
Arion terus memikirkan semua kata-kata yang papa Ben ucapkan, dia benar-benar merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan.
"Tuan."
Lamunan Arion terhenti saat mendengar panggilan Haris, dia lalu melihat ke arah pintu di mana laki-laki itu baru saja masuk ke dalam kamar.
Haris menutup pintu kamar itu agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka nanti.
"Bagaimana?"
"Maaf, Tuan. Mereka sudah mencari Nona ke semua tempat, mulai dari teman-temannya sampai rumah saudara. Bahkan di rumah Gavin juga, tetapi Nona tidak juga ditemukan."
Arion mendessah kesal. "Kerahkan lebih banyak orang untuk mencarinya, aku takut terjadi sesuatu dengannya saat ini."
Haris mengangguk paham. "Tuan, sebenarnya ada hal penting yang ingin saya sampaikan." Dia langsung saja menceritakam tentang apa yang dialami Zeva malam itu, di mana Gavin berniat untuk memperkosanya.
Brak.
Arion langsung meninju meja yang ada di samping ranjang, saat mendengar semua cerita yang Haris sampaikan. Darahnya seketika mendidih dengan apa yang bajing*an itu lakukan pada istrinya.
"Brengs*ek! Beraninya dia melakukan itu pada istriku." Arion mengepalkan kedua tangannya dengan erat, serta rahang yang mulai mengeras.
"Tapi Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Saya sudah menyiapkan sesuatu untuk membalas semua yang telah dia lakukan." Itulah yang sejak tadi malam Haris siapkan, ternyata Gavin jauh lebih buruk dari apa yang mereka ketahui.
"Apa yang akan kau lakukan, Haris? Jika aku tidak membunuhnya, maka aku tidak akan puas," ucap Arion.
"Aku akan memberikan rasa malu yang tidak akan pernah bisa dia lupakan, dan ya. Dengan itu karirnya akan hancur, bahkan hubungan percintaannya pasti tidak akan berjalan mulus di masa depan,"
"Memangnya apa yang akan kau lakukan?"
Haris langsung menunjukkan sesuatu yang tadi malam dia temukan membuat mata Arion membukat seketika. "Bagus, ini bagus sekali."
"Benar, Tuan. Ternyata Gavin itu adalah seorang penjahat kelamin. Dia punya kelainan untuk mengikat anu nya disaat siang hari, dan diwaktu malam. Anunya itu akan berkeliaran,"
"Tolong jangan mengatakan tentang anu-anu, Haris. Itu rasanya menggelikan sekali." Arion benar-benar tidak nyaman dengan ungkapan yang Haris gunakan.
"Itu memang kenyataannya, Tuan. Dan aku masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin ada kelainan seperti itu,"
"Itu tidak ada yang aneh, Haris. Sekarang yang lebih penting adalah membereskan masalah ini, karna aku harus fokus mencari istriku,"
"Baik, Tuan." Haris langsung melaksanakan apa yang Arion inginkan karena memang sudah dia siapkan sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, mama Audy kembali masuk ke dalam kamar untuk membicarakan sesuatu dengan Arion. Sekarang sudah hampir malam, tetapi Zeva tidak juga menampakkan diri.
"Bagaimana keadaanmu, sayang?"
"Aku sudah jauh lebih baik, Ma."
Mama Audy menganggukkan kepalanya, dia lalu duduk di samping Arion bersamaan dengan masuknya papa Ben ke dalam kamar tersebut.
"Mama ingin bertanya padamu, Arion. Apa kau sedang ada masalah dengan istrimu?"
Arion terdiam. Sebenarnya dia sudah tau kalau kedua orang tuanya ingin menanyakan tentang hal tersebut. Dia juga harus menceritakan semuanya, karena sampai saat ini semua anak buahnya belum bisa menemukan Zeva.
"Zeva pergi dari rumah, Ma,"
"Apa?" Mama Audy terlonjak kaget saat mendengar ucapan Arion. "A-apa yang terjadi? Kenapa dia bisa sampai pergi dari rumah, Arion?" Dia merasa sangat khawatir sekali.
Tanpa menunggu apapun lagi, Arion langsung saja menceritakan apa yang telah dia lakukan pada Zeva tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Mama Audy dan papa Ben tercengang dengan apa yang Arion lakukan, mereka benar-benar tidak menyangka kalau anak mereka akan melakukan hal serendah itu.
"Ba-bagaimana mungkin kau, kau melakukan semua ini?"
Arion menundukkan kepalanya dengan dalam. "Maafkan aku, Ma. Aku tidak-"
__ADS_1
Plak.
Untuk pertama kalinya mama Audy melayangkan sebuah tamparan ke pipi Arion membuat papa Ben terlonjak kaget. "Kau adalah anak kebanggaanku, aku selalu bangga atas apapun yang kau lakukan. Selama ini, tidak ada satu orang pun yang lebih hebat darimu, dan aku selalu mendo'akan tang terbaik untukmu. Tapi apa semua ini, hah? Bagaimana mungkin kau bisa melakukan hal serendah ini?"
Suara teriakan mama Audy menggema di tempat itu membuat papa Ben langsung memeluk tubuhnya dengan erat.
"Lepaskan aku, aku harus memberi pelajaran pada anak itu. Bagaimana mungkin dia bisa merendahkan harkat dan martabat kita seperti ini, hah? Coba kau katakan padaku, Ben. Katakan!" teriak mama Audy. Sumpah demi apapun juga, dia benar-benar merasa kecewa dengan apa yang Arion lakukan.
"Apa kau tidak punya akal? Apa kau tidak punya hati nurani? Kau memperlakukan menantuku seperti sampah, kau merendahkan harkat dan martabat seorang wanita!"
Mama Audy benar-benar murka. Seumur hidupnya dia tidak pernah mendengar hal semenjijikkan ini, dan semua itu malah dilakukan oleh putranya sendiri.
"Tenanglah, Audy. Arion pasti punya alasan kenapa dia sampai melakukan hal seperti itu,"
"Alasan? Alasan apa maksudmu, hah?" Mama Audy menatap suaminya dengan tajam. "Apa kau pikir ada alasan untuk hal menjijikkan seperti itu?"
"Audy, kau yang paling memahami bagaimana sifat dan karakter putramu. Apa kau pikir Arion akan melakukan hal seperti itu tanpa alasan?"
Mama Audy terdiam, dia tidak bisa membantah apa yang suaminya katakan karena memang benar bahwa dialah yang paling memahami bagaimana sifat dan karakter putranya.
"Apapun alasannya, seharusnya kau tidak melakukan itu, Arion. Mama benar-benar kecewa, mama malu punya anak sepertimu!"
Arion hanya bisa diam dengan kepala tertunduk. Dia tidak akan bersuara atau pun membela diri, karena apa yang dia lakukan adalah hal yang benar-benar sangat menjijikkan.
Brak.
Mama Audy yang akan keluar dihalangi oleh Haris yang berdiri tegak di depan pintu.
"Minggir, Haris. Jangan menghalangi jalanku,"
"Saya akan tetap menghalangi Anda sebelum Anda mendengar semuanya, Nyonya."
Mama Audy mengepalkan tangannya dengan erat. "Apa lagi yang harus aku ketahui, hah? Apa masih ada permainan lain yang lebih menjijikkan dari pada itu?"
"Haris!" Teriak Arion membuat kedua orangtuanya langsung melihatmya dengan tajam.
"Jangan hentikan saya, Tuan. Karena saya akan mengatakan semuanya, saya tidak akan diam saat Tuan dihina seperti ini walaupun oleh Ibu Anda sendiri."
Mama Audy dan papa Ben kembali melihat ke arah Haris. "Katakan semua yang kau ketahui, Haris. Ini adalah perintah!" Ucapan papa Ben penuh dengan penekanan.
"Saya tau apa yang Tuan Arion lakukan itu salah besar, tetapi apa yang Nona Zeva lakukan juga sangat keterlaluan."
Arion memejamkan kedua matanya dan enggan untuk melihat, sementara mama Audy dan papa Ben menatap Haris dengan tajam.
"Selama ini Nona Zeva sudah mengkhianati pernikahan dan juga cinta Tuan Arion, dia berselingkuh dengan laki-laki lain."
Deg.
Jantung mama Audy dan papa Ben seperti sedang ditusuk oleh ribuan jarung secara bersamaan, bahkan tubuh mama Audy sudah sangat lemas saat ini.
"Sejak menikah, Nona Zeva sudah memiliki kekasih. Dan tetap menjalin hubungan dengan laki-laki itu, padahal Tuan sudah sangat mencintainya. Bagaimana perasaan seorang suami saat mengetahui semua itu? Apalagi saat melihat istrinya bermesraan dengan laki-laki lain, dan, dan-"
"Cukup, sudah cukup!" Mama Audy langsung berlari ke arah Arion dan memeluk tubuhnya dengan erat. Ingatan yang dulu tergambar jelas dalam pikirannya saat ini, membuat dia yakin kalau semua ini bermula darinya. "Maafkan mama, Sayang. Maafkan mama." Dia menangis tersedu-sedu dengan apa yang terjadi saat ini.
Akhirnya semua orang mengetahui semua yang sudah terjadi dalam rumah tangga Arion, baik kesalahan yang telah dia lakukan, begitu juga dengan sesuatu yang Zeva sembunyikan dari semua orang.
"Maafkan mama, Arion. Seharusnya sejak dulu mama mengatakan semuanya padamu, seharusnya mama tidak meminta tolong padanya untuk tetap mempertahankan pernikahan kalian."
Deg.
Semua orang tersentak kaget dengan apa yang mama Audy katakan, terutama Arion yang saat ini menatap mamanya dengan penuh tanda tanya.
Mama Audy lalu menceritakan tentang percakapannya dengan Zeva, sehari setelah acara pernikahan digelar. Dia tau kalau keluarga wanita itu telak memaksa Zeva untui menerima perjodohan dengan Arion, tetapi dia tidak tau kalau ternyata ada orang lain dalam hidup wanita itu.
"Mama memintanya untuk tetap bertahan setidaknya beberapa bulan bersamamu, setelah itu barulah, barulah kalian bisa bercerai. Huhuhu."
__ADS_1
Arion menggenggam kedua tangan mama Audy untuk menenangkannya. "Semua sudah terjadi, Ma. Dan itu bukan karna Mama, mungkin karna jalan takdir kami seperti ini."
"Yang dikatakan Arion itu benar.
Sudah terlalu banyak masalah yang terjadi karena kita semua sama menyimpan rahasia, hingga akhirnya hancur berantakan." Semua orang terdiam mendengar ucapan papa Ben. "Sekarang bukan saatnya untuk kita saling menyalahkan, tapi kita harus bekerja sama untuk mencari keberadaan Zeva. Papa takut terjadi sesuatu dengannya."
Semua orang setuju dengan apa yang papa Ben katakan. Dari pada sibuk untuk saling menyalahkan, atau sibuk merasa bersalah. Lebih baik fokus saja untuk mencari keberadaan Zeva, karena itulah yang paling penting saat ini.
"Papa dan mama akan pergi ke rumah David untuk membicarakan masalah ini, dan kau fokus saja untuk mencari di mana keberadaan Zeva, Arion," ucap papa Ben yang langsung mendapat anggukkan kepala dari putranya.
"Kerahkan semua orang untuk mencarinya, bila perlu sampai keujung dunia sekalipun. Karena papa tidak mau sampai terjadi sesuatu dengannya, terlepas dari apa yang terjadi." Papa Ben lalu keluar dari kamar itu dengan dikuti mama Audy, mereka akan segera berangkat menuju kediaman keluarga Laudrix.
Arion sendiri juga beranjak bangun dari ranjang membuat Haris langsung khawatir. "Biar saya dan yang lainnya saja yang mencari Nona, Tuan. Saat ini kondisi Tuan masih belum pulih."
"Aku tidak apa-apa, Haris. Semua ini adalah kesalahanku yang telah membuat Zeva pergi. Aku sekarang tidak tau dia sedang ada di mana, aku juga tidak tau apakah dia baik-baik saja atau tidak." Arion benar-benar merasa bersalah.
"Ternyata ada banyak hal yang sudah terjadi dan aku tidak mengetahuinya, Haris. Aku hanya sibuk membencinya, tanpa tau kalau selama ini dia mengalami kesulitan. Dan aku, aku malah menyia-nyiakannya saat dia sudah benar-benar mencintaiku. Aku-"
"Sudah, Tuan. Saya mengerti, dan saya tau betul bahwa semua ini juga bukan karena kesalahan Anda. Saya bersumpah kalau saya akan menemukan Nona, dan saya sendiri yang akan menjelaskan semuanya pada Nona."
Arion menganggukkan kepalanya sambil menepuk bahu Haris, setelah itu mereka semua keluar dari apartemen itu untuk mencari keberadaan Zeva.
Pada saat yang sama, di sebuah desa terlihat sepasang suami istri paruh baya sedang duduk di teras depan rumah mereka. Dengan temani dua gelas teh dan sepiring pisang goreng untuk cemilan sore ini.
"Gimana keadaan gadis itu, Buk? Apa dia udah mau makan?" tanya pak Toha.
Buk Leni menggelengkan kepalanya. "Belum mau, Pak. Asal dikasi pasti bilangnya masih kenyang, padahal belum ada makan dari tadi pagi."
"Hah. Kalau kayak gini terus, dia bisa sakit, Bu,"
"Biar tak bujuk lagi ya, Pak." Buk Leni beranjak bangun dan berjalan ke arah kamar, dia membuka pintu kamar itu dan tersenyum melihat seorang wanita yang ada di dalamnya.
"Eh, Ibuk." Wanita itu langsung duduk di atas ranjang dengan senyum tipis.
"Makan ya, Nduk. Dari tadi pagi kamu itu belum makan loh, ibu sama bapak khawatir kalau nanti kamu jadi sakit."
Wanita itu tersenyum sambil mengusap lengan Buk Leni. "Aku tidak papa, Buk. Tapi memang tidak selera makan, kayak mual gitu."
"Loh, kan. Kamu itu udah masuk angin, biar ibuk ambilkan minyak dulu." Ibu Leni beranjak bangun, dan berjalan ke arah dapur untuk mengambil minyak yang dia sebutkan tadi.
"Hah." Wanita itu menghela napas kasar, dia lalu memandang langit-langit kamar sambil memikirkan apa yang sudah terjadi di masa lalu.
"Kenapa Nduk, kok kamu malah nangis?"
Wanita itu terkejut lalu mengusap air mata yang masih membekas diwajahnya. "Tidak apa-apa, Buk. Cuma lagi memikirkan sesuatu."
Ibu Leni duduk di pinggir ranjang sambil mengusapkan minyak ke perut wanita itu, yang sebelumnya sudah dia tuang ke atas piring. "Tahan sedikit ya Nduk, ini minyaknua agak panas."
Wanita itu menganggukkan kepalanya. "Ibu bisa panggil aku Zeva, namaku Zevanea Laudrix."
Pijatan tangan ibu Leni terhenti saat mendengar Zeva memperkenalkan diri. "Nama yang cantik secantik orangnya." Tangannya kembali mengusap perut wanita itu dengan lembut.
Wajah Zeva bersemu merah mendengar pujian dari wanita paruh baya itu. "Terima kasih ya, Bu. Aku tidak tau bagaimana nasibku saat ini, jika tidak ada Ibu dan bapak yang menolongku waktu itu." Dia kembali mengingat saat-saat sepasang suami istri itu menarik tubuhnya yang akan terjatuh ke dalam sungai.
"Nak, ibu sama Bapak itu senang karna kau udah mau ngomong kayak gini. Tapi berjanjilah, jangan melakukan hal seperti malam itu lagi. Ibu memang enggak tau masalah apa yang sedang menimpamu, tapi ibu gak mau kau kehilangan hidupmu yang masih sangat panjang ini."
Zeva menundukkan kepalanya, air mata yang sejak tadi ditahan kini tumpah membasahi wajah. "Aku, aku sudah tidak tahan, Buk. Aku tidak tahan dengan semua ini.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1