Dinikahi Pak Guru

Dinikahi Pak Guru
Bab 47 TAMAT


__ADS_3

"Tetaplah disini hingga saya tertidur. Setelah saya tidur, bapak boleh menyiapkan makanannya," ucap Gisel meraih tangan Rama untuk berbaring di sebelahnya.


***


Dengan senang hati, Rama pun mengikuti kemauan istrinya itu. Ia terus menemani Gisel hingga tak sadar, Rama pun akhirnya juga tertidur di sebelah sang istri.


Satu jam kemudian, Gisel pun terbangun dan ia masih melihat Rama yang masih tertidur lelap di sebelahnya.


'Gue nggak nyangka jika saat ini gue hamil anak pak Rama. Apa gue dan pak Rama benar-benar di takdir kan berjodoh ya?' batin Gisel menatap lekat guru sekaligus suaminya itu.


"Gisel. Kamu sudah bangun?" tanya Rama yang tiba-tiba saja membuka matanya.


"Su, su, sudah pak. Saya baru saja bangun," jawab Gisel sedikit terkejut.


"Apa kamu lapar? Saya akan membelikan mu sesuatu," ucap Rama bangun dan meraih ponselnya.


"Nggak usah pak. Terima kasih. Saya sama sekali belum lapar," jawab Gisel menghentikan Rama.


"Baiklah," jawab Rama lagi.


"Hmmmm pak," panggil Gisel yang masih tiduran.


"Ya, ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?" jawab Rama balik bertanya.


"Nggak. Hmmmmm pak, apa saya bole bertanya sesuatu?" tanya Gisel ragu-ragu.


"Boleh, silahkan. Kamu mau menanyakan apa?" tanya Rama kembali naik ke ranjang.


"Apa suatu saat nanti bapak akan meninggalkan saya?" tanya Gisel membuat Rama terkejut.


"Maksud kamu apa? Hmmmm?" tanya Rama sembari mengelus kepala Gisel.


"Hhhhhh saya hanya takut pak jika setelah saya melahirkan nanti, saya sudah tidak cantik lagi dan bapak akan meninggalkan saya. Secara bapak tau sendiri kan, bapak adalah idola di sekolah," jawab Gisel memilih berterus terang dari pada ia terus kepikiran.


'Haha, kenapa kamu sampai kepikiran seperti itu Gisel? Gisel, dengarkan saya, dimata saya kamu itu cantik dan akan tetap cantik meskipun kamu sudah melahirkan sepuluh anak sekalipun. Jadi jangan pernah berpikir jika saya akan meniggalkan mu karena saya mencintaimu," ucap Rama membuat jantung Gisel berdetak kencang.


"Apa bapak benar-benar mencintai saya?" tanya Gisel lagi.


"Ya, saya sangat-sangat mencintai mu Gisel," jawab Rama lalu mencium kening sang istri.


"Terima kasih pak," ucap Gisel memeluk suaminya itu.


Beberapa bulan telah berlalu. Hari ini adalah ujian akhir Gisel. Setelah ini ia akan lulus sekolah.


Di sekolah, tak ada yang tau jika Gisel tengah berbadan dua kecuali Dewi. Meskipun badannya bertambah gemuk, tapi untung saja perut Gisel tidak terlalu besar, sehingga tidak memancing kecurigaan di kalangan siswa lainnya.


"Gisel kantin yuk," ajak Dewi di jam istirahat.


"Yuk, kebetulan gue lapar banget nih," ucap Gisel sembari membereskan perkakas sekolahnya.


Setibanya di kantin, Gisel pun memesan satu mangkok batagor ukuran jumbo. Gisel makan degan sangat lahap sekali. Nampak dari jauh pak guru Rama tengah memperhatikan istrinya yang tengah makan dengan lahap tersebut.

__ADS_1


'Kehamilan ini semakin hari membuat kamu semakin cantik Gisel. Aku nggak nyangka jika murid nakal seperti mu akan menjadi istriku,' batin pak guru Rama.


.


.


"Bagaimana ujian mu? Apa kamu ada kesulitan?"tanya Rama di ia dan Gisel sudah berada di rumah.


"Hmmmm kayaknya nggak ada. Bapak tau, tadi pas di jam terakhir, saya sempat merasakan mual. Untung saja saya bisa menahannya. Kalau tidak, saya yakin sudah banyak yang curiga dengan kehamilan saya ini," ucap Gisel yang sudah sangat terbiasa dengan suaminya itu.


"Oh ya? Lain kali kamu bawa minyak kayu putih ke sekolah. Jadi, jika kamu mual, kamu bisa meredakannya dengan minyak kayu putih tersebut," ucap Rama sembari bermain dengan rambut panjang istrinya itu.


"Hhhhhh, baiklah. Besok aya akan selalu membawanya," jawab Gisel lagi.


"Oh ya Gisel, bisakah kamu tidak memanggil saya dengan sebutan pak jika kita sedang berada di rumah? Saya terlalu risih mendengarnya," pinta Rama membuat kening Gisel mengernyit.


"Lalu saya harus panggil apa? panggil sayang? Atau panggil cinta?" tanya Gisel membuat Rama merasa senang.


"Memang kamu sudah mencintai saya?" tanya Rama memancing Gisel.


"Hmmmmm sudah. Saya juga sudah menyayangi bapak," jawab Gisel membuat Rama terkejut.


"Jadi kamu, kamu sudah mencintai saya?" tanya Rama dengan suara yang bergetar.


"Sudah. Saya sudah mencintai mu pak guru," jawab Gisel memperjelas ucapannya.


"Makasih Gisel. Makasih. Sayang, aku juga sangat mencintai mu," jawab Rama memeluk dan menciumi Gisel berkali-kali.


Hari ini adalah hari kelulusan bagi Gisel. Pagi-pagi sekali, Gisel sudah bangun dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ia sudah tidak sabar untuk menunggu hari kelulusannya.


"Gisel, sayang, ngapain kamu buru-buru berangkat ke sekolah? Kamu nggak usah datang ke sekolah, biar aku saja yang melihat hasil kelulusan mu," ucap Rama memeluk Gisel yang hendak beranjak dari ranjangnya.


"Aku nggak mau. Aku ingin ke sekolah. Aku ingn melihat kelulusan ku," jawab Gisel yang menolak untuk tetap tinggal di rumah.


"Baiklah. Tapi jaga dirimu baik-baik," ucap Rama mengecup kening istrinya itu.


Setibanya di sekolah, Gisel dan Dewi memilih untuk duduk di kantin sekolah sembari menunggu pengumuman kelulusan mereka.


Dan beberapa saat kemudian, suara murid pun terdengar riuh. Itu membuktikan jika hasil kelulusan telah di pajang di mading.


Dengan cepat Dewi dan juga Gisel berjalan ke mading dan melihat nama mereka, hingga beberapa saat kemudian, Gisel dan dewi berteriak saat melihat nama mereka dinyatakan lulus oleh pihak sekolah.


"Selamat ya Sel, lo akhirnya lulus juga," ucap Dewi memeluk sahabatnya itu.


"Sama-sama Wi. Selamat juga buat lo. Kita akhirnya lulus," ucap Gisel melompat kegirangan. Ia lupa jika dirinya tengah hamil saat ini, hingga Gisel merasakan sakit pada perutnya.


Rama yang sedari tadi mengawasi Gisel bergegas hendak menolong sang istri. Namun langkahnya di hentikan oleh bu guru Celine.


"Pak Rama mau kemana?" tanya bu Celine menghalangi langkah guru tampan itu.


"Saya akan menolong Gisel. Dia sedang sakit perut sekarang," jawab pak guru Rama lagi.

__ADS_1


"Apa? Dari mana bapak tau jika Gisel sedang sakit perut? Dan apa hubungannya dengan bapak?" tanya bu Celine penasaran.


"Jelas ada hubungannya. Gisel adalah istri saya dan saat ini Gisel sedang hamil anak saya," jawab pak guru Rama membuat bu Celine semakin terkejut.


"A,,,,a,, apa? Gisel, Gisel, Gisel istri bapak? Bapak jangan bercanda. Ini sama sekali tidak lucu," ucap bu Celine tak percaya.


"Untuk apa saya bercanda dengan bu Celine? Nggak ada untung nya bagi saya. Permisi," balas pak guru Rama lalu bergegas menolong Gisel yang semakin kesakitan.


Setelah membawa Gisel ke rumah sakit, pak guru Rama pun mendapatkan panggilan telepon dari kepala sekolah.


Rama yakin sekali jika bu Celine telah melaporkannya kepada pihak kepala sekolah.


Setelah memastikan keadaan Gisel baik-baik saja, pak guru Rama pun bergegas kembali ke sekolah dan menitipkan Gisel kepada mertuanya.


.


.


"Maaf pak, bapak memanggil saya?" tanya pak guru Rama. Saat ini dia sudah berada di ruangan kepala sekolah.


"Ya, langsung saja pak. Bu Celine bilang, pak Rama dan Gisel adalah pasangan suami istri. Apa itu benar?" tanya kepala sekolah tersebut.


"Iya benar pak," jawab pak guru Rama tak menutupinya lagi.


"Tapi kenapa pak Rama melakukan ini? Bapak sudah tau kan peraturan sekolah itu apa?" tanya kepala sekolah itu kembali.


"Maafkan saya pak. Saya tau. Tapi ini semua terjadi di luar kendali saya. Beberapa saat sebelum ibu saya meninggal dunia, beliau meminta saya untuk menikahi anak dari sahabatnya yaitu Gisel. Waktu itu saya sendiri bahkan tidak tau jika wanita yang telah saya nikahi itu adalah Gisel murid saya, karena pada saat ijab kabul, mereka tidak menghadirkan Gisel di sebelah saya. Begitu juga dengan Gisel, dia tidak tau jika hari itu dia akan dinikahkan. Setelah kami bertemu, kami berdua sama-sama terkejut. Tapi mau bagaimana lagi, saat itu saya sudah sah menikah dengan Gisel dan saya tak mungkin menceraikannya. Saya tidak mungkin memberi tahu pihak sekolah karena saya tidak ingin pendidikan Gisel terancam. Dan saat ini, saya sudah mencintai Gisel, begitu juga sebaliknya. Bahkan saat ini Gisel sedang hamil anak saya.


Jika bapak ingin memecat saya, silahkan. Tapi saya mohon, jangan menyangkut pautkan ini dengan kelulusan Gisel. Saya mohon," jelas Rama menjelaskan kronologi pernikahannya dengan Gisel.


"Baiklah pak Rama. Karena saya tau di saat Gisel telah lulus, maka saya tidak akan membatalkan kelulusannya. Selain itu, saya juga tidak akan memecat bapak. Bapak masih bisa tetap mengajar di sekolah ini," jelas kepala sekolah tersebut membuat Rama merasa lega.


"Hmmm pak Rama. maafkan saya jika saya melaporkan kasus ini kepada kepala sekolah. Andai dulu bapak tidak menolak cinta saya, maka akan saya pastikan, baik bapak dan juga Gisel pasti akan baik-baik saja," ucap bu Celine yang merasa jika Rama telah di pecat dan kelulusan Gisel akan di cabut.


"Maksud bu Celine apa? Asal ibu tau, saya tidak di pecat. Begitu juga dengan istri saya, kelulusannya sama sekali tidak di batalkan. Terima kasih telah membantu saya untuk menyampaikannya kepada pihak kepala sekolah.


Mendengar ucapan Rama, bu Celine sangat kecewa dan sakit hati.


.


.


"Bagaimana? Apa pak kepala sekolah memecat mu dan membatalkan kelulusan ku?" tanya Gisel penasaran.


"Kamu tenang saja. Pak kepala sekolah tidak memecat ku atau membatalkan kelulusan mu. Jadi kita aman," ucap Rama mengusap kepala Gisel.


Sementara itu, Dewi sangat senang sekali karena Xavier baru saja menyatakan perasaannya. Dewi sangat senang sekali. Akhirnya ia bisa mendapatkan hati Xavier.


TAMAT


Terima kasi author ucapkan atas kesetiaan kalian yang telah membaca kisa ini dari awa hingga akhir. Tanpa kalian, author ini bukanlah siapa-siapa.

__ADS_1


Jangan lupa juga untuk mampir ke karya-karya author lainnya. Terima kasih banyak. Semoga rezeki kalian yang membaca kisah ini du mudahkan. Amin.


__ADS_2