Dipaksa Jodoh

Dipaksa Jodoh
Bab. 51. Lupakan Semua Masa Lalu.


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa mereka akan berangkat bersama ke perusahaan. Saat ini mereka masih menikmati sarapan yang sudah disiapkan oleh Bik Sum, dan makanan yang wanita paruh baya itu masak benar-benar sangat enak.


"Bik, besok aku mau dong diajarin masak kayak gini. Rasanya benar-benar saangat lezat. Ya kan, Arion?" Zeva melirik ke arah Arion yang sedang fokus menikmati sarapan.


"Hem." Arion hanya berdehem saja untuk menjawab pertanyaan Zeva, dia lalu mengambil tisu untuk mengusap bibirnya. "Aku tunggu di depan."


Zeva mengernyitkan keningnya saat melihat Arion beranjak pergi dari tempat itu. "Kenapa dia?" Dia menatap heran lalu kembali melanjutkan sarapannya.


Setelah selesai, Zeva langsung bergegas untuk menemui Arion sebelum laki-laki itu menunggu terlalu lama. "Lama ya?" Zeva membuka pintu mobil itu dan langsung duduk di samping Arion.


"Enggak kok." Arion langsung melajukam mobilnya menuju perusahaan, sebelumnya dia sudah menghubungi seseorang untuk menjalankan aksinya hari ini.


Setelah sampai di perusahaan, terlihat beberapa karyawan menyapa mereka saat berpapasan. Tentu saja Zeva membalas sapaan mereka, sementara Arion hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Selamat pagi Tuan, Nona. Bagaimana bulan madunya?" sapa Haris dengan ramah membuat Zeva tersenyum lebar.


"Memangnya apa yang kau harapkan, tentu saja kami banyak melakukan anu di sana."


Blush.


Wajah Zeva langsung memerah saat mendengar ucapan frontal Arion, sementara Haris langsung tertawa saat mendengarnya.


"Wah, pasti rasanya luar bisa sekali, Tuan,"


"Tidak, biasa saja."


Zeva langsung mengalihkan pandangannya ke arah Arion, entah kenapa kata-kata yang laki-laki itu ucapkan berhasil menusuk hatinya.


Arion sendiri langsung masuk ke dalam ruangan tanpa melihat ke arah Zeva, sungguh hatinya sedang sangat kacau saat ini.


"Sebenarnya ada apa dengan Arion? Kenapa aku merasa sepertinya ada sesuatu yang sedang dia tutupi?" Zeva benar-benar merasa heran dengan apa yang Arion lakukan saat ini.


Tidak mau ambil pusing, Zeva langsung saja duduk dikursinya untuk mulai mengerjakan pekerjaan hari ini. Seminggu berada di luar negeri benar-benar membuat semua pekerjaan menjadi menumpuk.


Sangking fokusnya dalam bekerja, Zeva tidak sadar kalau saat ini sudah jam 12 siang. Pantas saja sejak tadi perutnya terus berdendang ria, rupanya memang sudah saatnya untuk menikmati makan siang.


"Halo, semuanya."


Tubuh Zeva terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang, sontak dia langsung melihat ke arah sumber suara.


"Kau, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Zeva dengan tajam.


"Tentu saja untuk bertemu dengan Arion, permisi."

__ADS_1


Zeva langsung mencekal tangan Siva yang sudah makan masuk ke dalam ruangan Arion. "Apa kau tidak punya sopan santun? Kenapa kau-"


"Ada apa, ini?" tanya Arion yang baru saja keluar dari ruangannya.


"Aaah, Arion." Siva langsung memeluk tubuh Arion dengan erat membuat Zeva tercengang dengan mulut terbuka lebar.


"Bagaimana kabarmu, Siva?" tanya Arion dengan ramah


"Aku baik, dan akan semakin baik saat sedang bersamamu."


Ucapan wanita itu benar-benar membuat emosi Zeva kian menaik, dengan cepat dia menarik tangan Siva agar tidak terlalu dekat dengan suaminya.


"Apa-apaan sih?" Siva langsung menepis tangan Zeva yang sedang menariknya membuat pegangan tangan wanita itu terlepas.


"Kau yang apa-apaan, bisa-bisanya menempel seperti ulat bulu pada suamiku!"


Siva terdiam saat mendengar ucapan Zeva, ingin sekali dia menarik rambut wanita itu yang sudah mengatainya seperti ulat bulu.


"Aku bukan ulat-"


"Diam!"


Zeva dan Siva terlonjak kaget dengan apa yang Arion ucapkan. "Aku yang mengundangnya ke sini, Zeva."


"Kau dengar sendirikan?" sindir wanita itu membuat Zeva langsung memalingkan wajahnya dengan kesal.


"Kalian mau tetap bertengkar, atau mau makan siang?" tanya Arion sambil menatap kedua wanita itu secara bergantian.


"Ayo kita makan, Arion. Katanya ada restoran yang baru buka di dekat sini,"


"Maaf, Zeva. Aku terlalu lelah jika harus keluar, aku dan dia akan makan di sini. Terserah kalau kau mau makan keluar." Arion segera beranjak dari tempat itu membuat Zeva semakin dilanda kebingungan.


Zeva terpaku di tempatnya dengan apa yang baru saja Arion lakukan. Dia sedang bertanya-tanya kenapa laki-laki itu tampak berbeda dari biasanya. "Apa aku membuat kesalahan?"


Sementara itu, Arion dan Siva sudah sampai di ruang makan. Tidak berselang lama, datanglah Haris yang langsung bergabung dengan mereka.


"Si*alan!"


Arion dan Haris terlonjak kaget saat mendengar umpatan dari Siva, sementara wanita itu sedang mengusap wajahnya dengan kasar.


"Lebih baik kau kirim aku ke antartika saja, Arion. Dari pada harus membuat drama seperti ini," ucap Siva dengan kesal, dia sudah tidak bisa lagi memainkan perannya sebagai antagonis.


"Diamlah, kau membuat napsu makanku menjadi hilang!" balas Arion tak kalah kesal darinya.

__ADS_1


"Sudahlah, Arion. Hentikan semua kegilaan ini." Siva menatap laki-laki itu dengan tajam. "Lagi pula ngapain sih, kau masih saja mengungkit sesuatu yang sudah berlalu? Yang terpenting adalah masa depan, dan aku lihat dia benar-benar mencintaimu." Dia bisa melihat bagaimana tatapan kekecewaan di kedua manik mati Zeva pada Arion tadi.


"Anda tidak mengerti, Nona. Saya saja sangat sakit hati saat mengingat kejadian dulu, walaupun semua itu sudah lama berlalu," ucap Haris.


"Jangan mengatakan kalau aku tidak mengerti, Haris. Karna akulah yang paling mengerti dengan masalah seperti ini, itu sebabnya aku meminta dia untuk berhenti."


Arion dan Haris terdiam saat mendengar ucapan Siva, membuat wanita itu hanya bisa menghela napas kasar saja.


"Pikirkanlah, Arion. Aku tau kalau kau pernah dikhianati dan dikecewakan olehnya, tapi sekarang sudah sangat berbeda. Jangan sampai suatu saat nanti kau menyesal dengan apa yang sudah kau lakukan." Siva mencoba untuk menyadarkan temannya itu, ya walaupun dia tau kalau Arion pasti tidak akan bergeming.


"Tidak ada yang berbeda, Siva. Semua masih tetap sama seperti dulu, hanya luarnya saja yang berbeda," ucap Arion membuat Haris dan Siva menatapnya penuh tanda tanya.


"Apa maksudmu? Tidak mungkin kan dia masih berhubungan dengan laki-laki lain?"


"Kau salah, Siva. Dan yang benar adalah kalau mereka masih berhubungan."


Siva dan Haris tercengang mendengar ucapan Arion. "Kalau memang dia kembali pada laki-laki itu, lalu untuk apa lagi semua ini?" Siva merasa benar-benar bingung.


"Sudahlah, lupakan tentang dia. Yang jelas aku akan tetap melanjutkan apa yang sudah aku rencanakan, terserah kau tetap mau menolongku atau tidak." Arion beranjak pergi dari tempat itu membuat Siva ingin sekali menggulingkan meja yang ada di hadapannya saat ini.


"Ini semua salahmu, Haris. Bisa-bisanya kau tidak menyelidi calon istri tuanmu sendiri, jika tidak semua ini pasti tidak akan terjadi," ucap Siva penuh sesal.


"Saya saja tidak tau, Nona. Tuan mengatakan pada saya tepat dihari mereka menikah, dan sebelum itu saya sedang ada perjalanan bisnis ke luar negeri,"


"Halah, alasan aja kamu." Siva ikut beranjak dari tempat itu meninggalkan Haris yang menatap tajam padanya.


"Apa-apaan sih dia itu, selalu saja aku yang salah. Dan aku selalu saja salah dimatanya." Haria berdecak kesal dengan apa yang terjadi saat ini.


Pada saat yang sama, Zeva sedang berada dirooftop perusahaan itu. Dia mencoba untuk menenangkan diri sambil memikirkan semua yang telah terjadi.


"Mungkin aku sudah membuat kesalahan, itu sebabnya Arion berbuat seperti itu padaku. Tapi, kenapa wanita itu harus ikut campur? Bukankah ini semua akan sangat memalukan untukku?" Dia mendesah frustasi dengan apa yang terjadi saat ini.


Arion yang sudah kembali ke ruangannya langsung mencari keberadaan Zeva, tetapi dia tidak melihat batang hidung wanita itu.


"Ke mana dia? Apa dia makan diluar?" Arion melirik ke arah tas wanita itu yang tergeletak di atas meja, karena tidak mungkin Zeva pergi tanpa membawa tasnya.


Dia lalu memutuskan untuk menelepon Zeva, tetapi ponselnya tidak dibawa. "Tunggu, apa jangan-jangan dia pergi karna marah denganku?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2