Dipaksa Jodoh

Dipaksa Jodoh
Bab. 38. Kemarahan yang Tidak Bisa Ditahan.


__ADS_3

Haris melihat Gavin dengan sinis, dia menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan bersedekap dada.


"Aku katakan sekali lagi untuk minggir, sebelum kesabaranku habis!" ucap Gavin dengan penuh penekanan membuat urat-urat yang ada disekitar leher menonjol ke permukaan.


"Wah wah wah, sepertinya kau tidak sadar sedang ada di mana ya, Tuan Gavin!" Percayalah kedua tangan Haris sudah tidak sabar lagi untuk menghajar lelaki yang ada di hadapannya ini, tetapi Arion pasti tidak akan senang jika dia membuat keributan.


"Aku tidak peduli, aku akan menghajarmu jika masih menghalangi jalanku!" Gigi Gavin saling bergesekan pertanda kalau emosinya sudah berada diubun-ubun. Dengan cepat dia mendorong tubuh Haris dan berlalu pergi dari tempat itu.


"Cih, laki-laki lemah sepertinya tidak akan bisa menghalangi aku!" Gavin segera masuk ke dalam lift untuk menemui Zeva, dia yakin kalau Arion pasti membawa kekasihnya ke ruangan presdir. "Awas saja kalau dia berani menyentuh Zeva, aku akan mematahkan seluruh tulang-tulangnya."


Haris yang melihat kepergian Gavin tersenyum miring, dia sengaja tidak lagi menghalangi laki-laki itu untuk menemui Arion. "Semoga Tuan bisa membuat suasana mereka menjadi panas membara."


Pada saat yang sama, Arion menurunkan tubuh Zeva tepat di atas sofa. Dia lalu berjalan ke arah lemari untuk mengambil kotak P3K, yang selalu di siapkan untuk pengobatan seperti saat ini.


Zeva sendiri hanya diam sambil memperhatikan apa yang Arion lakukan, dia lalu menunduk saat laki-laki itu berbalik dan kembali berjalan ke tempatnya berada.


Arion meletakkan kotak itu di atas lantai lalu duduk di lantai tersebut membuat Zeva terlonjak kaget. "A-Arion?"


"Aku akan mengobati kakimu." Dia mengangkat kaki Zeva dan meletakkan di atas pangkuannya.


"Ti-tidak perlu, aku bisa sen-"


"Diam! Aku tidak bisa konsentrasi mengobatimu kalau kau terus saja mengoceh, apa kau mau membuat kaki ini semakin bengkak?"


Zeva langsung diam saat mendengar ucapan Vano. "Sssh, pelan-pelan." Dia memegang tangan Vano karna kakinya terasa sangat pedih.


"Tahan ya, ini tidak akan lama." Vano mengoleskan salep ke kedua kaki Zeva dengan perlahan. Terkadang dia akan meniup kaki itu saat Zeva kembali kesakitan, membuat wanita itu berdebar.


Deg, deg, deg. Jantung Zeva berdetak kencang dengan apa yang Arion lakukan, rasa hangat menyeruak ke dalam dada membuat hatinya terasa berbunga-bunga. "Apa yang terjadi? Kenapa, kenapa dadaku bedebar seperti ini?" Tangannya sampai memegangi dada sangking kuatnya debaran itu.


Arion terus mengobati kaki Zeva dengan telaten, dia tersenyum tipis saat melihat wajah wanita itu memerah. "Apa masih sakit?"

__ADS_1


Zeva yang sejak tadi memperhatikan Arion langsung terkesiap. "Ti-tidak. Ini, ini sudah tidak sakit." Entah kenapa dia merasa malu dan canggung sekali.


Setelah selesai mengobati kaki Zeva, Arion beranjak bangun untuk kembali menyimpan kotak P3K itu. Namun, kakinya terasa kebas saat dia mulai berdiri membuat hilang keseimbangan dan terjatuh tepat di atas tubuh Zeva.


Bruk.


"Aaah!" Zeva sangat kaget saat tubuh Arion tiba-tiba terjatuh di atas tubuhnya. Refleks kedua tangannya melingkar di pinggang laki-laki itu agar tidak merosot ke bawah.


Deg.


Mata mereka berdua saling bersitatap dengan jarak wajah yang sangat dekat. Sangking dekatnya, hembusan napas mereka bahkan saling menerpa wajah masing-masing.


Untuk beberapa saat mereka terdiam dengan posisi seperti itu. Mata mereka saling mengamati wajah satu sama lain, hingga tidak sadar kalau hidung mereka sudah saling menempel sekarang.


Wajah keduanya semakin dekat membuat bibir mereka hampir bersatu. Zeva langsung memejamkan kedua matanya dan siap untuk menerima ciuman Arion, sementara Arion juga siap untuk melummat bibir seksi itu.


Namun, saat bibir Arion sudah menyentuh permukaan kulit bibir Zeva. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik kerah kemeja laki-laki itu dan langsung menghempaskannya ke atas lantai.


Zeva terlonjak kaget dengan apa yang terjadi, begitu juga dengan Arion yang ternyata menabrak sebuah meja hingga dia tidak tersungkur ke atas lantai.


"Ga-Gavin?" Mata Zeva membulat sempurna saat melihat Gavin di hadapannya, sementara Arion tersenyum tipis sambil berusaha untuk bangun.


"Beraninya, beraninya kau menyentuh kekasihku!" Gavin kembali menarik tubuh Arion membuat Zeva langsung panik, wanita itu segera menarik tangannya agar cengkraman tangan itu terlepas dari Arion.


"Tidak, Gavin. Lepaskan Arion!" Zeva menahan tangan Gavin yang sudah akan memukul wajah Arion.


"Dasar bajing*an, brengs*ek! Aku tau kalau selama ini kau sedang menunggu kesempatan untuk mendapatkan kekasihku."


Buak.


Satu pukulan mendarat tepat ke wajah Arion membuat tubuhnya terhuyung ke belakang. Dia sengaja tidak menghindar dari pukulan itu agar wajah tampannya terluka.

__ADS_1


"Ke sini kau, dasar-"


"Hentikan, Gavin. Sudah cukup!" Zeva berdiri tepat di hadapan Arion sambil merentangkan kedua tangannya, dia ingin menghalangi Gavin agar tidak kembali memukul laki-laki itu.


"Minggir, Zeva. Aku harus memberi pelajaran pada bedeb*ah itu,"


"Tidak. Kau salah paham, Gavin. Ini tidak seperti-"


"Apa? Kau mau bilang apa, hah?" Bentak Gavin. Suaranya menggema di tempat itu membuat kedua telinga Zeva dan Arion terasa berdengung.


"Kenapa kau marah, Gavin? Aku tidak melakukan apapun padanya," ucap Arion. Dia tersenyum miring ke arah Gavin seolah-olah sedang menantang laki-laki itu.


Rahang Gavin semakin mengeras dengan apa yang Arion katakan, tangannya sudah terkepal kuat dan siap untuk kembali melayangkan pukulan kedua. "Aku pasti akan membunuhmu."


Plak.


Zeva melayangkan sebuah tamparan ke pipi Gavin membuat laki-laki itu dan Arion terkesiap. "Cukup, sudah cukup!" Dia berteriak dengan kencang hingga suaranya memenuhi ruangan itu.


Gavin tidak bergeming dengan pandangan lurus ke arah bawah. Pipinya terasa kebas atas tamparan yag Zeva berikan, membuat seluruh tubuhnya terasa kaku.


"Aku sudah mengatakan padamu untuk berhenti, Gavin. Kenapa kau tidak mendengarku?" ucap Zeva dengan sedih. Untuk pertana kalinya dia menampar Gavin, dan perasaannya langsung diliputi rasa bersalah.


"Kenapa, kenapa kau membelanya, Zeva?" Gavin memalingkan wajahnya ke arah Zeva dengan tajam, sorot matanya memancarkan aura kemarahan dan juga kekecewaan.


"Aku tidak membelanya, Gavin. Apa yang kau lakukan itu salah, kau salah paham pada Arion!"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2