
Setelah semua pekerjaan selesai, Arion dan Zeva segera pulang ke apartemen. Namun, saat akan masuk ke dalam tempat itu. Arion melihat seorang lelaki yang sangat dia kenali memperhatikan dari kejauhan, dengan cepat dia meletakkan tangannya dipinggang Zeva lalu menarik tubuh wanita itu sampai menempel di tubuhnya sendiri.
"A-apa yang kau lakukan, Arion?" Zeva benar-benar terkejut dengan apa yang Arion lakukan, karena laki-laki itu tiba-tiba saja menarik tubuhnya.
"Entah kenapa aku ingin sekali memelukmu, Zeva. Bahkan sekarang aku ingin sekali kalau kau menciumku,"
"Apa?" Zeva tersentak kaget dengan apa yang laki-laki itu katakan.
"Kenapa? Bukankah kau pernah bilang kalau kau mencintaiku?" ucap Arion dengan lemah.
Zeva tercengang dengan apa yang Arion lakukan saat ini, bagaimana mungkin laki-laki itu berubah menjadi sangat menggemaskan seperti ini?
"Baiklah, kalau kau tidak mau-"
Cup.
Zeva langsung mengecup bibir Arion membuat laki-laki itu terdiam kaku. "Su-sudahkan, aku, aku ingin masuk dulu." Dia yang sudah ingin masuk ke apartemen tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Arion?"
Tanpa disangka-sangka, Arion langsung melummat bibir Zeva membuat wanita itu terdiam. Dia bukan hanya sekedar melummat tapi juga menggigit bibir itu membuat wanita itu melenguh nikmat.
"A-Arion eeemm."
Arion terus menikmati bibir Zeva dan membelit lidah wanita itu, tangannya naik untuk menekan tengkuk Zeva agar ciuman mereka semakin dalam.
Gavin yang melihat semuanya tentu saja merasa sangat marah dan kesal, tangannya terkepal kuat karena ingin sekali menghajar laki-laki itu.
Arion langsung melepaskan ciuman mereka saat sudah sama-sama kehabisan napas, dan setelahnya napas mereka tersengal-sengal untuk menghirup udara untuk organ pernapasan.
Karena sudah tidak tahan melihat kemesraan mereka, Gavin memutuskan untuk segera pergi. Niat hati ingin bicara dengan Zeva tapi malah melihat sesuatu yang sangat mengoyak hatinya. "Kau lihat saja, Arion. Aku pasti akan membalas semuanya, akan kupastikan kalau kau hancur." Itulah dendam dalam hatinya yang harus segera dilaksanakan.
Arion tersenyum sinis saat melihat kepergian Gavin, dia tidak menyangka kalau laki-laki itu berani datang ke apartemennya. "Aku yakin kalau selama ini dia sering datang ke apartemenku."
"Kenapa kau melamun, Arion?"
Arion langsung mengalihkan pandangannya saat mendengar suara Zeva. "Tidak ada, aku hanya sedang membayangkan ciuman kita beberapa saat yang lalu."
Blush.
Wajah Zeva langsung memerah saat mendengar ucapan Arion, dia benar-benar merasa sangat malu dan langsung masuk ke dalam meninggalkan laki-laki itu.
__ADS_1
Dia berjalan cepat untuk masuk ke dalam kamar dan langsung menutup pintunya. Jantung Zeva berdebar keras dengan apa yang sedang terjadi saat ini, sungguh dia sangat malu dan gugup sekali.
Arion sendiri masih berdiri di depan pintu apartemennya, dia merasa puas karena melihat kemarahan diwajah Gavin. "Ini baru permulaan, Gavin. Nanti kau akan melihat sesuatu yang jauh lebih dahsyat lagi dari ini." Dia lalu masuk ke dalam apartemen dan bergegas untuk membersihkan diri.
Tepat pukup 8 malam, seperti biasa Arion akan duduk di depan televisi. Namun, kali ini dia tidak menyalakan televisi itu karena sedang sibuk dengan ponselnya.
Zeva sendiri masih berada di dalam kamar, dia beralasan ingin mengambil ponsel padahal ada sesuatu yang ingin dia lakukan. "Haruskah aku memakainya sekarang?" Dia tampak bingung.
Zeva menarik napas panjang lalu mengambil gaun malam dari dalam lemari. Sebenarnya sudah 2 hari yang lalu dia membeli alat tempur itu, tetapi belum punya kesempatan dan keberaniaan untuk memakainya. "Baiklah, hari ini adalah saat yang paling tepat untuk melakukan hal seperti itu." Dengan cepat dia memakai gaun malam yang sangat seksi sekali.
Tubuh Zeva terekspos dengan sempurna, tinggal hanya dibagian inti dan puncak gundukan sintalnya saja yang tidak terlihat. Dia mengambil rompi untuk menutupi lekuk tubuhnya walaupun rompi itu tetap saja transparan.
Arion yang masih mengotak-atik ponselnya benar-benar tidak sadar kalau saat ini Zeva sudah berdiri di sampingnya, dengan kepala tertunduk karena malu dengan apa yang saat ini sedang dia pakai.
"A-Arion."
Arion langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah Zeva. Matanya langsung membulat sempurna saat melihat penampilan wanita itu, bahkan ponsel yang ada dalam genggaman tangannya langsung jatuh membentur lantai. "A-apa yang kau-" Lidah Arion terasa sangat kaku untuk menanyakan apa yang sedang wanita itu lakukan.
"A-aku, aku ingin memberikan hakmu sebagai seorang suami. Aku tau kalau selama ini aku telah membuat kesalahan, dan aku tidak bisa menebus semua kesalahan itu. Itu sebabnya aku melakukan ini. Aku bukan bermaksud untuk menyogokmu, hanya saja seharusnya sudah lama kau mendapatkan semua ini dariku."
Arion semakin tercengang dengan apa yang Zeva katakan, dia tidak menyangka kalau wanita itu sampai melakukan semua ini.
"Su-suamiku, ma-malam ini kau berhak atas semua hakmu."
Laki-laki manapun pasti akan langsung bergairah saat melihat semua ini, dan tentu saja mereka tidak akan mau menyia-nyiakannya.
Zeva menganggukkan kepalanya dengan dalam. "Aku, aku yakin, Arion. Malam ini, aku adalah milikmu."
Arion langsung melummat bibir Zeva dengan kasar, bahkan kedua tangannya merengkuh pinggang wanita itu sampai tubuh mereka menempel dengan sempurna.
Zeva langsung membalas semua yang laki-laki itu lakukan, dia tidak mau membuat Arion kecewa atas pelayanan yang dia berikan.
"Aah, Arion." Zeva mengerang tertahan saat ciuman laki-laki itu turun ke lehernya dan langsung meninggalkan banyak jejak kepemilikan di sana, bahkan kedua tangan Arion sudah masuk ke dalam gaun malam yang dia gunakan dan langsung meremmas kedua gundukan sintalnya.
"Aarrgh, emmh." Suara dessahan dan errangan terus menggema di tempat itu saat Arion menikmati setiap inci tubuh Zeva, membuat wanita itu menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Aaw, ssh." Zeva memekik kaget saat tiba-tiba Arion mengangkat tubuhnya dan membawanya naik ke kamar, dengan pelan laki-laki itu menurunkan tubuhnya ke atas ranjang.
Arion terus melihat seluruh tubuh Zeva dari atas sampai bawah membuat wanita itu malu, dia lalu menarik gaun malam yang Zeva gunakan hingga seluruh tubuh wanita itu benar-benar tidak terlindungi apapun lagi.
"Ooh, kau benar-benar seksi, Sayang,"
__ADS_1
"Aah, eemh- Arion." Tangan Zeva mencengkram kuat selimut yang ada di ranjang itu, tubuhnya bergetar hebat saat Arion melabuhkan kecupan basah disetiap permukaan kulitnya.
Ciuman Arion turun ke bagian dada Zeva, dia menghisap dan menggigit puncak gundukan sintal itu dengan rakus sampai membuat wanita itu mndessah dengan kuat.
Bak seorang anak bayi yang sedang kehausan, Arion terus menghisap kedua puncak itu dengan kuat secara bergantian membuat tubuh Zeva menegang karna berhasil mendapatkan pelepasannya.
Napas Zeva terengah-engah dengan dada yang naik turun, gelombang hasrat yang diberikan oleh Arion benar-benar membuatnya kehabisan tenaga.
"Aku belum memulai permainan inti kita, Sayang."
Arion langsung memposisikan tubuhnya di antara kedua kaki Zeva dan membukanya dengan lebar. Aah, betapa pemandangan yang ada di hadapannya ini benar-benar sangat indah sekali.
Wajah Zeva semakin memerah saat Arion memperhatikan bagian tubuhnya dengan sangat khusyuk membuat dia merasa sangat malu. "A-Arion, aku, aku-"
"Sssh, aku akan membuatmu sangat puas, Zeva."
Arion langsung saja menempatkan pusakanya di depan kenikmatan Zeva dan bersiap untuk memasukinya.
"Aaargh." Zeva memekik kesakitan saat ada sesuatu yang tumpul sedang berusaha untuk memasukinya. Matanya terpejam kuat dengan keringat dingin yang mulai menetes di seluruh tubuhnya, bahkan urat-urat yang ada disekitar leher langsung menonjol kepermukaan.
"A-Arion, aaargh!"
Arion menghentakkan pusakanya dengan kuat hingga berhasil menembus pertahanan Zeva membuat wanita itu langsung berteriak kesakitan. Dia dapat merasakan ada sesuatu yang hangat sedang mengalir disekitar pahanya, dan Arion merasa sangat senang karena ternyata Zeva masih belum tersentuh.
Arion membiarkan asetnya untuk beberapa saat agar Zeva bisa terbiasa, dia lalu melummat bibir Zeva sambil mulai menggoyangkan pinggulnya.
Suara desaahan dan errangan terus menggema di kamar itu bersamaan dengan napas yang saling memburu, Arion semakin menguatkan hentakannya sampai membuat tubuh Zeva berguncang hebat.
"Aah, aah, A-Arion,"
"Sebentar lagi aku sampai, Sayang." Arion semakin keras menghentakkan kenikmatan Zeva sampai akhirnya errangan mereka menggema di ruangan itu pertanda bahwa mereka sudah berhasil mencapai puncak bersama-sama.
Dada mereka kembang-kempis untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya, tubuh mereka juga sudah bermandikan keringat padahal kamar itu memiliki ac.
Arion langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, lalu kecupan basah dia labuhkan ke kening Zeva. "Tidurlah, aku tau kalau kau pasti sangat lelah."
Bukan hanya sekedar lelah saja, bahkan Zeva sudah merasa hampir pingsan karena gempuran dari laki-laki itu. "Aku mencintaimu, Arion. Aku mencintaimu, suamiku."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.