Dipaksa Jodoh

Dipaksa Jodoh
Bab. 58. Pencerahan Pokok Masalah.


__ADS_3

Ibu Leni mengusap bahu Zeva untuk menenangkan wanita itu, membuat Zeva malah kian terisak. "Apa ibu boleh tau, masalah yang sedang menimpamu?"


Zeva mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Ibu Leni yang tersenyum dengan hangat.


"Kalau kau gak mau cerita, ibu juga enggak maksa, Nak. Tapi kamu harus sabar, karena semua yang terjadi ini pasti ada alasannya,"


"Enggak, Bu. Sejak dulu aku selalu saja hidup menderita, aku tidak pernah merasakan apa yang namanya bahagia," ucap Zeva dengan sendu yang tentunya membuat ibu Leni jado ikut sedih.


"Kadang kita enggak sadar kala sebenarnya hidup kita sudah bahagia, Nak. Tapi kita cuma fokus pada setiap kesusahan kita aja, makanya kita selalu merasa tidak pernah bahagia."


Zeva langsung menggelengkan kepalanya untuk membantah ucapan wanita paruh baya itu, kemudian dia menceritakan semua yang sudah terjadi dalam hidupnya. Mulai dari kekangan orang tua, perjodohan juga sampai rusaknya rumah tangganya saat ini.


Ibu Leni mendengarjan semua cerita Zeva dengan khusyuk, terkadang dia ikut menangis karena merasakan kesedihan yang wanita itu alami.


Pak Toha yang sejak tadi mendengarkan semua cerita Zeva dari ruang tamu juga turut sedih. Dia tidak menyangka diumur yang masih sangat muda, tetapi wanita itu sudah diterpa oleh gelombang masalah yang sangat besar.


"Tidak ada gunanya lagi aku hidup, Bu. Tidak ada yang benar-benar menyayangiku, aku bahkan tidak tau apakah aku mencintai diriku sendiri atau tidak."


Ibu Leni langsung menarik tubuh Zeva ke dalam pelukannya membuat wanita itu semakin terisak, dia mengusap puncak kepala Zeva dengan sayang.


"Terima kasih karna sudah bertahan sampek hari ini, Nak. Kamu hebat, kamu wanita yang sangat kuat. Tidak ada wanita lain yang bisa bertahan dari semua itu selain kamu. Kamu yang terbaik, kamu sudah berjuang dengan keras sampai saat ini."


Kata-kata yang ibu Leni ucapkan benar-benar menyentuh hati Zeva. Selama ini tidak ada yang menguatkannya seperti itu, tidak ada yang menanyakan bagaimana perjuangannya selama ini. Ah ya, ada Arion yang sempat mengabulkan kebebasannya. Namun, saat ini semuanya sudah kembali hancur.


"Kamu benar-benar hebat, Zeva. Ibu bangga padamu, ibu senang sekali udah dijumpakan sama perempuan kuat kayak kamu." Ibu Leni mengusap kepala Zeva dengan sayang sambil menahan air mata yang sudah ingin berjatuhan.


"Tidak, Bu. Aku, aku tidak sekuat itu,"


"Benar. Mungkin menurutmu kau hanya perempuan yang menyedihkan dengan segala masalah, tapi bagi ibu. Bagi wanita lain, kau itu sangat hebat karna bisa melewati semuanya. Kalau itu orang lain, belum tentu mereka bisa."


Zeva terdiam mendengar semua ucapan wanita paruh baya itu. Kalau pun dia bisa melewati semuanya, lalu apa gunanya semua itu? Saat ini semuanya juga sudah hancur, dan tidak ada lagi yang tersisa.


"Nak, kau sudah berjalan sampai sejauh ini. Kenapa tidak menahannya sedikit lagi? Ibu yakin kalau setelah ini kau pasti akan benar-benar mendapatkan semua yang kau inginkan. Bahkan sesuatu yang tidak pernah kau bayangkan juga akan kau dapatkan,"


"Tidak, Bu. Itu tidak akan terjadi dalam hidupku. Mungkin bagi orang lain seperti itu, tapi bagiku hanya ada kepahitan saja." Zeva tidak akan pernah berharap apapun lagi, karena semakin dia berusaha untuk menggapai kebahagiaan. Maka rasa sakitlah yang akan dia dapatkan.


"Setiap badai pasti akan berlalu, dan berganti dengan sesuatu yang indah seperti pelangi. Setelah letusan gunung berapi, akan ada tumbuhan yang tumbuh subur di bekasnya. Bahkan hukum alam saja membuktikan bahwa akan selalu ada hal baik setelah kesusahan, apalagi untuk manusia. Apa kau enggak pernah memikirkannya?"


Zeva terdiam sambil mencoba untuk meredam kesedihan yang sedang dia rasakan. "Ibu benar. Akan ada pelangi setelah hujan badai, tapi tidak semua badai mempunyai pelangi, Bu. Begitulah hidupku."


Ibu Leni mengangguk. "Kau benar, Nak. Memang umur tidak bisa membuktikan kedewasaan seseorang. Sekarang aja, kau lebih dewasa dari ibuk.


"Memangnya dewasa apa, Buk?" Zeva mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah wanita paruh baya itu.


"Dewasa tentang pelangi. Ibu saja enggak tau, apalagu bapak,"

__ADS_1


"Hahahaha." Zeva langsung tertawa saat mendengar ucapan Ibu Leni. "Masak gara-gara pelangi saja aku dewasa sih, Bu."


"Ya seenggaknya ada dewasanya walaupun cuma tentang pelangi."


Zeva kembali tergelak dengan apa yang wanita paruh baya itu katakan, membuat Ibu Leni dan juga suaminya ikut tertawa.


"Gitu kan cantik kalau ketawa, Nak," ucap Ibu Leni membuat Zeva tersenyum lebar. "Kau tau, Zeva. Terkadang ada suatu alasan dari setiap masalah yang terjadi. Seperti saat ini, Ibu bisa ketemu sama perempuan yang hebat juga cantik." Ibu Leni menggenggam kedua tangan Zeva dengan erat.


"Dulu ibu juga gitu. Ibu marah, sedih, nangis saat ketiga anak ibu diambil sama Tuhan."


Zeva tersentak kaget saat mendengar ucapan Ibu Leni. "Bu." Dia membalas genggaman tangan wanita paruh baya itu membuat Ibu Leni tersengum simpul.


"Sekarang Ibu baik-baik aja, Nak. Walaupun dulu kondisi Ibu itu sangat memprihatinkan, bahkan bapak dulu terpaksa memasung Ibu."


Zeva benar-benar kaget dengan cerita hidup Ibu Leni, ternyata jauh lebih berat dari apa yang dia alami. Di mana harus kehilangan anak-anak yang pastinya sangat dicintai.


"Tapi sekarang Ibu udah baik-baik aja karna bapak merawat ibu dengan baik, ibu juga udah bisa ikhlas melepas anak-anak ibu itu. Dan alasan kenapa Tuhan memanggil mereka dengan sangat cepat, itu pasti karna ibu dan bapak tidak punya cukup kebaikan untuk masuk syurga. Dengan adanya mereka, mereka akan menuntun kami ke syurga dan bersama selamanya."


Zeva menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan ibu Leni, dia yakin kalau saat ini pasti merupakan momen yang sangat menyakitkan untuk Ibu Leni dan juga Pak Toha.


"Seperti ibu, setiap masalahmu juga pasti ada alasannya. Sejak kecil kedua orang tuamu selalu melarang ini dan itu, mereka tidak membolehkanmu melakukan sesuatu yang sama seperti orang lain. Dan sekarang, kau sudah dapat alasan dari perbuatan mereka. Yaitu karena sudah menyiapkan jodoh yang sangat baik untukmu."


Zeva menganggukkan kepalanya sambil tersenyum getir, dia kembali terluka saat mengingat suami yang dia cintai itu.


"Seperti saat itu, sekarang pun pasti ada alasan dibalik masalah yang menimpa rumah tanggamu. Ibu tau apa yang suamimu lakukan itu udah sangat keterlaluan, dia sangat bersalah padamu. Tapi, kau juga tidak benar. Karna apapun alasannya, pengkhianatan yang kau lakukan itu pasti sangat menyakiti hatinya."


"Begini, Nak. Kau mengatakan kalau pernikahan kalian itu terjadi karena sebuah perjodohan, tapi kau mengatakan kalau suamimu itu tidak keberatan dengan perjodohan kalian. Apa kau tidak pernah berpikir, kalau sejak awal suamimu itu sudah mencintaimu?"


Deg.


Zeva menggelengkan kepalanya dengan jantung yang berdebar kencang saat mendengar kalimat terakhir yang ibu Leni katakan, dan memang benar kalau dia tidak pernah memikirkan tentang hal itu sebelumnya.


"Tapi cinta atau pun tidak, dia tetap akan sakit hati saat mengetahui hubunganmu dengan laki-laki lain lain. Itu adalah sebuah pemgkhiatan yang menggores harga dirinya, apalagi kau mengatakan kalau selama ini suamimu itu tidak pernah berhubungan dengan wanita lain. Saat itu dia pasti sangat kebingungan, juga terluka secara bersamaan. Apa dia marah besar, saat mengetahui semuanya?" tanya ibu Leni yang dijawab dengan anggukan kepala Zeva.


"Itu membuktikan kalau sebenarnya dia mencintaimu. Tapi walaupun seperti itu, dia tetap memperlakukanmu dengan baik. Sampai terjadilah sesuatu di malam itu. Jadi menurut ibu, dia itu sedang melampiaskan amarahnya, atau sedang membalas dendam padamu. Hatinya juga butuh pelampiasan, tapi semua itu tidak mengurangi rasa cintanya. Percayalah, Nak. Saat ini dia pasti sedang mencarimu dengan sangay khawatir."


Zeva menangis tersedu-sedu karena apa yang Ibu Leni ucapkan adalah benar. Kenapa selama ini dia tidak pernah memikirkannya? Dia hanya sibuk dengan kesenangannya bersama dengan Gavin, dan setelah itu. Dia mencampakkan Gavin dan beralih pada Arion tanpa memikirkan atau pun meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan.


Betapa egoisnya dia selama ini, baik pada Gavin maupun pada Arion. Dia benar-benar wanita jahat yang dengan sesuka hati mempermainkan perasaan lelaki, dia juga seeanaknya saja beralih perasaan pada yang lainnya.


"Nak, ibu mengatakan semua ini bukan karna ibu tidak suka denganmu. Dan bukan ingin mengusirmu, tapi kembalilah, Nak. Semua keluargamu pasti sangat cemas, karna ibu yakin kalau mereka itu sangat menyayangimu."


Zeva menganggukkan kepalanya dan langsung memeluk tubuh ibu Leni dengan erat. "Terima kasih, terima kasih karna sudah menjelaskan semuanya pada aku yang bod*oh ini, Bu."


"Tidak, Zeva. Setiap orang yang sedang ditimpa masalah pasti akan sama sspertimu, itulah gunanya orang lain atau pun keluarga untuk saling mengingatkan agar tidak salah langkah."

__ADS_1


Zeva merenggangkan pelukannya lalu menatap ibu Leni dengan mata berbinar. "Dan inilah alasan kenapa aku pergi dari rumah. Tuhan sudah mengutus malaikat tidak bersayap untuk meluruskan jalanku, untuk mengingatkan aku yang sedang tersesat."


"Kau benar, Nak. Dan ibu merasa sangat senang bisa bertemu denganmu." Mereka berdua lalu kembali berpelukan dengan sangat erat.


Suasana yang terjadi di tempat Zeva, sama persis dengan yang terjadi di rumah kedua orang tuanya.


Saat ini keluarga Arion sudah bertemu dengan keluarga Zeva, dan suasana yang terjadi sudah pasti penuh dengan kesedihan dan air mata.


"Maafkan kami, maafkan kami yang tidak pernah mengatakan semuanya pada kalian sampai hal ini terjadi. Kami benar-benar sangat menyesal, kami tidak bisa memberikan contoh yang baik pada putri kami,"


"Tidak, Zara. Jangan mengatakan hal seperti itu, karna itu tidak benar. Selama ini kalian sudah mendidik Zeva dengan sangat baik, hingga dia dia tumbuh menjadi wanita yang kuat dan ceria."


Mama Zara dan papa David semakin merasa bersalah, karena paksaan merekalah hidup Zeva dan Arion sekarang menjadi berantakan seperti ini.


"Kami sudah menghancurkam hidup putri kami sendiri, kami juga bahkan menghancurkan hidup putra kalian. Kami benar-benar sangat egois dan juga buruk,"


"Ma, Pa." Daffa memandang kedua orang tuanya dengan sedih, di ikut terpukul dengan apa yang terjadi pada Arion dan juga Zeva.


"Semuanya sudah terjadi, dan yang terjadi tidak bisa diulang kembali. Itu sebabnya kita tidak udah lagi membahas yang sudah lalu, biarlah semua itu menjadi pengalaman dan juga pelajaran untuk kita semua," ucap mama Audy.


"Yang dikatakan istriku benar, tidak ada gunanya lagi kita seperti ini. Dan yang paling penting saat ini adalah mencari keberadaan Zeva, semoga dia dalam keadaan baik-baik saja,"


Semua orang langsung mengaminkan do'a baik yang papa Ben katakan, dan mereka juga setuju kalau saat ini yang paling penting adalah mencari keberadaan Zeva.


"Sejak siang Arion sudah sibuk mencari istrinya ke mana-mana, dan baru kali ini aku melihatnya sangat khawatir seperti itu. Dan itu menandakan kalau dia benar-benar mencintai Zeva, jadi jika kita berkumpul lagi. Kita tidak perlu membahas masalah ini, karna itu akan menyakiti hati mereka."


Ya, semua orang setuju dengan apa yang papa Ben katakan. Biarlah semua itu disimpan dengan baik sebagai pelajaran untuk masa mendatang.


Setelah selesai menceritakan semuanya, keluarga Arion bergegas pamit untuk kembali ke rumah mereka. Dan mereka semua akan berusaha kerasa untuk menemukan Zeva walau harus ke lubang semut sekalipun.


Pada saat yang sama, Arion dan Haris sedang berhenti dipinggir jalan. Tepat di mana penjual seafood kaki lima berada. Mereka menikmati makan malam yang sudah sangat terlambat di sana, itupun karna paksaan Haris yang khawatir dengan kesehatan Arion yang belum sembuh total.


Arion menyandarkan tubuhnya saat sudah selesai makan, kepalanya mendongak ke atas untuk melihat banyaknya bintang yang bersinar terang malam ini.


Bukan hanya bintang saja, bahkan bulan juga bersinar dengan sangat terang membuat bibir Arion membentuk sebuah senyuman saat mengingat kenangannya bersama Zeva.


"Sekarang kau ada di mana, Zeva? Apakah kau melihat bintang dan bulan yang sama sepertiku?" Mata Arion kembali berkaca-kaca. "Di mana pun kau berada saat ini, aku harap kau dalam keadaan baik-baik saja. Tunggulah aku sebentar lagi, aku pasti akan datang untuk menjemputmu."


Zeva yang saat itu sedang berada di dapur mendadak jantungnya menjadi berdebar-debar. Dia meraba dadanya sendiri mencoba untuk menenangkan debaran itu, dan tiba-tiba wajah Arion melintas dalam pikirannya.


"Apa ini, Arion? Apa kau sedang memikirkanku, sampai-sampai jantungku berdebar keras? Atau kau sedang merindukanku?" Zeva berjalan ke arah jendela dan membukanya, dia memandangi rembulan yang bersinar cerah malam ini. "Aku juga sangat merindukanmu, Arion. Datanglah, dan jemput aku."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2