
"Sama-sama sayang. Oh ya, satu lagi. Aku mau kamu pejamkan mata sekarang. Aku ada sesuatu buat kamu," balas Xavier benar-benar membuat Gisel penasaran.
"Memang kamu mau ngasih apa? Jangan aneh-aneh ya. Nanti aku marah," jawab Gisel sedikit cemas.
"Sudah, kamu tenang saja. Percaya sama aku. Sekarang kamu pejamkan mata ya," balas Xavier lagi yang mulai berdiri di belakang Gisel.
***
Gisel pun memejamkan matanya. Sementara itu, Pak Rama semakin cemburu melihat kebahagiaan dan keromantisan sepasang muridnya itu.
"Awas kamu Gisel. Saya akan menghukum mu setelah ini," gumam Pak Rama mengepalkan tangannya.
Kembali ke Gisel dan juga Xavier....
Setelah menutup matanya, Xavier pun mulai memasangkan sebuah kalung di leher jenjang milik Gisel. Kalung tersebut begitu indah dan memiliki hiasan berbentuk love.
"Sekarang buka matamu," bisik Xavier lalu mencium pipi Gisel sekilas.
Melihat Gisel di cium oleh Xavier, rasa cemburu dan emosi Pak Rama semakin memuncak. Namun ia berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak terpancing emosi dan turun untuk menemui Gisel dan juga Xavier.
"Huuuuhhhh.. Tahan Rama, tahan. Jangan sampai kamu turun dan membongkar semuanya. Cukup nanti kamu melampiaskan kemarahan mu di rumah saja," ucap Pak Rama berusaha menenangkan hatinya.
"Wahhh, ini.. Ini buat aku?" tanya Gisel seraya memegang mainan kalung yang berbentuk hati tersebut.
"Iya. Itu buat kamu. Kamu suka?" tanya Xavier balik bertanya.
"Suka banget. Makasih ya sayang," balas Gisel yang langsung berdiri dan memeluk Xavier.
Namun, saat Gisel tengah berada di dalam pelukan Xavier, matanya tak sengaja melihat sosok yang kini telah menjadi imamnya. Siapa lagi kalau bukan Pak Rama.
Gisel terpaku saat melihat Pak Rama terus menatapnya dari seberang jalan.
"Pak.. Pak.. Pak Rama?" ucap Gisel begitu saja.
"Pak Rama? Mana?" balas Xavier lalu melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Xavier sendiri juga takut jika kelakuannya ini dilihat oleh guru killer nya itu.
"I..I.. Itu.. Itu Pak Rama," balas Gisel menggelengkan kepalanya ke seberang jalan.
Sadar akan kehadirannya di ketahui oleh kedua muridnya, Pak Rama pun turun dan berjalan ke arah taman.
Ia berjalan dengan cool dan juga dengan tatapan mematikannya.
"Gimana nih Sel. Pak Rama malah kesini lagi," bisik Xavier yang ketakutan.
"Aku sendiri juga nggak tau Vier. Kayaknya Pak Rama marah banget deh. Kita kan masih make seragam sekolah. Mana pakaian khusus sekolah lagi," jawab Gisel yang juga ketakutan.
"Pak..Pak..Pak Rama?" sapa Xavier seraya tertawa cengengesan.
"Ngapain kalian disini?" tanya Pak Rama menatap Xavier dan juga Gisel bergantian.
"Pak.. Kami.. Kami.. Kami cuma duduk kok pak," jawab Xavier gelagapan. Sementara itu, Gisel hanya diam karena ketakutan.
"Kalian berdua berpacaran?" tanya Pak Rama hanyaa menatap Xavier tajam kali ini. Seolah Pak Rama meminta kejujuran dari Xavier.
"Hmmm kami.. Kami nggak...," ucap Gisel yang ketakutan.
'Duh, gimana nih? Gimana kalau Xavier bilang kalau gue dan dia sebenarnya pacaran?' batin Gisel. Ia benar-benar cemas sekali.
"Xavier, jawab jujur. Apa benar kalian berpacaran? Dan sejak kapan kalian berpacaran?" tanya Pak Rama sekali lagi.
"I.. I.. Iya pak. Kami.. Kami memang pacaran. Dan kami baru jadian tadi pagi," jawab Xavier membongkar hubungan mereka.
Mendengar pengakuan Xavier, seketika Pak Rama langsung menatap Gisel dengan tatapan tajamnya. Namun, Gisel yang ketahuan selingkuh itu langsung menundukkan kepalanya karena ia takut melihat tatapan mata tajam dari suaminya itu.
"Oh, ok. Jadi kalian baru saja jadian? Ok, tidak masalah bagi saya. Tapi kalian tau kan, ini tempat umum, dan kalian saat ini tengah menggunakan seragam sekolah. Seragam khusus sekolah kita. Apa kalian tidak berpikir jika nama sekolah kita akan buruk jika ada yang melihat kelakuan kalian seperti ini?" ucap Pak Rama mencoba menahan sakit hati dan emosinya.
'Apa? Pak Rama nggak marah? Ini serius kan?' batin Gisel sedikit lega. Namun, Gisel tidak akan menyangka jika saat ini suaminya itu tengah marah besar.
"Ma.. Maafkan kami pak. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi," jawab Xavier merasa lega karena Pak Rama tidak memarahinya.
__ADS_1
"Ya sudah. Kalau begitu kalian pulang sekarang. Saya tidak mau kejadian ini terulang lagi," balas Pak Rama benar-benar berusaha keras mengontrol emosinya.
"Baik pak. Kalau begitu kami permisi dulu," jawab Xavier lalu menggenggam tangan Gisel lalu membawanya ke tempat mobil milik Gisel terparkir.
Lagi-lagi, hati Pak Rama begitu sakit saat melihat Xavier menggenggam tangan Gisel seperti itu.
'Kenapa ini? Kenapa saya harus sakit hati seperti ini jika melihat Gisel bersama laki-laki lain?' batin Pak Rama masih menatap kepergian Gisel dan juga Xavier.
"Sayang, aku tadi cemas banget lo jika Pak Rama akan menghukum kita," ucap Xavier yang sudah berada di mobil milik Gisel.
Gisel yang pikirannya terus ke arah Pak Rama pun hanya diam. Gisel seolah-olah tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Xavier.
"Gisel?" panggil Xavier lagi, namun hasilnya tetap sama. Gisel hanya diam dan terlihat tengah memikirkan sesuatu.
'Pak Rama sama sekali tidak marah melihat gue sama Xavier. Ia juga nggak marah saat Xavier mengatakan jika kami pacaran. Itu berarti Pak Rama memang tidak mencintai gue. Jadi, nggak masalah lah jika gue dan Xavier tetap melanjutkan hubungan ini,' batin Gisel merasa lega.
"Gisel, kamu mikirin apa sayang?" tanya Xavier kali ini menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Ah, tidak. Aku tidak mikirin apa-apa. Ya sudah, ayo kita jalan sekarang. Biar aku antar kami pulang,"
"Tidak usah. Kamu antar aku ke sekolah saja. Aku akan mengambil motorku di sana," tolak Xavier untuk di antar kan pulang.
Di saat Gisel dan juga Xavier di perjalanan ke sekolah, Pak Rama pun juga sedang berada di perjalanan. Namun bukan perjalanan ke sekolah, melainkan perjalanan pulang.
Entah kenapa, hatinya sakit sekali saat mengetahui hubungan Gisel dan juga Xavier.
"Jadi tadi mereka telat karena baru saja jadian. Tapi kenapa rasanya sakit sekali? Bukankah saya tidak mencintainya?" gumam Pak Rama sembari melajukan mobilnya pelan.
Beberapa saat kemudian, Pak Rama pun tiba di rumah.
"Ternyata Gisel belum pulang juga," gumam Rama tersenyum pilu.
"Rama, Gisel mana?" tanya Tyo, papanya Pak Rama.
"Hmmm, Gisel belum pulang pa. Mungkin masih ada jam tambahan di sekolah," jawab Pak Rama memilih untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya.
__ADS_1
"Tapi dia tidak lupa kan dengan acara nanti malam?" tanya Tyo memastikan.
"Enggak kok pa. Papa tenang saja. Sebentar lagi Gisel pulang kok," jawab Pak Rama menerka.