan masa depan. Lagi pula salah kamu sendiri. Kenapa kamu malah memilih Xavier dari pada aku. Asal kamu tau Sel, cintaku ke kamu, itu jauh lebih besar dari pada cinta Xavier ke kamu," ujar Bryan lagi.
"Aku nggak peduli. Lagi pula aku sudah mencintai Xavier lagi. Sudah ada laki-laki lain di hatiku," jawab Gisel semakin membuat Bryan sakit hati.
"Nggak. Lo nggak boleh jatuh cinta pada laki-laki lain selain gue. Lo itu milik gue dan selamanya akan menjadi milik gue. Lo paham. Lo akan segera hamil dan kita akan segera menikah," ucap Bryan dengan nada emosi.
"Haha, jangan menghayal lo. Gue nggak akan pernah mau hamil anak lo. Gue jijik sama lo, maka dari itu gue menolak cinta lo. Harusnya lo tau diri dan sadar diri," ucap Gisel yang sudah sangat-sangat sakit hati dan muak dengan teman sekelasnya itu.
"Diam lo.. Gue udah baik-baikin lo, tapi lo nya malah ngelunjak seperti ini. Lihat saja, sebentar lagi gue pasti akan buat lo hamil," jawab Bryan lalu kembali meninggalkan Gisel yang posisinya masih terikat.
"Halo, ada apa Wi?" tanya Bryan yang harus tetap berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Halo Bryan, lo dimana? Lo bisa bantuin gue nggak?" tanya Dewi membuat Bryan mengernyitkan keningnya.
"Gue lagi di rumah temen gue. Lo mau minta tolong apa Wi?" tanya Bryan balik.
"Begini, lo temenin gue nyari Gisel ya. Gisel hilang Yan," jawab Dewi yang berpura-pura panik sembari menangis.
"Apa? Gisel hilang? Hilang kemana? Memangnya lo tau darimana jika Gisel hilang?" tanya Bryan balik. Ia seolah-olah terkejut dengan berita yang baru saja di katakan Dewi padanya.
"Gue hanya menerka-nerka saja sih Yan. Masalahnya gue nemuin mobil Gisel terbuka begitu saja. Dan tak jauh dari sana, gue juga menemukan sebelah sepatunya dan juga ponsel miliknya. Nggak mungkin juga kan Gisel meninggalkan ponsel dan sebelah sepatunya begitu saja," jelas Dewi bersandiwara sebaik mungkin. Sedangkan di sebelahnya Rama berusaha menahan emosinya agar tidak terlepas.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu kita cari Gisel. Lo sekarang dimana? Gue akan jemput lo sekarang juga," ujar Bryan yang terpaksa harus mengikuti kemauan Dewi agar tak ada yang mencurigainya.