Dipaksa Jodoh

Dipaksa Jodoh
Bab. 55. Tidak Ada Lagi yang Tersisa.


__ADS_3

Plak.


Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Arion membuat laki-laki itu terdiam, sementara Zeva memandangnya dengan penuh luka seperti hatinya yang saat ini terasa sedang disayat-sayat.


"Aku, aku benar-benar tidak mengerti semua ini. Kenapa? Kenapa, Arion. Huhuhu."


Bruk.


Tubuh Zeva langsung terjatuh di lantai membuat semua orang kembali kaget, dengan Cepat Haris memerintahkan para wanita-wanita itu untuk keluar dari rumah ini.


Zeva menangis tersedu-sedu karena merasa benar-benar sakit dengan apa yang terjadi saat ini. Dadanya terasa sesak dan berdenyut dengan tubuh yang sudah tidak bisa dikendalikam lagi.


Hancur. Itulah satu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini, dua lelaki yang sangat berarti dalam hidupnya sama-sama menorehkan luka yang sangat dalam hingga rasanya dia ingin mati saja saat ini.


Arion sendiri masih diam dengan pandangan ke samping, tubuhnya terasa kaku bahkan lidahnya tidak bisa untuk digerakkan.


"Sekarang aku baru sadar, kalau ternyata tidak ada satu orang pun yang benar-benar menyayangiku. Aku, aku hanya hidup sendiri. Aku, hiks huhuhu." Zeva hanya bisa menundukkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Sekarang sudah tidak ada lagi yang tersisa, baik perasaan dan hidupnya kini sudah hancur berantakan.


Dengan perlahan Zeva bangun dan berusaha untuk berdiri tegak, dia menatap Arion yang sejak tadi masih terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" lirih Zeva. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, juga air mata yang terus saja ingin keluar.


Arion melirik ke arah Zeva. Dia bisa melihat begitu terlukanya wanita itu saat ini, tetapi selama ini dia pun merasakan luka yang teramat dalam dengan hubungan mereka.


Ingin sekali Arion mengatakan yang sejujurnya, bahwa selama ini dia sangat mencintai Zeva. Sejak dulu sampai sekarang, hanya wanita itu saja lah yang berhasil memenangkan hatinya walaupun dia tau kalau Zeva sudah mencintai orang lain.


"Pernahkah, pernahkah kau menyukaiku?"


Arion tersentak kaget dengan apa yang Zeva tanyakan. Ingin sekali dia berteriak dan mengatakan kalau dia bukan hanya menyukai, tapi juga mencintai wanita itu. Namun, lidah nya tetap saja tidak bisa untuk diajak kerja sama.


Zeva tersenyum miris saat tidak mendapat jawaban dari Arion, kini dia tau bahwa keberadaannya tidak berrarti apa-apa untuk laki-laki itu. Lalu, untuk apa lagi dia berada di sisinya? Mungkin selama ini Arion memberikan kebahagiaan padanya hanya sekedar bentuk tanggung jawab seorang suami, dan tentu saja tanpa adanya perasaan yang bermakna dalam.


Tanpa mengucapkan apapun lagi, Zeva langsung saja berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu. Tidak ada lagi artinya di berada di sana, bahkan tidak ada artinya lagi dia berada di dunia ini.

__ADS_1


"Nona!" Haris berlari untuk mengejar langkah Zeva tetapi wanita itu sudah tidak terlihat, dia lalu beralih ke arah Arion yang sepertinya sangat syok dengan apa yang dia lakukan sendiri.


"Tuan, Anda baik-baik saja, kan?"


Bruk.


"Tuan!" Haris langsung memegangi tubuh Arion yang sudah terjatuh ke atas lantai, dia tidak sempat menangkapnya karena jarak mereka tidak dekat.


"Tolong bicaralah, Tuan." Haris berusaha untuk mengembalikan kesadaran Arion, sebelum sesuatu yang mengkhawatirkan bisa saja terjadi.


"Ayo kita duduk di sana, Tuan." Haris berusaha untuk memindahkan tubuh Arion ke atas sofa walaupun tubuh laki-laki itu lebih besar dari tubuhnya sendiri.


Haris segera berlari ke dapur untuk mengambil minum dan langsung kembali lagi untul memberikan air itu pada Arion. "Minum dulu, Tuan." Dia membantu Arion untuk meminum air yang baru saja dia ambil.


"Zeva."


Deg.


Haris terlonjak kaget saat mendengar ucapan Arion, dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk mencari ke mana perginya wanita itu.


"Cepat, bantu aku memindahkan Tuan ke kamar." Haris datang kembali bersama dua orang anak buahnya untuk membantu memindahkan Arion ke kamar, kemudian dia menarik selimut untuk menutupi tubuh sang Tuan.


Arion langsung terpejam karena kepalanya benar-benar sakit, dia bahkan tidak bisa berpikir tentang apa yang sudah terjadi.


Haris sendiri langsung membawa kedua anak buahnya itu keluar untuk di interogasi, karena mereka berdualah yang tadi bersama dengan Zeva


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Nona? Kenapa dia datang dalam keadaan yang sangat berantakan seperti itu?" tanyanya dengan tajam membuat kedua lelaki itu langsung menunduk. "Cepat ceritakan semuanya padaku!"


Salah satu dari laki-laki itu langsung menceritakan semua yang sudah mereka lihat tadi, mulai dari keluarnya seorang wanita sampai pelecehan yang dilakukan oleh Gavin. Dia bahkan mengatakam dengan jujur kalau melihat bagian atas tubuh Zeva yang sudah berhasil dibuka oleh Gavin.


Darah Haris mendidih saat mendengar cerita dari anak buahnya, dia lalu melirik ke arah kamar di mana Arion berada. Sudah pasti laki-laki itu akan murka dengan apa yang sudah terjadi pada sang istri.


"Sekarang bantu yang lain untuk menemukan nona, dan pastikan kalau nona baik-baik saja," perintah Haris kemudian.

__ADS_1


Kedua lelaki itu langsung pergi dari tempat itu untuk menjalankan semua perintah Haris, sementara Haris sendiri menyandarkan tubuhnya dengan helaan napas frustasi.


"Ya Tuhan, kenapa semua ini terjadi pada Tuan? Kenapa kisah cintanya sangat rumit dan menyakitkan seperti ini, tidak bisakah mereka hidup bahagia seperti yang lain?" Haris merasa sedih dengan apa yang terjadi, dan dia tidak tau harus mengatakan apa pada kedua orang tua Arion jika mereka mengetahui keadaan yang sedang terjadi saat ini.


Pada saat yang sama, Zeva sedang berjalan di sebuah jembatan yang berada tidak jauh dari rumah Arion. Sepanjang kakinya melangkah, berbagai kenangan melintas dalam pikirannya.


Mulau dari hubungannya dan Gavin, sampai rumah tangganya dengan Arion. Semua berputar dengan sangat cepat hingga membuatnya terlilit dan hancur dalam pusara semua itu.


"Tuhan, sebenarnya apa salahku selama ini? Kenapa Kau terus saja memberikan kesusahan padaku, kenapa?" Kenapa kau tidak pernah mengizinkanku untuk bahagai, ssbenarnya apa tujuanMu menciptakanku?"


"Sejak dulu aku tidak pernah merasakan kebebasan, aku selalu hidup dalam sebuah sangkar yang membuat aku sesak. Lalu, apa lagi yang terjadi sekarang?" Zeva merasa perutnya mulai bergerjolak dan seakaan ingin muntah.


"Kenapa Engkau tidak adil, Tuhan. Kenapa? Kenapa hanya mereka saja yang Kau beri kebahagiaan, kenapa hanya Mereka saja yang Kau berikan cinta. Dan kenapa hanya mereka saja yang bisa tertawa bahagia, tanpa ada air mata duka setelahnya.


"Kenapa kesedihan dan kesusahan selalu menghampiriku, kenapa aku selalu hidup dalam tekanan yang mentakitkan, kenapa? Apa aku tidak berhak berhak bahagia? Apa aku tidak pantas untuk di cintai? Kenapa, Tuhan?"


"Sekarang tidak ada lagi gunanya aku hidup, semua tidak ada artinya untukku. Keberadaanku hanya membuat orang lain tidak senang, keberadaanku hanya sebagai pelengkap untuk hidup orang. Lebih baik aku mati, mungkin dengan begitu Kau bisa kembali menciptakanku menjadi manusia yang bahagia seperti orang lain."


Zeva mulai menaikkan satu kakinya ke atas besi pembatas jalan yang ada di atas sungai. Air matanya sudah tidak ada lagi menetes, bahkan sorot matanya sudah terlihat kosong dengan wajah yang sangat pucat.


Dia menundukkan kepalanya untuk melihat sungai yang mengalir di bawah sana. Aliran sungai itu sangat deras, bahkan setiap tahun selalu saja ada yang henyut terbawa oleh arus tersebut.


"Mama, Papa, Kakak." Maafkanlah aku yang selama ini tidak pernah mengatakan baik pada kalian, maafkan aku yang tidak bisa menjadi kebanggaan keluarga." Zeva mulai menaikkan satu kakinya lagi hingga kini kedua kakinya sudah berpijak dibesi tersebut.


"Untukmu, Gavin. Terima kasih sudah memberikan semangat agar aku berani untuk bangun dan melangkah, terima kasih atas cinta yang kau berikan. Aku jadi tau bagaimana rasanya mencintai dan dicintai karnamu." Dia kembali menaikkan kedua kakinya ke besi yang lebih tinggai.


"Untukmu, Arion. Terima kasih telah memberikan kebebasan yang aku inginkan, terima kasih telah menjadikan aku percaya diri. Terima kasih karna telah menunjukkan jati diri dan kebahagiaan padaku." Kini kedua kaki Zeva sudab sampai dibesi paling atas dan bersiap untuk melompat.


"Jika ada kehidupan yang selanjutnya, maka aku ingin terlahir menjadi gadis yang lebih baik lagi. Selamat tinggal!" Dia mencondongkan tubuhnya dan sudah melewati batas besi.



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2