
Keesokan harinya, Arion terbangun saat sinar matahari berusaha untuk menerobos masuk melalui fentilasi udara. Dia beranjak duduk sambil merengganngkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, bahkan kedua kakinya terasa sangatlah pegal.
Tiba-tiba dia teringat dengan kegiatan panas yang mereka lakukan, sontak dia langsung melihat ke arah samping di mana Zeva berada.
Senyum lebar terbit dibibir Arion saat melihat banyaknya stempel kepemilikan yang bertebaran diseluruh tubuh Zeva, bahkan dada wanita itu penuh dengan warna merah keunguan yang sangat kontras sekali dengan warna kulit Zeva.
Zeva mulai menggeliatkan tubuhnya membuat selimut yang membungkus tubuh polosnya itu merosot ke bawah dan menampakkan seluruh dadanya.
"Wa wah wah, sepertinya kau ingin menggodaku ya, Zeva." Arion langsung menundukkan tubuhnya sampai kepalanya tepat berada di atas dada Zeva.
Dengan cepat Arion menjilati dan menghisap puncak gundukan sintal itu dengan kuat membuat Zeva mengerjapkan kedua matanya.
"Aah, Arion,"
"Ya, Sayang. Kau sudah bangun?" Arion tetap menghisap dengan kuat tanpa berniat untuk melepaskan kesenangannya saat ini, bahkan satu tangannya sudah mengusap-usap dada wanita itu yang menganggur.
Dessahan kembali keluar dari mulut Zeva dengan apa yang Arion lakukan saat ini, dia menekan kepala laki-laki itu agar semakin memperdalam hisapannya.
Akhirnya kegiatan panas yang tadi malam mereka lakukan kini terulang kembali, bahkan kali ini Zeva ikut bergerak aktif di atas tubuh Arion.
"Lebih cepat, Sayang!"
Zeva terus menggoyangkan tubuhnya walaupun kedua kaki sudah gemetaran, dengan cepat Arion beranjak bangun dan langsung menyuruh wanita itu untuk menungging.
"Aah, ini benar-benar nikmat," racau Arion. Ternyata memakai gaya seperti ini benar-benar nikmat membuat darahnya terasa mendidih terbakar gairah.
Cukup lama mereka melakukannya dengan berbagai gaya, membuat Zeva benar-benar lemas bahkan hanya untuk membuka kedua matanya.
Setelah 2 jam berlalu, akhirnya kegiatan mereka itu sudah selesai. Arion langsung mengangkat tubuh Zeva dan membanya ke dalam kamar mandi.
Arion meletakkan Zeva di dalam bathtub lalu mengisi bathtub itu dengan air hangat, tidak lupa dia meneteskan beberapa aroma terapi agar urat saraf mereka terasa tenang.
Arion menyandarkan tubuh Zeva tepat di dada bidangnya, lalu tangannya melingkar di perut wanita itu dan memeluknya dengan posesif.
Pada saat yang sama, Haris sedang menunggu Arion di perusahaan. Padahal pagi ini ada pertemuan penting dengan partner bisnis mereka, tetapi Arion tidak juga memunculkan batang hidungnya.
"Apa Arion belum datang juga?" Tiba-tiba papa Ben datang ke ruangan itu.
"Belum, Tuan. Saya juga sudah menelpon Tuan dan juga Nona, tetapi mereka tidak mengangkatnya."
Papa Ben tersenyum lebar sambil mengelengkan kepalanya. "Mereka pasti sedang bersenang-senang."
__ADS_1
Haris mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti dengan apa yang papa Ben katakan.
"Siapkan semua berkasnya, biar aku yang bertemu dengan Tuan Bayu,"
"Baik, Tuan." Haris langsung mengambil berkas yang sudah dia siapkan sebelumnya, dan segera mengikuti langkah papa Ben yang sudah beranjak pergi dari tempat itu.
Arion yang sudah selesai membersihkan diri kembali menggendong Zeva dan membawanya ke kamar, dia meletakkan wanita itu di atas ranjang dengan hati-hati.
"Sssh." Zeva mendesis sakit saat menggerakkan kakinya membuat Arion langsung merasa bersalah.
"Maaf, Zeva. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri sampai tidak sadar kalau menyakitimu."
Zeva menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Arion. Se-sebentar lagi sakitnya pasti hilang." Tiba-tiba wajahnya kembali memerah saat mengingat kegiatan panas mereka.
Arion segera mengambilkan pakaian untuk Zeva sekaligus memakaikannya, lalu mengambil pakaian untuk dirinya sendiri.
"Kau tunggu di sini saja, ya. Aku akan mengambilkan sarapan untukmu." Arion langsung keluar dari kamar itu setelah melihat anggukan kepala Zeva, dia harus mengambil sarapan untuk mereka.
"Hah." Zeva menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang, tulang-tulangnya terasa remuk redam karena terus digempur malam dan juga pagi. "Uuh, tenaganya benar-benar sangat kuat." Zeva serasa ingin mati saja saat ini.
"Loh, Tuan tidak kerja?" Bik Sum terkejut saat melihat Arion, dia pikir Tuan dan Nonanya sedang berada di kantor karena memang kamar Arion itu kedap suara.
Mendengar pertanyaan Bik Sum, Arion baru sadar kalau hari ini ada pertemuan yang sangat penting. Dia lalu berbalik dan hendak mengambil ponselnya di dalam kamar.
Ternyata ponselnya terjatuh di bawah meja, pantas saja dia tidak mendengar suaranya.
"Astaga." Arion melotot dengan sempurna saat melihat ada 33 panggilan tidak terjawab dari Haris, juga ada puluhan pesan dari laki-laki itu yang bertanya dia sedang ada di mana saat ini.
Arion langsung saja menelepon Haris untuk menanyakan bagaimana pertemuan itu, dan untung saja ada papanya yang menggantikan.
"Hari ini aku tidak masuk, Haris. Kau harus mengurus segala pertemuan, dan kirimkan hasilnya padaku." Arion lalu mematikan panggilannya saat sudah bicara dengan Haris, kini dia bisa merasa tenang karena ada papanya yang mengehendel semua pertemuannya hari ini.
Arion dan Zeva benar-benar berada di dalam kamar sepanjang hari, tetapi mereka tidak melakukan adegan panas melainkan hanya saling mengobrol dan juga istirahat.
"Apa kau tidak mau bulan madu?" Tanya Arion, pasti akan sangat menyenangkan jika mereka bulan madu.
"Bu-bulan madu?" Mata Zeva langsung berbinar-binar. "A-aku mau, aku sangat mau." Zeva terlihat sangat bersemangat sekali karena memang dia tidak pernah pergi ke mana pun selama ini.
"Baiklah, aku akan mengatur semuanya. Apa ada tempat yang ingin kau datangi?" tanya Arion lagi.
"Em ...." Zeva berpikir sejenak ke mana tujuan bulan madu mereka. "Terserah kau saja, aku tidak terlalu tau di mana tempat yang bagus. Hanya saja aku ingin melihat hamparan pantai yang sangat luas, ada pegunungannya juga."
__ADS_1
Otak pintar Arion langsung memikirkan tempat yang diinginkan oleh Zeva. "Baiklah, biarkan Haris yang mengurus semua itu."
Zeva menganggukkan kepalanya dan menghamburkan diri ke dalam pelukan Arion. "Terima kasih untuk semuanya, Arion. Aku merasa sangat senang."
Arion membalas pelukan wanita itu dengan tak kalah erat. Saat ini dia sudah mendapatkan semua yang dia inginkan, yaitu cinta Zeva. Dan sudah saatnya dia membalas rasa sakit yang wanita itu torehkan padanya, tetapi entah kenapa hatinya terasa sangat berat sekali. "Tidak, aku tidak boleh goyah. Aku harus membalas mereka supaya mereka tau sedang berhadapan dengan siapa."
***
Beberapa hari setelahnya, mereka benar-benar pergi untuk berbulan madu. Haris sudah mengatur segala persiapannya, mulai dari tiket sampai hotel sudah dibereskan oleh laki-laki itu.
"Perjalanan kita memakan waktu sampai 7 jam, jadi lebih baik kau istirahat saja," ucap Arion saat mereka sudah berada di dalam pesawat.
Zeva menganggukkan kepala karena tubuhnya benar-benar sangat lelah. Setiap malam Arion selalu saja menggempurnya, bahkan terkadang di pagi harinya laki-laki itu juga akan meminta jatah. Tapi anehnya, dia sama sekali tidak menolak dan malah menikmati semua permainan Arion.
Selama diperjalanan, mereka menghabiskan waktu untuk istirahat. Mereka ingin mengumpulkan tenaga untuk bulan madu nantu, karena mereka akan menghabiskan waktu diluar dan di dalam kamar selama seminggu penuh.
Beberapa jam kemudian, pesawat yang membawa mereka sudah sampai di negara Y. Di mana negara itu terkenal akan keindahan dari setiap pemandangan yang ada di kota tersebut.
"Waah, ini benar-benar indah." Mata Zeva membulat sempurna saat melihat hamparan pantai yang saat luas, dia memperhatikan ke semua tempat sambil menuruni tangga pesawat.
"Ayo!" Arion menganggandeng tangan Zeva dan membawanya ke arah sebuah mobil yang sudah menunggu kedatangan mereka, lalu mobil itu langsung beranjak pergi dari tempat itu menuju hotel.
Sesampainya di hotel, resepsionis langsung mengantar mereka ke kamar yang sudah dipesan sebelumnya. Dan kamar itu tepat menghadap ke arah laut yang sangat indah, membuat Zeva berteriak senang.
"Lihat, Arion. Pemandangannya cantik sekali." Zeva berdiri dibalkon sambil menikmati matahari sore yang sangat indah, dia bahkan sudah beberapa kali mengambil potret pemandangan yang sangat mengagumkan itu.
Arion yang masih berada di dalam kamar beranjak mendekati Zeva, dia lalu melingkarkan tangannya diperut wanita itu dan memeluknya dengan erat.
"Apa kau tidak mau memotret kita berdua?" sindir Arion membuat Zeva tergelak.
"Ooh, jadi kau mau difoto juga?"
"Bukan aku, tapi kita," ucap Arion dengan kesal.
"Hahaha, baiklah. Sini mendekat." Zeva langsung memposisikan ponselnya untuk mengambil foto mereka dari berbagai macam gaya, yang tentu saja membuat memori ponsel itu langsung penuh.
"Bagus. Dengan foto ini aku bisa membuat laki-laki itu kesal setengah mati."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.