Dipaksa Jodoh

Dipaksa Jodoh
Bab. 45. Ikhlaskanlah Aku.


__ADS_3

Tepat pukul 4 sore, Zeva pergi dari perusahaan menuju ke suatu tempat. Sepanjang perjalanan dia meyakinkan diri bahwa ini adalah pilihan yang sangat tepat, dan dia juga sudah memikirkannya dengan matang.


Beberapa saat kemudian, taksi yang Zeva tumpangi sudah sampai di tempat tujuan. Dia segera membayar biayanya dan segera beranjak turun dari taksi tersebut.


"Ayo, Zeva. Kau pasti bisa, dan aku harap dia akan menerima semua penjelasanku ini." Dengan langkah lebar, Zeva segera menuju ke apartemen Gavin. Dia sengaja tidak memberitahukan kedatangannya pada laki-laki itu karena merasa kedatangannya kali ini bukanlah sesuatu yang membahagiakan.


"Loh, kok enggak dikunci? Apa Gavin udah pulang?" Zeva langsung saja masuk ke dalam apartemen Gavin karena pintunya tidak terkunci. Langkahnya terhenti di depan pintu saat melihat ada sepasang  sepatu wanita di tempat itu.


Tanpa menunggu apapun lagi, Zeva langsung memasuki tempat itu dan tercengang saat melihat pemandangan yang ada di depan matanya.


"Aku benar-benar membutuhkanmu, Gavin. Aku tidak mau kehilanganmu."


Bruk.


Tas yang sejak tadi berada dalam genggaman tangan Zeva langsung terjatuh ke lantai, membuat dua orang yang saat ini sedang saling berpelukan langsung terlonjak kaget.


"Sa-Sayang?" Mata Gavin membulat sempurna saat melihat keberadaan Zeva. Dengan cepat dia menghampiri wanita itu tanpa menghiraukan seorang wanita yang ada di sampingnya.


"Sayang, kau di sini?" Gavin yang akan menggenggam tangan Zeva langsung ditepis oleh wanita itu.


"Maaf karna sudah menganggu kalian, aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu, Gavin," ucap Zeva. Dia mengalihkan pandangan ke arah samping karena tidak mau bersitatap mata dengan laki-laki itu.


"Apa yang kau katakan, Sayang? Kedatanganmu tidak pernah menganggu, dan dia ini adalah temanku." Gavin melihat ke arah wanita yanh tadi sempat berpelukan dengannya. "Perkenalkan dirimu pada Zeva, Hana. Dia ini kekasihku."


"Itu tidak perlu, Gavin. Bisakah kita bicara berdua saja?"


Hana yang akan mengatakan sesuatu tidak jadi membuka mulutnya saat mendengar ucapan Zeva, sementara Gavin langsung beralih ke arahnya.


"Maaf, Hana. Bisakah kau meninggalkan kami berdua?" ucap Gavin yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Hana.


Hati Zeva terasa sakit dengan apa yang terjadi saat ini, tetapi setidaknya dia tidak merasa bersalah karena harus memutuskan hubungan dengan laki-laki itu.


"Ada apa, Sayang? Tumben datang ke sini enggak bilang dulu?" tanya Gavin. Dia lalu mengajak wanita itu untuk duduk di sofa.


"Kalau aku mengatakannya, aku pasti tidak akan bisa melihat pemandangan seperti tadi."


Gavin menghela napas berat. "Itu cuma salah paham, Sayang. Aku memeluknya karena merasa kasihan, saat ini dia sedang dalam masalah."

__ADS_1


"Baiklah, terserah kau mau memeluknya atau apa, Gavin. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku tidak ingin lagi melanjutkan hubungan kita,"


"Apa?" Gavin langsung berdiri dari duduknya saat mendengar ucapan Zeva. "Ke-kenapa kau mengatakan hal seperti itu, Sayang? Aku, aku sudah bilang kalau semua ini hanya salah paham saja." Gavin benar-benar merasa sangat terkejut.


"Tidak, Gavin. Aku melakukannya bukan karna itu, tapi, tapi karna-"


"Apa? Apa laki-laki itu melakukan sesuatu padamu?" Gavin langsung mencengkram kedua bahu Zeva dengan kuat membuat wanita itu meringis sakit.


"Kau menyakitiku, Gavin!"


"Ma-maaf, Sayang. Aku, aku tidak sengaja." Gavin langsung mengendurkan cengkraman tangannya. "Sekarang katakan padaku, Sayang. Apa yang sudah bajing*an itu lakukan? Aku sudah tau kalau dia adalah laki-laki yang sangat licik, aku yakin kalau dia-"


"Cukup, sudah cukup, Gavin." Zeva menepis kedua tangan Gavin yang masih memegang kedua bahunya membuat laki-laki itu menatap tajam. "Sudah cukup segala hinaan yang kau layangkan untuk Arion, dia bukan laki-laki seperti yang kau pikirkan."


Gavin tersenyum sinis mendengar ucapan Zeva. "Jadi, kau datang ke sini karna ingin membela laki-laki itu?"


Zeva menggelengkan kepalanya. "Aku datang ke sini karna ingin memutuskan segala hubungan kita, Gavin. Aku tidak bisa melajutkannya lagi, dan seharusnya sejak awal kita memang sudah mengakhiri semuanya."


Gavin terdiam dengan rahang mengeras mendengar ucapan Zeva, sementara wanita itu menatapnya dengan sendu.


"Kalau kau tau ini bisa melukai hatiku, kenapa kau melakukannya, Zeva?" potong Gavin dengan cepat, sorot matanya jelas sekali memancarkan aura kemarahan yang besar.


"Seharusnya hubunganmu dan dia yang harus kau akhiri, Zeva. Bukan kita!" teriak Gavin membuat urat-urat yang ada sekujur tubuhnya menonjol ke permukaan.


Zeva hanya bisa diam melihat kemarahan laki-laki itu, dia tau kalau saat ini Gavin pasti benar-benar sangat kecewa dengannya. Namun, dia juga tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini sementara dia sendiri sudah jatuh cinta dengan Arion.


"Maaf, Gavin. Aku, aku-"


Grep.


Gavin langsung memeluk tubuh Zeva dengan erat membuat wanita itu terdiam. "Cukup, Zeva. Jangan lanjutkan lagi, aku minta maaf kalau sudah melakukan kesalahan. Kau tau kan kalau aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa kehilanganmu, Zeva." Dia memeluk tubuh Zeva sampai wanita itu merasa sesak.


"Gavin, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu, tapi, tapi aku sudah tidak bisa melanjutkannya lagi." Zeva mendorong tubuh Gavin dengan kuat membuat pelukan laki-laki terlepas.


"Kenapa, Zeva. Kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Apa orang tuamu mengetahuinya? Apa kau diancam oleh laki-laki itu? Katakan semuanya padaku, aku akan melakukan apapun untukmu, aku akan-"


"Tidak, Gavin. Aku memutuskan hubungan kita bukan karna semua itu, tapi karna aku mencintai Arion."

__ADS_1


Deg. Jantung Gavin seolah sedang ditusuk oleh ribuan jarum secara bersamaan, dan rasa sakitnya sampai membuat tubuh gemetar. "Kau, kau bilang apa?"


Zeva menatap dengan sendu. "Maaf, maafkan aku, Gavin. Aku harap kau akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku." Air mata menetes dari kedua mata Zeva. Biar bagaimana pun dia pernah menghabiskan waktu beberapa tahun bersama dengan Gavin, dan semua itu akan menjadi kenangan sekarang.


"Kau, kau pasti sedang bercanda. Dan bercanda mu itu tidak lucu, Zeva," ucap Gavin.


"Maaf, Gavin. Itulah yang sedang terjadi saat ini, aku harap kau bisa menerimanya,"


"Menerima? Menerimanya kau bilang?" ucap Gavin dengan tajam, "bagaimana mungkin aku bisa menerima semua ini, hah?" teriakannya menggema di apartemen itu membuat Zeva tersentak.


"Bagaimana mungkin kau cinta dengannya, hah?" Gavin kembali mencengram kedua bahu Zeva. "Katakan padaku, bagaimana mungkin kau mencintainya? Kau hanya mencintaiku, dan hanya akulah satu-satunya laki-laki yang mencintaimu!" Dia menekan setiap kata-katanya agar wanita itu mengerti.


"Tapi inilah yang sedang terjadi, Gavin. Aku mohon maafkan aku, dan ikhlaskan lah aku bersamanya. Karna aku yakin akan ada seorang wanita yang jauh lebih baik dariku, Gavin. Aku mohon,"


"Diam! Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu, Zeva. Tidak akan pernah!"


Zeva tidak tau lagi harus berkata apa pada Gavin, yang jelas dia sudah mengungkapkan segalanya. Jika memang laki-laki itu tidak mau menerimanya, maka dia juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Aku yakin laki-laki itu pasti melakukan sesuatu padamu, aku sangat yakin." Gavin segera menyambar kunci mobilnya dan beranjak pergi untuk menemui Arion.


"Tunggu, kau mau ke mana, Gavin?" Zeva berlari mengikuti langkah Gavin dan langsung mencekal tangannya.


"Lepaskan aku! Aku akan memberi pelajaran padanya, aku bahkan akan membunuhnya."


Plak.


Sebuah tamparan melayang tepat ke wajah Gavin membuat laki-laki itu terkesiap, sementara Zeva mamandangnya dengan penuh amarah.


"Dia suamiku, dan aku mencintainya. Aku tidak akan membiarkan kau menyakitinya, Gavin."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2