
Siva tersenyum ke arah Zeva yang saat ini menatapnya dengan tajam. "Aku salah satu temannya waktu kuliah di Amerika dulu, ya walaupun mungkin dia tidak akan mengakuinya. Hehehe."
Zeva mengangguk paham. "Dia memang tidak pernah menceritakan tentang temannya, dan yang aku tau dia tidak pernah dekat dengan wanita lain."
"Ya, yang kau katakan itu benar. Makanya aku kaget sekali saat tau kalau kau adalah istrinya." Siva mengambil segelas jus yang sempat dia pesan tadi, lalu meminumnya sampai kandas. "Jadi, di mana Arion?"
"Dia sedang ada urusan bisnis di daerah pinggiran kota, kenapa kau tidak menelponnya?" tanya Zeva.
"Aku sudah menelponnya, hanya saja tidak di angkat." Siva menggelengkan kepalanya. "Mungkin dia lagi sibuk."
"Ya, bisa jadi sih."
Akhirnya Zeva menghabiskan waktu dengan wanita yang mengaku sebagai teman Arion itu. Mereka berbicara panjang lebar tentang Arion semasa kuliah dulu, yang membuat Zeva merasa sangat penasaran.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Arion dan Haris sudah sampai di tempat tujuan. Ada beberapa orang juga yang hadir di tempat itu, karena memang proyek pembangunan itu akan segera dilaksanakan.
Arion dan Haris memeriksa semua perlengkapannya, jangan sampai bahan-bahan yang digunakan untuk pembangunan memiliki kualitas yang rendah.
"Istirahat dulu, Tuan."
Arion melirik ke arah Lusi yang sedang berdiri di sampingnya. Tidak ada yang berubah dari wanita itu, yaitu tetap saja memamerkan aset tubuhnya yang meluber ke mana-mana.
"Aku tidak punya waku untuk istirahat," ucap Arion.
Lusi tersenyum canggung, dia lalu diam di samping laki-laki itu tanpa berniat untuk buka suara lagi.
Para pekerja yang akan membangun hotel itu pun sudah mulai mengukur di sana sini, karena hotel itu harus sudah berdiri kokoh dalam waktu 2 bulan saja.
"Bagaimana, apa semua persiapannya sudah selesai?" tanya Arion pada kepala bangunan.
"Sudah, Tuan. Kami sedang mengukur luas dari bangunannya, setelah itu pondasi akan langsung dibuat."
Arion mengangguk, dia lalu melanjutkan langkah kakinya untuk mengawasi setiap pekerjaan yang mereka lakukan.
Tepat pukul 6 sore, Arion memutuskan untuk pulang ke rumah. Namun, hujan turun dengan sangat lebat membuat Haris khawatir dengan perjalanan mereka.
"Lebih baik kita pulang besok saja, Tuan. Cuacanya sangat buruk, saya yakin kalau saat ini jalanan pasti sangat licin," ucap Haris saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Tidak, Haris. Aku ingin pulang saat ini juga." Arion tidak mau membiarkan Zeva sendirian di apartemen atau laki-laki itu akan datang untuk menemaninya.
"Tapi Tuan-"
__ADS_1
"Kita pelan-pelan saja, Haris. Aku tidak mau kalau sampai Zeva bersama dengan laki-laki itu."
Haris menghembuskan napas frustasi, dia terpaksa menuruti kemauan sang tuan karena tidak bisa lagi menahannya. "Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Tuan, aku tidak akan memaafkanmu, Zeva." Dia mulai melajukan mobil itu dengan pelan dan berharap tidak ada hal buruk yang akan terjadi.
Pada saat yang sama, Zeva baru saja sampai di apartemen. Dia memutuskan untuk menyiapkan makan malam sebelum Arion pulang.
"Nona."
Tubuh Zeva terjingkat kaget saat mendengar suara Bik Sum. "Astaga, Bibik bikin kaget saja." Dia mengusap dadanya yang berdebar keras.
"Saya kira Nona dan Tuan tidak pulang, itu sebabnya saya masih ada di sini," ucap Bik Sum.
"Ah iya, tadi malam kami tidur di perusahaan. Dan sekarang, kami akan tidur di apartemen."
Bik Sum mengangguk paham. "Kalau gitu saya akan menyiapkan makan malam untuk Anda, Nona. Tung-"
"Tidak perlu, Bik." Zeva menggelengkan kepalanya. "Biar aku sendiri yang menyiapkan makan malam." Dia menepuk bahu bik Sum dengan senyum lebar.
"Apa Nona ingin menyiapkan makan malam istimewa untuk Tuan?" goda bik Sum membuat wajah Zeva langsung memerah.
"Po-pokoknya biar aku saja yang menyiapkan semuanya. Bi-bibik bisa pulang sekarang, aku yakin kalau Bibik pasti sangat lelah." Zeva langsung berbalik karena merasa sangat malu dan juga gugup.
Bik Sum tergelak melihat wajah sang nona yang sudah merah padam, dia merasa kalau saat ini hubungan Zeva dan Arion pasti sangat baik hingga membuat wajah wanita itu merona bahagia.
Zeva langsung menganggukkan kepalanya dan menghadap ke arah wanita paruh baya itu. "Ha-hati-hati dijalan, Bik."
Bik Sum tersenyum lalu segera pergi dari tempat itu membuat Zeva merasa lega, dia kemudian mulai menyiapkan makan malam untuk menyambut kepulangan Arion.
2 jam telah berlalu dengan sangat cepat. Semua menu makanan yang Zeva buat sudah terhidang di meja makan, lengkap dengan minuman dan juga pencuci mulut.
"Akhirnya selesai juga." Zeva tersenyum senang. "Em ... lebih baik aku segera mandi, aku yakin kalau saat ini Arion pasti sudah hampir sampai." Dia bergegas ke kamar untuk membersihkan diri dan bersiap dengan tampilan terbaik.
Arion sendiri masih berada di dalam mobil. Jalanan yang licin serta hujan yang masih saja turun dengan deras membuat perjalanan itu menjadi sangat lambat.
Haris tidak bisa mengemudikan mobil itu dengan cepat karena terkendala dengan jarak pandang. Apalagi saat ini banyak kendaraan lain yang melintas, membuat jalanan menjadi macet.
"Si*al! Sampai kapan kita di sini terus?" teriak Arion dengan kesal, dia bahkan sampai meninju udara yang ada di depannya.
"Maaf, Tuan. Jalannya benar-benar sangat licin, dan entah kenapa malam ini banyak sekali kendaraan yang melintas,"
"Aku tau, Haris. Aku hanya merasa kesal dengan keadaan ini." Arion mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
Tanpa mereka berdua sadari, saat ini ada sebuah truk dengan kecepatan tinggi sedang melaju beberapa meter di belakang mobil mereka. Truk itu lalu tergelincir membuat supir tidak bisa mengendalikannya, dan menabrak mobil-mobil yang melaju lambat di depannya.
Tiiiinn.
Brak.
Suara benturan yang sangat kuat menggema di tempat itu membuat Arion dan Haris langsung melihat ke arah belakang, tetapi si*al ternyata mobil mereka juga ikut terdorong ke depan membuat tabrakan beruntun yang sangat parah.
"Tidak, Tuan!"
Pyar.
"Astaga." Zeva terlonjak kaget saat mendengar suara benda terjatuh dari dalam kamarnya. Dengan cepat dia beranjak keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Ke-kenapa ini bisa jatuh?" Dia mengambil bingkai foto Arion yang terjatuh ke lantai, membuat pecahan kaca berserakan di mana-mana.
Deg. Tiba-tiba perasaan Zeva menjadi tidak nyaman. Rasa khawatir dan gelisah mulai menyelimuti hatinya, membuat jantung kian berdegup kencang.
"Ti-tidak terjadi apa-apa dengannya, a-aku akan menelpon Arion." Zeva langsung berlari ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya dan langsung menelepon Arion.
"Nomor yang Anda tuju sedang-"
Tut. Zeva mematikan panggilan itu dan kembali meneleponnya, tetapi nomor Arion tetap tidak aktif membuat dia semakin gelisah. "Ya, aku harus menelepon Haris." Dia bergegas mencari nomor Haris dan meneleponnya, tetapi nomor laki-laki itu juga tidak aktif.
"Ya Tuhan, semoga mereka baik-baik saja." Zeva benar-benar merasa sangat khawatir, dia lalu memutuskan untuk menunggu Arion di depan apartemen.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tetapi Arion belum juga sampai di apartemen. Bahkan tidak ada sedikit pun kabar dari laki-laki itu atau pun dari Haris.
"Bagaimana ini? Kenapa dia belum pulang juga?" Zeva berjalan ke sana kemari dengan penuh kekhawatiran. "Apa terjadi sesuatu dengannya?" Tubuh Zeva langsung bergetar saat membayangkan hal buruk terjadi pada Arion. "Tidak, itu tidak mungkin. Se-sekarang masih jam 11. Mu-mungkin sebentar lagi dia sampai."
Zeva memutuskan untuk tetap menunggu sampai jam menunjuk tepat pukul 12 malam, tetapi Arion belum juga menampakkan batang hidungnya.
Zeva terlonjak kaget saat tiba-tiba ponselnya berdering, dengan cepat dia mengangkat panggilan dari mertuanya. "Ha-halo, Mama?"
"Bersiaplah, Zeva. Mama sudah hampir sampai di apartemenmu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.