Dipaksa Jodoh

Dipaksa Jodoh
Bab. 37. Perhatian yang Membuat Panas.


__ADS_3

Dengan menggunakan dress model sabrina yang menjuntai sampai bawah berwarna gold, tampilan Zeva benar-benar sangat cantik dan elegan sekali. Dia menggunakan kalung berlian yang tidak terlalu besar, juga anting dan gelang yang menambah kilau penampilannya malam ini.


Arion sendiri memakai tuxedo berwarna senada dengan Zeva. Dia melingkarkan tangan wanita itu di lemgannya, lalu melangkah gagah untuk naik ke atas podium.


Semua mata memandang takjub dan juga heran. Bagi semua kolega bisnis atau pun yang tidak pernah mengenal Zeva, tentu akan melihatnya dengan kagum. Pancaran kecantikan wanita itu benar-benar mendebarkan hati para lelaki, juga membuat semua wanita menatap iri padanya.


Namun, bagi karyawan yang bekerja di perusahaan. Tentu mereka sangat terkejut dengan apa yang terjadi, di mana wanita yang mereka kenal sebagai sekretaris Arion kini malah bergandengan tangan dengan laki-laki itu untuk menaiki podium.


Suara tepuk tangan yang sangat meriah mulai menggema di tempat itu saat ada seorang lelaki yang memulainya, dialah Gavin sedang yang menatap dua orang itu dengan penuh amarah.


"Arion, aku gugup sekali." Zeva mencengkram lengan Arion karena benar-benar merasa gugup, baru pertama kali dia berhadapan dengan orang-orang penting seperti ini.


"Kau tidak perlu gugup, ada aku di sini." Arion mengusap pipi Zeva membuat wanita itu tersentak kaget. "Semua akan baik-baik saja."


Zeva langsung mengangguk dan kembali melihat ke arah depan. Dia menarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan, dan terus seperti itu sampai merasa tenang.


Setelah sampai di atas podium, papa Ben segera mempersilahkan Arion untuk memberi kata sambutan sekaligus memperkenalkan istrinya pada semua orang.


"Selamat malam kami ucapkan untuk semua para tamu undangan yang hadir di pesta ini, juga untuk semua keluarga besar besar Lava Group yang sudah bekerja keras untuk memajukan perusahaan. Saya ucapkan terima kasih banyak." Arion menundukkan sedikit tubuhnya sebagai ucapan terima kasih di sertai tepuk tangan meriah dari semua orang.


"Malam ini adalah malam yang sangat penting bagi kami semua, yaitu di mana sebuah perusahaan kecil pertama kali didirikan oleh mendiang kakek saya. Setelah itu, perusahaan ini berkembang pesat di tangan papa dan generasi ketiga mereka yaitu saya. Tentu atas bantuan dari semua pihak yang tergabung dalam Lava Group, saya ucapkan selamat untuk kita semua."


Suara tepuk tangan kembali menggema disertai senyum lebar dari semua orang, terkhusus dari keluarga Arion dan juga Zeva.


"Saat ini, saya juga ingin memperkenalkan seorang wanita yang sangat saya cintai. Dialah Zevanea Laudrix, istri saya."


"Waah!" Prok prok prok. Suara dari reaksi orang-orang menggema di tempat itu. Ada yang kaget, senang, tidak percaya dan lain sebagainya.

__ADS_1


"Kami sudah menikah sekitar 2 bulan yang lalu, maaf karna baru sempat mengumumkan hal tersebut." Arion dan Zeva saling pandang dengan tersenyum.


"Mungkin semua karyawan sudah mengenal siapa istri saya, hanya saja kalian tidak tau identitasnya yang sebenarnya karna memang dia ingin merahasiakan semua itu. Ya kan, Sayang?" Arion menatap Zeva dengan hangat.


"Be-benar. Saya tidak mau orang-orang mengetahuinya karna ingin bebas, semua karyawan pasti tidak akan nyaman berteman dengan saya jika mereka tau bahwa saya adalah istri dari pimpinan mereka," ucap Zeva dengan lantang dan berani membuat suasana kembali ramai.


Setelah pegumuman itu selesai, mereka kembali turun dari podium dengan tetap bergendengan. Banyak orang-orang yang mendekat untuk mengucapkan selamat pada mereka.


"Hah, kakiku pegal sekali." Zeva mendudukkan tubuhnya di atas kursi setelah selesai mengucapkan terima kasih pada semua orang.


Arion ikut duduk di samping Zeva lalu memberikan segelas minuman padanya, yang langsung diminum sampai habis oleh wanita itu.


"Hah, rasanya segar sekali." Zeva meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja, lalu mulai merenggangkan otot kakinya yang terasa kaku. "Ssshh."


Arion terlonjak kaget saat mendengar desisan Zeva. "Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Dia melihat ke arah bawah dan langsung jongkok di depan kaki wanita itu.


"Kakimu terluka." Arion segera melepas sepatu hak tinggi dari kaki Zeva lalu meletakkan kaki itu di atas pahanya.


Sontak Zeva langsung menarik kedua kakinya dengan wajah memerah, tentu saja dia merasa sangat malu saat ini.


"Ada apa, Arion? Apa istrimu baik-baik saja?" Mama Audy dan papa Ben mendekati mereka, begitu juga dengan keluarga Zeva.


"Ada apa dengan kakimu, Nak?" tanya mama Zara dengan khawatir.


"A-aku tidak apa-apa,"


"Kakinya lecet akibat sepatu si*alan ini. Aku akan membawanya ke ruanganku." Arion langsung mengangkat tubuh Zeva ala bridal style membuat wanita itu terpekik kaget.

__ADS_1


"A-apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" Zeva melotot ke arah Arion agar laki-laki itu menurunkannya.


"Diamlah, Zeva. Biar suamimu membawamu ke ruangan, kakimu udah merah kayak gitu," ucap papa David.


"Tapi Pa, aku enggak-"


"Yang Papamu bilang itu benar, Zeva. Lebih baik kau istirahat saja, biar kami yang menyelesaikan pesta ini," sambung mama Audy.


Arion langsung membawa Zeva keluar dari tempat itu dengan dilihat oleh semua orang, decak kagum kembali terdengar dengan kemesraan sepasang suami istri itu.


Gavin yang melihat semuanya tentu saja terbakar api kemarahan. Darahnya mendidih seolah-olah sedang direbus dengan api yang membara, membuat seluruh tubuhnya menegang sempurna.


"Si*alan! Awas saja kau, Arion. Aku yakin kalau kau pasti sengaja mencari kesempatan untuk semakin dekat dengan Zeva, dan aku yakin kalau kau sebenarnya sudah jatuh hati dengan kekasihku itu." Tangan Gavin terkepal kuat, dia lalu melangkahkan kakinya keluar dari sana untuk mengejar Arion dan juga Zeva.


"Maaf, Tuan. Anda mau ke mana?"


Gavin terkejut saat ada seseorang yang menahan langkahnya, dan dia kenal betul siapa orang tersebut. "Minggir, aku tidak ada urusan denganmu!"


"Ooh, benarkah?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2