
Mama Audy benar-benar kesal dengan apa yang putranya lakukan. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini, Arion malah bertingkah seperti anak kecil. "Tapi syukurlah dia baik-baik saja." Di sisi lain dia merasa lega, biar bagaimana pun perasaannya menjadi tenang saat melihat Arion baik-baik saja.
Sementara itu, di dalam ruangan terlihat Arion dan Zeva sudah duduk di atas sofa. Entah kenapa suasana menjadi sangat canggung, apa lagi beberapa waktu lalu Zeva baru saja mengungkapkan perasaannya.
"Ja-jadi, bagaimana keadaanmu?" tanya Zeva, dia mencoba untuk menghilangkan kecanggungan yang sedang terjadi.
"Aku baik, maaf karna tidak memberi kabar padamu."
Zeva menganggukkan kepalanya. "Ti-tidak apa-apa, yang penting kau baik-baik saja. Aku benar-benar sangat khawatir tadi."
Arion terdiam mendengar ucapan Zeva, dia sedang menahan tangannya yang ingin sekali kembali memeluk tubuh wanita itu. "Kenapa? Kenapa kau mengkhawatirkanku, Zeva?"
Zeva terkesiap mendengar ucapan Arion. "Te-tentu saja aku mengkhawatirkanmu, kita kan teman."
Ah, ya. Benar yang Zeva katakan. Mungkin tadi wanita itu terlalu terbawa suasana itu sebabnya mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak sedang dia rasakan.
"Baiklah, aku mengerti." Arion beranjak bangun dan hendak kembali ke ranjang.
Zeva bisa melihat kekecewaan di wajah Arion membuat tangannya langsung menahan tangan laki-laki itu. "Aku, aku juga mencintaimu, Arion. Aku tidak mau kehilanganmu."
Arion terpaku di tempatnya saat mendengar ucapan Zeva, sementara Zeva sendiri beranjak bangun dan berdiri di hadapannya.
"Aku tidak tau apa yang akan kau pikirkan tentangku, tapi itulah perasaan yang saat ini aku rasakan. Semua keluar begitu saja saat aku merasa sangat khawatir, aku benar-benar takut kehilanganmu. Tubuhku bergetar hebat karenamu, bahkan seumur hidup aku tidak pernah merasa seperti ini." Zeva memutuskan untuk mengungkapkan semua yang dia rasakan, karena dia benar-benar tidak mau kehilangan Arion.
"Kau mengatakan kalau kau mencintaiku, tapi bagaimana dengan kekasihmu itu?" Arion mengalihkan pandangan ke arah Zeva. "Apa maksudmu, kau mencintai kami berdua?"
Deg. Zeva terdiam, lidahnya terasa kaku untuk membalas ucapan Arion membuat laki-laki itu tersenyum sinis.
"Kau egois sekali, Zeva." Arion melepaskan tangan Zeva yang masih memegang lengannya, dia lalu kembali melangkah menuju ranjang dan berbaring di tempat itu.
Jantung Zeva berdetak dengan sangat cepat saat mendengar ucapan Arion, kata-kata yang laki-laki itu ucapkan benar-benar menusuk hatinya. Namun, Arion juga tidak salah. Laki-laki itu mengatakan kalau saat ini dia benar-benar egois, dan semua itu benar. Bagaimana mungkin dia bisa mencintai 2 orang sekaligus?
"Pulanglah bersama dengan mama dan papa, Zeva. Aku akan tetap di sini bersama dengan Haris."
Lamunan Zeva terhenti saat mendengar ucapan Arion. "Ti-tidak bisakah kita pulang bersama?" Dia menatap Arion dengan sendu.
__ADS_1
Arion menghela hapas berat, dia lalu menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan apa yang wanita itu inginkan.
Setelah semua kegaduhan yang terjadi, akhirnya mereka semua memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan tidak ada satu pun di antara mereka yang bersuara, terutama Zeva. Sejak tadi dia terus memikirkan apa yang Arion katakan.
Mama Audy meminta Arion dan Zeva untuk pulang ke rumahnya, dia tidak menerima penolakan karena ingin merawat luka sang putra.
Sesampainya di rumah, Arion langsung membersihkan diri dan kembali istirahat. Saat ini kakinya terasa berdenyut sakit, membuat dia memilih untuk istirahat saja.
Zeva sendiri memilih untuk duduk di balkon. Jam masih menunjukkan pukul 5 pagi, di mana suasana masih sangat sunyi dan juga gelap.
Di tengah kesunyian dan kegelapan itu, dia terus memikirkan semua yang sudah terjadi. Baik hubungannya dengan Gavin, juga hubungannya dengan Arion.
Dia harus memastikan sebenarnya siapa orang yang dia cintai, karena akhir-akhir ini dia mulai merasa nyaman dengan Arion, dan mulai melupakan keberadaan Gavin.
"Aku harus menghentikan ini sekarang juga. Aku tidak bisa mempermainkan perasaan mereka lagi, aku tidak bisa terus mempertahankan Gavin sementara hatiku mulai goyah karena Arion."
Ya, dia harus memikirkan semua ini baik-baik. Dia tidak boleh menjadi wanita egois yang mempermainkan perasaan dua orang lelaki yang selama ini sudah memperlakukannya dengan baik.
Arion yang terbangun dari tidurnya langsung melirik ke arah Zeva. Dia tersenyum tipis melihat wanita itu sedang duduk di atas lantai, dia tau kalau saat ini Zeva pasti sedang memikirkan apa yang sudah dia katakan.
*
*
*
Beberapa hari telah berlalu sejak pengakuan cinta yang Zeva ucapkan, dan sampai hari ini hubungannya dan Arion sedikit renggang.
Arion sendiri sudah mulai kembali bekerja setelah memutuskan untuk istirahat selama berhari-hari, dan dia menyimpulkan bahwa Zeva masih memilih untuk mempertahankan hubungan dengan Gavin.
"Selamat pagi, Tuan."
Arion hanya menganggukkan kepala saja untuk menanggapi sapaan dari Haris, dia terus melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan.
"Haris!"
__ADS_1
Tubuh Haris terlonjak kaget saat mendengar suara Zeva. Ya, saat ini wanita itu sudah memanggil nama saja padanya.
"Ada apa, Nona?" tanyanya kemudian.
"Apa hari ini aku bisa izin pulang cepat?" tanya Zeva, "ada urusan yang ingin aku selesaikan," sambungnya kemudian.
Haris menyernyitkan keningnya saat mendengar ucapan wanita itu. "Kenapa Nona minta izin pada saya? Seharusnya Anda mengatakan itu pada Tuan."
"Aku tau. Hanya saja, aku tidak bisa mengatakan alasannya," lirih Zeva.
Haris terdiam. Dia sedang menerka-nerka apa yang ingin wanita itu lakukan saat ini. "Nona, saat ini luka tuan belum sembuh total. Jadi jangan sampai kalau-"
"Aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuatku dalam bahaya, Haris. Aku juga tidak akan membuat Arion atau pun kau menjadi susah. Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang seharusnya dari dulu aku lakukan," ucap Zeva dengan lemah. Setelah pemikiran panjang, akhirnya dia memutuskan untuk segera mengakhiri hubungan lamanya sebelum semua orang terlalu sakit hati dengan apa yang dia lakukan.
"Apa Anda ingin menemui Gavin?"
Deg. Zeva tersentak saat mendengar ucapan Haris, dia tidak menyangka kalau laki-laki itu tahu apa yang ingin dia lakukan. "A-aku, aku-"
"Baiklah, terserah Anda jika ingin menemuinya atau tidak. Lagi pula dia itu adalah kekasih Anda, dan Anda berhak untuk bertemu atau melakukan apapun bersamanya."
Kata-kata Haris benar-benar berhasil menusuk hati Zeva, dia merasa tertampar dengan apa yang laki-laki itu ucapkan.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Nona." Haris langsung berbalik dan pergi dari tempat itu tanpa menunggu jawaban dari Zeva.
Zeva tidak bergeming dari tempatnya, dia benar-benar merasa tertohok dan apa yang laki-laki itu ucapkan adalah benar.
"Benar. Aku benar-benar wanita yang sangat buruk."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1