Dipaksa Jodoh

Dipaksa Jodoh
Bab. 46. Membuka Lembaran Baru.


__ADS_3

Gavin benar-benar tidak menyangka kalau Zeva akan mengatakan semua itu, sungguh hatinya sangat hancur saat ini.


"Bagaimana mungkin kau mengakhiri semua ini, Zeva? Apa kau sudah lupa dengan semua perjuangan kita?"


Zeva menggelengkan kepalanya. "Aku tidak lupa, dan tidak akan pernah lupa, Gavin. Aku benar-benar bersyukur karna bisa mengenal laki-laki baik sepertimu, dan aku benar-benar menyesal karna sudah menyakitimu. Tapi, tapi aku juga tidak bisa memaksakan perasaanku lagi, Gavin." Zeva menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Sampai kapanpun aku tidak akan bisa melupakanmu, Gavin. Dan aku mohon maafkan aku, aku yakin kau akan mendapat kebahagiaan yang jauh lebih banyak dariku. Terima kasih, terima kasih banyak, Gavin." Zeva langsung berbalik dan pergi dari tempat itu, sementara Gavin hanya bisa diam sambil menatap kepergian wanita itu.


"Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Aaarggh!" Gavin meninju dinding yang ada di sampingnya untuk melampiaskan segala amarah. Dia tidak akan membiarkan Zeva bersama dengan Arion, dan dia akan membuat wanita itu kembali padanya.


Dari kejauhan, Arion dan Haris sejak tadi melihat apa yang sudah terjadi antara Zeva dan juga Gavin. Mereka tidak menyangka kalau Zeva benar-benar memutuskan hubungan dengan laki-laki itu, dan lebih memilih untuk bersama Arion.


"Bagus, bagus sekali. Semua berjalan sesuai dengan keinginanku, dan setelah ini balas dendam akan dimulai." Arion menyeringai dengan apa yang terjadi saat ini, setelah itu dia mengajak Haris untuk meninggalkan tempat itu.


Zeva yang saat ini sudah berada di dalam taksi langsung menangis dengan tersedu-sedu, dia tidak menyangka kalau semua ini akan terjadi padanya. Dia merasa benar-benar bersalah karena sudah menyakiti Gavin, padahal laki-laki itu selama ini sudah sangat baik padanya.


"Maafkan aku, maafkan aku, Gavin." Zeva memejamkan kedua matanya. Dia berdo'a semoga Tuhan memberikan wanita yang jauh lebih baik darinya pada Gavin, dan dia juga berdo'a agar laki-laki itu bisa melupakannya.


"Aku sudah melakukan hal yang benar. Jika aku menunggu lebih lama lagi, maka itu akan semakin menyakiti hati Gavin, bahkan hati Arion juga." Zeva sangat yakin dengan apa yang dia lakukan saat ini, karena jika menunggu lebih lama pun. Perpisahan ini akan tetap terjadi.


Sesampainya di apartemen, Zeva langsung masuk dan berjalan ke dalam kamar. Dia lalu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan menelungkupkan kepalanya ke bantal.


Hari ini adalah hari yang cukup berat baginya, tetapi dia berhasil melalui semuanya dan berharap kalau besok semuanya akan baik-baik saja.


Setelah merasa tenang, Zeva memutuskan untuk membersihkan diri. Setelah itu dia ingin menyiapkan makan malam untuk Arion, dan syukurlah kalau laki-laki itu belum kembali ke apartemen.


Arion yang saat ini sudah sampai di apartemen memilih untuk menunggu sejenak di dalam mobil.


"Apa Anda akan benar-benar membalas mereka, Tuan?" tanya Haris.


"Tentu saja, sudah lama aku menunggu semua ini. Mereka harus merasakan bagaimana sakitnya hatiku selama ini, dan aku akan membuat rasa sakit itu berlipat ganda."


Haris hanya bisa diam mendengarkan semua ucapan sang tuan, karena dia sendiri juga marah dengan apa yang sudah mereka lakukan.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, akhirnya Arion turun dari mobil dan beranjak masuk ke dalam apartemen.


"Selamat datang."


Arion terpaku di depan pintu saat melihat sambutan hangat yang Zeva berikan padanya. "Y-ya. Kenapa kau sampai menyambutku segala?" Dia merasa salah tingkah


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin saja." Zeva segera menghampiri Arion dan langsung mengambil tas kerja laki-laki itu. "Mandilah, setelah itu kita makan malam. Aku sudah menyiapkan semuanya."


Arion mengangguk dan segera beranjak untuk pergi ke kamarnya, walaupun apa yang Zeva lakukan berhasil membuatnya gugup.


Zeva segera menyiapkan makanan untuk Arion, dia yakin kalau laki-laki itu pasti saat ini belum makan.


Setelah selesai, Arion segera melangkahkan kakinya ke dapur. Dia duduk tepat di depan Zeva yang saat ini sedang tersenyum. "Ada apa? Apa ada hal baik yang membuatmu terus tersenyum?"


Zeva menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku hanya sedang ingin senyum saja. Kalau gitu, ayo kita makan."


Mereka lalu menikmati makan malam itu dengan hening menyembabkan suara sendok yang bergesekan dengan piring menggema di tempat itu.


Selesai makan, mereka kembali duduk di ruang televisi. Arion memilih untuk menghidupkannya agar kecanggungan yang terjadi cepat menghilang.


Arion langsung mengalihkan pandangannya ke arah Zeva. "Katakan saja, kenapa kau ragu-ragu?"


Zeva menarik napas panjang sebelum mengatakan semuanya pada Arion. "Arion, aku, aku sudah memutuskan hubunganku dengan Gavin. Saat ini, aku ingin benar-benar menjalin rumah tangga denganmu. Maukah, maukah kau menerimaku?" Kepalanya tertunduk dengan tangan yang saling bertautan.


Hati Arion tersentuh dengan apa yang Zeva lakukan saat ini, tetapi dia berusaha keras untuk menekan segala rasa yang kian tumbuh dalam hatinya.


"Aku tidak menyangka kalau kau akan melakukan semua ini, Zeva. Tapi baiklah. Ayo, kita mulai semua ini dari awal."


Zeva yang sejak tadi menunduk kini melihat ke arah Arion. "Kau, kau benar-benar mau menerimaku?"


"Tentu saja, aku tidak punya alasan lagi untuk menolaknya."


Zeva langsung menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Arion. Dia menangis haru dengan kesempatan yang diberikan oleh laki-laki itu, dan dia berjanji tidak akan lagi menyakiti hati Arion.

__ADS_1


"Maafkan aku, maafkan semua yang telah aku lakukan padamu, Arion,"


"Ssstt. Sudahlah, lupakan tentang semua itu. Bagaimana kita bisa melangkah ke depan jika kau terus mengingat tentang masa lalu?"


Zeva langsung menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Aku tidak akan lagi mengingatnya, tapi aku akan tetap menjadikannya sebagai pelajaran."


Mereka berpelukan dengan sangat erat seolah-olah sudah bertahun-tahun tidak bertemu.


"Jangan meminta maaf, Zeva. Karna aku juga tidak akan meminta maaf padamu." Arion memejamkan kedua matanya sambil terus memeluk tubuh Zeva. Ada rasa bahagia yang menyeruak ke dalam hatinya, tetapi di sisi lain masih ada luka yang belum terobati atas pengkhianatan seseorang.


Setelah itu mereka berdua memutuskan untuk istirahat karena memang jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Zeva merasa sangat gugup saat ini, dia sedang berpikir akankah menyerahkan sesuatu yang telah dia jaga seumur hidupnya pada Arion malam ini?


"Kenapa tidak tidur? Ini sudah malam." Arion yang sudah terpejam kembali membuka kedua matanya, dia tau kalau saat ini Zeva sedang merasa gelisah.


"Ti-tidak apa-apa, aku hanya belum mengantuk saja."


Arion langsung melingkarkan tangannya ke perut Zeva membuat wajah wanita itu memerah. Dengan ragu dia memutar tubuhnya dan menghadap ke arah laki-laki itu hingga mata mereka saling bertatapan.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau-"


Cup.


Arion tidak dapat melanjutkan ucapannya saat Zeva mengecup bibirnya, wanita lalu menelusupkan kepalanya ke dada bidang Arion.


"Se-selamat malam, Arion."


Arion yang tersadar dari keterkejutannya langsung memegang dagu Zeva, lalu mengangkatnya agar wajah mereka kembali berpandangan.


"Jangan memulai sesuatu jika kau tidak ingin menyelesaikannya, Zeva. Dan kau harus menyelesaikannya, jika sudah memulai semua itu."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2