
Zeva menatap Arion dengan mata berkaca-kaca, sungguh dia sangat tidak percaya dengan apa yang baru saja laki-laki itu ucapkan.
"Maaf karena aku terlambat mengatakan semua ini padamu, seharusnya sejak dulu aku mengakuinya dan semua ini tidak akan pernah terjadi," ucap Arion penuh sesal. Andai dulu dia bisa lebih bersabar lagi, pasti semua tidak akan jadi seperti ini.
Zeva menggelengkan kepalanya sambil memeluk tubuh Arion dengan erat. "Semua ini salahku. Aku yang tidak memberikan kesempatan padamu untuk mengungkapkan apa yang kau rasakan, aku, aku bahkan malah sibuk membangun hubungan terlarang dengan laki-laki lain." Zeva terisak membuat Arion mengeratkan pelukannya.
"Maafkan aku, Arion. Aku benar-benar wanita yang egois. Aku, aku tidak pantas untuk berada di sisimu,"
"Tidak, Zeva. Aku mohon jangan katakan itu, karena aku tidak bisa hidup tanpamu." Arion mengusap air mata yang mengalir deras diwajah Zeva. "Semua sudah terjadi, dan semua itu atas kesalahan kita berdua. Biarlah itu menjadi kenangan dan pelajaran untuk kita."
Zeva benar-benar tidak sanggup untuk berkata apapun lagi, sungguh hatinya merasa sangat bahagia dan juga sedih secara bersamaan.
"Aku mohon jangan menangis lagi, Sayang. Sekarang bukan saatnya untuk bersedih, tapi untuk bahagia. Kita berdua sudah melewati masa-masa yang sangat menyakitkan, dan semua itu tidak akan pernah bisa kita lupakan." Arion meletakkan kedua tangannya di pipi Zeva sambil menatap wanita itu dengan sayu.
"Tapi, jangan biarkan masa lalu itu mengghambat jalan masa depan kita. Karena aku yakin, setelah ini kita akan hidup dengan sangat bahagia. Aku yakin itu, Zeva."
Zeva menganggukkan kepalanya sampai beberapa kali, dia lalu mengecup bibir Arion sekilas membuat laki-laki itu terkesiap.
"Aku percaya, aku percaya dengan apa yang kau katakan, suamiku. Mulai saat ini, kita akan hidup bahagia. Kita akan memulai lembaran hidup yang baru, di mana ada aku, kau dan juga anak kita,"
"Kau benar, Sa- apa?" Arion terkejut saat baru sadar dengan apa yang Zeva katakan. "A-anak?" Dia menatap sang istri dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Zeva menganggukkan kepalanya sambil mengarahkan tangan Arion tepat menempel diperutnya. "Anak kita, Arion. Sekarang, sekarang aku sedang hamil."
Deg.
Jantung Arion berdegup sangat kencang saat mendengar apa yang Zeva katakan. Tangan yang masih menempel diperut wanita itu tampak gemetaran, dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
Zeva yang mengerti kalau saat ini Arion sangat terkejut dengan apa yang dia katakan, langsung membuka gaun yang sedang dia pakai. Tentu saja semua itu membuat Arion membulatkan matanya, dan semakin kaget melihat perut sang istri yang sudah tampak buncit.
"I-ini, ini a-anak kita?" Dengan perlahan, Arion menyentuh perut Zeva yang sudah tidak terhalang apapun lagi, karena saat ini wanita itu hanya memakai segitiga bermuda dan bra saja.
Zeva menganggukkan kepalanya dan meletakkan tangannya tepat di atas tangan Arion. "Benar, Sayang. Ini adalah anak kita, buah hati kita berdua. Saat ini usianya sudah memasuki 5 bulan."
Bruk.
Arion sendiri langsung terisak dengan kepala tertunduk. Sungguh dia merasa sangat bahagia dengan kehamilan Zeva, tetapi dia juga merasa sangat bersalah dan juga menyesal telah membuat wanita itu pergi bersama dengan anak mereka.
"Maafkan aku, Zeva. Aku mohon maafkan aku," lirih Arion membuat Zeva kembali meneteskan air mata.
Dengan cepat, Zeva memeluk tubuh Arion yang berada tepat di kakinya. Kepala laki-laki itu menempel tepat di perut Zeva, membuat tubuh Arion kian bergetar.
"Tidak, Arion. Aku mohon jangan meminta maaf, karena semua ini bukan hanya kesalahanmu. Tapi juga kesalahanku."
__ADS_1
Arion melingkarkan tangannya di pinggang Zeva sambil mengecupi perut wanita itu, sementara Zeva sendiri mengusap puncak kepala sang suami dengan sayang.
"Terima kasih karna telah memberikan kebahagiaan ini, Zeva. Aku, aku sangat beruntung sekali bisa menikah dengan wanita sepertimu." Arion mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah Zeva yang saat ini juga sedang melihatnya.
"Aku juga sangat beruntung bisa menikah dengan lelaki sepertimu, Arion." Zeva mengusap air mata yang masih membekas di wajah sang suami. "Aku juga beruntung, Papa."
Tubuh Arion langsung kaku saat mendengar kalimat terakhir Zeva, di mana wanita itu menirukan suara anak kecil saat mengatakannya. "Katakan, katakan lagi, Zeva. Aku ingin mendengarnya."
Zeva menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar. "Jangan menangis lagi, Papa. Aku sangat bahagia jika Papa juga bahagia." Dia menirukan suara anak kecil membuat Arion langsung menghapus air matanya.
"Papa janji kalau papa tidak akan menangis lagi, papa juga janji akan selalu membahagiakan keluarga kita."
Setelah sekian lama tidak bertemu, akhirnya Arion dan Zeva kembali bersatu dengan perasaan bahagia dan sedih secara bersamaan. Cinta dan kebahagiaan yang sudah hancur, kini kembali terbangun dengan kokoh. Tentu saja dengan pondasi yang lebih kuat sehingga mereka dapat menjalani hidup yang lebih baik lagi secara bersama-sama.
•
•
•
Tamat.
__ADS_1
Mampir juga ke karya teman aku ya 😍