
Sedangkan di balik lemari pajangan, Gisel sakit hati mendengar ucapan bu Celine yang jelas sekali membela Bryan dan menyalahkannya.
***
"Bukan begitu pak maksud saya. Tapi ...," ucap ibu Celine terputus.
"Ya sudah bu, lupakan saja. Kalau ibu nggak ada keperluan lainnya, ibu Celine boleh pulang. Karena saya nggak enak sama istri saya," sela pak guru Rama mengambil sikap tegas.
"Hmmmmmm baiklah pak. Tapi apa saya boleh bertemu dengan istri bapak? Saya,, saya sangat penasaran sekali dengan wajah istri bapak," pinta bu Celine yang tak ada malunya.
"Untuk apa? Maaf bu, saya tidak mengizinkannya karena istri saya bukan bahan tontonan publik," ucap pak guru Rama membungkam mulut wanita yang menyukainya itu.
"Hhhhhhh, memang kenapa saya tidak boleh bertemu dengan istri bapak? Kalau bapak memang sudah menikah, harusnya bapak bersedia dong menunjukkan wajah istri bapak. Atau sebenarnya bapak masih lajang?" uap ibu Celine lagi.
"Apaan sih bu. Saya kan sudah bilang jika wajah istri saya bukan untuk tontonan publik. Lagi pula bukan kewajiban juga kan untuk memperlihatkan siapa istri saya. Sudah lah bu. Nanti, cepat atau lambat ibu juga bakalan tau siapa istri saya," ujar pak guru Rama lagi.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu," balas bu Celine nampak sedikit kesal.
Sepanjang perjalanan, bu Celine masih saja bertanya-tanya seperti apa rupa istri dari pak guru Rama.
"Kenapa harus di rahasiakan segala?" gumam bu Celine sembari menyetir mobilnya.
Sementara itu, di rumah pak guru Rama, setelah kepergian ibu Celine, mereka langsung melanjutkan rencana memasak yang sempat tertunda karena kedatangan tamu yyang tak di anggap.
Sementara pak Rama mencuci bahan masakannya, Gisel pun hanya di bolehkan untuk duduk manis dan melihat suaminya itu melakukan pekerjaan dapur lainnya.
"Pak, saya bantu ya," tawar Gisel beranjak dari tempat duduknya.
"Nggak usah, kamu duduk saja di sana. Biar saya yang menyiapkan semuanya," jawab Rama menolaknya.
"Tapi saya juga mau membantu pak," ucap Gisel lagi yang kekeh untuk membantu suaminya itu.
"Hhhhhh, baiklah. Kalau begitu kamu kerjakan yang ini saja," ujar Rama memberikan pisaunya dan membiarkan Gisel memotong sayurannya.
Namun, baru saja beberapa potong, Gisel pun terpekik karena tangannya tak sengaja terkena pisau dan tentunya mengeluarkan sedikit banyak.
Dengan cepat, Rama pun langsung meraih tangan sang istri lalu meniupnya pelan.
"Kamu ini kalau nggak bisa masak, jangan ngeyel buat bantuin saya. Kan jadinya seperti ini kan," ucap pak guru Rama sembari mencuci tangan Gisel lalu memasangkan plester untuk menutupi lukanya.
"Bukannya saya nggak bisa pak. Tapi ya karena nggak terbiasa saja," jawab Gisel manyun.
__ADS_1
"Sama saja Gisel. Ya sudah, kalau begitu kamu duduk saja. Biar saya yang melanjutkan memasaknya," ucap pak guru Rama meminta Gisel kembali duduk.
"Tapi pak," ucap Gisel lagi.
"Nggak ada tapi-tapian. Udah ayo sana," ucap pak guru Rama lagi.
Gisel hanya menurut dan kembali duduk di bangku tempat ia duduk semula.
Gisel terus saja memperhatikan Rama yang tengah sibuk memasak dengan lihai nya.
Sampai detik ini, ia masih tak menyangka jika laki-laki tersebut adalah suaminya.
"Selesai," ucap pak guru Rama sembari menata makanan yang tadi ia masak di meja makan depan sang istri.
"Gisel," panggil pak guru Rama tak membuyarkan lamunan gadis cantik itu.
"Gisel, hei. Apa yang kamu pikirkan?" tanya pak Rama namun masih membuat Gisel terdiam.
"Muach," satu ciuman terpaksa di darat kan oleh guru tampan itu tepat di bibir sang istri.
"Apaan sih pak?" protes Gisel terkejut karena mendapatkan serangan mendadak seperti itu.
"Nggak mikirin apa-apa kok pak," jawab Gisel tak mau mengaku.
"Nggak mikirin apa-apa tapi kok melamun sampai segitunya," ledek pak guru Rama lagi.
"Hhhhhh, ya memang nggak mikirin apa-apa pak. Saya hanya belum percaya saja jika saat ini status saya sudah menjadi seorang istri dari guru saya sendiri," jawab Gisel lagi yang di balas dengan tawa kekeh dari sang suami.
"Kok ketawa sih pak," tanya Gisel heran. Ia sedikit malu karena baru saja menyampaikan apa yang sedang di pikirkan nya.
"Ya karena saya juga sering terpikirkan seperti itu. Saya bahkan juga nggak percaya jika seorang guru seperti saya menikahi murid yang terkenal bandel seperti kamu. Tapi jujur sih saya merasa saya sangat beruntung sekali. Pasalnya di umur saya yang segini, saya memiliki istri kecil yang cantik seperti kamu," jawab pak guru Rama membuat wajah Gisel seketika memerah karena mendapat pujian seperti itu.
"Ah, bapak ini bisa saja. Berarti saya nggak beruntung dong pak.. Saya mendapatkan suami yang usianya sangat jauh di atas saya. Nanti, di saat saya masih muda dan juga cantik, bapak sudah terlihat tua dan keriput," ujar Gisel terkekeh.
"Haha, enak saja. Meskipun umur saya segini, tapi wajah saya tak kalah dengan wajah anak-anak SMA di sekolah,"
"Haha, emang iya sih. Tapi kan tetap tuwir," ledek Gisel lagi.
"Tuwir-tuwir begini, tapi stamina saya masih ok kan," bisik pak guru Rama membuat wajah Gisel memerah.
"Apaan sih pak. Ayo makan. Saya lapar tau," ucap Gisel mengalihkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
Akhirnya, mereka pun makan dengan diam. Hati Rama rasanya hangat sekali.
Bulan pun berganti. Kini, Gisel pun sudah duduk di bangku kelas tiga SMA, dan akan menjalani ujian semester satu.
Sedangkan hubungannya dengan Xavier telah lama usai. Di saat pertemuan Gisel dengan Xavier,mereka telah memutuskan untuk membuang jauh-jauh perasaan mereka masing-masing.
Begitu juga dengan pernikahannya dengan guru killernya itu. Hingga saat ini, tak ada satu orang pun yang tau selain Dewi.
Sedangkan Bryan, sudah di pindahkan oleh ke dua orang tuanya ke pondok pesantren.
"Gisel gimana ujian lo? Aman?" tanya Dewi saat mereka tengah duduk makan di kantin sekolah.
"Aman sih. Tapi nggak terlalu aman juga," jawab Gisel menghela nafasnya kasar.
"Loh? Kenapa? Bukannya lo itu...," ucap Dewi hampir keceplosan.
"Hhhhh, mulut lo tolong di jaga Wi. Nanti ada yang denger gimana?" protes Gisel mencubit lengan sahabatnya itu.
"Ya maaf. Nggak usah di cubit juga kali Sel. Tapi lo serius dia nggak ngasih lo kelonggaran semacam bantuan gitu?" tanya Dewi lagi.
"Nggak sama sekali. Lo kan tau sendiri guru itu sifatna gimana?" jawab Gisel lagi.
"Ya sudah. Kalau gitu lo tetap harus giat belajar seperti muridd-murid lainnya," balas Dewi lagi.
Jam pulang pun tiba. Entah kenapa semenjak tadi pagi kepala Gisel sangat pusing sekali. Pak guru Rama pun juga sudah memintanya untuk tidak masuk sekolah hari ini, tapi Gisel tetap bersikeras untuk datang demi ujiannya.
Sepulang sekolah, Gisel pun mengganti pakaiannya dan langsung berbaring di atas tempat tidurnya. Sedangkan sang suami masih berada di sekolah.
"Dewi," panggil pak guru Rama di saat sahabat dari istrinya itu akan segera melajukan motornya untuk pulang.
Hari ini Dewi memang pulang lebih lambat karena ada pelajaran tambahan yang harus ia selesaikan demi mendongkrak nilai sekolahnya.
Sebenarnya Gisel juga memiliki jam pelajaran tambahan, tapi ia izin pulang dan tidak mengikuti jam tersebut.
"Ya pak. Ada apa?" tanya Dewi sembari memasang helmnya.
"Gisel mana? Kok saya lihat mobilnya nggak ada?" tanya pak guru Rama dengan nafas ngos-ngosan karena mengejar Dewi.
"Hmmmm, tadi Gisel izin pulang duluan pak. Kayaknya Gisel kurang enak badan deh pak," jawab Dewi lagi.
"Kamu benar. Gisel memang sedikit tidak enak badan. Tadi saya juga sudah memintanya untuk tidak masuk sekolah. Tai ia masih ngotot untuk masuk sekolah. Ya sudah, terima kasih. Kalau begitu saya mau pulang dulu. Kamu hati-hati di jalan," ucap pak guru Rama lalu berjalan ke arah mobilnya.
__ADS_1