Dipaksa Jodoh

Dipaksa Jodoh
Bab. 42. Kabar Kecelakaan.


__ADS_3

Zeva mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan sang mertua. "Ki-kita mau ke mana, Ma? Aku, aku ingin menunggu Arion."


"Kau tunggu saja, Sayang. Mama sudah mau sampai,"


"Tapi-"


Tut.


Panggilan itu langsung terputus saat Zeva belum menyelesaikan ucapannya membuat dia merasa kesal juga bingung. "Sebenarnya Mama mau ngajak aku ke mana, sih?" Dia meletakkan ponselnya ke dagu sambil berpikir dengan apa yang mama mertuanya lakukan saat ini.


Tidak berselang lama, sampailah mobil mama Audy di tempat itu membuat Zeva langsung menghampirinya.


"Cepat masuk, Sayang. Kita harus bergegas."


Zeva langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping mama Audy, setelahnya supir segera melajukan mobil itu untuk pergi dari sana.


"Memangnya kita mau ke mana, Ma?" tanya Zeva. Tidak biasanya mereka pergi tengah malam seperti ini.


"Mama akan memberitahukannya padamu, tapi kau harus berjanji dulu kalau kau tetap akan tenang seperti ini."


Zeva memandang mama Audy dengan bingung, tetapi dia menganggukkan kepala karena sudah merasa sangat penasaran. "Aku, aku janji, Ma."


Mama Audy langsung menggenggam kedua tangan Zeva sambil menatapnya dalam, tentu saja Zeva semakin dilanda kebingungan. "Sayang, kita akan ke rumah."


Deg. Zeva terpaku saat mendengar jawaban dari mama Audy, untuk beberapa saat dia terdiam karena sedang mencerna ucapan wanita paruh baya itu. "Ru-rumah sakit? Apa ada saudara kita yang sakit, Ma?"


Mama Audy mengangguk dengan tatapan sendu. "Iya, Sayang. Kita harus segera menemui suamimu di rumah sakit."


"Ooh, sua- apa?" Zeva terlonjak kaget dengan apa yang baru saja mama Audy katakan. "Su-suamiku? Ma-maksud Mama, Arion?"


Mama Audy kembali mengangguk membuat tubuh Zeva langsung lemas dengan air mata yang sudah membanjiri wajah.


"Tidak, i-itu tidak mungkin. Dia, dia sedang dalam perjalanan. Mu-mungkin saat ini Arion sudah sampai di-di apartemen." Zeva langsung mengotak-atik ponselnya untuk menelepon Arion, dia harus memastikan kalau laki-laki itu sudah sampai di apartemen.


"Sayang, dengarkan mama,"


"Tu-tunggu, aku harus menelpon Arion dulu. Aku-"


Mama Audy langsung memeluk tubuh Zeva dengan erat membuat wanita itu terdiam. "Tenanglah, Sayang. Tidak akan terjadi sesuatu dengan Arion, hem." Dia mencoba untuk menahan air matanya walau rasa khawatir terus menggerogoti hatinya saat ini.


"Ke-kenapa dia di rumah sakit, Ma? Kenapa suamiku di rumah sakit?" teriak Zeva sambil memberontak minta dilepaskan, tetapi mama Audy tetap memeluk tubuhnya.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang terjadi, Zeva. Tapi kau tenang saja, mama yakin kalau Arion pasti baik-baik saja. Tidak, dia memang baik-baik saja."


Zeva terdiam dengan air mata yang terus berjatuhan. Wajah Arion seperti melintas dalam kepalanya, beserta kenangan sebelum laki-laki itu pergi untuk mengurus pekerjaan. "Tidak, Arion tidak akan kenapa-napa. Dia pasti baik-baik saja, dia, dia pasti baik-baik saja. Huhuhu."


Pelukan mama Audy semakin mengerat saat Zeva menangis dengan tersedu-sedu, dia tau kalau menantunya itu pasti sangat terpukul dengan apa yang dia katakan. "Tenanglah, Sayang."


"Tidak, Ma. Bagaimana aku bisa tenang saat mama mengatakan kalau suamiku berada di rumah sakit?" Dia mendorong tubuh mama Audy dengan kuat membuat pelukan wanita itu terlepas. "Apa yang terjadi? Kenapa suamiku bisa ada di sana? Huhuhu."


Mama Audy hanya bisa meneteskan air matanya saat melihat begitu terpukulnya Zeva, sedangkan dia saja tadi sampai pingsan saat mendengar kabar kecelakaan yang Arion alami.


Cukup lama kedua wanita itu menangis memikirkan keadaan Arion, sementara di rumah sakit tempat Arion di rawat. Terlihat laki-laki itu sedang kesakitan saat Dokter menjahit luka yang ada di kaki sebelah kanannya.


"Maaf, Tuan. Lukanya sangat dalam, jadi kami harap Tuan bisa menahannya."


Arion meringis sakit saat sebuah jarum menembus kulitnya, terlihat luka yang ada di kaki itu memang sangat dalam sekali.


"Syukurlah luka Anda tidak parah, Tuan. Saya benar-benar sangat khawatir," ucap Haris yang saat ini duduk bersebalahan dengan Arion.


"Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri, Haris. Lihat kepalamu itu, bisa-bisanya kau menghalangi tubuhku dengan kepalamu. Memangnya kepalamu itu ada gantinya?"


Haris tersenyum mendengar ucapan Arion membuat laki-laki itu berdecak kesal. "Saya baik-baik saja, Tuan."


"Ah, saya rasa Anda salah, Tuan."


Arion langsung menatap Haris dengan tajam. "Maksudmu?"


"Ya, saya rasa wanita itu sedang bersama dengan Gavin sekarang,"


"Apa? Apa kau sudah memastikannya?" tanya Arion dengan tajam, bahkan wajahnya sudah memerah saat ini.


"Pfft. Maaf, Tuan. Saya hanya bercanda." Haris menutup mulutnya yang sudah tertawa membuat Arion langsung murka.


"Beraninya kau melakukan itu? Awas kau ya, akan ku cabut kepalamu itu dari lehermu!"


Brak!


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu langsung terlonjak kaget saat ada yang membuka pintu dengan kuat. "Arion!"


"Pa-Papa?"


Papa Ben langsung memeluk tubuh putranya dengan helaan napas lega karena melihat keadaan Arion baik-baik saja. "Syukurlah kau baik-baik saja, Nak. Papa sangat khawatir." Dia melepaskan pelukan itu sambil menatap Arion dengan sayu.

__ADS_1


"Iya Pa, aku baik-baik saja. Tapi, kenapa Papa tau kalau aku ada di sini?" tanyanya dengan bingung. Dia lalu melirik ke arah Haris dengan tajam, dia yakin kalau laki-laki itu yang sudah melaporkan semuanya pada sang papa.


"Sa-saya tidak menelpon Tuan besar, Tuan. Bahkan ponsel saya saja mati." Haris menunjukkan ponselnya pada Arion, dan dia memang tidak ada memberitahu siapa pun.


"Direktur rumah sakit ini yang menelpon papa. Dia bilang kalau kau dan Haris masuk ke rumah sakit karena kecelakaan beruntun. Itu sebabnya papa langsung ke sini dengan supir," jelas papa Ben.


"Cih, dasar. Tapi, Papa tidak memberitahu mama kan?" Akan repot urusannya kalau mama Audy mengetahuinya.


"Mana mungkin papa tidak memberitahu mamamu, sebentar lagi dia pasti sampai bersama dengan Zeva,"


"Apa?" Arion terlonjak kaget saat nama istrinya disebut-sebut. "Ke-kenapa mama mengajaknya juga sih? Aku kan tidak apa-apa."


"Memangnya kami tau, kalau kau baik-baik saja?" ucap papa Ben dengan kesal, "Mamamu saja sampai pingsan saat papa telpon tadi."


Arion memijat pelipisnya yang berdenyut. Sudah bisa dibayangkan kalau kedua wanita itu pasti akan membuat rumah sakit ini menjadi ramai. "Tapi tunggu, memangnya Zeva bakal khawatir denganku apa?" Dia merasa penasaran sekaligus kesal. "Cih, paling dia tidak peduli." Dia mendengus sebal. "Tapi, aku jadi penasaran. Kira-kira bagaimana reaksinya saat mengira kalau aku sudah mati?"


"Baiklah, papa mau menghubungi mamamu dulu,"


"Tunggu, untuk apa Papa menelpon mama?" tanya Arion sambil menahan tangan sang papa.


"Ya papa mau ngabarin kalau keadaanmu baik-baik saja, dia pasti sudah cemas sepanjang jalan."


Arion langsung menggelengkan kepalanya karena tidak setuju dengan apa yang ingin papanya lakukan. "Biarkan saja mama merasa khawatir, Pa. Sekali-sekali kan, kalau kita ngerjain mama kayak gini."


Papa Ben terdiam, dia sedang memikirkan apa yang Arion katakan. "Tapi, istrimu juga pasti merasa khawatir, Arion."


"Tidak apa-apa, Pa. Anggap saja aku ingin melihat sebesar apa rasa cintanya untukku." Arion tersenyum lebar, sepertinya dia punya ide untuk mengerjain Zeva sekaligus melihat bagaimana reaksi wanita itu.


Haris yang mengerti maksud Arion hanya tersenyum tipis saja, tetapi bagus juga jika melakukan itu untuk melihat apakah Zeva sudah mencintai Arion atau belum.


"Yaudalah, terserah kau saja. Tapi jangan bawa-bawa papa kalau mamamu nanti marah."


Arion langsung menganggukkan kepalanya. "Papa tenang saja, biar aku yang mengurus semuanya."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2