Dipaksa Jodoh

Dipaksa Jodoh
Bab. 43. Tingkah Absurd Arion.


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi oleh mama Audy dan juga Zeva sudah sampai di parkiran rumah sakit. Kedua wanita itu bergegas turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah sakit.


"Selamat malam No-"


"Di mana ruangan suami saya?" potong Zeva dengan cepat membuat petugas rumah sakit menatap bingung.


"Maaf, maksudnya di mana ruangan pasien bernama Arion Lavaro," ucap mama Audy untuk memperjelas ucapan Zeva.


"Ooh, pasien bernama Arion berada di ruang VIP nomor 12, Nyonya. Mari, saya antar."


Mama Audy dan juga Zeva langsung mengikuti langkah wanita itu menuju ruangan Arion. Sepanjang jalan jantung Zeva terus berdetak cepat, dia berharap kalau Arion baik-baik saja.


"Ini ruangannya, Nyonya."


Brak.


Zeva langsung membuka pintu ruangan itu dengan kasar, dia lalu terpaku di depan pintu saat melihat seseorang yang tengah terbaring di atas ranjang. "Ti-tidak, A-Arion?"


Mama Audy ikut masuk ke dalam ruangan itu dan langsung terkejut saat melihat seseorang di atas ranjang dengan kepala sampai kaki tertutup kain.


Zeva langsung berlari menubruk tubuh Arion, sementara mama Audy tidak bisa menggerakkan tubuhnya yang terasa sangat lemas.


"A-Arion, bangun." Zeva menggoyangkan tubuh Arion, tetapi laki-laki itu tidak bergeming. "Ini aku, Arion. Aku datang untuk menemuimu, tolong buka matamu. Hiks, tolong." Dia kembali menangis tersedu-sedu sambil terus meminta agar Arion membuka kedua matanya.


Mama Audy yang hampir pingsan langsung ditarik oleh papa Ben dan membawanya keluar dari ruangan itu. "Su-suamiku, anak kita, anak kita-"


"Ssst. Arion baik-baik saja, Sayang. Dia cuma pura-pura."


Mama Audy tercengang saat mendengar ucapan suaminya. "Pu-pura-pura?"


Papa Ben menganggukkan kepalanya. "Benar. Katanya dia ingin melihat bagaimana reaksi Zeva saat melihatnya seperti itu. Dia juga ingin melihat sebesar apa perasaan wanita itu untuknya."

__ADS_1


Mama Audy langsung bernapas lega sampai kedua kakinya terasa lemas. Untung saja tangan papa Ben sigap menahan tubuh sang istri, sebelum terjatuh ke atas lantai.


"Ayo, kita duduk dulu." Papa Ben membawa sang istri untuk duduk dikursi yang ada di depan ruangan itu, dia lalu memberikan minuman kepada istrinya agar bisa lebih tenang.


Sementara itu, Zeva yang masih berada di dalam ruangan itu terus berusaha untuk membangunkan Arion.


"Aku mohon buka matamu, buka matamu. Huhuhu." Zeva memeluk tubuh Arion dengan erat membuat laki-laki itu kesulitan untuk bernapas.


"Dasar gila. Dia ini mau membangunkan aku, atau mau membuat aku mati sih!"


"Arion, aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku, aku janji akan melakukan apapun yang kau katakan. Aku, aku janji tidak akan membuatmu marah. Tolong, tolong buka matamu. Huhuhu." Tubuh Zeva gemetaran dengan tangis yang tak kunjung usai membuat Arion mulai merasa iba. "Aku, aku tidak mau kehilanganmu. Aku mohon jangan tinggalkan aku, Arion. Aku, aku mencintaimu."


Deg. Jantung Arion langsung berdetak sangat cepat saat mendengar kalimat terakhir yang Zeva ucapkan, begitu juga dengan Haris yang berada tepat di samping mereka.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu. Aku, aku tidak mau kehilanganmu. Huhuhu." Tidak tau Zeva sadar atau tidak saat mengatakan semua perasaan itu, tetapi yang pasti saat ini dia benar-benar merasa hancur.


Arion yang terus mendengar ungkapan hati Zeva langsung menegang, dia tidak menyangka kalau saat ini wanita itu sudah mencintainya. "Di-dia mencintaiku?" Dia merasa ini tidak nyata.


"Tunggu, mau ke mana dia?" Kedua mata Arion langsung terbuka saat merasakan kalau Zeva pergi dari sana.


"Tuan, Anda mau ke mana?"


Arion yang sudah turun dari ranjang beralih melihat ke arah Haris. "Cepat kejar dia!" Dia segera turun dari ranjang untuk mengejar langkah Zeva.


"Cepat, Dokter!"


Gubrak!


Semua orang terkejut saat mendengar suara benturan yang sangat keras. Rupanya Arion langsung berbalik saat mendengar suara Zeva, tetapi kakinya tersangkut selimut membuat tubuhnya oleng dan menabrak meja.


Haris yang melihat semua itu langsung cepat-cepat menolong Arion dengan menahan tawa yang sudah hampir lepas dari mulutnya.

__ADS_1


"Tutup mulutmu, si*alan!" Arion mencoba untuk bangun dengan menahan sakit di kakinya.


"Maafkan saya, Tuan. Abisnya Tuan, ppft." Haris benar-benar tidak tahan lagi untuk menahan tawanya jika membuka mulut.


"Apa yang terjadi?"


Doeng.


Tiba-tiba semua orang langsung jadi batu dengan situasi yang terjadi saat ini. Baik para petugas medis, Zeva, dan kedua orang tua Arion, juga Arion sendiri serta Haris yang tidak sempat untuk kembali naik ke atas ranjang.


"A-Arion? Kau, kau sudah sadar?" Zeva menatap Arion dengan mata berkaca-kaca membuat laki-laki itu tersenyum canggung.


"A-aku baru aja sadar, baru sekitar 1 menit. Ya kan, Haris?" Dia menyenggol lengan Haris untuk meminta bala bantuan.


"Be-benar, Tuan baru saja sadar 1 menit yang lalu."


Para petugas medis saling pandang saat mendengar ucapan Arion, mereka sedang bertanya-tanya memangnya sejak kapan laki-laki itu tidak sadar?


"Syukurlah." Zeva langsung berlari dan memeluk tubuh Arion dengan erat membuat laki-laki itu terkesiap. "Syukurlah kau sudah sadar, aku sangat khawatir sekali." Dia kembali menangis dengan tubuh gemetaran membuat Arion langsung melihat ke arah semua orang.


Dia lalu memberi kode agar mereka semua keluar dari ruangan itu, termasuk kedua orangtuanya.


Para petugas medis hanya bisa garuk-garuk kepala saja melihat tingkah Arion, sementara kedua orang tuanya mengumpat dengan kesal.


"Dasar anak kurang ajar. Lihat saja, aku akan mencekiknya sampai mati."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2